My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 105. TERTAHAN


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Presdir Lim maka Tango akhirnya bisa bernafas lega.


"Syukurlah masih ada orang baik di sini," gumam Tango.


Setidaknya perusahaan istrinya akan tetap aman terkendali. Di tambah lagi dengan semua hal yang tertulis di sana membuat Tango memercayai ucapan Presdir Lim.


"Tenanglah, aku akan tetap membantumu untuk mewujudkan semua hal yang berkaitan dengan perusahaan Cleo. Aku bisa menjamin semuanya akan baik-baik saja."


Tuan Dimitri dan juga Nyonya Rose tampak kebingungan ketika menyadari jika Cleo lebih tertutup beberapa hari ini. Adapun hal itu karena Cleo jarang sekali bertemu dengan mereka. Lagi pula, banyak pekerjaan yang membuat mereka jarang bertemu.


Begitu pula dengan Tango yang jarang bertemu dengan istrinya. Komunikasi di antara keduanya terjalin dengan cara lain. Menuliskan kata-kata cinta di atas kertas sebagai mengobat rindu di antara keduanya.


Seperti saat ini, Cleo menemukan secarik kertas yang berada di atas meja. Dengan perlahan ia mulai membacanya, ternyata tulisan itu dari Tango suaminya sendiri.


"Maaf, aku tidak lagi bisa mendekati kamu, karena belum siap untuk mengatakan keinginan dari kedua orang tuaku."


Tango menatap Cleo dari kejauhan. Sama halnya dengan Cleo yang lebih memilih untuk menghabiskan banyak waktu dengan melihat ke arah layar datar berukuran dua belas inchi itu.


"Huft, " Cleo tampak membuang kasar nafasnya.


Meletakkan kacamata anti radiasi miliknya ke atas meja kerja. Mencoba menyadarkan punggungnya yang terasa panas karena terlalu lama dalam bekerja.


Cleo tampak mengintip jam dinding di kamarnya itu lalu sejenak ia merapikan penampilannya dan menuju ke kamar mandi. Malam ini seharusnya ia lembur lagi. Akan tetapi ia sedikit takut jika tidak sanggup untuk mengerjakan proyek itu sampai tengah malam. Rasa lelah yang mendera membuatnya ingin istirahat lebih awal.


"Sebaiknya aku mengerjakan hal itu esok pagi. Semoga saja masih ada waktu untuk hal itu."


Setelah membasuh wajahnya, kini Cleo menuju tempat tidurnya untuk beristirahat. Rasanya punggung miliknya terlalu lelah. Apalagi ia sampai lupa untuk minum. Makanya saat ini punggungnya terasa menyakitkan.


"Oh, astaga aku capek sekali!"


Tango semakin merasa bersalah tatkala melihat Cleo mengusap punggungnya.


"Maafkan aku yang terlalu egois. Hingga kematianku bahkan juga masih merepotkan dirimu."


Tidak terasa air mata Tango menetes. Ia pun sampai terkejut karena hal itu.


"What's? Apa ini? Masa iya hantu bisa menangis?"


Meskipun awalnya ia ragu, tetapi kenyataannya berkata lain. Tango memang hantu, tetapi ia juga bisa menangis selayaknya manusia biasa.


Setelah memastikan Cleo terlelap, maka ia akan mengunjungi kamar ibu dan ayahnya. Terlihat kedua orang tuanya sudah tertidur pulas. Maka dari itu Tango pun membiarkan mereka semua beristirahat.


"Kalian tampak kelelahan rupanya, maaf karena aku tidak pernah bisa membahagiakan kalian seperti seharusnya."


Ucapan dari Tango memang terdengar lirih. Maka dari itu untuk sesaat, ia hanya melihat dari kejauhan pula. Jika nanti tiba saatnya, maka ia akan memastikan keadaan rumah rival bisnisnya itu.


"Akh, melelahkan sekali. Bagaimana bisa aku hidup panjang umur kalau terus seperti ini."


Juno terlihat sesekali mengumpat nama baik keluarganya.


"Jika kalian tidak menyadarinya maka sudah bisa dipastikan, kemenangannya adalah untuk bersama, Keluarga besar De Laurent."


...👑 Mansion El Vanezz...


Sebagai seorang anak yang berbakti, maka saat tepat tanggal dua puluh dua desember, Dardack membelikkan sebuah buket bunga untuk sang mama, Nyonya Debora.


"Selamat ulang tahun, Mama."


"Terima kasih, Sayang."


Nyonya Debora tersenyum ramah pada Dardack.


"Seharusnya kalau kamu ingin memberikan surprise, jangan berharap jika bumi terus hujan setiap waktu."


"Maksudnya?"


"Mama nggak akan ada untuk selamanya. Saat ini Mama sudah berusia lanjut, sehingga kamu harus mencoba mencari pendamping hidup."


"Tapi, Ma? Aku takut jika mereka menargetkan aku dan justru membuatku tidak bisa bertahan lebih lama daripada Mama."


