
Sebenarnya yang kapan hari dilihat Debora bukan Miss Vallery melainkan Genuie, pacar Dardack yang berprofesi sebagai super model. Ia memang tidak mau menikah cepat dengan
Dardack karena ia masih mencintai pekerjaannya dan tidak mau kehilangan kesempatan emasnya.
Terlebih saat ini ia sedang berada di puncak karir. Sebagai seorang kekasih yang mendukung karir Genuie sebagai model, Dardack tidak pernah menuntut.
"Aku merindukanmu, Sayang," ucap Genuie dengan gaya manjanya setelah ia membuat sebuah masalah besar.
Dardack menghembuskan nafas kasarnya karena kesal.
"Huft, karena kehadiranmu aku menjadi terkena masalah!" ucap Dardack terus terang.
"Kok, aku yang salah lagi, bukankah aku datang untuk mengunjungi kekasihku."
Nada bicara Genuie terasa lain, sepertinya ia marah karena kekasihnya justru menyalahkan kehadirannya.
"Sorry, Baby. Bukan maksudku untuk membuatmu marah, hanya saja ada masalah baru yang muncul saat ini setelah kedatanganmu mendadak tempo hari."
"Katakan, apa masalahnya, kenapa justru kamu marah-marah kepada ku?"
Genuie bersedekap dada, matanya memandang hamparan Savana di hadapannya. Sementara itu Dardack menjelaskan duduk perkaranya.
"Jadi begini ceritanya, Baby ...."
Kesal adalah respon wajar saat mengetahui jika kekasihnya meminta wanita lain untuk menggantikan posisinya sebagai kekasih palsu di hadapan Debora. Meskipun ia marah juga tidak ada gunanya, karena justru Miss Vallery yang diperkenalkan sebagai pasangan kekasih Dardack saat ini.
"Jahat! Kamu sangat tidak adil padaku!"
Genuie mendengus kesal, beberapa saat ia masih mendiamkan Dardack hingga akhirnya Genuie meminta sambungan telepon mereka dihentikan. Dardack hanya bisa pasrah ketika Genuie marah padanya.
"Beraninya ia mencari sosok pengganti untuk diriku, jika aku kembali maka posisi itu akan menjadi milikku lagi Miss Vallery!" ucap Genuie dengan penuh amarah.
Sementara itu Debora tersenyum dari balik pintu. Ia sebenarnya tahu siapa kekasih putra bungsunya itu, hanya saja kemarin ia ingin menguji keberanian putranya. Apakah ia akan memperkenalkan kekasih yang sesungguhnya atau membayar wanita lain untuk berpura-pura. Akhirnya Debora mendapatkan sebuah kebohongan di sana.
"Jika kau menggunakan Vallery sebagai kekasih bayaran, maka Mama akan menjadikannya kekasih sungguhan untukmu," ucap Debora dengan tersenyum manis.
Setelah memastikan semuanya aman, Debora kembali meninggalkan ruang kerja Dardack.
Kediaman De Laurent.
Jari jemari lentik milik Cleo mulai bergerak sedikit demi sedikit. Tidak terasa kedua matanya juga mengerjap, masih mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya.
Hamparan kegelapan yang selalu menemaninya selama beberapa tahun ini terasa lenyap seketika. Berganti dengan lukisan maha karya alam yang sangat indah.
__ADS_1
"Aku di mana? Bukankah aku masih di Rumah Sakit?"
Desain ruang rawat Cleo memang sangat ekslusif. Terlebih ruangan itu berada di Kediaman De Laurent. Sehingga tidak nampak seperti Rumah Sakit pada umumnya bercat putih polos.
Badan Cleo terasa letih, apalagi efek obat bius masih sedikit tersisa, membuat rasa pegal begitu menggelayuti tubuh. Namun, Cleo mulai menyesuaikan pandangannya.
Kedua matanya masih terasa lelah jika dipergunakan terlalu lama. Mungkin karena ia belum terbiasa dan masih menyesuaikan dengan mata barunya.
Syuhhh, wuuusshhh ....
Hembusan angin tiba-tiba datang dan menerpa tubuh Cleo. Perlahan-lahan terasa dingin dan membuat Cleo menarik kembali selimutnya. Ia membaringkan tubuhnya kembali.
Tango tersenyum ketika melihat istrinya sudah siuman. Terlebih Cleo tadi sempat menoleh ke kanan dan kiri, seolah ia sedang memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Apakah ia sudah bisa melihat?" tanya Tango dalam hatinya.
