
Akhirnya penantian panjang dari Tango berakhir. Teringat jika dia bisa menemui seseorang dalam mimpinya, membuat Tango tidak sabar untuk menunggu Cleo tertidur.
Ia juga ingin mencoba metode yang sama dengan ketika ia masuk ke dalam mimpi Presdir Lim.
"Semoga saja dengan cara ini berhasil! Aku sudah tidak sabar untuk menunggu waktu itu tiba," gumam Tango.
Mungkin inilah yang dinamakan berjodoh dengan takdir. Tidak membutuhkan waktu lama, Cleo kini sudah terlelap. Tango yang melihat kesempatan itu segera masuk ke dalam alam mimpi Cleo.
"Begitu indah mimpimu, Sayang," gumam Tango dari kejauhan.
Di tengah taman bunga, Cleo tampak sedang mencium dan mengumpulkan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Di salah satu tangannya terdapat keranjang penuh dengan bunga aneka warna.
"Jika aku yang menjadi kumbang di antara beberapa kumbang yang mengerubungi dirimu, apakah kau akan tetap memilih aku?"
Sebuah pertanyaan konyol tiba-tiba saja terlontar dari bibir Tango. Entah sadar atau tidak suara Tango berhasil terdengar oleh Cleo. Mendengar suara Tango, tentu saja Cleo buru-buru menoleh untuk mencari sumber suara.
Hingga sosok lelaki tampan dengan rahang yang kokoh tersenyum ke arah Cleo. Seperti mimpi Cleo bisa melihat suaminya kembali. Dengan langkah kaki perlahan, Cleo mendekati Tango.
"Mas, itu beneran kamu?"
Tango merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum. Tanpa membuang waktu lagi, Cleo segera berlari dan menghamburkan tubuhnya ke arah Tango. Betapa bahagianya Tango bisa memeluk istri tercinta.
"Apa kau merindukanku?" tanya Tango dengan polosnya.
"Tentu saja, aku sangat merindukan kamu, Mas."
Cleo mengangguk, bagaimana pun rasa cinta telah merasuk ke dalam jiwanya. Semakin lama semakin tumbuh subur bagaikan sebuah tanaman yang dirawat dengan sepenuh hati.
Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati yang berlabuh di tempat yang tepat. Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Tango.
__ADS_1
"Kenapa pulangnya lama sekali, Mas. Apakah pekerjaan kamu jauh lebih penting daripada aku?"
"Tentu saja tidak, aku justru ingin segera pulang tetapi takdir menahanku. Maaf."
"Bagaimana pun aku tidak akan melepasmu lagi. Aku nggak mau hidup sendirian."
Kemeja putih yang dikenakan Tango mulai basah. Ia bisa merasakan jika Cleo menangis.
"Untuk apa kamu menangis, Sayang. Aku tidak mau kamu meneteskan air mata untuk aku yang tidak berguna ini."
"Hust, kata siapa? Justru sekarang aku yang gi-la akan cinta darimu. Mungkinkah kamu tahu jika kamulah cinta pertamaku setelah cintaku kepada ayah."
Tango menatap haru ke arah istrinya.
"Begitu pula dengan aku yang sangat mencintai kamu, Cleopatra El Vanezz. Kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa menggetarkan hatiku dengan satu kali hembusan nafas."
"Maafkan aku yang justru bersikap aneh terhadapmu di awal waktu kita berjumpa."
"Andaikan kamu masih hidup, Mas."
Baru saja, Cleo hendak berbicara lebih banyak lagi, ternyata bayangan Tango kembali menghilang. Tentu saja hal itu membuat Cleo bersedih dan tiba-tiba saja terbangun sendiri.
"Astaga ternyata aku hanya bermimpi?"
Cleo mengusap gusar wajahnya. Tangisnya pecah, menemani ia yang kesepian karena suaminya hanya datang sebagai pemanis mimpi.
"Kamu tidak salah, Sayang. Meskipun aku tahu jika ini salah justru kebohongan yang diberikan oleh keluargaku, aku serius minta maaf."
Keheningan terjadi hingga beberapa saat. Pada akhirnya Tango tidak bisa menembus alam mimpi Cleo lagi. Saat ini Tango hanya ingin menjaga Cleo dengan semampunya.
__ADS_1
"Selamanya aku akan tetap berada di sisimu, Sayang. I love you."
Merasa jika tengkuknya ditiup, Cleo segera mengusapnya dengan perlahan. Namun, rupanya Tango semakin ingin mengerjai istrinya tersebut, jarang sekali ia bisa bermesraan dengan Cleo setelah arwahnya benar-benar tidak bisa nampak kembali.
"Jika aku memiliki kesempatan sekali lagi, maka aku akan memperbaiki sikapku dan aku juga akan selalu menjagamu."
Tatapan penuh cinta dilayangkan Tango kepada istrinya tersebut. Meskipun awalnya rasa cinta di hatinya tidak pernah ada, tetapi dengan perlahan seiring berjalannya waktu rasa cinta itu semakin tumbuh subur untuk istrinya.
Sayang, saat ini dirinya sudah meninggal dan tidak mungkin lagi bisa bersama dengan sang istri. Hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh atau berbicara dengannya adalah sebuah hal yang menyakitkan bagi Tango.
"Kenapa aku meninggal dengan begitu cepat kenapa Tuhan mengambil nyawaku disaat aku mulai mencintai calon istriku."
"Seharusnya aku mencintaimu sejak dulu Cleo. Seharusnya dulu aku tidak bersikap angkuh terhadapmu, jika aku bisa mengulang waktu, aku ingin mencintaimu dari awal kita bertemu."
Ternyata ungkapan hati Tango menyentuh langit. Malam yang awalnya penuh bintang, kini mulai mendung hingga salju pun turun dengan perlahan.
"Wah salju turun, pertanda apa ini? Padahal tadi langit masih bertaburan bintang-bintang," ucap Cleo sambil memandang hamparan langit dari balkon kamarnya.
Tango yang ada di belakang Cleo mendekati istrinya. Salah satu tangannya terulur untuk memegang pinggang ramping milik istrinya tersebut. Saat ini pinggang Cleo terasa dingin, terasa seperti ada yang memegang, tetapi tidak ada wujud apapun di samping Cleo saat ini.
"Apakah kamu berada di sampingku? Tidak bisakah kau menunjukkan keberadaanmu saat ini?"
Cleo seolah berbicara terhadap angin, tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Hanya hembusan angin yang menyapa kulit. Cleo mencebikkan bibirnya ke depan.
"Ya ampun, ternyata kamu bisa menggemaskan seperti ini?"
Tango terlihat gemas terhadap istrinya itu.
"Bagaimana caraku untuk bisa menggapaimu."
__ADS_1
Rasanya sangat melelahkan jika terus berharap, maka dari itu Tango lebih memilih untuk melepaskan tangannya dari pinggang Cleo lalu pergi menjauh.
"Kenapa aku merasa kamu justru menjauh, apakah rasa cinta kita berakhir sampai di sini?"