My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
kepo nya Daniel


__ADS_3

Di dalam perjalanan Alya dan Christian sama-sama membisu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika Christian bersikap ramah mana mungkin Alya tega berbuat jahil padanya. Sedangkan Christian nampak berpikir keras, dia cukup mencium aroma parfum milik Alya. Bukan hanya di kedai kopi, Christian yakin Alya pernah bertemu dengannya di tempat lain.


"Apa sebelumnya kita pernah saling kenal?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Christian. Alya gelagapan harus menjawab apa, dia malu harus mengakui jika Christian pernah mencium paksa dirinya.


Alya berharap Christian tidak akan pernah mengingat kejadian itu sampai kapanpun.


"Entahlah, aku dan adikmu berteman. Mungkin tanpa sengaja kita pernah berpapasan. " Christian mengangguk membenarkan jawaban Alya. Tangan nya sibuk memutar kemudi, mobil memasuki area supermarket tak jauh dari jalan menuju flat milik Christian.


"Turunlah, aku harus kembali ke kantor." Sempat mendengar Alya ingin belanja, Christian sengaja menurunkannya lebih dulu.


"Tidak masalah, Terima kasih tumpangannya. " Alya turun dari mobil Porsche hitam milik Christian, kakinya langsung berlari kecil memasuki supermarket.


"Alya Shamare, siapa kau sebenarnya? " Mata Christian masih tertuju pada sosok gadis yang selalu menyembunyikan sikap aslinya. Saking penasaran Christian rela mendatangi kampus Alya dari kantornya.


Dering ponsel memecah lamunan Christian, ia berdecak kesal melihat nama kontak penelepon.


"Apa? " Serang Christian dengan nada tinggi.


"Cepat kembali ke kantor atau kau akan melihat ruang kerjamu hancur di tangan Viona. " Christian Terdengar menghela nafas berat, merasa lelah menghadapi sikap bar-bar mantan kekasihnya.


"Jangan sampai dia pergi ke kamarku. Cegah dia Niel, aku akan berangkat." Sambungan langsung terputus begitu saja secara sepihak. Liam tancap gas keluar dari tempat parkir supermarket. Laju mobil mewah itu kencang seperti sedang melakukan balap liar.


Di sebuah hotel bintang lima, seorang wanita mengamuk memaksa masuk untuk menemui pujaan hatinya. Petugas sampai kewalahan menghadapi mantan kekasih dari pemilik hotel tersebut.


"Tuan Daniel,,, " Kedua security menunduk hormat menyambut kedatangan Daniel tangan kanan Christian.


"Oh Niel, bisakah kau memerintah mereka untuk melepaskanku? Aku harus bertemu Christian, aku ingin meminta maaf padanya." Viona menatap Daniel penuh harap, bibirnya sedikit maju menandakan sifat manja yang belum pernah berubah.


"Maaf Viona, Christian sedang tidak di kantornya. Lagi pula dia sudah menyuruhku menahanmu jika kau meminta bertemu. Tolong kerja samanya, lebih baik kau pergi dari sini. " Viona terkekeh kesal pada Daniel. Dulu sebelum hubungannya berakhir Daniel adalah pesuruh yang menuruti semua keinginan Viona atas perintah Christian.


Mulai dari membelikan makanan, mencuci dan memeriksa mobilnya, hingga membawakan barang belanjaan Viona ketika mereka pergi berkencan. Dan Daniel mengumpat dalam hati atas kebodohan dirinya. Untung saja Christian memiliki alasan kuat untuk memutuskan hubungannya dengan Viona. Viona ketahuan selingkuh dan melakukan hubungan ranjang dengan pria lain. Jelas Christian marah, dia saja tidak berani menyentuh perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan.


"Niel tolong, aku sangat menyesal. Jangan pisahkan aku dan Christian. Bukankah kalian sedang merencanakan pernikahan kami?" Viona tersenyum layaknya orang depresi, tidak bisa menerima keputusan Christian soal perpisahan mereka.


"Omong kosong. " Suara berat menggema memecah ketegangan yang masih terjadi. Langkah tegap dan bunyi sepatu beradu dengan lantai marmer seakan menciptakan rasa gugup bagi siapapun pendengarnya.


Viona meremang melihat tatapan tajam dari pria yang sedang mereka bicarakan sejak tadi.


