My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
I miss you


__ADS_3

Begitu hangat, tersenyum melihat mereka bisa berbahagia dengan hal kecil. Kehidupan Alya jauh lebih baik di banding mereka namun terkadang ia banyak mengeluh. Seharusnya Alya malu, bersyukur untuk apa yang kau miliki tidak bisa di miliki orang lain.


"Bibi Al, Terima kasih. Terima kasih. " Anak-anak yang duduk di elementary school berhamburan memeluk tubuh mungil Alya.


"Sama-sama dear,,, bermainlah. Bibi akan menyiapkan makan malam. " Ucap Alya mengelus kepala mereka satu persatu.


Alya datang membawa beberapa barang. Berupa cemilan, mainan bahkan pakaian baru. Tidak sering Alya datang, namun setiap kali kunjungannya selalu membawa kebahagiaan bagi mereka. Alya memiliki tempat tersendiri di hati anak-anak panti.


Luke yang awalnya hanya mengantar, ia memaksa Alya ingin ikut bersamanya. Dia begitu kagum menyaksikan kedekatan Alya bersama mereka. Senyum yang tidak pernah Luke lihat dengan mudah nya Alya ulas di sini.


"Al, berikanlah ini untuk temanmu. " Pengurus panti membawakan nampan berisi kopi dan snack ringan. Alya mengangguk mengambil alih, menyusul Luke duduk di ruang tamu. Bangunan sederhana yang mereka dapat dari hasil donasi menjadi tempat bernaung selama ini.


"Aku tidak sedang membuatmu tersanjung. Jadi stop memandangi ku seperti itu. " Perkataan Alya menyadarkan Luke dari lamunannya.


"Thanks Al. " Luke meraih cangkir yang baru Alya letakan di atas meja. Menyeruput nya selagi masih panas.


"Terima kasih Luke karena kau juga mau membantu. Semoga itu bermanfaat bagi mereka." Alya menengok ke samping dimana Luke baru selesai mencicipi kopi buatan bibi pengurus.


"Kamu membuatku sadar Al, kita jauh lebih beruntung dari pada mereka. Harusnya aku bersyukur bisa hidup mandiri tanpa menyusahkan orang tuaku. " Alya mengangguk tipis membenarkan ucapan Luke.


"Semoga kau beruntung dan bahagia di manapun kau berada Luke. " Doa Alya untuk temannya yang akan pergi jauh.


"Wah, ternyata Alya Shamare memiliki jiwa yang hangat. Aku semakin menyukaimu." Ledek Luke sengaja membuat Alya merajuk, di jalan mereka sepakat untuk menjadi teman baik.


"Aku akan mengantarmu ke bandara, sebagai hadiah pertemanan kita. " Berbaik hati Alya menawarkan diri. Luke mengacak-acak rambut Alya gemas.


"Luke, hentikan! " Alya mengibaskan tangan Luke berulang kali.


****


Semusim berlalu, Alya masih bergulat dengan pekerjaan sampingannya. Sesuai kesepakatan, Christian meminta Alya membuat satu lukisan dalam waktu sebulan. Seperti sekarang, dia baru saja menyimpan lukisan ke tiga nya di galeri seni milik Christian.


Selain memamerkan karya-karya luar biasa, di sana juga terdapat book cafe, coffeeshop maupun ruang belajar agar pengunjung tidak merasa bosan hanya dengan memandangi lukisan yang terpajang.


"Nona Alya, tuan Oliver menunggu anda di ruang kerjanya. " Daniel menghentikan kegiatan Alya membaca buku di coffee shop.


"Perlukah? Aku ingin langsung pulang. Ada janji temu dengan dokter Aciel. " Terdengar malas, Alya masih enggan bertemu dengan pria itu.


Selama ini Alya bisa bernafas lega, mereka tidak pernah bertemu secara sengaja sekalipun. Jika keduanya bertemu maka Alya dan Christian akan bersikap seolah mereka orang asing yang tak saling mengenal.

