My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 52


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah Grace meminta Liam mengantarnya membeli keperluan Dylan. Tubuh nya setiap hari selalu bertumbuh membuat beberapa stok pakaian jadi mengecil.


"Bagaimana kalau yang ini? " Liam menunjukkan one set army yang ukurannya pas di badan Dylan.


"Hahaha kau pikir dia tentara? Big no! " Grace menyilangkan kedua tangannya menolak pilihan sang suami. Grace lebih suka Dylan dengan gaya countryside nya. Itu akan menunjukkan Dylan memang lahir di pedesaan jauh dari hiruk-pikuk kota.


"He's my country boy. " Grace membawa cukup banyak belanjaan. Dia akan menggunakan kartu pemberian Liam dengan sangat baik.


"Grace ingat, sekarang tidak ada Josh diantara kita. Siapa yang akan membawakan itu semua? " Liam melirik semua belanjaan yang sudah di bayar istrinya.


"Ofcourse you will hubby." Liam hanya melongo pasrah mendapatkan tugas barunya sebagai seorang suami. Grace tertawa puas namun kemudian mengecup pipi Liam.


"Lihat, mereka serasi sekali." Kata para penjaga toko di buat iri oleh kebersamaan Grace dan Liam.


"Bukankah itu owner La collection, wah kita beruntung mereka belanja di toko kita. " Keduanya terus menatap kagum hingga Grace dan Liam keluar dari toko.


"Aku lapar. " Rengek Grace menggandeng tangan kiri Liam sementara tangan kanannya membawa beberapa paper bag.


"Ah sepertinya aku harus merekrut pengawal saja. Agar aku bisa bermesraan denganmu baby... "


"Alasan,,, " Grace melepaskan tangannya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Liam. "Tunggu aku ! " Liam berjalan cepat mengejar Grace.


,,,,,


"Katakan padanya, aku tidak bisa melakukan ini semua. Jangan paksa aku brengsek. " Umpat nya dengan suara pelan tak ingin ada orang yang mendengar meskipun ia sedang berada di dalam kamar. "Baiklah, aku akan menemuinya jika ada kesempatan. " Segera terputus sambungan telpon rahasianya. Perempuan berusia dua puluh tiga merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Kenapa hidupnya selalu merasa berhutang budi pada seseorang. Ingin rasanya dia bebas dari kungkungan yang menahan kehidupan bebasnya. Terdengar suara pintu di ketuk seseorang memaksanya bangun dari rasa nyaman nya. "Iya, aku datang." Teriaknya sambil memasang kembali kaca matanya.


"Nyonya memanggilmu Sam, mereka hendak makan malam." Rupanya Bibi Jill yang mendatangi kamar Samantha.


"Baiklah aku segera ke sana."


Di meja makan selain keluarga kecil berbahagia, Zen juga ikut bergabung karena Grace terus menahan kepulangannya. Yang Grace tahu Liam memang memiliki sepupu tapi ia baru bertemu dengan Zen saat pindah ke rumah itu bersama Dylan.

__ADS_1


"How is your school Dy? " Grace mengusap kepala Dylan lalu mencium nya.


"Good momm, kata miss aku ada kemajuan mengeja bahasa Perancis. " Dylan tersenyum bangga bercerita pada Grace. "Good boy, mommy percaya kau pasti bisa Dy. Sekarang kau makan dulu lalu belajar sebentar and then go to sleep. " Grace mulai memindahkan satu porsi risotto ke piring Dylan bersama Bebek panggang buatan Bibi Wen.


Liam dan Zen berhenti mengobrol ketika Sam tiba di meja makan. Mereka sama sama memperhatikan gerak gerik dari nanny nya Dylan.


"Nona memanggilku? "


"Ah Sam, aku tadi beli pakaian untuk Dylan. Jadi sekalian ku belikan untukmu dan juga bibi bersaudari. " Grace menyerahkan satu paper bag ke hadapan Sam. Sam masih ragu untuk menerimanya, ternyata Grace wanita yang sangat baik. Pantas saja Liam sangat mencintainya.


