
Ternyata alergi memiliki alergi pedas. Ia tidak bisa memakan makanan pedas dengan level tertentu, sementara itu Laluna ternyata suka makanan pedas.
Bagian tengkuk leher Sean timbul bintik-bintik merah. Itu biasanya akan muncul jika Sean lupa minum penghilang alergi sebelum makan. Kebetulan tadi Sean lupa membawanya sehingga alergi itu muncul seketika
Sean begitu khawatir ketika Laluna tidak juga kembali dari kamar mandi. Firasatnya mengatakan jika ada sesuatu hal yang tidak baik sedang mengancamnya. Tentu saja Sean bergegas menyusul Laluna ke kamar mandi.
"Semoga tidak terjadi apapun saat ini, aku tidak mau Laluna kembali terluka."
Ternyata benar, ketika Laluna sedang bersama seorang lelaki yang hendak melukainya. Namun, sebuah pertunjukkan diberikan olehnya saat itu juga.
Laluna menampar lelaki tadi ketika ia mulai melecehkan dirinya. Laluna kesal karena setiap kali ia sendirian ada saja yang memperlakukan dirinya dengan tidak hormat.
Senyum Sean tersungging sempurna. Laluna yang melihat Sean segera berlari ke arahnya.
"Untung kamu datang, ayo kita pulang, Sayang."
Tanpa diminta, Laluna menyeret Sean agar mengikutinya keluar kedai hotpot tersebut. Ia benar-benar tidak suka berlama-lama di tempat tersebut. Mulutnya tidak berhenti mengomel sepanjang jalan.
"Bisa-bisanya menyamakan aku dengan sosok wanita penghibur, dasar om-om botak hidung belang tidak berguna!"
Sean yang mendengar omelan Laluna hanya bisa tersenyum. Ia tidak menyangka bisa mencintai gadis cantik tetapi mempunyai sikap bar-bar seperti dia.
"Oh, ya. Aku antar kamu pulang ke apartemen ya, aku masih ada urusan kantor yang tidak bisa aku tinggalkan sejenak."
Sontak Laluna menoleh, "Kok tumben, kenapa mendadak sekali, bukankah hari ini kamu libur?"
Sean sebenarnya hanya ingin pergi ke dokter spesialis kulit untuk menyembuhkan alergi miliknya. Akan tetapi ia tidak cukup pintar untuk mencari sebuah alasan.
"Mobilmu sangat hangat, kancingmu juga terlalu ketat, apakah itu nyaman? Aku saja yang melihatnya sesak nafas."
Laluna memang melihat penampilan Sean terlihat aneh kali ini. Apalagi setelah makan hotpot ia menjadi irit bicara tidak seperti sebelumnya.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah terbiasa seperti ini," ucap Sean sambil menahan rasa gatal di beberapa bagian tubuhnya.
Padahal saat itu lengan kanan yang bersembunyi di balik jas miliknya sudah terlihat memerah. Ternyata penghilang alergi yang semula ia minum sama sekali tidak mengurangi rasa gatal yang timbul karena makan hotpot tadi.
Secara tidak sengaja Laluna melihat luka merah di tangan Sean. Maka ia pun memegang tangannya dan bertanya ada apa dengan tangan Sean kenapa terlihat memerah.
"Ada apa dengan tanganmu! Kenapa terlihat memerah?"
__ADS_1
Tentu saja Laluna khawatir jika terjadi apa-apa dengan Sean. Saat Laluna hendak memegang tangannya, Sean justru menarik tangan dan menghindar.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin fokus pada jalanan, apalagi jalanan sedang ramai," ucap Sean sambil mengerling.
Laluna yang salah paham justru terpancing emosinya. "Kamu duluan yang bersikap aneh hari ini. Jadi jangan salahkan aku jika aku marah!"
Padahal di dalam hati saya yang menutupi sikapnya yang tidak bisa jujur terhadap Laluna sebenarnya ia ingin mengatakan hal ini akan tetapi karena terlalu takut melukai hati Laluna maka ia menyimpannya sendiri.
"Maafkan aku Lun-Lun, aku tidak mau menyakiti hatimu lagi."
Setelah beberapa saat akhirnya Sean berhasil mengantar Laluna kembali ke apartemen.
