My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 11


__ADS_3

Grace duduk di sofa ruang kerja ayahnya Tuan Rodrigo. Keputusan mendadak di ambil oleh Grace ketika sang ayah memintanya pulang. Mungkin petualangan hidup Grace sudah mencapai titik akhir. Saatnya ia memulai jalan hidup yang baru. "Aku tetap akan melakukannya dad, aku harap daddy mau mendukungku." Kata Grace dengan tatapan kosongnya, ia bersikukuh ingin menjadi model.


Sejak keluar dari tempat Liam Grace lebih banyak diam. Tentu Tuan Rodrigo sudah bisa menebak ada masalah di antara mereka.


"Dengan satu syarat,,, " Tuan Rodrigo menawar.


"Asal jangan tentang perjodohan dad, aku sedang malas membahasnya. "


"Tinggal bersama daddy, jangan kembali lagi ke apartemen mu." Tuan Rodrigo tahu bagaimana kehidupan seorang model, bebas tak terkontrol. Dia tidak mau anaknya menjadi korban obat obatan terlarang, sekss bebas, bahkan hamil tanpa seorang suami. Tuan Rodrigo akan mudah mengawasi pergerakan Grace.


"AS your order Dad. " Seakan kehilangan sesuatu dalam hidupnya, Grace pasrah saja menerima peraturan yang ayahnya buat. Mungkin itu juga untuk kebaikannya sendiri.


.


.


.


.


.


Di sebuah ruangan yang ramai Grace tengah berpose di depan kamera, sejak tadi ia berganti pakaian beberapa kali. Make up nya terus di periksa oleh perias, jangan sampai ada keringat mengganggu.


"Grace you look good, keep it up. " Teriak fotografer senior yang ternyata seorang perempuan.


Lantas Grace menampilkan ekspresi memikat yang biasa ia tampilkan di panggung pagelaran busana. Grace melakukan pemotretan untuk sebuah pakaian olahraga raga. Semenjak menjadi model ia memang rajin berolahraga demi menjaga bentuk tubuhnya.


"Ok nice, kita break makan siang. " Perintah fotografer mengajak semua yang terlibat istirahat selama satu jam. Grace meminta mantel tebal miliknya pada seorang penata gaya. Ia merasa kedinginan sejak tadi. "Kemana kau ingin makan siang Grace? " Tanya stylist perempuan seusia Grace. "Aku ingin pergi ke kafe depan, kalau kau ingin di sini tidak masalah aku bisa sendiri." Kata Grace, ia hafal jika salah satu krew nya sedang kelelahan walau hanya sekedar berjalan keluar gedung.


Setelah mendapat pesanannya Grace memilih duduk di kursi dekat jendela. Tatapan nya mengamati jalanan yang cukup ramai di jam makan siang. Semusim berlalu dan perasaan Grace masih tetap sama. Hampa dan kosong, ia isi hari harinya dengan sibuk sekolah modelling dan menerima beberapa pekerjaan dari brand ternama.


"Nona Gracia, boleh aku meminta tanda tanganmu? " Seorang anak sekolah perempuan datang membuyarkan lamunan Grace. "Sure." Jawab Grace tersenyum ramah, lalu ia membubuhkan tanda tangan di kaos yang di bawa oleh penggemar. "Thank you Grace, you're so kind." Puji gadis itu terhadap kepribadian Grace, model yang tengah naik daun.


"Have a nice day. " Grace memberinya semangat padahal dirinya lah yang sedang membutuhkan semangat.


Grace masih belum menyentuh makanannya walaupun itu menu kesukaannya, roti isi subway. Ada yang hilang dari dalam dirinya tapi Grace enggan mengakui hal itu. Ia akan menganggap tidak penting dan patut di lupakan.


Satu jam Grace habiskan dengan kebiasaan barunya, melamun. Apa lagi yang kurang di hidupnya? Rumah, materi, popularitas sudah ia dapatkan. Jalan hidup sudah Grace temukan dengan harga yang sangat mahal. Menjauh dari kehidupan seseorang.

__ADS_1


Orang yang baru saja keluar dari mobil mewahnya, terlihat tetap gagah ketika tangannya mengancingkan jas mahal miliknya. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung pria berkharisma, dia mulai memasuki gedung tempat Grace bekerja.


"Shitt,,, " Umpat Grace, kini ia sibuk merapikan meja dan membuang sampah ke tempatnya. Grace berlari hendak menyebrang di saat beberapa mobil masih melaju.


Tin,,,


Hampir saja ia tertabrak, untungnya pengendara mampu mengerem dengan baik. Grace melambaikan tangan memberi tanda maaf karena sudah ceroboh.


"Apa yang kau lakukan Grace? Itu bukan dia." Cepat cepat Grace menyadarkan dirinya yang sempat panik salah mengenali orang.


