My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 14


__ADS_3

Bukan pekerjaan yang menunggunya melainkan sebuah panggilan sejak tadi terabaikan. Liam mengangkat segera telpon karena seperti memaksa harus diangkat oleh penerimanya.


"Yes sir,,, " Sapaan berbentuk rasa hormat menunggu dengan harap harap cemas. "Kau sudah berjanji padaku Liam, kau akan menunggu sampai waktunya tiba." Terdengar nada kecewa di ujung sana mengetahui atas tindakan Liam.


"Aku hanya ingin menemuinya saja, tidak lebih tuan Rodrigo." Liam memegang telpon erat dengan tangan kirinya nyaman di dalam saku celana.


"Ingat Liam, putriku tidak tahu jika laki-laki yang pernah ia tolak adalah dirimu. Kalau sampai Grace tahu kau orangnya dia pasti akan merasa bersalah Liam." Peringatan Tuan Rodrigo terhadapnya memaksa Liam mengingat kembali perjanjian mereka.


Flashback,,,


Setelah menjemput Grace dari perusahaan La collection, tuan Rodrigo meminta pertemuan mendadak dengan Liam. Mereka bertemu secara rahasia tanpa diketahui Grace.


"Apa maumu Liam? Kalau kau ingin mempermainkan nya saja lebih baik berhenti. Aku tidak ingin Grace terluka." Titah tuan Rodrigo tak peduli walau pria di hadapannya memiliki kriteria sempurna sebagai calon menantu.


"Aku menyukainya,,, " Akhirnya Liam mengakui sesuatu yang selalu ia hindari untuk terucap dari mulut nya. "Tapi bukan berarti aku akan segera menikahinya." Lanjutnya lagi, kerutan halus di wajah tampan tuan Rodrigo muncul.


"Menjauh lah seandainya kau hanya ingin menyakiti Grace." Tuan Rodrigo sedikit mengancam Liam karena dia sudah tahu bagaimana sikapnya terhadap makhluk bernama wanita.


"Grace dan aku sama sama membutuhkan, kami partner yang baik dalam pekerjaan. Di luar kami saling menyenangkan perasaan masing-masing." Tutur batin Liam tersampaikan sesuai pengalamannya di dekat Grace.


Off,,,


Grace yang mulai bosan memilih keluar kamar. Berjalan santai mengamati setiap sudut rumah, pakaian olahraga sudah berganti menjadi kaos oversize warna putih dengan hotpants berwarna hitam sebatas paha. Tidak ada tanda tanda aktifitas di sekitar lantai satu. Tapi Grace bisa mendengar beberapa bibi sibuk di dapur yang sedikit terhalang oleh tembok.


"Dimana ruang kerja Liam? " Gumam Grace celingukan mencari sosok pria itu.


Joshua terlihat baru keluar dari sebuah ruangan dekat pintu masuk, pria paruh baya berbadan tegap dengan beberapa rambut putih berlari keluar rumah.


Grace bergegas menuju pintu yang sedikit terbuka.


"Tuan tenang saja, Grace tidak pernah mengira kalau aku orang yang pernah di tolak olehnya karena sebuah perjodohan. Aku akan membuatnya menyukaiku, beri aku waktu dan kepercayaan." Liam berusaha meyakinkan tuan Rodrigo, kalimat yang dilontarkannya sedikit menggores hati Grace dalam posisi mengintip.


"Jadi dia laki-laki yang sudah mengirim orang lain untuk menemui ku." Batin Grace berkecamuk, bukan merasa bersalah telah menolak perjodohan melainkan kesal kenapa Liam tidak datang saat itu. Kalau saja, Liam menemuinya Grace mungkin berubah pikiran.


Menangkap situasi percakapan via telpon akan berakhir, buru buru Grace pergi kembali ke kamarnya. Saking takut ketahuan kaki Grace malah terpeleset di tengah anak tangga.

__ADS_1


"Aw,,, " SuaraSuara Grace menggema mengalihkan semua perhatian penghuni rumah. Liam yang baru keluar berlari menghampiri Grace dimana ia meringis menyentuh kakinya sakit.


