
"Aku memang ingin menemuinya untuk memastikan sesuatu ...."
Ucapan Tuan Dimitri seolah tertahan karena ia ingin mengatakan sebuah rencana besar untuknya. Sejak kematian Tango, ia sudah mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan usahanya untuk membuat ahli waris di dalam keluarga De Laurent tidak putus.
Sebelum tubuh Tango dinyatakan benar-benar meninggal. Setengah jam setelahnya, Tuan Dimitri telah mengambil beberapa sel telur milik Tango. Tanpa meminta persetujuan dari keluarga maupun istrinya, ia menyimpan sel telur itu di suhu tertentu dan ruangan rahasia.
Kini sudah saatnya, Tango mengetahui rencananya. Tuan Dimitri tampak berbalik untuk tetap bisa menguatkan hatinya ketika berbicara dengan Tango.
"Papa, sebenarnya mau mengatakan apa? Kenapa aku merasa jika semua hal yang telah dilakukan oleh Papa semuanya terencana dengan baik?"
Akhirnya Tango memberanikan diri untuk mengutarakan keganjilan yang telah dirasakan beberapa bulan terakhir. Tuan Dimitri menepuk bahu putranya.
"Maafkan, Papa. Selama ini ada sebuah rahasia besar yang Papa sembunyikannya dari kalian semua."
"Rahasia apa, Pa?"
"Papa sudah pernah mengambil beberapa sel telur yang berasal dari tubuhmu jauh sebelum kamu dinyatakan meninggal."
"Maksud Papa?"
__ADS_1
"Tentu saja semua itu terjadi begitu saja dan merupakan sebuah hal yang tabu di masyarakat, tetapi ...."
"Tetapi apa?"
"Semua hal yang berkaitan denganmu sudah Papa amankan. Saat ini tinggal menunggu tubuh Cleo siap menerima hal ini, maka kamu akan mempunyai penerus."
"Penerus? Mana mungkin?"
"Kenapa tidak mungkin, teknologi saat ini memungkinkan hal itu terjadi. Sebuah hal mustahil akan bisa menjadi kenyataan jika kita bisa melakukan hal itu dengan baik."
Tango tampak menghela nafasnya. Terlihat jika sebenarnya ia sangat menginginkan hal itu terjadi. Akan tetapi kesadarannya mengatakan jika itu sangat mustahil untuk diwujudkan.
"Kenapa tidak mengambil kesempatan emas ini? Bukankah ini adalah hal yang sangat kamu nantikan!"
Tidak mau menunggu waktu lama lagi Tango segera menyutujui usulan dari ayahnya.
"Baik, aku setuju dengan usulan Papa."
"Good, anak yang baik."
__ADS_1
Tidak peduli dengan kecaman atau asumsi publik, Tuan Dimitri akan tetap melakukan rencananya itu.
Sementara itu, Cleo melihat seluruh anggota keluarga yang mendonorkan kornea mata kepadanya. Dari raut wajah mereka, Cleo bisa membaca sebuah kebohongan.
"Kenapa aku jadi ragu setelah mendengar penjelasan dari mereka secara langsung?" gumam Cleo di dalam hatinya.
Juno yang menjadi pendengar setia sekaligus pengawal resmi Cleo merasa mengantuk karena mereka tidak kunjung berbicara.
"Hadeh, sampai berapa lama lagi aku harus menunggu mereka berbicara?"
Cleo menoleh ke arah Juno yang justru memasang muka manis ke arahnya.
"Maaf jika kedatanganku justru membuat kalian ketakutan dan tidak nyaman. Kalau kalian tidak mau mengatakan hal ini, sebaiknya aku permisi."
Saat kaki Cleo hendak melangkah rupanya salah seorang dari mereka mulai angkat bicara.
"Mohon maaf Nona Cleopatra, kamu benar-benar tidak tahu harus memulai cerita ini darimana, karena secara resmi pemberitaan itu sudah lama terjadi. Pasti akan sulit untuk melacak keberadaan yang asli."
Cleo kembali menatap mereka satu persatu. Padahal aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam.
__ADS_1
"Apakah ini adalah sebuah kebenaran, sehingga ia dengan mudah bisa menghasut orang-orang agar mempercepat langkahnya untuk membenci mendiang ibunya sendiri."