My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 48


__ADS_3

Grace memacu ATV miliknya mengejar Liam di depan, mereka sedang menguji adrenalin dengan berhadapan menuju pos utama. Saat itu Grace tampil menggoda hanya mengenakan tanktop hitam dan celana hotpants berwarna biru jeans. Kaca mata hitam melindunginya dari sengatan matahari. Liam tak ingin kalah dari isterinya, ia terus melaju hingga menjadi pemenang di garis finish.


"Kau tidak akan mendapat jatah saat menang! " Teriak Grace mensejajarkan posisi mereka. Liam yang mendengar itu merasa di curangi. Namun ia tetap ingin memenangkan balapan.


"Business is business Grace, kau tidak boleh mencampur adukan urusan ranjang dan balapan kita. " Liam tak kalah berteriak melirik sebentar ke arah sampingnya, Grace menggunakan kelengahan Liam untuk menyalip nya.


"Gotcha." Seringai Grace menunjukkan rasa puasnya bisa mengalahkan ketangguhan seorang pria apa lagi dia suaminya. Mereka tiba di pos Penukaran kendaraan. Grace merebahkan diri di atas bangku berbahan dasar kayu, rasanya begitu menyenangkan tadi. Liam mengambil alih kepala Grace lalu memangkunya di atas paha.


"Aku ingin berenang,,, " Kata Grace mengajak Liam pergi ke pantai terdekat. Liam hanya membalas dengan gerakan tangan mengusap rambut Grace. Kemudian sesuai permintaan istrinya kedua mobil itu meninggalkan tempat ATV dan pergi ke Calanques de Piana yang tak jauh dari tempat sebelumnya. Di sana selain berenang di laut yang jernih mereka juga bisa menikmati pemandangan matahari terbenam di pinggir jalan.


Grace merentangkan tangannya menembus angin sepoy sepoy, Liam yang menyetir sendiri Jeep rubicon nya tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Grace. Sepanjang jalan mereka di suguhi pemandangan laut di sebelah kiri sementara tebing menjulang di kanan jalan.


"Kau suka? " Kembali Liam memastikan apa istrinya merasa puas berlibur bersama nya. "Ini menyenangkan, aku merasa bebas." Grace berdiri memegang bagian depan kaca mobil, ia mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi.


Byur,,,


Liam dan Grace masuk ke dalam air di mana mereka berada di kawasan reservasi. Menyelam di Tengah tengah gua dengan air sejuk dan jernih. Liam mendekati istrinya, Grace melingkar kan tangannya di leher Liam begitupun Liam merangkul pinggang ramping sang istri. Tak lama bertahan keduanya kini saling memagut satu sama lain.


"Aku lega, karena kita sudah sama sama terbuka tentang bagaimana perasaan kita." Liam menangkup pipi Grace lalu kembali mencium bibirnya.


"Setelah semua yang terjadi aku ingin hidup yang tenang dan menyenangkan. " Harapan Grace untuk keluarga kecilnya. Liam mengangguk akan mengupayakan apapun untuk Grace dan Dylan.


Merasa puas menikmati sunset keduanya memutuskan kembali ke penginapan. Karena merasa cukup lelah Grace dan Liam memilih makan malam di kamar. Grace terlihat berkutat di depan laptop ketika Liam keluar dari kamar mandi.


"Apa ada masalah pekerjaan? " Liam bertanya dengan tangannya sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.


"Aku lupa memerintah kan mereka mengirim sample beberapa koleksi untuk perusahaan Sozonov." Liam mengerucut kan bibirnya mendengar nama Ibra di sebut. Ia tahu bagaimana Ibra mengagumi istrinya.


"Ini darurat, aku tidak bisa menggunakan ekspedisi mana pun. " Keluh Grace. Menyampingkan perasaan cemburu Liam duduk di sebelah Grace.

__ADS_1


"Pakai jasa transporter saja. Perusahaan ku sudah lama merekrut beberapa orang pilihan. " Liam mengambil alih laptop lalu mengetik ling yang sudah ia hafal.


