
Usai makan malam penuh obrolan ringan seputar rencana Grace ke depannya ataupun kesibukan Liam sebelum ada dia di hidupnya, kini perempuan itu ketiduran di sofa saat menonton film berlangganan. Liam yang tadi pamit mengerjakan laporan baru selesai tepat pukul satu dini hari. Ia meregangkan otot-ototnya agar tidak kaku. Matanya tertuju pada Grace, persis seperti adegan kunjungan pertamanya ke rumah Liam.
"Kau selalu cantik Grace,,, " Gumam Liam pelan tak ingin membangunkan Grace. Tangannya membelai pipi Grace lembut, hatinya menuntun untuk Liam menyentuh bibirnya.
Cup,,,
Sekilas Liam mengecup bibir seksi Grace. "Manis." Kata Liam sambil tersenyum puas bisa merasainya. Tak tega melihat Grace meringkuk di sofa, Liam sekuat tenaga mengangkat tubuh Grace memboyongnya menuju kamar pribadi Liam.
Padahal masih ada satu kamar tamu tapi entah kenapa dia ingin Grace tidur di sampingnya malam ini.
Untungnya Grace sudah mengganti pakaian kerja dengan kaos oversize milik Liam. Mata pria itu terbelalak saat menjatuhkan Grace di tempat tidur. Ternyata Grace hanya mengenakan c.d, kaos Liam memang sangat besar di badan Grace. Ini sungguh di luar perkiraan Liam.
Buru buru Liam menarik selimut untuk menutupi bagian bawah Grace. Warna kulit Grace tergolong eksotis, tidak gelap namun putih pun tidak. Kakinya sangat mengkilap menyilaukan mata Liam.
Selama ini Grace selalu mengenakan celana bahan atau rok pendek dengan stocking hitam saat bekerja. Di luar kantor Grace lebih nyaman dengan celana jeans panjang. Tak lama Liam segera menyusul Grace ke alam mimpi, ia tidur di sebelah perempuan yang berhasil mengetuk pintu hatinya.
Kring,,,
Alarm handphone kembali berdering untuk ke sekian kalinya. Yang di bangunkan masih enggan merubah posisi, keduanya tidur dengan nyenyak semalaman. Grace memeluk Liam layaknya guling di kamarnya sendiri. Kaki dan tangan melingkar mengunci pergerakan Liam.
"Hey, bangunlah ini sudah siang Grace." Sejak bunyi pertama Liam memang sudah bangun namun ia sulit bergerak akibat ulah Grace.
Tak,,, lagi lagi bunyi sentilan di kening Grace terdengar mantap. Grace meringis mencoba membuka matanya.
"Bisakah kau berhenti melakukannya? " Protes Grace mengelus keningnya.
"Sekarang giliran mu yang membuat sarapan, itu hukuman karena kau sudah mengikat ku. " Perintah Liam, Grace baru sadar posisi mereka saat ini. Ia lantas bergegas bangun dari tempat tidur berlari keluar kamar. "Jangan berpikir macam macam Liam, aku tidak tahu kenapa aku malah menjadikanmu guling." Grace berteriak sambil berlarian, suaranya begitu nyaring karena pintu kamar masih terbuka.
"Haha kau ini Grace. " Liam tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Grace.
"Itu sarapan yang menyenangkan Grace." Puji Liam untuk masakan buatan Grace, padahal ia hanya membuatkan Liam omelette isi campuran daging dan paprika. Tapi pagi itu merupakan sarapan pertama Liam di buatkan oleh seseorang. Biasanya dia memesan delivery online setiap paginya. "Terima kasih, beritahu aku jika kau menginginkan nya lagi." Jawab Grace tetap fokus menyetir mobil, mereka menuju kantor.
Setibanya di kantor para staf terlihat sibuk menerima beberapa panggilan tiada henti sejak mereka tiba. Grace dan Liam saling bertatap heran ada masalah apa.
