My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
aku ingin darahmu


__ADS_3

Di dalam kamar Alya termenung dalam kesendirian. Berulang kali Patricia mengetuk pintu namun Alya menolak membukakan. Dia butuh waktu sendiri, ibunya pasti akan menasehati agar Alya memikirkan perasaan Theo.


"Oh god, inilah kenapa aku membenci cinta dan juga pria. " Alya menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar pusing menghadapi situasi sekarang. Rasanya Alya ingin kabur saja ke daerah perang, menjadi seorang relawan. Sejak kecil Alya selalu memimpikan hal itu.


Bekerja keras menjadi pelukis tanpa nama, Alya berharap bisa membantu kesulitan orang-orang di luar sana.


Di luar kamar, Tuan Rodrigo menghampiri istrinya Patricia yang terlihat cemas.


"Apa dia masih menghindar? " Mengangguk, Patricia membenarkan pertanyaan sang suami.


"Biarkan saja dulu, beri Alya waktu. Ayo kita istirahat saja." Tuan Rodrigo merangkul pundak Patricia menuju kamar mereka.


****


Keesokan harinya Alya mengantar kedua orang tuanya ke bandara sebelum pergi ke kampus. Meski enggan berpisah namun Alya harus kembali kuat mengejar cita-cita nya.


"Jaga dirimu baik-baik Al. " Pinta Patricia, mereka berpelukan sebentar.


"Aku akan pulang jika Gracia melahirkan." Senyum Alya begitu terlihat sendu, dia sudah terbiasa di temani selama seminggu ini.


"Al, kau harus ingat. Daddy dan mommy tidak pernah mengekang mu. Tapi kau harus bisa bertanggungjawab pada dirimu sendiri." Alya mengangguk sebagai tanda ia mengerti maksud ayahnya.


"See you soon dad, mom. " Alya melambaikan tangannya melepas kepulangan orang tuanya ke negara asal mereka.


Di kampus, Alya mengerjakan tugas dan mata kuliahnya dengan baik. Di saat ruang seni kosong ia akan meneruskan lukisan buatannya yang akan ia kirim untuk lomba.


Alya berencana membuat lukisan sosok wanita Hindustan yang sangat ia kagumi. Mastani, seorang kesatria rela mempertaruhkan nyawa demi melindungi kerajaannya. Sayang, kisah cintanya begitu memilukan dengan mencintai seorang jenderal perang yang sudah beristri.


"Sial... " Alya merasa tertampar. Apa dirinya akan terus menjadi simpanan Christian hingga pria itu menikah dan memiliki keluarga kecil bahagia?


"Siapa yang membuatmu marah Al?" Suara Luke memecah lamunan Alya, dia berdiri di ambang pintu menikmati wajah Alya yang semrawut.


"Tidak ada, apa kau tidak sibuk melanjutkan lukisanmu? " Alya menutup canvas menggunakan kain, dia tidak mungkin melanjutkan nya di depan Luke.


"Hampir selesai, aku tinggal menambahkan sentuhan terakhir. Alya maukah kau membantuku? " Luke berdiri tepat di samping Alya.


"Bagaimana aku bisa membantu mu Luke? Sementara kau sangat berbakat. " Alya melayangkan sedikit saja senyum tipisnya. Dia hanya berusaha menghargai Luke.


"Alya, pertama ikutlah aku ke studio pribadiku. Di sana aku menyimpan lukisanku." Mendengar ajakan Luke sebenarnya Alya enggan pergi berdua saja, tapi mengingat ini tugas dari sir Alex mau tidak mau Alya harus melakuannya.


"Baiklah." Terpaksa Alya menerima ajakan Luke. Keduanya keluar dengan berjalan berdampingan.


Dan lagi-lagi Cindy maupun Hellen kesal melihat mereka semakin dekat. Tanpa di sadari Luke maupun Alya, mereka mengikuti keduanya secara diam-diam.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di studio milik Luke. Lebih tepatnya kediaman pribadi, karena ternyata Luke tinggal mandiri jauh dari orang tuanya. Alya masih setia mengikuti langkah kaki Luke hingga berhenti di lantai empat.


