
Liam membantu Grace berjalan dengan menggandeng pinggang rampingnya. Tuan Rodrigo hanya bisa pasrah posisinya sudah tersisihkan. Saat di carpot Grace di buat bingung karena kedua pria itu memintanya memilih mobil mana yang akan Grace tumpangi.
"Bagaimana kalau aku naik taksi saja? " Grace sudah lelah berdiri tanpa adanya solusi.
"Jangan!!! " Teriak Liam dan ayahnya secara bersamaan.
Alhasil Grace memilih mobil ayahnya dengan ditemani Liam, agar adil lancar jaya perjalanan pulang mereka. Dan saat Grace ingin duduk pun mereka berebut untuk mendampinginya di kursi belakang. Mau tak mau Grace duduk di sebelah kemudi. Ia juga perlu mengatur kursi agar tidak menekan lukanya. Menyisakan kedua pria yang sangat berarti di hidupnya, duduk penuh rasa canggung di belakang.
"Bagaimana persiapan pernikahan adik iparku? " Apa salahnya membicarakan urusan bisnis, dari pada harus mengatur pertemuan hanya untuk memastikan. "Hampir selesai, tinggal finishing. " Liam mencoba bersikap profesional, tuan Rodrigo mengangguk mengerti. Lalu suasana pun kembali hening hingga mobil berhenti di depan pintu rumah.
Saat turun pun Liam cekatan membantu Grace. Grace tersenyum tipis sebagai tanda Terima kasih. Kedatangan mereka jelas sudah di tunggu keluarga, terutama bocah menggemaskan yang berlari ke arah Grace. Karena tak tahu kondisi ibunya Dylan hampir berhamburan memeluk tubuh Grace namun Liam cepat cepat mengangkat Dylan dan menggendongnya.
"Dy, mommy sedang kurang sehat. Jadi harus hati hati ya memperlakukan nya." Penuh kelembutan Liam memberi Dylan penjelasan.
"Ok bos, I miss you so much mommy." Dylan mencium pipi Grace sayang.
"Ayo masuk, kita mengobrol di dalam." Patricia mengajak semua orang masuk sementara tuan Rodrigo memerintahkan penjagaan lebih di perketat lagi.
Di ruang keluarga hanya ada Alya, karena Jack dan Abigail masih bertugas di tempat mereka praktek. Sejoli itu sangat beruntung karena mereka bekerja di rumah sakit yang sama. Alya menyambut Grace kakaknya dengan sebuah pelukan.
"Terima kasih Al, kau sudah mau membantuku." Ucap Grace, tangannya mengusap rambut indah adiknya.
"Kita keluarga kak, kau juga bagian dari hidupku." Sahut Alya tersenyum manis.
"Kau ingin minum apa? " Tanya Grace pada Liam setelah seorang nanny mendekat ke arah mereka untuk menjamu.
"Apa saja, " Jawab Liam singkat, ia masih asik bersenda gurau dengan Dylan.
"Grace, bibi masih menyimpan salap ajaib untuk bekas luka. Nanti kau pakai ya, biar cepat kering." Grace hanya mengangguk tersenyum menerima perhatian dari Patricia.
"Dadd, aku bahagia karena sudah bertemu denganmu. Apa kau juga bahagia memiliki anak sepertiku? " Di tengah suasana bermain Dylan tiba-tiba bertanya hal itu pada Liam.
"Tentu Dy, aku sangat menyayangi mu. Kau segalanya bagiku. " Kedua laki-laki itu tersenyum menampilkan gigi mereka. Dylan memang lebih mewarisi gen Liam pada wajah dan hidung. Hanya rambut saja ikal mengikuti Grace mommy nya.
__ADS_1
"Dy, bukankah ini waktunya mengerjakan PR? Cepatlah ke kamar, daddy mu juga harus ke kantor." Entah sudah berapa jam Liam menemani Dylan bermain dan mengobrol ringan seputar kehidupan mereka sebelum bertemu. Grace datang untuk menyudahi, dia tidak mau Liam berlama-lama di dekatnya.
"Baiklah mom, boleh kah aku menginap semalam bersama daddy? " Nah ini yang Grace takutkan, Dylan akan lebih sering menghabiskan waktu dengan Liam di banding dirinya.
