My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Bab 9. SEMOGA MASIH ADA HARAPAN


__ADS_3

Harapan terbesar Tango saat ini adalah bisa membantu Cleo agar bisa melihat kembali. Kali ini ia sedang membujuk istrinya agar mau melakukan hal itu.


"Kenapa kamu menolak hal baik untukmu, Sayang?"


"Bukan begitu, tetapi aku takut ada resiko di balik semua itu dan justru menghamburkan uangmu dengan cuma-cuma."


"Jangan khawatir, uang bukanlah masalah besar untukku, tetapi hal yang paling aku pikirkan dan terpenting saat ini adalah saat indah bersamamu. Bersamaku melihat indahnya dunia."


Sebuah operasi mata mungkin saja bisa membuat Cleo kembali menemukan cahaya baru di dalam hidupnya. Untuk itu Tango benar-benar berusaha untuk membujuk istrinya.


"Ta-tapi, Mas?"


"Percayalah padaku, Sayang."


Tango mengecup tangan Cleo sebagai ungkapan cintanya. Betapa beruntungnya Cleo, bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang besar dari Keluarga De Laurent.


"Mulai saat ini, kebahagiaanmu adalah caraku untuk berterima kasih karena Tuhan mempertemukan cinta kita."


Entah sejak kapan rasa itu hadir, tetapi ternyata ada sebuah kebahagiaan ketika kita bisa mencintai seseorang, meskipun kita telah tiada.


"Terima kasih, Tuhan. Telah mempertemukan aku dengan Cleo. Seorang wanita yang baik budi pekertinya dan tidak pernah memiliki dendam di hatinya."


Berlaku manis terhadap istrinya, bukan lagi sesuatu yang memalukan. Terlebih lagi tidak akan ada yang bisa melihat keberadaan dirinya kecuali orang-orang yang Tango kehendaki.


Pendeta Louis memang mempunyai kontrak ghaib, sehingga ia akan membantu kaumnya yang taat beribadah. Terlebih lagi Keluarga De Laurent adalah donatur terbesar di gereja mereka.


Tango duduk bersimpuh di hadapan Cleo, di tatapnya gadis yang bisa meluluhkan hatinya hanya dalam beberapa waktu itu. Ia menunggu respon dari sang istri tentang keputusannya kali ini.


"Ta-tapi, Sayang." Tampak sekali keraguan di dalam mata Cleo, tetapi Tango tidak akan mengubah keputusannya.


Ucapan Cleo terjeda, ketika menyadari jika suaminya bersungguh-sungguh mengenai keinginannya barusan. Dengan hatinya, ia tahu saat ini Tango sedang bersimpuh dihadapan Cleo.


"Percayalah padaku dan juga pada ayah. Ayahku adalah dokter terbaik di Skotland, sehingga legalitas dan kinerjanya patut dipertanggung jawabkan."


Cleo menunduk ragu, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu jika hal ini mungkin adalah kesempatan emas untuknya.


"Kapan lagi kamu bisa mendapatkan hal ini, Cleo. Percayalah kepada suamimu!" bisik malaikat kecil di hati Cleo.

__ADS_1


Berbagai bisikan kata penyemangat, membuat Cleo harus segera mengambil keputusan.


"Cleo, tak bisakah kau percaya padaku," ucap Tango sambil memohon sekali lagi.


Tango tidak berputus asa dalam menggapai impiannya. Terlihat jelas jika Tango sangat mencintai Cleo saat ini. Apapun di lakukan asal istrinya bisa melihat. Lagi pula ada hal yang harus dilakukan untuk membalaskan kematian kedua orang tua Cleo.


Andai Cleo bisa melihat, sorot mata Tango itu benar-benar bisa memikat setiap hati wanita yang menjadi targetnya. Hembusan nafas Tango mampu membuat getaran aneh menyerang Cleo secara tiba-tiba.


"Kenapa aku jadi gugup begini?" tanyanya dalam hati.


Awalnya Cleo ragu, tetapi setelahnya ia bisa mengerti keinginan Tango, hingga Cleo pun akhirnya menjawab iya.


"Iya, Sayang, aku mau."


"Sungguh?"


Cleo mengangguk sekali lagi.


"Yeay, akhirnya, Sayangku."


"Terima kasih Tuhan telah mengirimkan seorang yang benar-benar mencintaiku," ucap Cleo di dalam hati.