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


belum rev


Setelah pertemuannya dengan Presdir Lim maka Tango akhirnya bisa bernafas lega.


"Syukurlah masih ada orang baik di sini," gumam Tango.


Setidaknya perusahaan istrinya akan tetap aman terkendali. Di tambah lagi dengan semua hal yang tertulis di sana membuat Tango memercayai ucapan Presdir Lim.


"Tenanglah, aku akan tetap membantumu untuk mewujudkan semua hal yang berkaitan dengan perusahaan Cleo. Aku bisa menjamin semuanya akan baik-baik saja."


Tuan Dimitri dan juga Nyonya Rose tampak kebingungan ketika menyadari jika Cleo lebih tertutup beberapa hari ini. Adapun hal itu karena Cleo jarang sekali bertemu dengan mereka. Lagi pula, banyak pekerjaan yang membuat mereka jarang bertemu.


Begitu pula dengan Tango yang jarang bertemu dengan istrinya. Komunikasi di antara keduanya terjalin dengan cara lain. Menuliskan kata-kata cinta di atas kertas sebagai mengobat rindu di antara keduanya.


Seperti saat ini, Cleo menemukan secarik kertas yang berada di atas meja. Dengan perlahan ia mulai membacanya, ternyata tulisan itu dari Tango suaminya sendiri.


"Maaf, aku tidak lagi bisa mendekati kamu, karena belum siap untuk mengatakan keinginan dari kedua orang tuaku."


Tango menatap Cleo dari kejauhan. Sama halnya dengan Cleo yang lebih memilih untuk menghabiskan banyak waktu dengan melihat ke arah layar datar berukuran dua belas inchi itu.


"Huft, " Cleo tampak membuang kasar nafasnya.


Meletakkan kacamata anti radiasi miliknya ke atas meja kerja. Mencoba menyadarkan punggungnya yang terasa panas karena terlalu lama dalam bekerja.


Cleo tampak mengintip jam dinding di kamarnya itu lalu sejenak ia merapikan penampilannya dan menuju ke kamar mandi. Malam ini seharusnya ia lembur lagi. Akan tetapi ia sedikit takut jika tidak sanggup untuk mengerjakan proyek itu sampai tengah malam. Rasa lelah yang mendera membuatnya ingin istirahat lebih awal.


"Sebaiknya aku mengerjakan hal itu esok pagi. Semoga saja masih ada waktu untuk hal itu."


Setelah membasuh wajahnya, kini Cleo menuju tempat tidurnya untuk beristirahat. Rasanya punggung miliknya terlalu lelah. Apalagi ia sampai lupa untuk minum. Makanya saat ini punggungnya terasa menyakitkan.


"Oh, astaga aku capek sekali!"


Tango semakin merasa bersalah tatkala melihat Cleo mengusap punggungnya.


"Maafkan aku yang terlalu egois. Hingga kematianku bahkan juga masih merepotkan dirimu."


Tidak terasa air mata Tango menetes. Ia pun sampai terkejut karena hal itu.


"What's? Apa ini? Masa iya hantu bisa menangis?"


Meskipun awalnya ia ragu, tetapi kenyataannya berkata lain. Tango memang hantu, tetapi ia juga bisa menangis selayaknya manusia biasa.


Setelah memastikan Cleo terlelap, maka ia akan mengunjungi kamar ibu dan ayahnya. Terlihat kedua orang tuanya sudah tertidur pulas. Maka dari itu Tango pun membiarkan mereka semua beristirahat.


"Kalian tampak kelelahan rupanya, maaf karena aku tidak pernah bisa membahagiakan kalian seperti seharusnya."


Ucapan dari Tango memang terdengar lirih. Maka dari itu untuk sesaat, ia hanya melihat dari kejauhan pula. Jika nanti tiba saatnya, maka ia akan memastikan keadaan rumah rival bisnisnya itu.


"Akh, melelahkan sekali. Bagaimana bisa aku hidup panjang umur kalau terus seperti ini."


Juno terlihat sesekali mengumpat nama baik keluarganya.


"Jika kalian tidak menyadarinya maka sudah bisa dipastikan, kemenangannya adalah untuk bersama, Keluarga besar De Laurent."


👑 Mansion El Vanezz


Sebagai seorang anak yang berbakti, maka saat tepat tanggal dua puluh dua desember, Dardack membelikkan sebuah buket bunga untuk sang mama, Nyonya Debora.


"Selamat ulang tahun, Mama."


"Terima kasih, Sayang."


Nyonya Debora tersenyum ramah pada Dardack.


"Seharusnya kalau kamu ingin memberikan surprise, jangan berharap jika bumi terus hujan setiap waktu."


"Maksudnya?"


"Mama nggak akan ada untuk selamanya. Saat ini Mama sudah berusia lanjut, sehingga kamu harus mencoba mencari pendamping hidup."


"Tapi, Ma? Aku takut jika mereka menargetkan aku dan justru membuatku tidak bisa bertahan lebih lama daripada Mama."

__ADS_1


"Apa maksudnya?"