"Bukankah itu memakan banyak biaya? " Grace menyimpan dagunya di pundak Liam fokus memperhatikan layar.


"It is. Tapi itu sangat aman, mereka juga bertanggungjawab karena keluarga mereka yang menjadi jaminannya."


"Baiklah, tolong pesan kan untuk istrimu ini." Titah Grace meminta bantuan sang suami. Bekerja sama dengan pasangan memang menyenangkan. Saat kau dalam masalah pasanganmu akan memasang badan membantu.


"Sudah, besok dia tinggal datang ke kantor lalu meluncur ke Moskow." Liam melipat kembali laptopnya kemudian mengecup kening Grace.


"Aku ingin clubbing boleh kan? " Liam tahu dia sudah menjadi seorang ayah dan suami, namun hasrat bersenang-senang nya masih terselip di sisi lain dirinya. Bukan tanpa alasan, mereka tengah merencanakan sesuatu agar Ethan muncul di hadapannya. Tapi jelas Grace tidak boleh tahu hal itu.


"Kau mau mencari perhatian wanita penghibur? Apa aku kurang memuaskan?" Grace mencoba menahan emosi mendengar permintaan suaminya.


"Bukan, bukan,,, aku akan bertemu dengan temanku di sana. Kebetulan dia ada pekerjaan di Piana. " Cepat cepat Liam menyangkal tuduhan Grace.


Liam menggandeng Grace memasuki klub malam terbesar di kota itu. Para pengawal juga sudah stand by di posisi masing-masing. Grace seharusnya diam di hotel agar Ethan mau keluar. Hiruk pikuk para pengunjung memenuhi tempat bernuansa gelap dan remang remang.


"Jangan mabuk! " Bisik Liam pada Grace. Grace berlari ke tengah-tengah kerumunan mulai menari sesuai irama musik. Meski pakaian Grace tertutup dengan celana jeans dan jaket kulit serba hitam penampilannya justru paling mencolok. Liam tertawa melihat tingkah istrinya, ternyata dia juga bisa bersenang-senang.


Keduanya terlalu hanyut hingga tak sadar seorang pria asing menyeret langkah jenjang Grace menjauhi area dansa. Grace mencoba melepaskan diri namun cengkraman nya begitu kuat. Memang ini yang Liam tunggu, menjadikannya umpan tapi ia khawatir Grace malah terluka. Dan lagi bagaimana kalau itu bukan Ethan melainkan penjahat random. Para pengawal berjumlah lima orang berlarian mengejar Grace, Liam frustasi menjadikan Grace umpan bukan pilihan yang baik. Sialnya kepadatan pengunjung menghalangi langkah mereka mengejar Grace. Liam merasa sangat bersalah dengan rencananya, ia malah kehilangan Grace. "Sial,,,,, " Umpat Liam melayangkan tinju di udara, mereka masih berpencar mencari Grace di sekitar area luar klub.


Sementara di dalam mobil Grace nampak marah dengan tangan mengepal di atas pangkuannya. Kecepatan mobil sangat kencang sehingga suami dan anak buahnya gagal menyelamatkan nya.


"Kau gila Ethan,,, " Maki Grace memukul lengan Ethan berkali-kali. Pria itu hanya menyeringai jahat menanggapi tindakannya. "Ya, aku memang sudah gila karenamu Grace. Seharusnya kau tidak boleh menikah dengan Liam. Hanya aku yang bisa membahagiakanmu." Katanya penuh rasa percaya diri.


Grace begitu lelah dan kehabisan tenaga akibat liburan juga memberontak. Iamemilih memejamkan matanya, bersandar dengan nyaman agar bisa memikirkan cara kabur dari Ethan. Ethan yang melihat Grace tak melawan tersenyum merasa sudah mendapatkan nya.