Keesokan harinya.


Semua peralatan medis telah siap di ruang bawah tanah milik Keluarga De Laurent. Operasi kali ini tanpa sepengetahuan pihak Keluarga El Vanezz. Sepertinya Dimitri dan Rose memang mempunyai maksud tersendiri di sini.


"Memang sebuah keberuntungan untuk Cleo, semua data yang aku ambil dari Tango dan Cleo semuanya cocok," ucap Dimitri penuh semangat.


Dari luar ruang kacanya, Rose tersenyum. Sementara itu Tango tiba-tiba muncul di sisi sang ayah.


"Bagaimana, Ayah? Apa Cleo masih bisa tertolong?"


Dimitri mengangguk mantap. Senyum Tango seketika mengembang.


Dimitri segera mengambil pena dan membuat sebuah tanda tangan sebagai bukti Tango telah menyetujui semua prosedur medis yang akan dilakukan setelah ini oleh ayahnya. Tanpa keraguan, ia segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.


Maka tidak lama kemudian, semua tenaga medis akhirnya bersiap untuk melakukan tindakan lanjut untuk Cleo. Tangan Cleo masih gemetar, menandakan ia butuh asupan semangat kali ini.

__ADS_1


Meskipun mertuanya mengatakan tidak akan ada resiko yang terjadi kali ini, tetapi tetap saja ia butuh dukungan moril. Tango yang merasakan ketakutan di dalam hati istrinya, segera mendekatinya.


"Sayang, kamu gugup? Biarkan aku memberikan dukungan untukmu, ya ...." pinta Tango dengan lembut.


Seolah mempunyai koneksi di dalam hatinya, Cleo lantas mengangguk. Tango benar-benar menjadikan hari itu sangat spesial untuk Cleo. Pertama kalinya, Cleo merasakan aroma mint yang menguar dari bibir Tango.


Rasa kenyalnya, permainan lembut lidahnya, membimbing Cleo yang belum pernah ciuman merasakan indahnya pertautan bibir itu. Tidak ada paksaan, semuanya terjadi karena cinta. Cinta beda alam tetapi sangat manis rasanya.


Semakin lama menyesap, semakin membuat mereka melupakan rasa gugup yang sedang mendera. Cukup lama mereka melakukan itu, hingga Cleo sepertinya kehabisan nafas.


"Nafas dulu istriku, Sayang," ucap Tango sambil mengulum senyum.


Cleo pun menjadi salah tingkah kali ini, wajahnya memerah. Betapa malunya ia saat menyadari jika di Rumah Sakit mereka malah berciuman. Beruntung Dimitri dan para tenaga medis telah memberikan waktu bagi keduanya.


"Bagaimana, sudah tidak gugup, bukan?"


Blush, wajah Cleo semakin memerah seperti kepiting rebus. "Bagaimana aku bisa menyembunyikan rasa malu ini, Tuhan?"


"Sudahlah, kini Ayah telah datang bersama team medisnya. Kamu bersiap-siaplah."


Tango sedikit menjauh dari brankar Cleo, membiarkan para asisten ayahnya untuk membawa Cleo masuk ke dalam ruang operasi.


"Kamu pasti bisa, Sayang. Aku selalu mendoakan kamu di sini."


Rose mendekati putranya, ada rasa haru yang terpancar di sana. "Kenapa kisah cinta kalian seperti ini?" ucapnya penuh sesal di dalam hati.


Rose tidak menyadari jika putranya melihat kesedihan yang ia sembunyikan di dalam kelopak matanya. Dirangkulnya sang ibu sambil mendekapnya dalam pelukan halus Tango.


"Mom, sorry ...."


Seketika Rose menoleh.


"Maafkan aku yang belum bisa berbakti kepadamu. Maafkan aku yang terlalu terobsesi dengan pekerjaan dan membuatmu harus melakukan perjodohan ini. Namun, maaf jika aku tidak bisa memberikan calon penerus untuk keluarga kita."


Jari telunjuk Rose terulur dan menyentuh bibir Tango. "Jangan berkata demikian. Ayahmu sudah melakukan banyak hal untukmu. Percayalah padanya, sama seperti Mama."


Tidak bisa berkata apapun, Tango hanya bisa memeluk Rose dan menghujaninya dengan kecupan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2