"Chris honey, maafkan aku karena sudah berani meluakimu. Beri aku kesempatan honey. " Bujuk Viona memelas dengan sangat.

__ADS_1


"Cih, berlutut pun belum tentu aku mau memaafkanmu. Pergilah Viona, sebentar lagi aku akan menikah jangan ganggu hidupku lagi. " Pernyataan Christian jelas membuat semua orang tercengang. Siapa perempuan beruntung menjadi calon pendamping Christian ?


Kerutan halus pun terlihat di kening Daniel. Apa Christian hanya menggertak Viona agar dia jera? Atau ada sesuatu yang dirinya tidak ketahui dari sahabatnya itu.


"Dengan siapa? Kau hanya berbohong, mana mungkin kau bisa dekat dengan perempuan secepat itu hah? Atau dia hanya jadi pelarian mu saja kan Chris honey? "


Benar apa kata Viona.


Daniel tahu betapa hancurnya Christian saat tahu Viona selingkuh darinya. Dia kabur ke kota kelahirannya Paris, mabuk-mabukan hingga kecelakaan. Alasan Viona ketika membela diri sangat klise, dia belum siap menikah dan masih ingin hidup bebas.


"Nanti, aku pasti akan mengenalkannya padamu. Pergilah, aku masih harus bekerja untuk menghidupi calon istriku. " Setelah puas melukai perasaan Viona, Christian berlalu meninggalkan lobby hotel diikuti Daniel.


Viona terkulai lemas duduk bersimpuh di lantai dingin, ia jelas menyesal sudah menyia-nyiakan pria sebaik Christian. Tanpa terasa, buliran bening yang sejak tadi tertahan akhirnya terjatuh juga. Viona dasarnya baik pada Christian, dia hanya kurang sabar dengan mencari kepuasan dari pria lain.


"Silahkan pergi nona. " Petugas kembali ke posisi mereka masing-masing, membiarkan Viona sadar diri dan segera keluar tanpa harus di paksa.


Daniel sejak tadi memperhatikan gerak gerik Christian yang duduk santai sambil memeriksa beberapa laporan. Ucapan Christian tentu sangat menggelitik perasaan ingin tahu Daniel. Ia bahkan hanya mampu berdiri mematung menanti sahabat sekaligus bos nya menjelaskan semuanya.


"Niel, apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menatapku? " Tanpa menoleh ke arah Daniel, Christian bisa membaca raut penasaran Daniel.


"Siapa kekasih barumu Chris? Apa kau sedang main rahasia denganku? " Niel menyipitkan matanya yang memang sudah menyipit.


"Siapa? " Semakin dibuat penasaran Daniel oleh Christian, ini kali pertama Christian main petak umpet dengannya.


"S for secret, sorry Niel. " Liam tersenyum tipis masih belum ingin memberitahu Daniel.


Jam pulang kantor Christian langsung naik ke atas, dia begitu lelah dan butuh hiburan. Mengguyur seluruh badannya di bawah shower berharap Christian mendapat kesegaran.


Pikirannya sempat di buat kacau oleh tugas yang belum selesai. Mendapat koleksi lukisan anonim untuk menghiasi beberapa sudut hotel. Sudah saatnya Christian meremajakan pemandangan usahanya itu.


Saat sedang mengenakan pakaian, Christian tak sengaja menjatuhkan kaos oversize miliknya. Ia harus sedikit berjongkok untuk meraihnya. Matanya menangkap sesuatu di bawah tempat tidur. Sejak kapan dirinya menyimpan barang di sana?


"Apa ini? " Tangan Christian menarik benda pipih berbentuk persegi empat. Sebuah kanvas beserta penyangga berukuran sedang.


"Milik siapa ini, mungkinkah Alya? " Christian bergumam, pikirannya menerka mencari tahu tentang kepribadian Alya.


"Aku harus bertemu dengannya. " Seolah mendapat sebuah alasan, Christian tampak senang bisa mengunjungi gadis itu. Entahlah, Christian sendiri tidak tahu kenapa dia selalu ingin melihat wajah datar Alya. Ia pun bergegas turun ke bawah dengan tangan menenteng peralatan milik Alya.


Alya masih sibuk merapikan belanjaan miliknya, bahan makanan dan juga stok minuman ia masukkan ke dalam lemari pendingin. sementara beberapa sereal dan mi instan berjajar rapi di rak penyimpanan atas.

