My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 20. IT'S YOUR TIME


__ADS_3

Bahagia karena telah melalui sebuah ujian yang berat selama hampir tujuh hari, kini Tango sudah berhasil menyempurnakan semua ilmu sihirnya.


Semua berkat kerja keras Tango dan pengawasan ketat dari Pendeta Louis. Banyak hal yang diberikan pada Tango, karena itu sebagai bentuk balas budinya terhadap Tuan Dimitri, ayah Tango


Hanya saja ada satu kekurangan yang harus dihindari oleh Tango. Ia tidak bisa secara langsung berada di bawah sinar matahari, kurang lebih mirip seperti vampire yang bisa menjadi kuat ketika berada di dalam kegelapan, tetapi lemah ketika di siang hari.


"Terima kasih, Pendeta Louis, kebaikan hatimu akan aku ingat selamanya."


"Sama-sama, tapi ingat, segera bawa jasadmu kesini secepatnya! Atau kalau tidak ...."


"Kalau itu tolong kau bantu aku bicara pada Papa biar semuanya lebih lancar, soal pencarian dana donasi akan aku atur setiap bulan."


"Terima kasih."


"Sama-sama, aku pamit!"


Setelah berpamitan Tango segera pamit, seketika ia melesat ke angkasa dan kembali ke mansion dalam beberapa menit. Betapa bahagianya ia melihat Cleo sedang berada di balkon.


"Istriku aku kembali."


Alex merapikan penampilan sebelum ia menemui istri yang telah dirindukannya selama satu minggu lebih. Tidak terasa wajah Cleo semakin terlihat cantik saat dibawah sinar rembulan.


Kulitnya yang seputih susu, belum lagi rambutnya yang dibiarkan tergerai membuat Tango seketika tersihir. Tangannya terulur untuk memeluk pinggang ramping yang terbungkus babydol kedodoran itu.


Tentu saja Cleo terjingkat karena kejutan manis dari suaminya itu. Bukannya menyapa, Tango justru mengecup kening Cleo karena ia tiba-tiba menoleh.


"Ta-tango?"


"Kok panggil Tango, seharusnya Sayang, bukan?"


"Sa-sayang," tanya Cleo sambil menatap kedua bola mata Tango.


Tatapan teduh dari suaminya membuat Cleo malu-malu. Seketika wajahnya merah merona. Tango tersenyum lalu memeluknya dengan erat dan menghujaninya dengan kecupan hangat.


Rasa bahagia karena suaminya telah kembali membuat Cleo membalas pelukan dari Tango. Tentu saja Tango merasa bahagia.


"Apa kamu merindukan aku, Sayang?"


Cleo tidak menjawab dengan ucapan tetapi hanya dengan tindakan ia menunjukan jika ia memang merindukan Tango.


"Apakah kamu bepergian selama aku pergi?"


"Tidak, aku di rumah saja, kok."


"Syukurlah kalau begitu, terima kasih sudah menjadi istri penurut ketika aku pergi. Aku sangat mencintaimu, Cleopatra."

__ADS_1


Cup


Udara malam yang berhembus semilir, belum lagi taburan bintang malam itu membuat suasana semakin romantis. Ingin rasanya membawa Cleo terbang, hanya saja ia takut jika Cleo justru ketakutan dengan kelebihan yang dia miliki.


Semakin malam, udara yang berhembus membuat Cleo kedinginan. Tango yang peka segera mengajaknya masuk.


"Udara semakin dingin, ayo kita masuk!"


"Ayo."


"Oh, ya. Kapan kamu pulang, Sayang. Kenapa aku tidak mendengar suara mobil datang?"


Seketika Tango baru sadar atas pertanyaan dari istrinya itu. Sontak salah satu tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aha, aku punya ide!" serunya bahagia.


"Iya, aku memang tidak lewat depan, aku tadi memakai mobil khusus yang tidak berbunyi dan juga lewat pintu belakang," ucapnya sambil meringis.


"Semoga Cleo tidak curiga!"


Tango menunduk sekaligus mengutarakan alasan lain, "Maaf karena aku terlalu ingin memberikan sebuah kejutan spesial padamu, aku sampai lupa memberikan kabar terlebih dahulu sebelum aku datang, maaf ya."