"Just take it Sam. " Karena hanya diam Grace mengaitkan talinya ke lengan Sam. "Ini berlebihan nona, tapi Terima kasih sudah mengingatku." Sam tersenyum menerima hadiah pemberian majikan di hari pertamanya bekerja.


"Tolong jaga anak ku dengan baik, aku percaya kau mampu melakukannya dengan baik." Sam meringis dalam hati mendengar ucapan Grace, seakan mendapat tamparan.


"Ayo baby, kita makan dulu. " Ajak Liam menyudahi obrolan sang istri dan pengasuh anaknya. Sam yang menyadari posisinya mengingat ada Zen ia segera pamit ke ruangan khusus pekerja. Mereka juga bisa makan di jam makan yang sama dengan para majikan tapi secara bergiliran.


"Zen kapan kau akan mengenalkan kekasihmu pada kami? " Baru saja Zen mencicipi suapan pertamanya dia langsung tersedak mendapat serangan tiba tiba dari Grace.


"Besok aku harus ke luar Negeri untuk melakukan kerja Sama pembukaan toko cabang. Apa kau mau ikut Grace? " Mendadak Liam mendapat tugas dari tuan Arthur dan ia tidak bisa menolak tentunya. "Aku rasa tidak, lagi pula banyak pekerjaan di kantor. " Grace ingin ikut tapi mengingat dirinya harus meng-cover tugas sang suami. "Berapa lama di sana? " Tanya Grace belum menyentuh makanan nya sama sekali.


"Dua malam. " Grace manggut-manggut mengerti. Dia menikah dengan seorang pengusaha dan ia mau tak mau harus siap di tinggal pergi untuk kunjungan ke luar.


Malam semakin larut dan Grace baru selesai menidurkan Dylan. Sebuah rutinitas sebelum Dylan tidur yaitu mendengar Grace membacakan cerita dongeng. Liam sudah menunggu di ambang pintu bermaksud mengajak Grace ke kamar mereka. Grace mematikan lampu dan menggantikannya dengan lampu tidur di atas nakas. Ia pun menerima uluran tangan Liam dan bergandengan bersama meninggalkan kamar Dylan.


Ini sudah hampir sebulan dan Liam tak sabar lagi ingin menikmati malam panasnya bersama Grace. Setelah semua kejadian buruk menimpa keluarga, mereka berdoa semoga ke depannya tak ada lagi masalah menerpa. Liam terus membimbing Grace hingga mereka berada di tepi ranjang. Tanpa aba aba keduanya sudah melakukan pagutan, Saling menyecap satu sama lain dan Liam aktif bermain di dalam piyama Grace. Grace mengeluh ketika Liam memainkan ujungnya yang kini menegang.


Dan akhirnya Liam berhasil membawa mereka ke puncak kenikmatan. Tanpa mereka sadari seseorang sempat melihat aktifitas panas mereka. Tak sengaja Sam mendengar suara ******* yang membuatnya penasaran. Karena pintu tidak tertutup rapat matanya bisa mengintip kedua pasang sejoli di atas ranjang saling memberikan kepuasan.


Sam lalu segera ke kamar untuk menemui Dylan. Ia mendapat tugas mengecek jika sewaktu waktu Dylan terbangun. Ternyata anak laki-laki itu tertidur pulas dengan memeluk guling. Saat ingin keluar Sam malah berpapasan dengan tuan nya. "Sedang apa kau di sini? " Tanya Liam dengan tatapan tajamnya.


"Melihat keadaan tuan muda kecil tuan. " Jawab Sam menunduk tak berani menatap mata tegas Liam. Liam melirik sebentar ke arah pintu kamar nya jangan jangan Sam mendengar semuanya karena jarak kamar mereka sangat dekat. Liam mengusap tengkuknya mencoba tenang.

__ADS_1


"Dengar, jangan berani kau berpikir untuk macam macam pada keluargaku atau kau akan menyesal." Entah hanya perasaannya saja atau Sam memang telihat mencurigakan menurut Liam. Sam yang merasa dirinya terancam Sam memberanikan diri mendongak melihat ekspresi wajah Liam.


