
Apa yang direncanakan oleh Paman Tango akhirnya terjadi. Pada hari itu Nyonya Rose dan juga Nyonya Lim akhirnya bertemu. Mihiyo lebih dulu keluar dari gedung lelang. Dari kejauhan ia bisa melihat jika Cleo dan juga ibunya baru saja keluar dari pintu yang sama dengannya.
Mihiyo menarik lengan ibunya sejenak. Tentu saja tindakan Mihiyo membuat Nyonya Lim menoleh.
"Ada apa lagi, Sayang. Mama sudah lelah!"
"Tunggu sebentar, Ma. Ada barang lelang yang akan diantarkan ke sini sebentar lagi."
"Oh, ya? Barang apa itu? Bukankah semua bisa dikirim ke rumah nanti?"
"Tentu saja bisa, tetapi arloji ini untuk Nona Cleo bukan? Kenapa tidak memberikan secara langsung padanya?"
Sontak kedua mata Nyonya Lim menyipit lalu menoleh ke kanan dan kiri. Sejauh mata memandang hasilnya sama saja, tidak menemukan apapun.
"Memangnya dia datang ke acara seramai ini? Bukankah itu tidak mungkin? Bukankah ia tidak bisa melihat?"
"Lagi pula kakakmu baru saja meminta maaf karena tidak bisa hadir ke sini, karena ia baru saja melakukan rapat penting dengan Keluarga El Vanezz."
"Oh, ya? Akan tetapi hal itu tidak menghalangi Nona Cleo untuk bisa datang ke sini!"
"Ehem, apa yang kamu katakan benar juga, Sayang."
Mihiyo tersenyum sebentar lalu menggandeng lengan ibu angkatnya itu.
"Lihatlah ke arah sana, Ma. Coba lihat ke arah wanita yang digandeng oleh wanita paruh baya itu?"
Sontak saja di dalam hatinya bergemuruh. Ia benar-benar tidak suka dengan keberadaan wanita di samping Cleo.
"Bukankah itu Rose istrinya Dimitri? Kenapa bisa berada di sini? Bukankah ia seharusnya tidak datang ke sini?"
__ADS_1
"Kenapa pula ia terlihat sangat dekat dengan Cleo, apa hubungan mereka?"
Mengetahui jika suasana hati ibunya tidak sedang baik-baik saja, Mihiyo semakin mematik api di dalam hati Nyonya Lim. Saat melihat Cleo bersama Nyonya Rose sungguh membuatnya tidak suka.
"Mama, tunggu sebentar!" rengek Mihiyo sambil terus menahan langkah Nyonya Lim yang hendak pergi.
"Mama mau kemana? Sebentar lagi Nona Cleo akan datang kemari dan kita tidak perlu untuk berjalan ke arah mereka."
"Sayang, tolong wakilkan Mama, ya. Kepala Mama mendadak pusing. Aku takut sakit vertigo Mama akan kambuh."
Saat Nyonya Lim hendak pergi ternyata salah satu panitia lelang mendekati mereka dan memberikan kotak perhiasan kepada Mihiyo.
"Nyonya Lim, Nona Mihiyo ini perhiasan yang Anda minta tadi."
"Terima kasih, Tuan."
Mihiyo mengangguk.
"Baiklah, Mama akan menunggu di sini."
Merasa lebih tenang, Mihiyo lalu melambaikan tangannya ke arah Nyonya Rose.
"Nyonya, kemarilah!" panggil Mihiyo.
Merasa terpanggil, Nyonya Rose segera mendekati sosok yang memanggilnya. Detak jantung milik Nyonya Lim berdetak lebih kencang dari biasanya. Ditambah lagi dengan suara langkah kaki yang semakin mendekatinya.
Nyonya Lim benar-benar terjebak akan situasi saat ini. Jika masih diberikan kesempatan sudah pasti ia lebih memilih untuk bisa segera meninggalkan tempat itu.
"Nona, apakah Anda memanggil kami?"
__ADS_1
Sontak saja Mihiyo mengangguk. "Iya, benar saya yang telah memanggil Nyonya."
Mihiyo mengalihkan pandangannya ke arah Cleo.
"Ibu saya meminta tolong untuk menyampaikan hadiah ini untuk nona cantik yang berada di samping Nyonya."
"Loh, dalam rangka apa? Kita saja tidak saling mengenal satu sama lain."
Nyonya Lim yang sedari tadi membuang muka segera menoleh dan menatap ke arah Nyonya Rose. Sorot mata kebencian itu terlihat jelas di dalam bola matanya.
"Apakah Anda lupa dengan saya, Nyonya Rose?"
Cleo yang melihat interaksi keduanya terlihat tidak sehat berjalan mendekatinya dengan menggunakan tongkat miliknya. Setidaknya sampai saat ini ia masih berpura-pura belum bisa melihat.
"Maaf, ini ada apa, ya?" tanya Cleo dengan nada lembut.
"Bukan apa-apa, hanya saja ada sesuatu hal yang membuat Ibu saya menginginkan hadiah ini diberikan kepada Anda, Nona."
Mihiyo melangkah maju mendekati keberadaan Cleo. Merasa jika menantunya tidak baik-baik saja, Nyonya Rose menggandeng lengan Cleo. Begitu jelas kasih sayang yang ditunjukkan oleh Nyonya Rose membuat Nyonya Lim merasa sakit hati.
"Begitu perhatian sekali Anda, kenapa dulu Anda tidak bisa bersikap seperti itu pada putri sahabat Anda?"
Deg
Tiba-tiba perasaan bersalah muncul di dalam hati Nyonya Rose. Memori yang telah tersimpan rapat selama belasan tahun kini mulai muncul kepermukaan. Keringat dingin mengucur dari kedua pelipis Nyonya Rose.
"Mama kenapa?"
"Apakah ada yang membuat Mama tidak nyaman?" tanya Cleo terlihat khawatir.
__ADS_1