My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Bab 14. KABAR DUKA


__ADS_3

"D** it! Kenapa semua ini bisa terjadi?"


Dardack masih merasa kesal karena ia harus melukai orang yang sudah melahirkannya. Dihisapnya cerutu miliknya dalam-dalam lalu setelahnya ia buang dengan kasar.


"Jika bukan karenamu, mungkin aku tidak akan melakukan hal sekotor ini!"


Tatapan nyalangnya ia tujukan pada sebuah foto yang terpajang rapi di dalam ruangan CEO. Meskipun saat ini Fernandez sudah meninggal tetapi semua kenang-kenangan tentangnya tidak boleh dihapus atau dipindah dari tempat itu.


Mungkin ini adalah sebagian rencana dari Dardack untuk bisa mengambil alih semua saham dari Debora. Meskipun sejak awal semua harta sudah mengatasnamakan dirinya, tetapi masih ada beberapa saham dengan atas nama Fernandez.


Hal itu ia ketahui saat ia berusaha mengecek kondisi saham beberapa waktu yang lalu. Atas nama Fernandez El Vanezz tertera diantara beberapa saham miliknya.


"Ternyata kamu masih punya aset? Tapi kenapa semua masih atas namamu? Sehingga aku mudah mengenalinya, dasar bod*h!" pekik Dardack kesal.


Tentu saja hal itu membuat Dardack menjadi murka. Seolah merasa jika dirinya ditipu selama beberapa tahun belakangan, ia pun mempunyai sebuah rencana buruk yang siap dilakukannya sekali lagi.


"Apakah ini bagian dari rencana Mama? Apa tujuan sebenarnya? Kenapa masih melakukan hal ini kepadaku secara diam-diam?"


Salah satu tangannya mengepal karena menahan sesuatu yang hampir meledak di dalam dirinya.


"Jangan salahkan aku berbuat licik setelah ini!" ucapnya penuh amarah.


Bagaimana bisa ia mengampuni kebohongan yang telah dilakukan oleh ibu kandungannya sendiri. Selama bertahun-tahun pula.


"Apakah semua ini akan kau limpahkan kepada gadis bu-ta itu?"


Padahal ia telah melakukan banyak jasa untuk perkembangan bisnis keluarganya. Namun, dengan adanya fakta ini menyadarkan dirinya jika ada sesuatu hal yang sedang dipersiapkan olehnya.


"Aku tidak akan tinggal diam!"


Beberapa saat kemudian, Dardack mulai menjalankan rencananya. Ternyata hal ini terjadi di luar kendalinya. Rencana busuknya berjalan sangat lancar, hingga membuat Nyonya Debora langsung masuk ke Rumah Sakit. Bahkan beritanya langsung sampai ke telinga Cleo.


"Mama, maafkan aku jika karena telah menyakitimu, tetapi aku yakin jika kamu mau memberikan semua saham Cleo padaku, aku pastikan kau akan selamat dan kembali sehat seperti dulu."

__ADS_1


Dari balik ruang inap Debora, Dardack masih berdiri tegap di sana. Tidak lama kemudian ia pun memilih untuk segera pergi dari tempat itu.


Dardack memang sengaja memanipulasi data sehingga membuat Debora terkejut dan mendadak terkena serangan jantung. Berita yang ia dapat langsung membuat kondisi kesehatannya drop. Terlebih tidak ada Cleo yang bisa membuatnya sedikit tenang.


"Maafkan Nenek ya, Sayang," ucapnya dalam hati.


Air matanya menetes, namun tidak ada suara di dalamnya. Menandakan jika rasa sakit yang dirasakan begitu mendalam. Beberapa waktu yang lalu, Debora telah siuman. Akan tetapi saat menyadari Cleo tidak berada di sisinya, rasa bersalah itu semakin besar.


"Apa yang harus aku lakukan jika Cleo mengetahui aku di rawat di sini, nggak boleh! Cleo tidak boleh mengetahui hal ini, aku harus segera keluar dari Rumah Sakit!"


..._Mansion De Laurent_...


Meskipun Cleo sudah berusaha untuk melupakan kekhawatiran tentang kesehatan neneknya, pada kenyataannya ia masih memikirkannya.


