My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 64. BERSAMAMU TERASA INDAH


__ADS_3

Dunia bagaikan milik berdua ketika kedua cinta beda dunia sedang bersanding saat ini. Di manapun keberadaan Cleo selalu didampingi oleh Tango setiap saat.


Hingga tampak senyuman Cleo terukir indah sepanjang waktu. Tampak setia mengiringi setiap detik yang ia lalui bersama Tango.


"Tuhan, terima kasih untuk hadiah indah ini, aku sangat bersyukur karena hal ini.


Melewati waktu bersama rupanya tidak membuat Tango lupa diri. Diliriknya Cleo yang sibuk dengan dokumen di hadapannya saat ini.


Hingga tibalah waktu makan siang tiba. Tanpa disuruh oleh siapapun, Tango menyelinap dan masuk ke dapur untuk mengambil beberapa makanan untuk istrinya Cleo.


"Jika kamu bekerja keras, maka aku tidak akan membiarkanmu kelaparan, Sayang."


Tango menata dengan rapi makanan yang berada di hadapannya. Tidak lupa satu gelas jus alpukat favorit Cleo sudah selesai ia buat.


Tidak ingin keberadaannya diketahui oleh orang banyak maka Tango segera membawanya naik ke kamar Cleo.


Melihat suaminya datang dengan membawa sebuah tampan berisi makanan membuat Cleo tidak bisa tinggal diam sekaligus malu. Bagaimana bisa ia meminta suami melalukan pekerjaan perempuan, sementara itu ia justru sibuk di depan komputer.


"Nggak usah diambilin, nanti juga aku ngambil sendiri, kok."


Raut wajah Tango terlihat semakin memucat.


Tentu saja hal itu membuat Cleo cemas.


"Apa kamu sakit?" tanya Cleo sambil berdiri mendekatinya.


Tangan Cleo terulur untuk mengusap kening Tango. Sejenak ia lupa jika Tango hanyalah arwah, bukan sosok yang hidup.


"Kalau kamu lelah? kenapa nggak istirahat. bukankah kesehatan lebih utama?" ucap Cleo tampak mengingatkan.


"Bahagia banget sih iya, tetapi kamu pasti lupa siapa aku saat ini?"


Sesaat kemudian ia baru sadar jika Tango hanyalah arwah. Tango memegang tangan Cleo.


"Jangan menyalahkan dirimu, aku justru bersyukur bisa seperti ini. Setiap saat menemani kamu."


"Hust, ngomong apa sih, Mas. Kamu bisa aja."


"Sepertinya yang harus istirahat kamu, deh."


Kening Cleo berkerut, "Kok aku?"


"Iya, karena kamu justru lupa kalau aku sudah meninggal sehingga tidak perlu istirahat, yang sejatinya harus beristirahat hanyalah kamu."


Cleo terkikik akan ucapan suaminya tersebut.


"Sudah, aku mau bekerja kembali."


"Oke."


Sambil menunggu makanannya dingin, kali ini Tango duduk di atas meja kerja sambil memandangi istrinya yang sedang sibuk mengerjakan tugas kantor.

__ADS_1


Awalnya Cleo tetap bisa berkonsentrasi, tetapi pada akhirnya semua itu justru membuat Cleo hilang konsentrasi. Tatapan Tango membuat Cleo kikuk.


Tentu saja Cleo merasa terganggu oleh hal itu. Namun, Tango tidak juga beranjak. Justru ia semakin bersikap romantis.


Sesekali ia menyuapi makanan ke mulut Cleo.


"Apa kau suka?"


Cleo mengangguk tanpa rasa malu tetapi ia tidak menatap suaminya. Pandangannya tetap fokus pada layar di depan.


Tango yang gemas segera menoel pipi Cleo hingga membuat si empunya menoleh ke arahnya.


"Apa-an sih, Sayang?"


"Nggak kenapa-napa sih, cuma heran aja."


Cleo menurunkan kaca matanya dan menatap suaminya, "Heran kenapa?"


"Heran kenapa lelaki seganteng aku dianggurin tanpa diajak berbicara ataupun ditatap wajahnya."


"Padahal aku sudah secara sukarela membuatkan dan menyuapi makanan untukmu."


"Ah, masa sih? Padahal aku tidak merasa ada apapun di sini?" tolak Cleo sambil membuang muka.


"Sekali lagi kamu membuang muka dariku, maka pecahin aja gelasnya!"


"What's, amarahnya nggak ketulungan, masih aja bersikap gokil!"


