
Setelah semuanya berakhir kini Cleo kembali kediaman Mansion De Laurent. Perjalanan panjangnya kini telah berakhir dan ia akan kembali mengurusi perusahaan yang telah ditinggalkan oleh Tanggo dan juga ayahnya Tuan Dimitri.
"Saatnya kembali ke dalam rutinitas, semangat!"
Tidak terasa kini perjalanan rumah tangga bersama Tanggo sudah hampir menyentuh angka satu tahun. Banyak hal yang telah dilalui saat menjalin rumah tangga dengan Tango.
Kisah manis, sedih, dan penuh drama telah dilalui olehnya. Bukan hanya dirinya yang berusaha untuk tetap bertahan dengan semua hal yang terjadi, tetapi sampai saat ini misteri tentang siapa yang mendonorkan kornea mata untuknya masih menjadi misteri.
Dua bulan perjalanan rumah tangganya berakhir dengan tragis dengan berita kematian Tango. Padahal tanpa Cleo ketahui, Tango sudah meninggal satu minggu sebelum hari pernikahannya. Namun, rahasia itu masih disimpan oleh anggota Kekuarga De Laurent rapat-rapat hingga saat ini.
"Aku harus menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Aku tidak mau membebani keluarga Mama dan Papa dengan masalah saat ini.
"Misi utamaku kali ini adalah mengerjakan sebuah misi rahasia untuk mengungkap siapa yang telah menjadi pendonor kornea mata untukku beberapa waktu yang lalu."
"Meskipun kejadian itu telah lama berlalu, akan tetapi hal itu amat penting bagi kelangsungan hidupku nanti."
"Bagaimanapun caranya aku harus berterima kasih kepada orang yang telah mendonorkan kornea mata itu."
"Tanpa kebaikan hatinya tidak mungkin aku bisa melihat indahnya dunia.
Hal seperti itu tidak bisa digantikan dengan materi. Namun, setidaknya sebagai ungkapan terima kasih Cleo kepada keluarga tersebut, mungkin ia bisa memberikan beberapa uang atau barang yang berguna untuk mereka.
Tanpa meminta bantuan dari siapapun Cleo akan menjalankan misi rahasia itu sendirian. Meskipun begitu Tango tetap mengetahui apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut.
Apalagi ia bisa membaca isi pikiran Cleo. Sangat mudah baginya untuk mengetahui langkah apa yang akan diambilnya saat ini.
"Maafkan aku karena tidak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya. Ditambah lagi semua sudah di atur oleh ayah."
Pada saat yang sama sebenarnya Tango ingin mengatakan hal itu kepada istrinya. Namun, ada beberapa hal yang harus ia sembunyikan saat ini. Ditambah lagi karena waktunya belum tepat untuk mengungkap semuanya Tango masih menyimpannya sendirian.
Perjalanan panjang tidak terasa ketika semuanya terhanyut dalam pemikirannya masing-masing. Dari hal yang seperti ini Cleo merasa sendirian.
Namun, ia merasa bahagia karena masih mempunyai Tango yang selalu berada di sisinya setiap waktu. Meskipun ia telah meninggal setidaknya ia masih mempunyai waktu untuk bersama.
Sesungguhnya ada beberapa hal yang membuat seseorang tidak bisa menyatu yaitu cinta beda dunia. Namun, itu tidak mengurangi rasa cinta yang ada di dalam hati Cleo maupun Tango.
Perbedaan yang ada akan mereka singkirkan seiring berjalannya waktu. Sementara itu Presdir Lim sedang menyusun rencana bagaimana ia akan melakukan sebuah misi untuk mengungkap siapa yang menjadi dalang pembunuhan adiknya beberapa tahun yang lalu
__ADS_1
Dengan bekerja sama dengan Tango ia berharap bisa membuat pelakunya muncul dengan segera. Ia tidak mungkin mempertaruhkan nyawa ibunya untuk hal seperti ini.
Teringat hal itu, Presdir Lim mengambil ponselnya untuk menghubungi Tango. Sesaat kemudian Presir Lim tersenyum karena mmertuki kebodohannya kali ini.