__ADS_1
"Grace, banyak telpon untukmu masuk ke kantor. Mereka ingin mengajukan kontrak kerja sama, ada juga yang meminta kau mengisi wawancara di acara talk show. Aku harus bagaimana? " Staf humas La collection dibuat kesal oleh para pe nelpon. "I'm sorry ze, aku juga bingung harus berbuat apa." Grace meminta maaf pada Zea, ia belum mempunyai persiapan apa apa untuk memulai kariernya.
"Dengar semuanya, untuk sementara putuskan sambungan telpon. Kita hanya akan menerima email, umumkan di website perusahaan. " Perintah Liam mengatur keadaan kantor yang chaos.
"Ikutlah ke ruang kerjaku Grace." Titah Liam di turuti dengan mudah oleh asisten pribadinya. Sesampainya di dalam Liam duduk di kursi kebesaran dan langsung membuka laptop. Sementara Grace hanya berdiri mematung.
"Kemari Grace, aku hampir selesai membuat akun resmi mu." Grace masih belum mengerti apa tujuan Liam, tak lama Grace sudah berada di samping bosnya. "Zea akan mengumumkan akun baru mu, mereka yang ingin bekerja sama bisa lewat dirimu langsung. Aku akan mengirim salinannya ke nomer mu." Liam menjelaskan dengan sabar, kemudian ponsel Grace berbunyi tanda pesan dari Liam masuk. "Terima kasih Sir." Ucap Grace tulus. Ternyata Liam sangat peduli padanya. "Ingat, aku juga memantau mu. Aku tidak ingin kau memilih sembarang klien mu. " Ancam Liam membatalkan rasa kagum Grace padanya. Dia tetap dingin dan posesif.
"Baiklah, aku paham. " Jawab Grace pasrah. "Good girl. " Liam mengelus ujung kepala Grace, Grace merasa nyaman berada di sisi Liam. Entah apa alasan pria di sampingnya begitu dingin terhadap wanita lain. Tapi untuknya, Liam sangat memperlakukan Grace dengan baik.
Tatapan Grace di sambut oleh Liam, beberapa detik mereka saling beradu. Mencari sesuatu untuk di ungkapkan hingga Andy masuk tanpa mengetuk karena pintu sudah terbuka.
"Maaf bos, saya harus mengganggu sebentar." Andy jadi tidak enak hati menghalangi momen mesra bosnya dan Grace.
"Katakan ada apa? " Tanya Liam pada perempuan yang enggan menikah meski usianya sudah empat puluh lebih.
"Kita harus melakukan pemotretan untuk katalog terbaru. Fotografer sudah siap di bawah, mereka butuh Grace sekarang." Andy menjelaskan tujuannya.
"Liam aku tidak akan memakai bikini, kenapa kau melarang ku? " Grace tidak Terima.
"Apa kau tidak ingat siapa fotografer La collection? Perlukah aku ingatkan lagi? " Liam mulai berdebat dengan Grace. "Maksudmu Ethan? Oh God, dia temanku Liam. Bukankah semalam kau sudah setuju kalau aku jadi model perusahaan mu? " Liam bahkan melarang Grace menerima tawaran dari perusahaan lain, hanya Liam yang boleh menjadikannya model.
Andy yang melihat keduanya hanya menggelengkan kepala. "Beginilah saat bekerja bersama pasangan, pertengkaran akan terus terjadi." Batin Andy, ia tetap setia berdiri menunggu keputusan.
"Carikan fotografer wanita khusus untuk projek Grace saja." Titah Liam pada Andy. "Baik tuan,,, " Jawab Andy segera pamit.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Liam, kau tidak berhak mengatur ku. " Grace mulai mengeluarkan keluh kesahnya.
"Tentu aku berhak Grace, kau bekerja untuk ku dan aku bebas melakukan apapun sesuai keinginan ku. " Itulah diri Liam yang sesungguhnya, Grace kembali sadar jika pria di hadapannya memang tidak akan pernah melunak.
Grace keluar dengan hati dongkol nya, ia perlu menenangkan pikiran sejenak menghindari Liam. Grace akan kalah setiap kali mereka beradu argumen. Grace mengunjungi lantai dimana pemotretan selalu di lakukan di perusahaan milik Liam. "Grace,,, " Sapa Ethan menghampirinya. "Apa kabar Ethan? " Sudah lama mereka tidak bertemu dan bertukar kabar, keduanya berpelukan melepas rindu. Sialnya Liam melihat itu dari jauh, tadinya dia ingin meminta maaf pada Grace dengan mengikutinya.