Tiba-tiba suara Cleo terdengar berbicara sendiri, meskipun begitu Tango samar-samar masih bisa mendengarnya.
"Apakah ini beneran Rumah Sakit? Kenapa begitu mewah?"
"Itu karena desain ruangan ini sangat ekslusif, Sayang. Apalagi ruang ini biasa digunakan ayah untuk merawat orang spesial."
Kedua tangan Cleo menggosok lengannya. Sepertinya ia kedinginan karena arwah Tango berada di samping brankarnya. Meskipun bahagia, Tango menjadi bimbang untuk menguak rahasia besarnya saat ini.
"Ish, Tango ... Ngagetin aja!"
Tango tersenyum, "Ma, Cleo sudah siuman."
"Serius?" Mama Rose menoleh ke arah putranya.
Tango mengangguk bahagia, diikuti senyum dari Rose setelahnya.
"Baiklah kita ke ruang rawatnya, sekarang!"
Tango memegang lengan Rose. "Apakah aku harus menunjukkan kehadiranku?"
"Tentu saja, Sayang. Nanti kita bicarakan pelan-pelan tentang keadaanmu padanya. Saat ini yang terpenting adalah ketika ia sadar ada kita di sisinya."
"Ya sudah, kalau begitu aku ikut!"
Tango mengekor di belakang Rose. Namun, sebelumya ia sudah mengubah dirinya agar bisa terlihat oleh manusia.
"Kenapa detak jantungku tidak karuan seperti saat ini, apakah ini yang dinamakan dengan cinta?"
__ADS_1
Lamunan Tango terhenti ketika ia melihat Rose tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ternyata mereka sudah masuk ke dalam ruang inap Cleo.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Rose ramah.
Cleo menoleh ke arah sumber suara. Ia hafal betul dengan suara wanita itu dan benar saja saat ini Rose dan Tango sudah berada di sisi brankar.
"Mama Rose?"
"Iya, ini aku dan ini suami kamu, Tango."
Tango yang awalnya sembunyi kini berdiri tegak di samping Mamanya. Cleo menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum lebar. Sekali lagi, Tango terpesona akan kecantikan Cleo.
"Bagaimana keadaan kamu? Sudah membaikkah?"
Cleo mengangguk senang, "Terima kasih, Ma aku bisa melihat saat ini," ucapnya sambil terharu.
Tango dapat melihat dengan jelas jika sorot mata Cleo yang sudah mengikuti sumber suara dan obyek di hadapannya saat ini. Itu artinya ia benar-benar sudah bisa melihat.
"Tidak sia-sia aku mendonorkan mataku padanya," gumam Tango.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada Tango, karena dia yang ...." ucapan Rose terpotong karena Tango menyenggol bahu Rose.
Rose sendiri lupa karena mau mengatakan jika orang yang menyumbang kedua mata itu adalah suami Cleo sendiri yaitu Tango. Akan tetapi jika ia mengatakannya, bukankah sama saja artinya dengan mengatakan jika Tango sudah meninggal. Karena memang operasi itu bisa terjadi jika sang pendonor sudah meninggal baru ia bisa mendonorkan matanya.
"Kenapa, Ma? Apa ada yang salah? Bukankah memang Tango yang mendorong dan memberikan supportnya kepadaku agar aku mau melakukan ini?"
Rose mengangguk, "Iya, maksud Mama bicara seperti itu."
Cleo tersenyum manis ke arah Tango. Meskipun malu-malu tetapi ia tetap mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.
"Terima kasih banyak suamiku, Tuan Tango."
Tango mengangguk, "Sama-sama, Sayang."
Cleo melihat Tango dengan tatapan penuh cinta, ternyata suaminya memang sangat tampan. Hal itu terbukti saat ini. Betapa beruntungnya Cleo mendapatkan suami seperti Tango.
Rose sudah merasakan aroma-aroma cinta antara Cleo dan Tango, daripada mengganggu, ia memilih untuk segera pergi.
"Mama sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Papa, sebaiknya kalian mengobrol berdua saja, Mama pergi dulu ya, Sayang."
"Iya, Ma."
Rose yang sudah melangkah kembali menoleh, "Oh iya, setelah ini, mungkin Papa akan kemari mengecek keadaan mata kamu, Sayang."
__ADS_1
"Iya, Ma. Terima kasih."