"Bukankah Tango sudah meninggal? Harusnya aku tidak mempermasalahkan hal ini. Biarkan dia muncul di dalam mimpi dan bar membahas semuanya."
Disisi lain, ketika merasa jika dirinya terpanggil, maka tanpa menunggu waktu yang lebih lama. Setelah memastikan jika mobil Cleo sudah sampai di Mansion De Laurent dengan selamat, Tango segera melesat memenuhi panggilan dari Presdir Lim.
Akan tetapi sebelum pergi Tango berpamitan pada Cleo.
"Loh tumben Mas baru muncul, memangnya dari mana saja beberapa hari ini?"
"Maaf, karena aku tidak bisa menemanimu pergi kemana saja."
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kamu tinggalkan. Maka dari itu aku selalu berharap semuanya baik-baik saja."
"Aamiin."
Selepas berpamitan kini Tango segera melesat pergi meninggalkan kediaman Mansion De Laurent. Hari semakin petang, sehingga Cleo harus bergegas membersihkan dirinya.
"Apa kita tidak perlu membeli beberapa makanan sebagai oleh-oleh untuk Cleo?"
"Sepertinya tidak perlu, ditambah lagi aku tidak terlalu suka dengan jenis makanan di sini!"
Nyonya Rose mencebik kesal, padahal ia sangat menyukai jenis makanan di sini. Dengan beralasan jika membelikan oleh-oleh untuk Cleo maka ia dengan mudah bisa memakan makanan tersebut.
Tuan Dimitri yang mengetahui hal itu segera menyuruh supir untuk berhenti sebentar di sebuah toko oleh-oleh. Senyum Nyonya Debora muncul ketika Tuan Dimitri melakukan hal itu.
"Turunlah dan segera beli semua makanan yang akan kamu berikan pada Cleo."
"Terima kasih, Sayang."
Setelah itu dengan langkah lebar, Nyonya Rose segera mengambil beberapa makanan untuknya.
Dari aneka segala jenis kripik dan juga kue kering telah masuk dalam keranjang miliknya. Setelah dirasa siapm, maka ia segera membawanya ke kasir.
Sekitar lima belas menit kemudian, kini Nyonya Rose membawa masuk semua makanan yang telah ia bawa.
__ADS_1
"Syukurlah, jika semuanya ada. Ayo kita pulang!" ajak Nyonya Rose saat ini.
Nyonya Rose tampak tidak menyadari jika Tuan Dimitri saat ini sedang tertidur karena terlalu lama menunggu dirinya berbelanja. Ketika ia menoleh, baru ia menyadari jika saat ia menoleh.
"Astaga Sayang. Ternyata kau tertidur, pantas saja tidak tahu jika aku memanggil."
Tangan Nyonya Rose mengusap lembut wajah suuaminya, "Maaf karena telah menganggapmu mengabaikan ucapanku."
Tidak mau mengganggu tidur suaminya maka saat ini, Nyonya Rose yang memberikan perintah pada sang sopir.
"Pak, segera lajukan mobil menuju mansion utama!"
"Baik, Nyonya."
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, kini mobil mereka segera melaju menuju Mansion De Laurent. Setelah beberapa waktu, beberapa makanan sudah tersaji di atas meja.
"Semoga dengan beberapa makanan yang tersaji kali ini akan membuat Mama dan Papa senang. Ditambah lagi saat ini, semua makanan sudah tersaji."
Sesuai perkiraan Cleo setengah jam kemudian, kedua mertuanya sudah tiba. Dengan bergegas ia pergi untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Mama dan Papa."
"Terims kasih, Sayang."
"Mama dan Papa pasti lelah dan lapar. Aku sudah menyiapkan beberapa makanan untuk kalian."
"Oh, ya ... kalau begitu kita makan dulu baru bersih-bersih dan setelahnya beristirahat."
"Papa mau cuci muka dulu, ya."
"Iya, jangan lama-lama, ya."
"Siap, Sayang."
Sementara itu Nyonya Rose memeluk anak menantunya karena telah menyiapkan beberapa makanan kesukaannya.
"Terima kasih, Sayang. Mama juga punya oleh-oleh untukmu. Nanti kita lihat bersama-sama, oke."
__ADS_1