
Pagi hari itu, entah kenapa Alya merasakan sesuatu yang beda. Mentari menghangat menyambut aktifitas nya. Ia berbinar mengatur anak-anak panti, paling muda usia satu tahun dan tertua sekitar dua belas. Total sekitar lima belas anggota akan di boyong Alya menuju gedung seni milik Christian. Menggunakan school bus di dampingi dua pengurus panti.
"Kak Alya, Terima kasih karena semenjak kami mengenal kakak kami selalu mendapatkan kebahagiaan berlimpah." Ucap salah satu yang paling tua, gadis cantik berwajah khas timur Tengah. Sungguh, dia mengingatkan Alya pada dirinya sendiri di usia tiga belas.
"Sama-sama Daniar. Kalian semua berhak bahagia meski itu hanyalah sebuah kesederhanaan. " Balas Alya, mereka duduk bersebelahan di dalam bis.
"Alya, apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat sedikit pucat. " Tanya salah satu pengurus panti yang duduk bersamanya.
"Aku hanya kurang tidur bibi Tina. Setelah istirahat akan lebih baik." Mengesampingkan rasa lelahnya, Alya ingin anak-anak panti mendapat pengalaman menyenangkan hari ini.
Sekitar tiga puluh menit menyusuri jalanan kota, bisa mulai memasuki area gedung bergaya modern. Persis seperti perpustakaan Negara .
"Ayo anak-anak, kalian harus tertib. " Perintah kedua pengurus panti. Satu persatu dari mereka turun dengan disiplin.
Bukan hanya satu, ada dua panti lainnya yang Christian undang. Rasanya tidak adil jika harus mengabaikan yang lainnya. Disana ada juga beberapa kolega perusahaan Christian yang berniat memberi donasi berupa beasiswa pendidikan.
"Selamat datang untuk para tamu kehormatan kami. Semoga kalian bisa bersenang-senang selama disini. Silahkan masuk." Daniel terpaksa menuruti perintah Christian untuk menjadi pemandu mereka hingga acara berakhir.
Senyum menyipit Daniel tulus, merasa tersentuh oleh kepolosan anak-anak tak berdosa yang di tinggalkan orang tua mereka dengan alasan berbeda-beda.
Alya tersenyum kalau melihat sosok yang ia kenal. Akhirnya dia tidak akan kesepian ditengah keramaian. Apa lagi ada tunangan Christian ikut hadir.
"Dokter Aciel,,, "
"Alya,,, "
Sapa keduanya. Mereka berpelukan singkat melepas kerinduan.
"Kemarin aku kira kau akan datang. Kau mengecewakan ku Al. " Mengerucutkan bibirnya, Aciel pura-pura merajuk menggoda Alya.
"Hehe maaf, jadwal ku bentrok dengan kuliah. " Menggaruk pelipisnya Alya mencari alasan tepat.
"Ekhem,,, apa kalian akan tetap berbincang disini? " Suara serak Daniel memutus keseruan mereka. Aciel memicingkan matanya merasa terganggu.
"Pergilah urus tuan dan nyonya mu Niel. Aku dan Alya bisa mengurus diri kami." Sepertinya Aciel tidak menyukai sosok Sera yang selalu bersikap manja pada Christian. Dia bahkan di cemburui karena terlalu dekat dengan tunangannya. Padahal selama bersama Alya, tidak pernah Aciel merasa di kekang seperti itu.
"Ayolah Niel, lebih baik kita masuk. " Christian tidak ingin berdebat hanya gara-gara hal sepele. Dia melenggang bersama Sera yang sejak tadi bergelayut di lengan Christian.
Daniel pun menyusul.
__ADS_1
"Are you okay Al? " Selepas kepergian mereka Aciel nampak khawatir melihat keadaan Alya. Wajahnya sedikit pucat dengan keringat halus di keningnya.
"Aku baik-baik saja Dokter. Mungkin aku hanya kelelahan. " Mencoba menutupi rasa sakit pada perutnya Alya tersenyum tipis sekali.
"Katakan kalau ada yang tidak enak kau rasakan Al. Aku tahu efek melepas alat kontrasepsi membuatmu tak nyaman." Bagaiamana Aciel tidak khawatir. Alya mendapat suntikan setiap bulannya ketika dia masih bersama Christian. Dan itu malah menyebabkan Alya tidak mengalami menstruasi.
Alya sempat takut dirinya hamil, namun Aciel menjelaskan kalau itu hal biasa. Karena tubuh Alya menolak reaksinya.
"Baiklah,baik. Ayo kita masuk dok, mereka pasti mencari." Alya beriringan bersama Dokter Aciel.
Acara berjalan lancar dan berkesan bagi anak-anak panti. Senyum polos mereka berhasil membuat orang dewasa yang menyaksikan ikut merasakan kebahagiaan itu. Selain mendapat edukasi sesuai umur, mereka juga di ajak berkeliling di gedung OCompany. Ketika di cafe, mereka di beri snack dan minuman untuk mengganjal perut.
Alya terlihat membantu membagikan snack box ke setiap anak-anak. Bahkan Aciel juga Christian tergerak melakukan hal sama.
Alya sempat berpikir kalau dia dan Christian memiliki kesamaan, yaitu bahagia melihat orang lain bahagia. hati mereka akan menghangat bila berhasil membantu meringankan sedikit beban orang di sekitar.
"Satu-satu ya, kalian semua akan kebagian." Karena tak sabar mereka saling berebut antrian.
Hingga barisan menerobos mendorong tubuh Alya, hampir saja terhuyung jatuh jika Christian tidak sigap menangkapnya.