"Kau pasti lelah harus naik tangga, masuklah aku akan menyiapkan minuman." Alya memilih duduk di sofa tanpa berniat banyak bicara.

__ADS_1


"Minumlah Al. " Untung saja dapur terbuka, jadi Alya bisa memperhatikan aktifitas Luke. Dia takut Luke menaruh sesuatu di minumannya.


"Thanks." Alya menerima minuman kaleng pemberian Luke.


"Lukisannya ada di kamarku, ayo aku tunjukkan. " Tanpa berpikir macam-macam Alya terus saja mengukuti Luke.


Ketika di dalam Alya bisa melihat banyak koleksi lukisan yang Luke beli maupun buatannya sendiri. Mata Alya tertuju pada lukisan di atas tempat tidur, lukisan yang menampilkan sebuah permainan komedi putar yaitu Carousel.


"Jadi, dia pembeli Carousel ku. " Batin Alya, Luke merupakan salah satu pembeli lukisan buatannya.


"Kenapa kau memajang itu Luke? " Tunjuk Alya ke arah dinding diatas tempat tidur. Sementara Luke masih sibuk mengeluarkan peralatan nya.


"Oh itu, aku sangat menyukai pemikiran nya. Bukankah permainan Carousel mengingatkan kita pada masa kanak-kanak? "


Alya kembali di buat tercengang, Luke membawa canvas yang penuh dengan wajahnya. Luke tersenyum bangga memamerkan hasil karyanya pada role model nya langsung.


"Luke kau tidak bercanda kan? " Alya sempat menutup mulutnya tak percaya.


"Maaf, bukankah kau yang menyarankan ku untuk memilih tema. Inilah yang sedang aku inginkan Al, dirimu." Akhirnya Luke memberanikan diri mengutarakan perasaan nya pada Alya.


"Ehem, jadi apa yang bisa ku bantu? " Langsung mengalihkan pembicaraan, Alya berharap bisa cepat pergi dari rumah Luke.


"Al, I need your blood. Lihatlah, ini akan sempurna jika di bagian bibirnya ada bagian dari tubuhmu secara nyata. Kau sebuah masterpiece Al. " Mendengar permintaan Luke Alya mengusap tengkuknya merinding. Apa Luke bukan seorang pesakitan hingga memiliki pemikiran seperti itu ?


"Oke, semua ku lakukan demi tugasku Luke. Lakukanlah, dan aku harus segera pulang." Luke pun berteriak gembira Alya menyetujui idenya. Dia menarik lengan Alya, meraih cutter di atas meja belajarnya.


Srak,,


"Terima kasih Al, kau sangat baik dan luar biasa. " Setelah merasa cukup Luke menyimpannya ke dalam lemari pendingin di dapur.


"Aku akan mengobati lukamu. " Tangan Luke sibuk tergesa-gesa mencari kotak obat. Alya masih berusaha menekan lukanya agar berhenti mengeluarkan darah.


"Ya Tuhan Al, kotaknya ada di mobil. Tunggu sebentar Al akan aku ambilkan." Luke berlarian keluar rumah menuju mobilnya.


"Luke tidak gila bukan, Kenapa aku takut berada di dekatnya? " Alya menggelengkan kepalanya mengusir ketakutan tak bedasar. Mungkin dia sangat mendalami peran seorang pelukis. Hal itu sangat wajar baginya.


Tok tok tok,,,


Kenapa Luke mengetuk pintu padahal dia memiliki akses masuk. Tanpa pikir panjang Alya melangkah menuju pintu untuk membukakan nya.


"Luke cepatlah! " Teriak Alya karena ia mulai pusing melihat banyak darah. Ia terkejut ketika melihat siapa yang datang.


"Dasar bitchhh. Beraninya kau menggoda Luke hah? Kau bahkan datang ke rumahnya." Cindy terus saja mendorong dada Alya dengan sangat keras, hingga Alya berjalan mundur.