"Tidak apa-apa, setidaknya kamu sudah sampai rumah dengan selamat saja, itu sudah lebih dari cukup."


"Kamu memang yang terbaik, Sayang."


"Kenapa ada yang aneh di sini, tapi apa, ya?"


Wajah suaminya tidak sepucat dulu, namun Cleo tidak langsung menanyakannya pada Tango, tentu saja takut suaminya tersinggung dan kembali meninggalkan dirinya. Ia lebih memilih untuk menyimpan pertanyaannya itu.


"Kenapa kamu seolah bertingkah aneh, Sayang. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tegur Tango melihat Cleo seolah sedang melamun.


"Hm, enggak kenapa-napa."


"Oh, ya?"


Cleo mengangguk.


"Ya sudah aku mau bebersih dulu, kamu tunggu di sini."


"Iya."


Tidak berapa lama kemudian, Tango sudah selesai mandi. Ia terlihat lebih menawan dari sebelumnya.


Melihat Tango keluar dari kamar mandi dengan berte-la-nja-ng dada membuat jantung Cleo mendadak tidak sehat. Bagaimana ia bisa menatap wajah suaminya kalau Tango sengaja menggodanya.

__ADS_1


"Apa dia sengaja menggodaku?" gumam Cleo berdebar.


Rambutnya yang basah membuat Tango terlihat lebih menawan. Tentu saja Tango sengaja menguji istrinya itu, karena kapan hari Tango belum sempat menuntaskan hasratnya. Maka ini ia mencoba peruntungannya sendiri.


Melihat langkah kaki Tango yang semakin mendekatinya membuat detak jantung Cleo semakin berpacu.


"Kenapa dia bersikap seperti itu?" gumam Cleo ketakutan.


Berniat untuk memberikan kesan tersendiri di hati Cleo, Tango melanjutkan aksinya.


"Kita lihat bagaimana caranya ia bisa melarikan diri dariku malam ini," ucap Tango sambil menyeringai.


"Nenek, tolong aku," bisik Cleo sambil me-re-mas bajunya.


Namun, Tango memperlakukan Cleo dengan sangat lembut. Tangannya terulur untuk menggenggam jemari tangan Cleo.


Tanpa Tango sengaja, salah satu tangannya mulai membuka kancing baju Cleo satu persatu hingga tampaklah pakaian dalam milik istrinya itu.


"Berbaringlah, aku akan memijat tubuhmu, Sayang."


"Ha-ah?"


"Iya, cepatlah. Aku lihat kamu lelah, sepertinya kamu butuh relaksasi."


Selepas berbaring, Tango mulai memijat perlahan bahu Cleo lalu mulai turun ke bawah. Sentuhan tangan dari Tango seperti sengatan listrik bagi Cleo, karena hal itu bisa membuat Cleo merasakan hawa panas yang menyerang tubuhnya.


"Kenapa tubuhmu menegang, Sayang?"


"Eh, em ... itu ...."


Cleo tidak bisa meneruskan kata-katanya karena kebingungan. Rasanya ia begitu malu mengatakan isi hatinya. Namun, ia seolah menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan.


"Aku milikmu malam ini, Sayang. Bolehkah aku meminta hak-ku malam ini," ucap Tango sambil berbisik tepat di salah satu telinga Cleo.


Cleo hanya bisa pasrah ketika satu persatu pakaian yang ia kenakan ditanggalkan oleh Tango. Sentuhan lembut dari bibir Tango mulai menjelajahi satu persatu bagian tubuh Cleo, hingga membuatnya meremang.


"Sayang ...."


Cleo tidak bisa berkata-kata ketika Tango benar-benar menyatukan miliknya pada tubuh Cleo. Permainan lembut dari Tango serta hentakan-hentakan yang ia lakukan benar-benar membuat Cleo mabuk kepayang.


Andaikan bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak ada hal lain yang lebih indah selain memberikan mahkota yang sudah kita jaga pada seseorang yang benar-benar halal untuk kita.


Malam yang panjang penuh gelora asmara benar-benar membuat Cleo dan Tango tidak kenal lelah melakukannya. Satu persatu pelepasan membuat mereka semakin bermandikan peluh.


"Terima kasih, Sayang untuk hadiah terindah malam ini, aku benar-benar sangat mencintaimu."

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang."


__ADS_2