"Hati-hati... " Bisik Christian mendekap tubuh Alya, deru nafas hangat Christian bisa ya rasakan. Membuat darahnya berdesir hebat.
Sera mengepalkan kedua tangannya, dia kesal melihat Christian masih saja dekat dengan Alya.
"Adik-adik tolong tertib ya, kalian tidak ingin kan kak Alya terluka? " Mencoba menenangkan keadaan Christian berbicara penuh kelembutan.
"Maafkan kami kak... " Kompak suara mereka, Alya tersenyum kemudian melanjutkan pembagian.
Meski sudah di sediakan tempat di cafe, anak-anak memilih menikmati snack di taman hijau yang rindang. Alya duduk di temani Dokter Aciel di bangku taman.
"Christian memarahiku saat aku membantumu. Dia berpikir kau hanya menghindari hubungan pernikahan, nyatanya kau juga tidak ingin hamil anaknya." Ketika Christian sangat berharap, dia mendapat kabar mengejutkan itu dari Daniel. Christian selalu menanyakan apa Alya menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Aku hanya ingin sendiri dulu dok. Mengejar impianku, mewujudkannya satu-persatu. Aku belum siap jika harus hamil di usia muda." Alya tertunduk lesu, meremaz kedua tangannya.
"Itu keputusan mu Al, aku hanya bisa mendukung mu. Tapi kau harus tahu, Christian tidak tidur dengan siapapun tanpa ikatan pernikahan. Dia bahkan menolak menyentuh tunangannya sendiri. Kau paling istimewa untuknya." Lanjut Aciel.
Jangankan Aciel, Alya sudah mendengar sendiri dari Christian langsung. Itu tidak akan mengubah apapun bagi Alya. Jika mereka memang berkesempatan melanjutkan hubungan kembali, akan ada banyak masalah menunggu. Dan Alya malas menghadapinya.
Di akhir acara sesuai permintaan Christian, Alya mengajari mereka melukis teknik dasar. Atau lebih tepatnya drawing, mewarnai sketsa yang sudah di buat. Dengan telaten dan sabar Alya membimbing anak-anak memilih warna yang sesuai.
__ADS_1
"Chris, honey ayolah kita pulang saja. Lagi pula semua acara sudah selesai bukan? " Terdengar samar-samar Sera merengek mengajak Christian pergi. Dia sudah tak tahan melihat Christian terus saja menatap Alya. Dia juga membenci kehadiran anak-anak yang berisik.
"Kau bisa pergi sendiri menggunakan mobilku Se. Berhenti bersikap kekanak-kanakan. " Menggeram kesal Christian berusaha meredam emosinya.
"Aku ingin pergi bersamamu Chris." Sera menyandarkan kepalanya di lengan Christian. Alya melihat itu hanya membuang muka, malas saja menyaksikan kemesraan sejoli tak jauh darinya.
"Kalau begitu sabarlah, atau Daniel akan mengantarmu." Daniel melotot menatap Christian namanya di bawa-bawa.
Alya yang semula berjongkok memeriksa hasil tangan salah satu anak, ia berdiri namun merasakan kepalanya berputar-putar. Kunang-kunang seperti mengelilingi, perlahan pandangannya berubah menjadi buram.
Alya terjatuh tak sadarkan diri. Christian berlari khawatir mengangkat tubuh Alya agar anak-anak tidak panik dan ketakutan.
"Niel, kau urus sisanya. " Perintah Christian pada Daniel. Dia terus menggendong Alya melewati Sera tunangannya. Sera yang kesal memilih pulang sendiri. Christian di rasa begitu kelewatan.
Christian membaringkan Alya di sofa panjang ruang kerjanya. Aciel ikut menyusul setelah mengambil peralatan di mobil. Memberi ruang, Christian membiarkan Aciel memeriksa Alya.
"Sepertinya Alya mengalami anemia. Tekanan darahnya rendah. Aku akan memberinya resep vitamin tambah darah." Christian segera memerintahkan petugas drug store di lantai bawah membawakan resep untuk Alya.
Sore menjelang malam, Christian membawa Alya yang masih lemas menuju apartemen nya. Alya memejamkan mata menghindari obrolan dengan Christian. Ia sangat lelah jika harus beradu argumen.
"Kau ingin makan sesuatu Al? " Sebelum benar-benar tiba Christian menawarkan Alya makan terlebih dulu.
"Bolehkah aku membeli ayam KFC? Aku sangat lapar. " Karena di sampingnya Christian, Alya merasa tidak perlu jaga image. Senyum tipis menghiasi wajah tampan Christian. Ia langsung membelokkan mobil ke restoran khas ayam.
Alya memesan wings bucket sekaligus, tak lupa beef burger, apple pie dan iced mocca float. Christian hanya menggelengkan kepalanya heran melihat selera makan Alya.
"Kau mampu menghabiskan nya? " Naluriah, Christian merogoh saku jasnya lalu memberi kasir black card milik nya.
"Wait,,, aku rasa masih kurang. Nona tolong tambahkan spaghetti nya satu." Kasir mengulum senyum, dia iri mendapat tamu pasangan yang romantis.
"Hari ini aku ingin nonton film di netflix, aku takut kelaparan di tengah-tengah." Jawab Alya enteng.
"Kalian pasangan yang sangat serasi." Ucap kasir perempuan mengembalikan kartu milik Christian.
"Kita bukan,,, "
"Dia sugar baby ku. " Christian langsung menyela bantahan Alya.
"Ini pesanan kalian, selamat menikmati." masih menatap tajam Christian, mau tidak mau pria itu yang membawa belanjaan mereka.
__ADS_1