Dilihatnya sekilas lelaki yang sedang tertidur di samping brankar miliknya.


"Kenapa ia tidur di sini?"


Cleo mengedarkan pandangannya ke sekiling, baru setelahnya ia baru menyadari jika tempat itu bukanlah kamar mereka, melainkan sebuah ruang rawat inap.


Pikiran Cleo berkelana, membuat suasana hatinya semakin tidak menentu. Bagaimana bisa ia membiarkan seseorang yang sangat berarti untuknya itu sakit. Oleh karena itu, Cleo pun mengirimkan pesan pada Miss Vallery untuk melihat kondisi sang nenek.


"Selamat malam, Miss. Ini Cleo, aku ingin meminta tolong kepadamu untuk melihat kondisi Nenek saat ini. Kemarin aku mendapat kabar jika saat ini ia sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Jadi aku minta bantuan dari Miss."


Selepas mengirim pesan menggunakan ponsel khusus miliknya, Cleo tinggal menunggu jawaban dari Miss Vallery.


"Semoga Miis bisa membantuku," doa Cleo di dalam hati.


Sebenarnya Tango tidak tidur, ia hanya menutup mata namun masih bisa melihat semua yang dilalukan oleh istrinya tadi. Ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan dengannya, tetapi ketika melihat Cleo masih terlihat sedih ia pun melakukan rencananya yang kedua.


Bergegas salah satu tangan Tango menggapai tubuh Cleo yang langsung jatuh terlentang di atas tempat tidur. Tentu saja Cleo terkejut dengan sikap Tango. Kini kedua mata mereka saling beradu satu sama lain.


"A-ada apa?" tanya Cleo sambil tergagap.

__ADS_1


"Aku rindu," bisik Tango yang langsung mengalungkan tangannya ke arah Cleo.


Gugup dan berdebar, ketika keduanya bersatu membuat Cleo tidak bisa mengatakan apapun. Ia menerima semua perlakuan manis dari suaminya itu. Bagaimana pun Cleo gadis yang lugu sehingga semua perlakuan lembut dari tangan Tango membuat getaran-getaran aneh di dalam dirinya.


"I love you, My Wife ... Cleopatra El Vanezz."


"Love you too, My Hubby ...."


Tango menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Cleo. Hawa panas langsung menyergap keduanya. Meskipun ada sensasi dingin-dinginnya, Cleo tidak bisa menolaknya.


Semakin lama, perlakuan Tango semakin manis, hingga membuatnya melayang. Namun, Tango tidak ingin menyakiti istrinya ia pun segera menarik diri dan duduk di samping Cleo.


"Ada apa?"


"Sebentar aku teringat sesuatu, aku ingin menelepon Juno sebentar, kamu di sini dulu ya, Sayang."


Cleo mengangguk, ia pun segera membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Astaga, pikiran apa tadi, seharusnya aku tidak mengharapkan hal lebih dari ini," gumam Cleo.


Dari balik dinding kamar, Tango merutuki sikapnya.


"Jika aku melakukan itu, apakah arwahku akan hangus? Aku harus menanyakan hal ini pada Pendeta Louis."


Tango bergegas melesat pergi keluar dari mansion. Tujuan utamanya adalah pergi mengunjungi Pendeta Louis. Ada banyak hal yang harus ia konsultasikan padanya tentang hubungannya dengan Cleo.


Sebagai arwah gentayangan, tentu saja ia mempunyai banyak batasan, sehingga ia harus tahu apa saja yang menjadi larangannya.


"Semoga saja Pendeta Louis ada di rumah. Untung saja aku mengetahui alamat rumah beliau, sehingga di waktu senggang ia bisa sesuka hati datang ke rumahnya."


Tidak membutuhkan waktu banyak, kini Tango sudah berada di depan rumah Pendeta Louis.


"Sebagai hantu, aku tidak perlu meminta ijin untuk masuk, bukan?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Namun, naas, saat ia hendak menerobos masuk ada sebuah dinding pembatas yang tidak bisa ia tembus.


"Apa ini?" ucap Tango sambil mengusap tangannya yang perih akibat sengatan yang berasal dari dinding tersebut.


__ADS_2