"Wah aku tidak menyangka kau akan menjadi seorang model Grace. Kenapa kau selalu menutupi kelebihanmu? " Ethan sudah menduga Grace memiliki bakat tersembunyi, dan ia tidak mengira jika Grace piawai dalam peragaan busana. "Awalnya aku hanya mencoba, tapi ternyata aku menyukainya Ethan. " Grace menjawab sekenanya.
__ADS_1
Prok, prok, prok,
Liam menghampiri keduanya. Ia berdiri angkuh menatap Ethan remeh. "Jangan sampai ada paparazi memotret kalian, seorang model pendatang baru menggoda fotografer."
"Cukup Liam ! " Grace enggan bersabar lagi menghadapi sikap kekanak-kanakan Liam. "Kau sudah menghina ku." Satu tetes air mata lolos begitu saja. Grace segera pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Kau keterlaluan Sir, kami sudah lama berteman sebelum kau mengenalnya. " Ethan menggelengkan kepala tidak mengerti apa maksud Liam. Lebih baik dirinya kembali fokus bekerja. Tersisa Liam yang menyesali ucapannya, pasti Grace sangat sakit hati mendengarnya.
Grace memilih menyendiri di dalam bilik toilet. Menangis mungkin bisa meringankan beban hati dan pikirannya.
"Hufh,,, pemotretan katalog menjadi kacau akibat mood bos yang hancur." Terdengar dua perempuan masuk ke dalam toilet sambil bergosip.
"Ya kau tahu, semua itu gara gara Grace. Sudah menggoda sir Arthur junior malah mendekati fotografer Ethan." Balas temannya tak segan menggunjing Grace. "Jadi model modal menjual diri saja bangga. Aku berani bertaruh kalau Bos sudah meniduri Grace hanya untuk bisa tampil di acara peluncuran. "
Grace menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Ternyata begitu buruknya pemikiran orang-orang menilai kedekatan mereka. Grace memang tidur bersama Liam semalam tapi mereka sama sekali tidak melakukan hal lebih. Grace sangat malu menampakkan wajahnya sekarang. Apa untuk menggapai cita-cita harus sesakit ini?
Sejak tadi Liam sibuk mencari keberadaan Grace di setiap sudut kantor. dia menyesal sudah mengatakan hal buruk kepadanya. Liam ingin meminta maaf dan berharap Grace tidak membencinya.
Grace sudah keluar dari toilet setelah Tuan Rodrigo menghubungi nya. ia perlu kuat mendapat tatapan dari setiap orang yang di lalui nya. sebentar lagi Grace tidak perlu menerima cemoohan karyawan La collection. Ayahnya datang untuk menjemput Grace pulang ke rumah keluarga.
"Grace tunggu ! " Liam segera menahan lengan Grace yang akan keluar dari lobby utama.
"kita perlu bicara, aku ingin minta maaf." Liam mengatakannya dengan cepat melihat Grace yang buru buru ingin pergi.
"di Terima." jawab Grace singkat dengan tatapan datarnya.
"sekarang kembali keatas, kita mulai pemotretan nya. aku tidak masalah Ethan yang mengerjakannya." nada bicara Liam mendadak berubah lebih lembut dan manis di dengar. Grace hanya tersenyum sinis.
"maaf tuan, aku tidak bisa. lebih baik kau mencari model lain saja." tolak Grace lalu melepaskan genggaman Liam. ia berjalan keluar dimana ayahnya sudah menunggu sejak Liam datang.
Liam meradang, dia tidak ingin Grace pergi. dia takut tidak bisa bersama perempuan itu lagi. Tuan Rodrigo menjemput putrinya seakan ingin mengurungnya untuk waktu yang lama.
"sial,,, " Liam mengumpat menyadari kesalahannya. Grace tidak mungkin pergi kalau saja dirinya tidak berkata kasar tadi.
__ADS_1