"Apa yang terjadi Grace ? " Teriak Liam penuh rasa panik mendapati Grace terluka. Kedua bibi ikut mendekat terkejut saat nona muda terpeleset.


"Sakit Liam, kakiku sepertinya terkilir." Rintihan Grace mengusik ketenangan hati Liam, dia sudah lalai menjaga Grace hingga terjadi kecelakaan seperti ini.


"Kalian kemana saja bi, kenapa Grace sampai terjatuh? Cepat panggilkan ahli pijat. " Teriak Liam mengamuk pada orang rumah siapapun mereka. Josh terpogoh-pogoh menghampiri tuannya.


"Tuan maaf,,, " Josh menyela di tengah suasana hati bosnya kalutkalut masih memegangi kaki Grace berharap rasa sakitnya berkurang.


"Di depan ada beberapa wartawan mereka memaksa ingin melakukan wawancara." Ternyata Joshua lari-lari tadi demi menghalau tamu tak di undang.


"Tahan mereka aku akan membawa Grace ke kamar." Tidak, mereka tidak boleh menyaksikan adegan itu. Akan buruk jika para wartawan memuat berita tentang kedekatan mereka.


Keadaan kacau saat para wartawan berhasil menerobos barisan penjaga rumah. Untung saja Liam sudah naik tangga menggendong Grace. Grace sempat melirik ke bawah sehingga salah satu wartawan mencuri setengah wajahnya.


"Kenapa kita menghindari mereka? " Tanya Grace dalam posisi kedua tangannya memeluk leher lebar seorang Liam.


"Apa kau ingin di buru mereka setelah berhasil memuat berita tentang kita? " Liam menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. Betul juga pikir Grace, jadi Liam sedang melindunginya. Grace tersenyum kemudian menaruh kepalanya di ceruk leher Liam. Aroma maskulin mendominasi indera penciuman nya, rasa tenang sekaligus tergoda oleh kejantanan seorang Liam. Linu di kakinya seakan terkikis oleh pikiran pikiran mesum di benaknya. Grace memang tipe perempuan yang ingin di perjuangkan namun ia yakin bisa menjadi penggoda di atas tempat tidur.


"Tidak ada, aku sedang ingin bersamamu sekarang. Tapi karena kau harus di obati dan aku mengurus masalah tadi maka ku harap kau mau bersabar sedikit lagi." Usul Liam yakin perempuan itu akan menggerutu bila di tinggalkan lagi.


"Habis itu apa? " Tanya Grace sengaja memancing.


"Kau bebas meminta apapun padaku." Liam meminta salah satu nanny yang sejak tadi mengikuti di belakang membukakan pintu kamar Grace.


Benar benar di luar dugaan para wartawan seolah sengaja di giring untuk menangkap basah Liam. Seorang ahli fisioterapi datang untuk membetulkan posisi kaki Grace yang terkilir. Di sana Liam juga setia menemani menggenggam tangan Grace.


“Aduh sakit,,,” jeritan Grace begitu memekik ditelinga, Liam semakin tidak tega melihatnya.


“Untung saja langsung di tangani, bisa bisa bengkak kalau dibiarkan.” Ucap nanny ahlinya membetulkan urat urat bermasalah.


Setelah beberapa waktu Grace tertidur pulas untuk beristirahat sementara Liam mendapat laporan dari Josh. Ada yang sengaja membocorkan kebersamaan tuannya dan putri pengusaha berlian di rumah megah itu. Josh berusaha melacak pengirim berita anonim pada klub wartawan pencari gosip kalangan seleb dan pengusaha.


"Aku yakin mereka masih mengincarku." Liam tak habis pikir kenapa para musuhnya seakan tak pernah bosan mengusik demi mendepak kursi kepemimpinan nya. "Undangan pesta judi di kasino milik tuan masih menanti, Peter terus saja menantang." Josh menambahkan sederet peperangan yang baru akan di mulai. Liam menautkan kedua tangannya bersandar pada meja kerja, ia nampak berpikir keras. Kalaupun harus melawan mereka terang terangan Liam khawatir Grace kembali terancam.

__ADS_1


"Aku akan datang melawannya, siapkan pengawal bayangan." Liam mantap menerima tantangan seorang Peter Marcus. "Apa nona akan ikut? " Josh memastikan skema mereka nanti malam.