__ADS_1


"Untuk apa? " Masih ada rasa peduli pada diri Daniel terhadap apapun mengenai Alya. Meski Christian akan acuh mendengar setiap cerita Daniel tentang Alya. Daniel tahu betul Christian masih sangat mencintai Alya, meski tindakan nya selalu mengkhianati perasaan nya.


"Hanya bertemu, kami menjalin pertemanan. Oh God akhirnya aku bisa memiliki teman yang tulus. " Sengaja memberi tekanan pada setiap kalimatnya, Daniel tahu Alya mengalami banyak hal kemarin.


Sayangnya itu tidak membuat Christian luluh ataupun merasa iba. Mereka benar-benar saling membenci satu sama lain.


"Sebentar saja nona, tuan Oliver hanya ingin menyampaikan sesuatu." Memutar bola matanya malas, Alya terpaksa menuruti perintah Christian.


Keduanya berjalan menuju lantai paling atas gedung itu. Daniel mempersilahkan Alya masuk lebih dulu, baru dirinya kemudian menekan tombol angka lima.


"Apa nona masih menggunakan alat kontrasepsi? Bukankah kalian sudah resmi berpisah sejak lama. "


Ya, Daniel mengetahui semuanya dari Aciel. Padahal Alya berulang kali melarang dokter obgyn itu membocorkan rahasianya.


"Sejak lama aku berhenti, lagi pula aku berjaga-jaga agar tidak kecolongan." Selama menjalin hubungan dengan Christian Alya memang bersikeras tak mau hamil di usia muda.


"Nona Alya harus tahu, Christian sangat kecewa karena tidak bisa mendapatkan keturunan dari anda. " Alya tertawa menggelegar di dalam lift mendengar perkataan Daniel.


"Hahaha, dia memang gila Niel. Jangan pernah bermimpi. Siap dia berani mengharapkan hal itu dariku. " Penolakan Alya membuat Daniel geram, dia tahu hati kecil Alya mengatakan sebaliknya.


Ketika Christian bersama Sera Daniel akan melihat sorot kebencian pada mata Alya. Perilaku nya yang bar-bar merupakan cara Alya membentengi diri agar ia tidak terluka.


Pintu lift terbuka menampilkan ruangan begitu besar di isi cubicle di sebelah kiri dan kanan. Ada meja rapat panjang di tengah-tengah ruangan. Sementara di sebrang sana terdapat ruang kerja Daniel dan Christian. Mereka memiliki sekitar Sepuluh karyawan, lima sebagai pengurus galeri, sisanya bekerja di bidang interior design.


Alya menatap takjub melihat kesibukan yang terjadi. Christian menyalurkan hobinya ke dalam bisnis dengan sangat baik. Selain itu terdapat lemari kaca berisi koleksi barang antik yang Christian kumpulkan sejak kecil bersama sang kakek. Setiap benda memiliki history tersendiri.


"Apa nona tertarik bergabung dengan kami?" Melihatnya berbinar Daniel tahu jika Alya mengagumi kinerja Christian.


"Andai saja bukan Christian, aku pasti berharap bisa bekerja disini Niel. Semua hal berkaitan dengan impianku." Berdecak kesal mengingat siapa pemilik perusahaan ini.


"Nona bisa saja. Mari silahkan. " Daniel membukakan pintu untuk Alya, dia tidak ikut masuk.


Menatap punggung bidang Christian, pria itu menatap ke arah jendela. Kedua angannya bertengger di saku celana bahan berwarna hitam. Berbeda ketika di hotel, kali ini Christian hanya mengenakan kaos polo berwarna khaki.


Menyadari kedatangan Alya, Christian berbalik lalu duduk di kursi kebesarannya. "Duduk lah! " Perintah Christian menunjuk kursi di depan mejanya. Awalnya Alya mencebik namun menurut juga.


Tatapan mereka sempat beradu hingga akhirnya saling menghindar. Bagaimana pun keduanya di tuntut profesional.


"Akan ada program charity di sini, kau bisa merekomendasikan panti asuhan yang akan di pilih untuk mengisi acara. " Jelas Christian pada Alya.

