My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 39


__ADS_3

Pekerjaan Grace masih seputar memeriksa laporan outcome dan income perusahaan. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain. Saking fokusnya Grace bekerja jam makan siang sudah tiba. Ia berniat makan siang di luar karena sudah janji temu dengan Sia. Grace sangat merindukan sahabatnya. Sayang Hecan tidak bisa ikut karena dia sedang berbulan madu dengan istrinya ke luar negeri. Grace bahkan melewatkan undangan pernikahan Hecan. Ia masih belum siap keluar dari pengasingannya.


Mereka memilih restoran di sekitar perusahaan agar memiliki waktu cukup lama melepas rindu. Di depan restoran Sia sudah menunggunya, Grace melambaikan tangan menyapa Sia dari jauh. Saat menyebrang Grace tidak sempat menengok ke kanan, sebuah mobil melaju sangat kencang.


"Grace,,,, " Sia berteriak histeris, Grace menengok dan terkejut hingga ia menutup telinganya. Untungnya pengemudi berhasil mengerem menghindari tabrakan.


Takut di salahkan pengendara mobil langsung tancap gas kabur. Sementara Grace terduduk di jalan merasakan kakinya lemas. Sia berlari menghampiri Grace lalu membantunya berjalan menuju restoran.


"Minumlah dulu Grace,,, " Sia datang membawa segelas air mineral yang ia pesan untuk menenangkan Grace. Hampir saja Grace celaka di depan mata kepalanya sendiri.


"Sia,,, " Grace malah menangis sesenggukan meluapkan segala perasaanya. Ia takut saat membuka mata sudah dalam keadaan tak bernyawa, Grace masih ingin membesarkan Dylan.


"Tenang Grace, aku ada untukmu." Sia memeluk Grace mencoba memberi kenyamanan.


Menghabiskan satu jam untuk bertukar cerita selama mereka terpisah jarak dan waktu. Grace menceritakan semuanya pada Sia tanpa melewatkan sedikitpun. Sia bangga pada Grace yang sanggup menjalani peran ibu tunggal.


"Aku takut Sia, bagaimana kalau Liam tidak mengakui Dylan sebagai anaknya? Kami hanya melakukannya dia kali. Liam selalu berpikir aku selingkuh dengan pria lain." Grace menangkup wajahnya melampiaskan ketakutan terdalam pada Sia. Selama ini ia tahan karena tak mau membuat keluarganya bersedih dan khawatir.


"Grace, Liam mungkin belum siap menikah dan menjadi ayah tapi itu dulu kan? Siapa tahu hari ini setelah dia mengenal Dylan Liam akan berubah pikiran, pandangannya akan terbuka." Sia mengusap punggung tangan Grace, ia jadi ikut bersedih untuknya.


Liam memejamkan matanya kala mendengar ucapan Grace. Dia berada di mobil tak jauh dari restoran. Liam juga menyaksikan Grace hampir celaka tadi. Setiap ucapan Grace membuat hatinya seperti teriris pisau belati. Dirinya menjadi sosok menakutkan di mata Grace. Liam menyesali semua perbuatan yang menyakiti hatinya.


"Terima kasih kau sudah mau mendengarkan cerita ku Sia. Maaf karena aku selalu merepotkan mu." Grace tersenyum getir sementara Sia menggeleng tak merasa seperti itu.


"Aku antar kau kembali ke kantor ya,? " Grace mengangguk menerima ajakan Sia. Keduanya keluar dari restoran usai membayar bill di kasir.

__ADS_1


Grace dan Sia berpisah di area depan kantor, karena ada urusan lain gadis itu tidak sempat masuk ke dalam. Grace tadinya ingin masuk namun seseorang menarik paksa lengannya hingga ia memutar badan,


Jleb...


Satu dorongan sebilah pisau menancap perutnya, Grace tak mampu berkata apa apa lagi. Mual, perih, sakit menjalar bersamaan dengan mengalirnya darah di bagian perutnya. Seringai kepuasan terbit di wajah pria yang sudah menusuknya secara tiba-tiba.


"Ini untuk penghinaan yang kau lakukan padaku Grace. " Bisiknya ke dekat telinga Grace, pisau kembali bergerak keluar menambah rasa sakit yang harus Grace alami. Ingin berteriak minta tolong namun ia seperti membisu, tenggorokannya benar-benar tercekat. Grace hafal betul wajah mengerikan di hadapannya yang kini berlari menjauh membuat tubuhnya ambruk ke tanah.