"Cindy, kau salah paham. Kami membahas lukisan Luke untuk lomba." Mencoba meyakinkan Cindy meski mustahil, Alya merasa kepalanya mulai ber kunang-kunang.


Melihat Alya memegangi lukanya, seringai jahat tergambar di wajah Cindy. Ia pun menarik paksa tangan kanan Alya untuk lepas.

__ADS_1


"Cindy, sakit! " Teriak Alya ketika Cindy sengaja menekan lukanya menggunakan kuku tajam dan panjang miliknya.


"Rasakan ini ja lang, jangan harap kau bisa mendapatkan Luke. Rayu saja pria kaya seperti yang sering kau lakukan sialan." Alya semakin meringis menahan sakitnya, tak mau kalah Alya pun menjambak rambut Cindy sekuat tenaga.


"Heh, Luke sendiri yang terus mendekatiku. Aku bahkan muak berada di dekatnya karena kau pasti akan menggangguku. " Merasakan perih di kepalanya Cindy pun beralih meraih tangan Alya untuk melepaskannya.


Luke yang sudah tiba sempat terpaku mendengar ucapan Alya. Namun ia kembali sadar melihat pertengkaran keduanya.


"Stop." Bentak Luke melerai memisahkan mereka.


"Tugas ku sudah selesai Luke, tolong katakan pada sir Alex bahwa aku sangat membantumu. " Puas meluapkan emosinya pada Luke, Alya segera pergi dari sana.


Alya berjalan cepat menuruni anak tangga, dia melirik ke samping kanan berharap ada taksi yang lewat. Luke mengejarnya berniat meminta maaf atas semua yang di alami Alya.


"Al, biar aku antar pulang. Di sini jarang taksi lewat." Raut wajah Luke jelas cemas dan takut Alya malah akan membencinya.


"Terima kasih Luke, aku bisa pesan taksi online. " Tolak Alya.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan keduanya. Alya mengernyitkan dahinya, dia terkejut melihat Daniel ada di sekitar rumah Luke.


"Nona Alya, ternyata benar itu kau. " Daniel yang keluar dari mobil sangat kaget melihat Alya terluka di bagian telapak tangannya.


"Niel, antarkan aku pulang. " Pinta Alya, Daniel mengangguk tanpa banyak bertanya. Dia membukakan pintu bagian belakang agar Alya segera masuk.


Meninggalkan Luke yang masih terpaku.


di dalam mobil, Alya menyandarkan tubuhnya. mungkin luka di tangannya akan berhenti kalau saja Cindy tidak melakukan hal kejam seperti tadi.


"jangan beritahu Christian Niel, obati saja lukaku di klinik terdekat. " padahal Daniel baru memegang ponselnya, Alya sudah memberi ultimatum seolah tahu dirinya akan melapor pada Christian.


"baik nona. " jawab Daniel patuh. tak lama mereka sudah tiba di depan klinik kecil di pinggir jalan utama.


"nona,,, " Alya hampir terkulai lemas jika saja Daniel tidak menahan bobot tubuhnya.


"aku pusing sekali. " adu Alya, Daniel memapah Alya secara hati-hati.


"nona kalau saja Chris melihat kita dia akan membunuhku." omel Daniel.


"ya, kau benar Niel. " Alya terkekeh geli dengan bibir pucat nya.


Daniel pun menunggu di luar ketika Alya mendapatkan pertolongan pertama. ponsel di saku jasnya berdering, seseorang menelepon dan itu pasti Christian.


"kau dimana? " teriak Christian membuat Daniel harus menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"datanglah, aku di klinik Aciel. tapi dia sedang di rumah sakit. " perintah Daniel.


"lalu untuk apa aku datang ke sana jika dia tidak ada? " Daniel memijat pangkal hidungnya mendengar Christian yang tidak cekatan.

__ADS_1


"Alya,,, "


mendengar nama Alya Christian langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. sesuatu pasti terjadi dan dia harus segera tiba di klinik milik keluarga Aciel.


__ADS_2