Setelah pertemuannya dengan Presdir Lim maka Tango akhirnya bisa bernafas lega.


"Syukurlah masih ada orang baik di sini," gumam Tango.


Setidaknya perusahaan istrinya akan tetap aman terkendali. Di tambah lagi dengan semua hal yang tertulis di sana membuat Tango memercayai ucapan Presdir Lim.


"Tenanglah, aku akan tetap membantumu untuk mewujudkan semua hal yang berkaitan dengan perusahaan Cleo. Aku bisa menjamin semuanya akan baik-baik saja."


Tuan Dimitri dan juga Nyonya Rose tampak kebingungan ketika menyadari jika Cleo lebih tertutup beberapa hari ini. Adapun hal itu karena Cleo jarang sekali bertemu dengan mereka. Lagi pula, banyak pekerjaan yang membuat mereka jarang bertemu.


Begitu pula dengan Tango yang jarang bertemu dengan istrinya. Komunikasi di antara keduanya terjalin dengan cara lain. Menuliskan kata-kata cinta di atas kertas sebagai mengobat rindu di antara keduanya.


Seperti saat ini, Cleo menemukan secarik kertas yang berada di atas meja. Dengan perlahan ia mulai membacanya, ternyata tulisan itu dari Tango suaminya sendiri.


"Maaf, aku tidak lagi bisa mendekati kamu, karena belum siap untuk mengatakan keinginan dari kedua orang tuaku."


Tango menatap Cleo dari kejauhan. Sama halnya dengan Cleo yang lebih memilih untuk menghabiskan banyak waktu dengan melihat ke arah layar datar berukuran dua belas inchi itu.


"Huft, " Cleo tampak membuang kasar nafasnya.


Meletakkan kacamata anti radiasi miliknya ke atas meja kerja. Mencoba menyadarkan punggungnya yang terasa panas karena terlalu lama dalam bekerja.


Cleo tampak mengintip jam dinding di kamarnya itu lalu sejenak ia merapikan penampilannya dan menuju ke kamar mandi. Malam ini seharusnya ia lembur lagi. Akan tetapi ia sedikit takut jika tidak sanggup untuk mengerjakan proyek itu sampai tengah malam. Rasa lelah yang mendera membuatnya ingin istirahat lebih awal.


"Sebaiknya aku mengerjakan hal itu esok pagi. Semoga saja masih ada waktu untuk hal itu."


Setelah membasuh wajahnya, kini Cleo menuju tempat tidurnya untuk beristirahat. Rasanya punggung miliknya terlalu lelah. Apalagi ia sampai lupa untuk minum. Makanya saat ini punggungnya terasa menyakitkan.


"Oh, astaga aku capek sekali!"


Tango semakin merasa bersalah tatkala melihat Cleo mengusap punggungnya.


"Maafkan aku yang terlalu egois. Hingga kematianku bahkan juga masih merepotkan dirimu."


Tidak terasa air mata Tango menetes. Ia pun sampai terkejut karena hal itu.


"What's? Apa ini? Masa iya hantu bisa menangis?"


Meskipun awalnya ia ragu, tetapi kenyataannya berkata lain. Tango memang hantu, tetapi ia juga bisa menangis selayaknya manusia biasa.


Setelah memastikan Cleo terlelap, maka ia akan mengunjungi kamar ibu dan ayahnya. Terlihat kedua orang tuanya sudah tertidur pulas. Maka dari itu Tango pun membiarkan mereka semua beristirahat.


"Kalian tampak kelelahan rupanya, maaf karena aku tidak pernah bisa membahagiakan kalian seperti seharusnya."


Ucapan dari Tango memang terdengar lirih. Maka dari itu untuk sesaat, ia hanya melihat dari kejauhan pula. Jika nanti tiba saatnya, maka ia akan memastikan keadaan rumah rival bisnisnya itu.


"Akh, melelahkan sekali. Bagaimana bisa aku hidup panjang umur kalau terus seperti ini."


Juno terlihat sesekali mengumpat nama baik keluarganya.


"Jika kalian tidak menyadarinya maka sudah bisa dipastikan, kemenangannya adalah untuk bersama, Keluarga besar De Laurent."


...👑 Mansion El Vanezz...


Sebagai seorang anak yang berbakti, maka saat tepat tanggal dua puluh dua desember, Dardack membelikkan sebuah buket bunga untuk sang mama, Nyonya Debora.


"Selamat ulang tahun, Mama."


"Terima kasih, Sayang."


Nyonya Debora tersenyum ramah pada Dardack.


"Seharusnya kalau kamu ingin memberikan surprise, jangan berharap jika bumi terus hujan setiap waktu."


"Maksudnya?"


"Mama nggak akan ada untuk selamanya. Saat ini Mama sudah berusia lanjut, sehingga kamu harus mencoba mencari pendamping hidup."


"Tapi, Ma? Aku takut jika mereka menargetkan aku dan justru membuatku tidak bisa bertahan lebih lama daripada Mama."

__ADS_1


"Apa maksudnya?"


__ADS_2