My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 55. MASA LALU DAN KANGEN


__ADS_3

"Tidak aku sangka sebuah rahasia besar yang sudah aku simpan selama belasan tahun kini mulai muncul ke hadapanku lagi."


Nyonya Rose mengusap gusar wajahnya, sementara itu, Cleo merasa tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan ibu mertuanya.


Sejak pertemuannya dengan Nyonya Lim, tingkah Nyonya Rose tampak berbeda.


"Sebaiknya aku menghubungi, Papa!"


Tentu saja hal ini tidak dapat diprediksi oleh Nyonya Rose. Cleo hanya bisa memberitahukan hal ini pada Dimitri.


"Baiklah, tolong temani Mamamu baik-baik, sementara itu Papa akan segera pulang!"


Kondisinya yang tiba-tiba saja memburuk membuat Dimitri membatalkan rapat dan segera menemui istrinya.


"Juno, tolong ambil alih semua ini. Istriku tiba-tiba saja sakit."


"Baik, Tuan. Percayalah kepadaku semuanya akan baik-baik saja."


Dimitri tersenyum lalu menepuk bahu Juno sebelum meninggalkannya. Cleo sengaja menghubungi ayahnya karena tidak ada jalan lain. Ia sangat khawatir karena Nyonya Rose justru terdiam sepanjang waktu.


Sebagai anak menantu, Cleo sudah menganggap Nyonya Rose seperti ibunya sendiri. Apalagi sikap dan sifatnya sangat mirip dengan mendiang ibunya, Amora.


Ian tidak menyangka jika sebuah acara yang dihadiri olehnya justru membuka luka lama dihatinya. Tertutup rapat selama belasan tahun tidak menjamin semuanya akan tetap sama ataupun membaik. Kini masalah baru itu muncul dan membuat Rose dilema.

__ADS_1


Perjalanan dari kantor ke rumah tidak membutuhkan waktu yang lama. Dengan langkah terburu-buru, Dimitri berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Sosok yang pertama ia temui adalah Cleo.


"Apa yang terjadi, Cleo?"


"Aku tidak tahu dengan pasti, Pa. Akan tetapi satu hal yang aku ketahui adalah ...."


Belum sempat Cleo meneruskan perkataannya, ternyata ibu mertuanya sudah keluar terlebih dahulu.


"Cleo, kamu pergilah sebentar, biar Mama bicara dengan Papa."


Ucapan dari ibu mertuanya membuat Cleo segera keluar dari kamar mereka, untuk memberikan waktu agar lebih nyaman ketika berbicara. Tidak ada pemikiran buruk sama sekali yang hinggap di dalam hatinya.


Tango yang melihat jika Cleo sudah keluar dari kamar kedua orang tuanya segera menyusul. Tango melesat mendekati istrinya. Salah satu tangannya mencoba meraih tubuh Cleo, tetapi rupanya usahanya sia-sia.


"Sia-lan, aku tidak bisa mendekati istriku sendiri. Andaikan aku bisa sebentar saja memeluknya, seharusnya kerinduan di antara kami tidak akan menyiksaku seperti ini."


Semua ini terjadi bukan atas kemauan Tango, andai ia bisa memilih sudah pasti ia akan menikahi Cleo semasa hidup. Justru takdir mengikat cinta di antara mereka berdua dengan sebuah hubungan terlarang antara manusia dan hantu.


Mau bagaimana lagi, ketika cinta tumbuh terlambat tidak ada yang bisa menyalahkannya lagi. Kini Tango hanya bisa pasrah, apalagi Cleo yang tidak mengetahui hal sebenarnya hanya bisa menjalaninya sepenuh hati.


Tidak bisa dipungkiri rasa cinta di hatinya juga sudah tumbuh subur untuk Tango. Cinta mereka kini terpisah karena jarak dan waktu. Tidak ada yang bisa membuat Tango hidup kembali.

__ADS_1


Cleo bisa saja menikah akan tetapi tidak pernah terbesit rasa itu. Sehingga Cleo tetap membiarkan hatinya bersama suaminya, Tango.


"Menyebalkan sekali!" ucap Tango seperti anak kecil.


Andai saja Cleo bisa melihatnya sudah pasti ia akan terhibur dengan sikap suaminya tersebut.


Tango masih merasa kesal terhadap Pendeta Allert dan juga Pendeta Louis yang seolah sedang memberikan hukuman padanya.


Padahal jika mereka mau, Tango masih bisa menampakkan dirinya pada orang-orang yang ia kehendaki. Akan tetapi mereka tidak melakukan hal itu dan beralasan masih fokus pada kesembuhan Pendeta Louis.


"Tidak perlu berpikir banyak, saat ini cukuplah aku untuk tidur sejenak lalu mulai melakukan aktifitas lagi."


Cleo memang merasa aneh dengan sikap ibu mertuanya, tetapi ia lebih memilih kembali ke kamar. Sampai di sana Cleo segera melepas wig yang ia pakai lalu berganti pakaian rumah agar lebih nyaman.


Ditatapnya laptop milik Tango yang berada di meja kerja suaminya itu. Entah kenapa ada magnet tersendiri ketika melihat laptop milik Tango itu.


Langkah kakinya menggiringnya untuk mendekati meja kerja Tango. Diusapnya benda pipih berwarna hitam itu dengan lembut.


"Apakah aku bisa memakainya? Dulu saat Tango masih hidup aku jarang sekali menyentuh barang-barang pribadinya. Jika aku menyentuhnya apakah ia akan marah?*


Tango yang berada di belakang tubuh Cleo segera menghampiri istrinya. Ditatapnya istrinya dari tempatnya berdiri sambil mengatakan sesuatu.


"Jika kamu ingin memakai barang-barangku, aku memberikan izin kepadamu. Untuk laptop aku kangen meminta bantuan dari Juno."

__ADS_1


Cleo yang merasa jika tengkuknya seperti ditiup segera mengusapnya dengan lembut.


"Siapa sih, kok bikin geli!"


__ADS_2