"Tidak harus sekarang Grace, aku juga tidak akan memaksa jika kau melarang. Tapi izinkan aku berkunjung sesekali, atau sekedar menjemputnya ke sekolah." Liam tahu situasi mereka serba canggung. Sejujurnya membesarkan anak akan mudah dan menyenangkan ketika mereka terikat dalam satu hubungan resmi. Liam sadar Grace masih belum bisa membuka hati untuknya Ia berjanji akan sabar menanti hingga wanita itu luluh.
"Week end Dy, kau bisa menginap semalam bersama daddy mu." Grace memberi izin karena Dylan sangat berharap sekali. Grace langsung pergi ke kamar tanpa ingin melepas kepergian Liam.
"Baiklah Dy, kau harus menuruti mommy agar kita bisa bertemu lagi." Liam memangku Dylan sebentar sebelum pulang. "Dadd, kenapa kalian tidak tinggal bersama saja? Agar aku bisa dengan kalian terus." Ucapan Dylan sangat polos dan naif, tapi dia jelas tidak mengerti masalah orang dewasa.
"Kau benar, daddy sedang berusaha merayu mommy mu agar kita bisa berkumpul dalam satu rumah. Kau jaga mommy dan sedikit membujuknya ya, mengerti? " Pikiran Dylan di cuci oleh Liam agar Grace bisa luluh, walaupun terdengar sulit. Dylan hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.
,,,,,,,
Mendengar kabar Grace membuat Ethan ingin mengunjunginya, sekalian dia juga berniat minta maaf karena sudah menyakiti Grace. Diapun datang bersama nyonya Coco dan suami yaitu tuan Frankie. Tuan Rodrigo dan nyonya Pat menyambut hangat tamu mereka.
"Silakan, selamat datang di rumah sederhana kami." Sambut tuan Rodrigo. Mereka masuk dan duduk di ruang keluarga. Saat itu hampir makan siang dan Grace berada di ruang makan menyiapkan segala menu di atas meja.
"Itu Lim Dylan, cucuku. Kalian pasti kaget melihatnya." Kata tuan Rodrigo memutus keheningan. Ethan sendiri tahu kisah hidup Grace namun dia belum berani bercerita pada orang tuanya. Dia takut mereka tidak menyukai Grace dan mencoret namanya sebagai calon menantu.
Mendengar suara Dylan, Grace bergegas menuju ruangan yang hanya terhalang partisi kayu jati sebagai tempat pajangan koleksi vas bunga ayahnya.
"Mommy,,, " Dylan berhamburan memeluk Grace, Grace baru sadar jika mereka memiliki tamu. Matanya tertuju pada Liam yang menatap sinis ke arah wanita di samping Ethan.
"Jadi, nyonya Coco ibunya Liam? Kebetulan macam apa ini,,, " Batin Grace.
"Liam, bisakah kau membantuku mengganti pakaian Dylan? " Tak ingin ada keributan, Grace mengalihkan perhatian Liam agar bisa menenangkan amarahnya. Tanpa kata Liam mengambil alih Dylan dan menuntunnya ke kamar Grace.
"Apa maksud semua ini tuan? " Frankie menyipitkan matanya pada Tuan Rodrigo menuntut penjelasan.
"Dylan anakku dan Liam,,, " Grace menjawab dengan cepat, Nyonya Coco memijat pelipisnya tak percaya mendengar semua ini. Jadi kedua anak mereka memperebutkan wanita yang sama? Bisakah dia bersikap adil sebagai seorang ibu? Liam jelas sangat marah bertemu dengannya secara kebetulan. Wanita itu bahkan belum pernah menghubungi nya sejak bercerai dengan tuan Arthur. Liam menganggap ibunya sudah mati.
"Ini memalukan, kenapa kau mau di jodohkan dengan wanita yang sudah berbagi ranjang dengan pria lain? " Amarah Tuan Frankie mulai meningkat.
__ADS_1
"Dadd, aku menerima Grace apa adanya." Sanggah Ethan. Ia sudah menduga bahwa ayahnya akan menghina Grace karena statusnya.
"Maaf Tuan, kalian sendiri yang meminta perjodohan ini tapi aku belum memutuskan apapun. Jadi tanpa mengurangi rasa hormat, sebaiknya Tuan dan nyonya mencarikan Ethan wanita terhormat di luar sana." Ucap Grace kesal dan tak beranjak dari tempatnya sedikitpun.
"Bawa Grace ke kamarnya." Perintah Tuan Rodrigo pada istrinya nyonya Pat yang mengangguk patuh. Kemudian menuntun Grace masuk menyusul Liam dan Dylan.