__ADS_1


Alya akui, ia sangat salut melihat Christian. Selain menjunjung sikap profesional, Christian juga memiliki jiwa peduli sosial yang baik terhadap lingkungan sekitar. Berkat didikan sang kakek Christian menjadi pria yang baik. Sejak masuk senior high School Christian memang di ajak tinggal bersama sang kakek di London. Kakek menggembleng Christian menjadi pengusaha yang tidak hanya sukses, melainkan peduli sesama.


"Nona Shamare, apa kau mendengarku?" Lanjut Christian di saat Alya malah bengong.


"Ah ya, aku akan mengajukan beberapa proposal panti asuhan. Anda bisa memilih nya yang mana kiranya pantas di ajak bekerja sama." Jawab Alya lancar, di benaknya ia sangat antusias menyambut acara yang di buat oleh OCompany.


"Ok. Ingatlah, anda juga pihak yang terlibat di acara ini. Akan ada sesi dimana pelukis kebanggaan galeri ini mengajari mereka cara melukis dengan teknik dasar."


Seolah mengingatkan Alya ke sekian kalinya, Alya mengangguk singkat paham.


"Anda benar tuan, aku senang bisa ikut berpartisipasi. Kalau begitu saya permisi." Alya menautkan kembali totebag nya di pundak, ia beranjak dari kursi.


Sebelum Alya benar-benar keluar, Christian kembali bersuara membuat Alya menghentikan langkahnya.


"I miss you Al... " Ucap Christian penuh ketulusan. Alya bisa merasakannya, ia pun berbalik dengan seulas senyum tipis.


"There's no more about us Christian. " Tanggapan Alya membuat Christian meringis dalam hatinya. Kini mereka memang menjadi orang asing. Berhubungan hanya karena pekerjaan.


"Take care nona Shamare. " Christian membiarkan Alya pergi.


Di kampus Alya kembali menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Apa lagi sekarang ia tidak memiliki teman satupun. Tentu bukan masalah baginya, malah Alya merasa tenang menjalani kehidupan nya.


Sesekali Alya juga pergi bersama pak Ben di akhir pekan. Hanya sekedar makan dan berbelanja kebutuhan.


Usia kandungan Grace kakaknya menginjak bulan ke tujuh. Alya sangat gembira mendengar pengalaman hamil anak kedua kakak nya.


Alya tengah melakukan panggilan video di sela jam istirahat nya. Kini ia duduk di taman kampus yang hijau dan rindang.


"Kau tahu Al, aku sangat bahagia di kehamilan sekarang. Liam menggantikan ku mengalami morning sickness. Tapi aku juga kasihan melihatnya, setiap pagi dia akan mual dan muntah. " Alya hanya tertawa mendengar cerita Grace.


"Itu bagus Grace. Pria juga harus merasakan bagaimana sulitnya seorang wanita. " Balas Alya, mereka tertawa bersama.


"Al, siapa kekasihmu sekarang? Ku dengar dari daddy Theo kini menjadi seorang cassanova gara-gara patah hati." Jika biasanya Grace menahan rasa penasaran nya, tidak untuk saat ini. Dia perlu tahu bagaimana kehidupan adik perempuannya. Agar Grace bisa memberi saran untuk Alya.


"Aku tidak memiliki nya Grace. Aku juga membenci yang namanya pernikahan. Kalau bisa aku ingin sendiri saja untuk sekarang." Alya berubah menjadi sendu, padahal dalam hati kecil nya ia begitu merindukan kehadiran seseorang di sampingnya.


"Dengarkan aku Al, kau berhak bahagia. Kami keluarga mu selalu berdoa untuk kebahagiaan mu Al. Jangan takut karena kau tak sendiri, ada kami. " Mendengar Grace menguatkannya membuat Alya hampir menitikan air mata. Buru-buru Alya mendongakkan kepalanya.


"I knew it. Thanks Grace, kau kakak terbaik untukku. Salam untuk Dylan ku, aku harus kembali ke kelas. " Sebelum memutuskan sambungan Alya melambaikan tangannya, Grace membalas hal yang sama.

__ADS_1


__ADS_2