__ADS_1


"Tunggu, Christian sekarang dan yang dulu berbeda. mungkin karena efek minuman dia bertindak konyol. apa aku harus bersikap baik padanya? " mendadak Alya membicarakan pemilik rumah dengan dirinya sendiri. Rasanya Alya tidak tega jika harus menyakiti hati pria itu. tapi bukankah di pertemuan pertama mereka Christian juga sudah memandang Alya sebelah mata? jadi jangan salahkan dirinya jika Alya membenci Christian.


cek lek,,,


suara pintu terbuka membuat Alya terperanjat kaget. sosok yang sedang ia pikirkan muncul dari balik pintu.


"kenapa kau ke sini? kata Tuan Daniel kau tinggal di kamar hotel. " Alya kembali mengenakan kaca mata tebalnya. Christian berdecak kecil melihat sikap Alya seolah menutup diri darinya.


"barangmu tertinggal di ruang pakaianku." Alya baru sadar Christian datang dengan tangan tidak kosong. bahkan dia hampir melupakan benda kesayangannya.


"Ah ya, itu milik ku. Terima kasih kau sudah repot mengantarkan nya. " Alya mengambil alih kanvas dan penyangga nya dari genggaman Christian.


jarak mereka begitu dekat, tinggi Alya hanya sebatas dada Christian yang begitu menjulang. membuat Christian bergemuruh, apa rasanya jika dia merengkuh si mungil Alya? membayangkannya seperti karakter dongeng beauty and the beast.


"Apa kau masuk jurusan seni? " Christian mencoba mengontrol rasa gugupnya berdekatan dengan Alya. padahal Alya hanya mengenakan kaos longgar dan celana hotpants, tapi terlihat begitu seksi di matanya.


"ya, aku sangat menggemari melukis. " katanya, Alya menaruh peralatan miliknya di dekat jendela balkon.


"boleh aku tahu hasil karyamu? kebetulan aku sedang membutuhkan beberapa koleksi lukisan baru untuk pajangan di hotel. siapa tahu kau berniat menjualnya pada ku. " Christian mengikuti langkah kaki Alya yang duduk di meja makan, dia membuka kotak berisi salad udang yang di belinya di supermarket.


"Jangan banyak berharap, aku hanya pelukis pemula tuan Christian Oliver. sebaiknya kau ikut acara pelelangan agar mendapat mahakarya pelukis terkenal. " Alya menyuap sesendok salad ke mulutnya, matanya masih fokus merasakan menu makan malamnya.


"itu sangat berlebihan. aku selalu mengagumi hasil karya pelukis under rated di luar sana. mereka memiliki bakat yang harus di tunjukkan pada dunia. " Alya tercekat mendengar penuturan pria di sampingnya. Alya menghentikan kegiatan makannya, ia tatap Christian intens.


"dia sangat terbuka,,, " lirih Alya dalam hati kecilnya memuji sudut pandang seorang Christian soal seni lukis.


"kalau aku suka, kau bisa jadi pelukis pribadiku nona Alya Shamare. seniman muda yang penuh ambisi. " Christian tak mau kalah dalam beradu tatap dengan gadis yang sudah mencuri perhatiannya.


Tangan Christian seperti tersihir, dia membuka kaca mata tebal Alya. sialnya Alya hanya pasrah menerima perlakuan Christian.


"kau cantik Alya, jangan tutupi itu dari dunia." ungkap Christian memuji Alya.


dering ponsel memecah keheningan diantara mereka. Christian mengumpat dalam hati, siapa yang berani mengganggu kenyamanan miliknya?


"itu suara ponselku,,, " Alya bangkit dari duduknya, ia masuk ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya.


"ada apa ini? " Alya menyentuh dadanya, sejak tadi jantung Alya seakan ber disko tanpa tahu malu.


"Alya, buka pintunya! " suara Christian seperti sedang mengotak atik handle pintu, Alya memicingkan matanya. kenapa Christian seolah tak sabar meminta di bukakan pintu olehnya.

__ADS_1


"Jangan masuk Chris. aku sedang menelepon keluargaku. " Alya sedikit mengeraskan suaranya, Christian hanya bisa bernafas lega. ia pikir kekasih Alya menghubungi nya, rasanya Christian tidak Terima.


__ADS_2