
Terlalu banyak berada di bawah sinar matahari membuat Tango melemah kekuatannya. Sehingga ia harus sering bersembunyi ketika berhadapan dengan anggota keluarga El Vanezz. Padahal saat ini seharusnya Tango menemani Cleo di dalam ruang perawatan Debora.
"Kenapa suamimu tidak kau ajak masuk, Cleo?"
Cleo menoleh ke arah suaminya, sejenak ia lupa dengan kondisi matanya yang sudah bisa melihat. Hampir saja hal itu diketahui Nyonya Debora. Beruntung alarm otomatis di dalam pikiran Cleo bekerja dengan baik.
"Tuan Tango sangat lelah akibat banyaknya pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari ini, sehingga ia meminta ijin untuk istirahat sebentar. Aku mohon maaf pada nenek karena ia belum bisa ke sini untuk menyapa nenek."
"Syukurlah kalau begitu, nenek kira kalian ada apa-apa sehingga terlihat seolah saling menghindar satu sama lain."
Cleo tersenyum, "Tentu saja tidak, Nek. Hubungan kami sungguh baik-baik saja."
"Maaf karena telah membuatmu khawatir dengan keadaan nenek. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu, sehingga ketika Nenek sakit, tidak langsung menghubungimu."
"Aku mengerti, Nek."
Seolah ada kekuatan lain yang sedang menahan Tango sehingga ia tidak bisa mendekati Debora. Mungkin saja Nenek Cleo itu memakai kalung penolak makhluk, sehingga saat berada di dekatnya ia merasa panas.
__ADS_1
Kekuatan Tango memang tidak akan pernah sempurna, karena pada saat ini jasadnya masih berada di Mansion De Laurent.
"Bagaimana aku bisa bertahan jika ada dinding pembatas yang selalu melindungi Nenek Debora."
Tango menyandarkan tubuhnya di dinding kamar perawatan Debora.
"Dulu saat aku masih menjadi manusia, aku tidak merasakan keanehan saat di dekatnya. Akan tetapi saat ini terasa menyakitkan ketika aku sudah menjadi arwah. Lalu bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan nenek jika berdekatan saja aku sudah merasa panas."
"Kenapa kalau gemuk? Ketika dipegang kalau lembut baru bagus. Aku baru suka."
Entah sejak kapan Tango sudah masuk ke dalam ruangan Debora. Padahal tadi ia tidak bisa masuk ke sana. Tentu saja Cleo menjadi salah tingkah.
"Bagaimana bisa Tango berbicara seperti itu? Enak saja mengataiku secara tidak langsung!"
"Dari mana orang ini mempelajari perkataan ini, apa karena kami berpisah beberapa menit sehingga otaknya sedikit konslet?"
Kemampuan Tango dalam membaca pikiran masih banyak, saat ini ia juga sedang membaca pikiran Cleo. Oleh karena itu Tango mendekati istrinya sambil menyandarkan dagunya ke bahu Cleo.
__ADS_1
"Ck, istriku yang unik, aku betul-betul sangat menyukaimu."
Melihat interaksi Cleo dan Tango, luntur sudah keraguan di dalam hati Debora. Ia sangat yakin jika apa yang menjadi impian Fernandez dan Amora sebentar lagi akan tercapai. Kini yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia bisa mendirikan satu perusahaan lagi untuk Dardack.
Bagaimana pun dia juga putranya. Sayang sekali Debora tidak tahu bahagaimana Dardack berbuat licik terhadapnya.
"Oh ya, Nek, dimana paman saat ini. Kenapa sedari tadi aku tidak melihatnya?"
Debora tersenyum masam. Ia juga tidak tahu dimana putra sulungnya saat ini. Yang ia tahu adalah beberapa jam lalu dokter mengatakan jika Dardack pergi ke luar Rumah Sakit.
"Mungkin saja paman ada urusan kantor sehingga saat ini tidak bisa menemani nenek. Kamu jangan membuat nenek berpikiran macam-macam. Itu tidak baik untuk kesehatannya."
"Iya, Nyonya Cleopatra yang tercinta. Maafkan aku untuk kecurigaanku barusan," ucap Tango sambil membungkuk hormat.
Cleo terkikik geli akibat tingkah laku suaminya. Begitu pula dengan Debora.
"Syukurlah kamu menemukan seseorang yang tepat untukmu, Sayang."
__ADS_1