Langkah gontai Grace di sambut oleh fashion stylist pribadinya. Gadis itu heran tiba-tiba wajah Grace menjadi murung setelah makan.


"Ada apa? " Tatap nya menyelidik. Yang diberi pertanyaan hanya menggeleng tak bersemangat.


"Sia, aku pasti sudah gila... " Grace berjongkok menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Grace ingin menangis tapi ia malu tak ingin orang-orang melihatnya saat sedang lemah.


"Selama tiga bulan aku bekerja denganmu ini kali pertama kau begini Grace. Ada apa?" Perempuan bernama Sia ikut menyamakan posisinya dengan Grace, menyentuh bahunya yang terlihat bergetar. "Grace, kalau kau ada masalah kau bisa cerita padaku. Aku bukan hanya partnermu, kita bahkan tinggal bersama aku sudah menganggapmu saudariku." Sia dengan lembut mengangkat tubuh Grace untuk berdiri. Grace memeluk Sia, ia sangat membutuhkan seseorang yang bisa memberinya kekuatan.


"Thank you Sia, kau sangat mengerti aku." Lirih Grace mulai merasa tenang. Ia membutuhkan Sia sebagai pengusap air matanya. Sejak dulu Grace tidak pernah selemah ini.


"Ayo Grace, kita selesaikan semuanya lalu berpesta. " Sia tahu ketika mendengar kata pesta Grace pasti akan bersemangat. "Hampir saja aku lupa, kau harus mencarikan gaun terseksi untukku." Sia bisa menebak dengan benar kalau Grace hanya butuh teman bercerita. Perempuan dewasa tanggung di sampingnya tidak pernah siap untuk bercerita masalah pribadinya sedikitpun.


"Apa persiapan sudah selesai? " Tanya pria berkaca mata hitam pada sekretaris yang berdiri di belakangnya.


"Sudah tuan, pesta akan di mulai setelah jam makan malam." Info sekretaris berbadan tegap dengan bahu lebarnya. "Pastikan tidak ada pengacau." Titahnya penuh penekanan agar sesuai keinginan pemilik brand seragam olah raga.


"Baik tuan, anak buahku siaga di tempat masing-masing. " Merasa puas mengamati jalannya pemotretan pria bertatapan dingin itu segera pergi meninggalkan ruangan.


Tidak ada waktu untuk pulang ke apartemen, mereka sepakat mengenakan pakaian seadanya di mobil. Di perjalanan Grace dan Sia bahkan sudah menikmati minuman pembuka. "Cheers,,, " Sorak keduanya kompak mengadukan gelas wine sehingga menimbulkan bunyi dentingan. "Hey, ingat tidak boleh sampai mabuk ya." Teriakan supir di depan menciptakan decak sebal dari kedua penumpang perempuan. "Kau ini Can merusak mood saja." Sia memukul kursi berharap pengemudi terganggu oleh aksinya.


"Aku hanya menjalankan tugas dari tuan Rodrigo, kau jangan membawa pengaruh buruk bagi nona. " Cibir nya tak Terima amarah Sia.


"Kau tidak berniat mengadukan ku kan Hecan? " Hecan merupakan supir pribadi Grace yang ayahnya tugaskan untuk menjaga Grace. Begitupun Sia, sengaja di pekerjakan sewaktu-waktu Grace mendapat job.


Hecan dan Sia masih sepupu, orang tua mereka bekerja di galeri milik tuan Rodrigo. Bahkan Sia sudah memiliki butik brand lokal sendiri.


Untuk Hecan dia sebenarnya personal trainer di gym miliknya. Kedua usaha mereka tentu mendapat sokongan dari tuan Rodrigo. Maka dari itu mereka ikhlas menjaga dan melindungi Grace anak semata wayangnya. Ketiganya bahkan tinggal di apartemen milik Grace yang dibelikan oleh sang ayah.


Dengan mereka tuan Rodrigo merasa tenang menitipkan Grace. Grace adalah segalanya untuk pria paruh baya itu. "Dengar, aku tidak ingin repot membawa pulang dua perempuan mabuk. Aku sarankan kalian minum softdrink saja." Grace dan Sia tertawa terbahak-bahak mendengar peringatan Hecan. Hecan yang ibunya asli orang asia mendapat warisan bermata sipit. Tubuhnya juga setara dengan Grace, mereka seumuran jadi satu frekuensi. Kecuali soal berpesta, namanya penyuka olah raga paling anti minum minuman memabukkan.

__ADS_1


"Waw,,," Sia takjub ketika mobil mulai memasuki pekarangan sebuah rumah mewah di kawasan elit. Bahkan ini jauh lebih mewah dari milik tuan Rodrigo.


"Kau kalah saing Grace." Ledek Hecan sambil mengedarkan pandangan mencari parkiran kosong.


"Diam boy, aku penasaran siapa yang mengundang kita. " Grace melirik kesana kemari sebelum turun.