Cleo tergelak mendapati rasa protes dari suaminya tersebut. Bagaimana ia bisa mempunyai suami sekocak Tango. Andai Tango masih bernyawa sudah pasti ia akan lebih bahagia.


Cleo tersenyum ke arah Tango. "Bagaimana bisa aku mempunyai suami seperti kamu yang manis kayak gulali ini?"


"Entahlah, aku sendiri juga bingung. Akan tetapi setidaknya aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya setelah kau hadir di dalam hatiku."


Tangan Tango terulur untuk meraih tangan Cleo dan diarahkannya ke bagian dada Tango.


"Di sinilah kamu bersemayam dan tidak akan pernah tergantikan posisimu dengan yang lain."


Sorot mata Tango terlihat teduh dan menggetarkan gelora di dalam hati Cleo. Bayangan malam pertama yang dilakukan oleh mereka membuat Cleo begitu malu. Terlebih di hadapannya terdapat lelaki yang pertama kali menyentuhnya.


Tentu saja kedua pipi Cleo kembali merona. Hingga tidak lama kemudian, Tango mendekapnya dengan penuh cinta.


"Jangan pernah pergi dariku, Sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Beruntung tepat di hari itu, kedua mertuanya sedang berada di luar mansion, sehingga percakapan mereka barusan tidak akan yang mendengarnya. Saat mengingat keadaan rumah yang sepi, Tango pun menanyakan hal itu pada Cleo.


"Kok sepi?"


"Iya, Sayang. Papa dan Mama lagi ada urusan di luar kota. Jadi malam ini mereka juga tidak akan pulang."


Ketika ia mengatakan hal yang sesungguhnya, ada kebahagiaan yang tidak terbatas di dalam kelopak mata Tango. Hingga suasana romantis itu akhirnya terganggu karena lima menit kemudian bunyi keroncongan dari perut Cleo mengusik Tango.

__ADS_1


"Makan dulu, yuk."


"Boleh, tapi suapi dulu, oke."


Setelah semuanya selesai, Cleo kembali berkutat dengan pekerjaan kantornya.


"Untung saat ini ibu pemilik perusahaan mau bekerja sama denganku? Sehingga aku merasa sedikit bebas."


"Siapa ibu pemilik perusahaan yang kamu maksud?"


"Tentu saja itu kamu, Sayang."


"Bukanlah, aku hanya membantu pekerjaan kantormu saja. Selebihnya Juno yang mengelola untuk sementara waktu."


"Bagaimana pun pemilik selanjutnya adalah kamu."


Cleo tersenyum, "Iya, Sayang."


Di sisi lain, Rose sedang berbincang dengan suaminya Dimitri.


"Pa, aku sepertinya ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Mengatakan apa, katakan saja!"


"Aku mempunyai niat untuk membuat putra kita bangkit lagi, apakah keinginanku ini sangat mustahil untuk bisa diwujudkan lagi?"


Dimitri membuang nafasnya secara kasar.


"Sebenarnya tidak juga. Karena aku juga menginginkan hal yang sama."


Rose tersenyum sumringah ke arah suaminya.


"Benarkah? Berarti kita harus segera mencari pertolongan."


"Jangan khawatir, aku sudah menemukan orang yang bisa membantu kita. Sepulang dari perjalanan bisnis, kita akan mampir ke sana."


"Terima kasih banyak, suamiku Sayang."


Betapa bahagianya kehidupan Ros setelah menjadi istri dari Dimitri. Sejak dari dulu semua keinginannya selalu dipenuhi oleh Dimitri. Bagaimanapun caranya ia selalu mengutamakan kebahagiaan dari istrinya.


Sejak kematian dari putranya sendiri, maka saat ini ia mempunyai tanggung jawab lain yaitu menyayangi Cleo sama seperti ia menyayangi Tango.


"Andai Tango tidak meninggal sudah pasti saat ini kita mempunyai seorang cucu."


"Sabarlah, Ma. Tidak mungkin Tuhan menguji kita melebihi kemampuan kita."


"Iya, kita juga tidak akan memaksakan kehendak pada Cleo untuk memiliki momongan."


"Papa ada-ada saja, bagaimana mungkin Cleo hamil, sementara putra kita sudah meninggal sebelum pernikahan mereka terjadi."


Setelah mengatakan hal tadi justru keduanya tergelak. Sebuah keinginan konyol yang justru membuat hati mereka sakit karena mengingat nasib Tango yang tidak bisa dijelaskan.

__ADS_1


__ADS_2