"Maaf, keluargaku sedikit berantakan. Kami tidak bermaksud menghina kalian, tapi kenyataannya putriku sudah memilih sendiri pria yang di cintainya. " Tuan Rodrigo bahkan harus memelas untuk mendapat permohonan maaf dari koleganya. Dia juga tidak bisa menyalahkan Grace, putrinya sudah menanggung banyak beban selama ini.
"Apa mereka akan menikah? " Tanya Ethan yang sejak tadi mencoba diam, bersikap tak peduli bagaimana status Grace. Tuan Rodrigo membisu, dia sendiri tidak tahu jawabannya.
"Kalau Grace tidak memilih menikah dengan Liam, maka aku akan tetap menjadikannya sebagai calon istri. Beri aku kesempatan." Pada ayahnya maupun tuan Rodrigo Ethan bertekad akan terus maju.
"Jangan gila Ethan, aku tidak akan pernah setuju. Lebih baik kau mencari wanita single lainnya." Sahut Tuan Frankie menentang keras keinginan Ethan.
"Sebaiknya kita atur pertemuan selanjutnya, kami pamit dulu tuan." Nyonya Coco bersuara meredam amarah kedua pria di sampingnya.
"Silakan, tapi jangan terlalu berharap Ethan. Uncle tidak ingin kau kecewa, itu saja." Baik Grace maupun Tuan Rodrigo sudah memperingatkan, tapi Ethan cukup keras kepala menanggapinya.
Di kamarnya Grace masih fokus membantu Dylan memakai pakaian rumah. Sebentar lagi mereka akan santap siang, Nyonya Pat sudah keluar sejak tadi menyisakan mereka bertiga.
"Dia tidak pernah menemuiku sekalipun, hari ini malah memperjuangkan permohonan anak dari pria lain." Liam bersuara, dia berdiri menatap jendela kamar Grace yang menampilkan pemandangan taman indah.
"Lalu apa kau pernah mengajaknya bertemu? " Grace membalikan keadaan, Liam diam tapi ia berbalik menatap Grace. "Hubungan itu di jalin oleh dua orang Liam, saat salah satu pihak tidak menjalankan perannya dengan baik maka yang lainnya harus bisa memberi peran agar ikatan itu tidak putus." Tertegun, perkataan Grace seakan menampar dirinya mencairkan hati yang beku untuk sang ibu. Grace cukup kaget saat tahu nyonya Coco adalah ibu Liam.
"Dia yang meninggalkan ku Grace, tapi seolah dia merasa paling benar." Liam masih mengeluarkan kekesalannya. Grace sudah selesai lalu ia berjalan mendekati Liam.
"Sudut pandang selalu berbeda tergantung dimana kau berdiri. Bagiku, seharusnya kau tidak membenci ibumu. Dia mungkin memiliki alasan kenapa anaknya di biarkan tinggal dengan ayahnya. Tentu karena dia berharap kau mendapatkan masa depan cerah. Yang aku tahu nyonya Coco memang kesulitan saat merintis bisnis pertamanya. Awalnya nyonya Coco menjadikan Tuan Frankie investor, tapi karena ketulusan mereka bisa bersama." Grace sedikit banyak tahu soal kisah hidup wanita sukses itu.
"Lalu kau sendiri bagaimana?" Serang Liam. "Aku? Ini tentang dirimu dan juga ibumu, jangan mengalihkan pembicaraan." Grace melirik sekitar, Dylan sudah keluar kamar tanpa suara. Dia ingin pergi namun Liam segera menahan lengannya.
"Dylan membutuhkan peran orang tua lengkap Grace, berhenti mengabaikan kenyataan itu." Liam mencoba membelai mesra pipi Grace, anehnya dia tidak memberontak seperti pada Ethan waktu itu. Apa karena Grace memang merindukan sentuhan tangannya? Grace berdesir, ia merasakan sensasi menegangkan kala tangan Liam menyentuhnya.
"Banyak orang tua yang membesarkan anaknya tanpa harus menikah." Grace rindu Liam saat pria itu berada di atasnya. Eh sebentar kenapa pikiran Grace malah liar. "Pipimu merona Grace, apa kau gugup? " "Cepat keluar, Dylan pasti sudah menunggumu." Tubuh Liam terhuyung menerima dorongan Grace yang merasa jalannya terhalangi.
__ADS_1