"Aku bekerja di sini dengan tulus, kenapa tuan malah menuduhku? " Mendengar sanggahan Samantha Liam menaikan alisnya sebelah.


"Kau berani melawan? " Liam mendekat ke arah Samantha berdiri mengikis jarak diantara mereka. Samantha gugup dengan keadaan jantungnya sendiri, kenapa Liam seolah menantangnya.


"Move! Kau menghalangi jalanku." Titah Liam membuat Samantha tersadar kembali, padahal jalan masih cukup untuk Liam pergi dari sana. Samantha memundurkan langkahnya membiarkan Liam berlalu.


"What's wrong with him? " Gumam Sam pelan ketika terdengar langkah Liam menuruni anak tangga. Sesungguhnya bukan Liam melainkan dirinya, setiap berinteraksi dengan Liam Samantha seolah tidak bisa mengendalikan diri.


Liam sudah siap pergi ke bandara di antar Zen, Grace dan Dylan melepasnya di teras rumah. "Will be missing you both. " Liam menciumi kedua bagian hidupnya yang sangat berharga. Dylan merentangkan tangannya meminta jatah pelukan.


"Jaga mommy baik baik ya Dy, daddy sudah meluncurkan calon adik untuk mu. " Liam berbisik namun masih bisa di dengar Grace. "Jangan meracuni pikirannya Liam. Yang ada aku ibunya yang harus menjaga anak kita. " Grace mengambil alih Dylan dari gendongan Liam.


"Baby I love you. " Liam menutup mata Dylan lalu mengecup bibir Grace singkat. "Tak care,,, " Grace dan Dylan melepas kepergian Liam. Kali ini suaminya benar-benar memperketat penjagaan terhadap istri dan anaknya meskipun bila di ingat Ethan sudah resmi di tahan, Peter juga meringkuk di rumah sakit jiwa dalam keadaan lumpuh.


Hari ini selain mengantar Dylan ke sekolah Grace tetap harus ke kantor untuk sekedar memeriksa beberapa laporan. Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya yang menyatu dengan ruangan Liam namun tersekat jendela transparan.


"Wait,,, " Grace menjeda pekerjaan melihat siapa yang datang. Ternyata nyonya Coco ibu mertua nya berkunjung tanpa memberi kabar sebelumnya.


"Nyonya,,, aku kira siapa? Mari silakan duduk. " Grace mengajak Nyonya Coco duduk di sofa tak jauh dari meja kerjanya. Lalu Kedua wanita cantik berbeda usia itu duduk berdampingan.


"Nyonya mau minum apa? " Grace menawarkan dengan sopan, bagaimanapun Nyonya Coco adalah wanita yang sudah melahirkan sang suami.


"Tidak perlu Grace, aku datang ke sini karena berharap bisa bertemu denganmu. Aku ingin minta maaf atas nama Ethan, aku tak menyangka dia akan berbuat sejahat itu." Nyonya Coco mewakili anak sambung nya memohon Grace agar mau memaafkan kesalahan Ethan. "Dan lagi, panggil aku mommy. Aku adalah ibunya Liam artinya aku juga ibumu Grace. " Tambah Nyonya Coco. "Baiklah momm, Terima kasih karena sudah mau menerimaku. Aku harap hubungan kalian bisa hangat kembali. Untuk Ethan, aku akan belajar mengerti jalan pikirannya tapi momm hukum akan terus berjalan. " Grace menatap Nyonya Coco menyiratkan rasa kecewanya pada Ethan yang sudah ia hargai sejak dulu.


"Liam memang beruntung memilikimu. Aku paham kenapa Ethan bersikeras mengejarmu. " Grace tersenyum getir mendengar pujian dari mertuanya.


"Cah,,, aku sangat ingin bertemu cucuku. Mau kah kalian pergi makan siang denganku? " Grace mengangguk tak masalah, lagipula pekerjaannya tidak begitu banyak.


"Mari jemput dia di sekolahnya. " Grace mengajak Nyonya Coco berangkat sekarang juga karena jam pulang sekolah sudah hampir tiba.

__ADS_1


__ADS_2