Entah berapa lama Grace tertidur yang pasti ia bangun di tempat asing antah berantah. Tidak ada jendela di sekeliling kamar namun masih terdapat pentilasi udara mengitari ruangan sebagai cahaya satu satunya. Grace meraba seluruh bagian tubuhnya takut Ethan sudah menyentuhnya. Mungkinkah pria itu berani menyerang saat Grace tertidur? Grace lantas berjalan ke arah pintu dan mulai menggedor nya keras sekuat tenaga.

__ADS_1


"Buka Ethan! Cepat bukakan pintunya atau aku akan melakukan hal yang mengerikan." Teriak Grace mengerahkan seluruh tenaganya. Tak ada yang menyahut, ia melirik ke pentilasi yang sepertinya waktu menunjukkan di pagi hari.


Dor dor dor,,,


Grace terus memukul pintu besi itu berkali-kali hingga kedua telapak tangannya memerah dan terasa kebas. Lalu jendela kecil layaknya loket obat di sebelah pintu terbuka, seseorang meletakkan nampan berisi makanan dan minuman lengkap buah pencuci mulut. Grace sedikit membungkuk melihat sekeliling.


"Bilang pada bosmu jika dia tidak menemuiku aku akan bunuh diri di sini." Ancam Grace ketika pria botak berbadan kekar hendak pergi. Tanpa mengindahkan permintaannya dia malah berjalan begitu saja meninggalkan ruang penyekapan.


"Brengsek,,, Ethan benar-benar bermuka dua." Grace mengacak-acak rambutnya meluapkan kekesalan. Ia terpaksa menerima sarapan pagi itu hanya demi memiliki tenaga. "Tidak, bagaimana kalau dia meracuni ku dengan obat obatan? " Gelengan kepala Grace menolak keinginannya untuk menyantap sarapan pagi.


,,,,,


Akibat kelalaiannya Grace menghilang entah kemana. Liam sudah kembali ke Paris dan tengah berunding dengan ayah dan mertuanya di kediaman tuan Rodrigo. Dylan juga sudah menanyakan keberadaan mommy, Liam mengatakan jika rencana pembuatan tim basket belum selesai jadi mommy masih di sana. Untungnya Dylan mengerti setiap Liam menjelaskannya.


"Apa kau yakin itu Ethan? " Tanya Tuan Rodrigo kembali memastikan pelaku penculikan puterinya.


"Aku sangat yakin, malamnya nyonya Coco menelepon ku memberi tahu bahwa Ethan


Mengikuti kami ke Piana. Maaf karena aku gagal menjaga istriku. " Liam menunduk, kedua tangannya saling meremass merutuki kebodohan.


"Sudahlah, lebih baik kita mulai menyelidiki pria itu. Aku akan mengerahkan semua detektif swasta. Kalau perlu kita datangi saja kediaman Ethan."


"Jangan, jelas itu akan membuat Ethan menyangkal. Kita kirim mata mata saja." Saran tuan Arthur pada besannya. Liam mengangguk setuju.


"Kita harus bergerak pelan dan hati hati. Jangan sampai dia tahu kita sedang mengawasinya." Titah tuan Rodrigo pada mereka berdua.


Hari mulai gelap, Grace masih setia duduk bersandar di bawah pintu. Makanan ketiga nya sudah tercium menyeruak masuk ke hidung. Belum ada tanda tanda Ethan akan datang menemuinya. Grace meraba perutnya yang sudah meronta ingin di isi. Tak terasa air matanya terjatuh begitu saja. Grace sangat rindu Dylan juga Liam. Kapan suaminya akan menjemput Grace membawa nya pergi dari tempat terkutuk ini. Tadi siang mereka masih berbahagia memadu kasih, sekarang Grace seakan menjalani mimpi buruk.


"Dy, mommy merindukanmu sayang... " Lirih Grace, terdengar isak tangis yang tertahan membuat seseorang di balik pintu merasa bersalah. Tidak, Ethan mungkin kasihan pada Grace tapi ia akan tetap mengurungnya hingga Liam menyerah mencari keberadaan istrinya dan berniat mencari wanita lain. Ethan yakin pria itu tidak setia seperti yang Grace pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2