"Dia tidak boleh terlihat oleh kedua cecunguk kampunhan itu. Perketat juga keamanan rumah." Semua perintah Liam tentu harus di laksanakan dengan baik oleh Josh kalau tidak kepercayaan dapat di perhitungkan.


"AS your order sir." Dengan bahasa tubuh Josh pamit untuk segera pamit memulai tugasnya.


Pagelaran judi kelas tinggi akan di mulai malam ini. Semua pebisnis dari kalangan atas hadir demi transaksi jual beli harta mereka. Liam tiba diantar mobil mewah keluaran Jerman, pintu Josh buka menyambut sang majikan.


Riuh, sorak sorai begitu memenuhi gedung bernuansa gelap serta remang remang. Sudah duduk di sofa tamu VIP Peter juga ayahnya Marcus menatap remeh kedatangan Liam.


"Tuan tuan terhormat, kami dari Asosiasi Kasino Internasional akan mengawasi jalannya pertandingan. Mohon kerja samanya untuk bersaing secara sehat." Seorang pemimpin bersama para dealer sengaja di datangkan agar tidak ada kecurangan sedikitpun.


"Kita akan melakukan drawing."


Di saat pertempuran terjadi Grace baru bangun dari tidurnya. Kaki kirinya sudah mulai bisa di gerakan dengan baik. Ia menatap sekeliling lagi-lagi tidak ada pria itu di sekitarnya.


"Dia mengurung ku tanpa memberiku makan. " Helaan nafas Grace tak bisa menghadirkan Liam saat itu juga. Terpaksa Grace turun dari tempat tidur karena perutnya sudah sangat lapar.


Tak mau mengulangi kesalahan sama Grace hati hati menuruni setiap anak tangga. Kedua nanny diketahui bernama Wen dan Jill mendekat penuh cemas.


"Nona kenapa turun, nona bisa memanggil kami lewat telpon." Bibi Wen merupakan kakak bibi Jill, keduanya sudah bekerja lama bersama keluarga sir Arthur. Di pindah tugaskan saat Liam mulai menempati rumah mewah hasil jeri payahnya menjadi CEO.


"Aku mulai bosan di kamar sendirian. Aku ingin makan malam di meja langsung bi." Pesan Liam harus melayani Grace dengan baik juga menjaganya. Buat dia nyaman jangan biarkan keluar rumah sendirian, begitu kira kira.


"Kami akan siapkan, nona bisa menunggu sebentar lagi."


Selang beberapa menit menu makan malam sudah berada di meja, Grace tersenyum menyambut chicken cordon blue buatan bibi Wen. Air liurnya hampir saja terjatuh kalau tidak segera melahap nya.


Baru satu potong Grace menyicipi makanannya terdengar suara ribut dari arah halaman rumah. Siapa lagi mereka, harusnya Grace dan yang lain aman bukan mengingat betapa ketatnya Liam menjaganya.


"Nona sepertinya kita harus berlindung." Ajak bibi Jill, mereka tidak kembar hanya saja dilahirkan selang satu tahun oleh orang tuanya. Hampir mirip hingga Grace tak berani menyebut namaereka takut salah. "Jangan bergerak! " Belum sempat kabur seseorang menodongkan senjata ke arah Grace. Para nanny berteriak histeris khawatir Grace terluka, apa yang harus mereka katakan pada tuannya nanti.


Grace terpaksa mengangkat kedua tangannya pasrah. Ia belum mau mati muda karena masih dalam keadaan virgin. Grace meradang memikirkan nasibnya yang berjanji akan menyerahkan mahkotanya jika Liam menyelamatkan dirinya.


Pria berwajah gelap rambut kriting di ikat satu bergerak mendekati Grace. Dia mengeluarkan sebuah tali untuk mengikat tawanan nya di kursi meja makan. Kedua nanny panik menyaksikannya, seakan target mereka memang Grace. Grace terikat kaki dan tangannya, bahkan mulutnya di sumpal lakban berwarna hitam. Kedua nanny tak berdaya setelah rekan diduga penculikan itu menodongkan senjata api kepada mereka di dekat kitchen set.

__ADS_1


__ADS_2