"Let's Go !!" Ajak Sia menarik Grace agar bergegas masuk ke dalam. Hecan setia mengawal di belakang mereka. Setiap mendatangi pesta dia selalu was-was takut nona muda mabuk berat dan susah di atur. "Ini luar biasa." Lagi lagi Sia kagum melihat rumah yang luas megah bak istana. Di sana mereka sudah melihat beberapa orang kaya, model, artis dan para pengusaha di berbagai bidang.


"Grace, waktunya mencari mangsa." Sia menyikut lengan Grace menuntun arah pandangannya. Berada di dekat tangga seorang pria tampan metro seksual menatap kearah Grace.


"Jangan Sia, aku sedang malas." Tumben sekali Grace tidak berselera melakukan pendekatan. Biasanya dia akan bersemangat mencari klien untuk diajak bekerja sama.


"Baik lah, kau memang harus beristirahat baby girl." Sia juga merasa cukup lelah di bantai habis-habisan selama tiga bulan terakhir. Grace sudah ikut beberapa ajang fashion week di luar negeri, sebulan bisa empat tempat, belum lagi pemotretan untuk katalog bahkan shooting iklan produk kecantikan.


"Aku akan mengambil minuman." Hecan menyerobot menuju stall minuman di area dapur yang open space. Sepertinya pemilik rumah sengaja memamerkan kemewahan yang dia miliki.


"Lihat, dia pasti membawakan ku minuman jeruk lagi." Grace menggelengkan kepalanya cukup pusing dengan tingkah Hecan.


"Grace,,, " Sapa seseorang dari belakang. Grace terkejut mendapati pria yang menyapanya.


"Ethan,,, " Grace hanya tersenyum ramah tamah tanpa ingin melakukan kontak fisik dengannya. Sejak kejadian itu Grace enggan dekat dengan pria manapun. Kalau harus ia merayu itu semata demi melebarkan sayap agar di kenal kalangan pebisnis. Dan tentu ditemani Sia selalu. "Kukira kau tidak akan datang Grace. " Ethan masih tidak percaya bisa bertemu dengan mantan asistennya.


"Aku tidak memiliki alasan untuk menolak sebuah pesta." Grace menyunggingkan senyumnya.


"Sepertinya kau kurang update Grace,,, " Belum selesai Ethan bicara semua perhatian teralihkan oleh seseorang yang menuruni anak tangga dengan wibawanya. Mendadak Grace melemah seakan kakinya tak mampu berpijak dengan benar.


"Grace are you ok? " Sia menahan lengan Grace yang mulai terasa dingin. Dia tidak ingin berada disana lama-lama, tapi Hecan malah terjebak di sebrang sana. Dimana si tuan rumah sepertinya akan memulai acara.


"Terima kasih kalian sudah hadir, aku tersanjung. " Ucapan terakhir seakan sengaja ditujukan pada Grace, tatapan itupun mengarah padanya terang terangan. "Aku ingin menjamu seseorang istimewa, karena dia sudah berkenan menjadi model merk kami yang baru saja di rintis." Pidato pria itu jelas membuat Grace mengusap tengkuknya berkaki-kali. Dia ingin kabur secepat mungkin.


"Nona Gracia,,, " Panggilnya membuat semua orang menoleh kearah perempuan yang mencoba tersenyum tapi kaku dan amat getir.


Grace tidak boleh kalah, dia seorang model profesional. Grace melangkah dengan anggunya di balut dress panjang menjuntai ber belahan sebatas paha. Warna merah menyala senada dengan lipstik di bibirnya. "Thank you Sir Arthur Junior, suatu kehormatan untukku." Grace mnyambut uluran tangan Liam, pria yang berhasil memporak-porandakan kehidupan Grace.


Harusnya Grace mencurigai perusahaan baru yang mengontrak dirinya menjadi brand ambassador. LG, Liam Grace kah itu? Tebak Grace kini mulai bisa menyimpulkan. Pantas saja fotografer yang memotret nya seorang perempuan.


"Kau sangat cantik Grace." Bisik Liam persis ditelinga Grace. Tangan itu bahkan sudah mulai berani meraba bagian punggung yang terbuka. Jelas Liam bisa melihat kalau Grace tidak mengenakan braa.


"I hate you Liam. " Umpat Grace dengan mimik yang memasang wajah tersenyum. "Apa aku perlu membuatkanmu brand braa agar kau tidak menjadi gadis nakal Grace?" Liam masih tidak suka Grace tampil menawan hanya untuk di nikmati mata keranjang kaum laki-laki.

__ADS_1


"Not your business sir,,, " Grace melangkah mundur menciptakan jarak, seketika musik mengalun memberi tanda waktunya berdansa. Liam membungkuk mengajak perempuan di hadapannya menjadi teman dansa malam ini.


__ADS_2