"Aku pergi dulu, ya. Jika kamu sudah mengantuk, kamu boleh tidur dulu, ya."
"Baiklah, hati-hati."
Sepeninggal Laluna sen segera mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter pribadinya ia merasa sudah tidak tahan karena tubuhnya sudah penuh dengan bintik-bintik merah dan terasa amat gatal. Penghilang alergi yang biasa ia minum tersebut, tidak ada gunanya sama sekali.
"Segera temui aku, sekarang!" ucap Sean dengan kesal.
Dokter Michael memandang ke arah halaman rumahnya, ia belum juga melihat kedatangan Sean di sana. Dengan wajah setengah kesal, ia memandang arloji miliknya.
Beberapa saat kemudian, di sebuah kamar apartemen milik dokter Michael.
"Jangan bergerak!"
"Bisa diam nggak sih!"
"Aku tidak akan menekannya Mr. Arogant, astaga!"
"Hei, aku sudah bilang padamu, jangan bergerak!"
Dokter Michael dengan telaten mengoleskan sebuah salep penghilang gatal di tengkuk dan beberapa bagian tubuh Sean yang memerah akibat alergi.
"Kenapa kau terlihat gelisah?"
Dengan wajah dinginnya, Sean hanya diam.
"Aku sudah diam, cepat oleskan atau aku tidak akan membayarmu!"
__ADS_1
"Astaga! Kalau begitu oleskan sendiri salepnya!"
Michael benar-benar bisa darah tinggi jika berhadapan dengan Sean yang arogant dan seperti kulkas beku.
"Aku akan membekukanmu sampai ma-ti! Kau ini benar-benar menyebalkan. Sudah tahu punya alergi dengan makanan pedas, masih memakannya. Apa selera makannya sudah berubah hanya demi seorang wanita?"
"Kau sudah tahu jika makan makanan pedas itu bisa menyebabkan reaksi alergi, tapi kau masih memakannya. Aku tidak sebebas itu untuk kau panggil ke sini S.E.T.I.A.P S.A.A.T!"
"Kau juga tahu, aku melakukan semua ini juga karena nasehat darimu, lagi pula aku sudah meminum penghilang rasa sakit itu tetapi ternyata tidak berguna!"
"Itu untuk penggunaan harian. Kau pikir itu Eliksir?" ucap Michael kesal.
Meskipun kesal dokter Michael tetap mengoleskan obat itu pada Sean.
"Tapi bisa aku pastikan jika tanpa penghilang rasa sakit dariku, aku pastikan kau sudah berakhir di Rumah Sakit!"
Setelah beberapa saat akhirnya kegiatan itu selesai. Dokter Michael terlihat sangat lelah karena Sean tidak mendengarkan perkataannya dan terus bergerak sedari tadi.
Ia mengusap peluh yang mengucur di keningnya lalu sesaat kemudian mengingatkan Sean agar lebih berhati-hati kedepannya.
"Aku sudah menggunakan resep khusus agar alerginya cepat menghilang. Tunggu beberapa jam lagi hingga ia menghilang, atau kau tidak akan bisa keluar besok."
"Jadi aku tidak bisa kembali malam ini?"
Dokter Michael yang hendak pergi segera berbalik. "Sabar, semua akan indah pada waktunya. Beri alasan yang tepat untuknya maka kau akan selamat."
Dengan wajah datar, Sean yang lelah segera mengusir dokter Michael dari dalam kamarnya.
"Kalau sudah tidak ada urusan, silakan pergi dari kamarku!"
Sontak saja dokter Michael kesal. Bisa-bisanya ia diusir dari dalam kamarnya sendiri.
"Hei, seperti inikah kau memperlakukan tuan rumah. Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah menyelamatkan nyawamu saat ini, bukannya mengusir seperti ini!"
Sean yang sudah lelah semakin kesal melihat dokter Michael yang tidak mau pergi dari kamarnya. Apalagi dokter Michael sengaja membuat Sean marah.
Dengan sengaja Sean segera menarik kerah baju dokter Michael dan menyeretnya keluar.
"Dasar, kau mysophobic brengs*k! Akan aku balas kau suatu hari nanti!" ucap dokter Michael kesal karena terusir dari kamarnya sendiri.
__ADS_1