"Grace,,, " Teriakan Liam yang berlari ke arahnya masih bisa terdengar oleh Grace, matanya begitu berat untuk bisa menatap pria yang kini sudah memangku nya. Grace mulai kehilangan kesadaran tapi Liam terus saja menepuk pipinya.


"Kau harus tetap terjaga Grace, aku akan membawa mu ke rumah sakit. Bertahanlah demi anak kita." Ucap Liam frustasi berusaha mengangkat tubuh tak berdaya ibu dari anaknya. Orang-orang mulai berkerumun melihat keadaan mengerikan, telah terjadi tindak kejahatan di depan perusahaan Miracle jewellery.


Liam susah payah mendudukan Grace di bangku sebelah kemudi. Ia mencari sesuatu untuk menahan lajunya darah segar di perut Grace.


"Halo Josh, siapkan emergency room di rumah sakit terdekat perusahaan Grace. Keadaannya sangat parah." Liam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak lupa dia juga menghubungi asisten pribadi untuk membuat persiapan di rumah sakit. Satu tangan Liam menggenggam tangan Grace yang semakin dingin.


"Liam,,, " Lirih Grace, suaranya hampir tak terdengar.


"Berhenti bicara Grace, kau akan selamat aku pastikan itu." Tak terasa air mata Liam menetes entah sudah berapa banyak. Dia belum siap kehilangan Grace, masih banyak cerita yang ingin Liam dengar darinya. "Dylan, dia,,, "


"Aku tahu, Lim Dylan adalah anakku darah daging ku. Aku mencintaimu Grace, sangat." Tak ada jawaban lagi dari Grace, matanya sudah tertutup rapat bertepatan dengan berhenti nya mobil di depan emergency room.


Perawat dan dokter berlarian mendorong brankar ke dekat mobil Liam, sementara Liam mulai memindahkan tubuh Grace ke atasnya. Grace di bawa langsung ke ruang oprasi sesuai anjuran dokter jaga. Liam hanya bisa menunggu di luar dengan perasaan takut dan cemas. Tidak, Grace tidak boleh pergi begitu saja. Bagaimana nasib Dylan nantinya, pikiran buruk selalu saja mendominasi otak Liam. Ia terduduk menatap nanar dinding di hadapannya. Josh mendekat dan berjongkok mulai menemani Liam.


Mereka benar-benar tidak menyangka akan kecolongan seperti ini. Harusnya penjagaan tidak perlu di kurangi saat Grace kembali tinggal Di Paris. Banyak musuh tak terlihat bagai bayangan mengintai kehidupan keluarga pebisnis sukses. Siapa saja yang tak suka dan merasa di rugikan bisa kalap dan berbuat Nekad.

__ADS_1


"Tuan, ayah nona Grace sudah mendengar kabar buruk ini." Josh mengingatkan Liam, tentu Liam akan menjadi sasaran kemarahan Tuan Rodrigo walaupun ini bukan kesalahannya.


"Aku tidak tahu siapa penjahat itu, hanya Grace yang mungkin mengenalinya." Demi apapun saat Liam tahu identitasnya dia akan membunuh pria itu tanpa ampun.


"Anak buahku dan penjaga tuan Rodrigo sudah bekerja sama untuk memburunya. Semoga saja cepat tertangkap tuan." Liam hanya mengangguk lemah berharap hal sama.


Tak lama terlihat di ujung Koridor tuan Rodrigo sudah sampai bersama Jack. Mereka bergegas mendekat ke tempat Liam berdiri.


"Apa yang terjadi pada Grace Liam? Katakan! " Tangan Tuan Rodrigo mencengkram kerah kemeja Liam, matanya memerah menahan cairan bening yang sudah memupuk.


"Tenanglah tuan." Jack menahan tangan kakak ipar agar tidak membuat keributan. Karena janji tak terucap nya tuan Rodrigo luluh, bagaimanapun Liam adalah ayah dari cucu sekaligus pria yang putrinya cintai.


Dokter keluar tergesa-gesa menghampiri keluarga pasien.


"Pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya, atau sesuatu yang buruk bisa terjadi." Kata dokter dengan masker menutupi mulut juga hidungnya.


"Saya ayah pasien dan adiknya memiliki golongan sama. Kami siap menjadi pendonor dok." Tuan Rodrigo menerangkan. "Secepatnya." Perintah dokter lalu suster ikut keluar untuk memberikan informasi. "Dok, detak jantung pasien melemah." Buru buru dokter kembali masuk untuk menangani Grace.


"Aku akan menjemput Alya." Jack pamit undur diri kemudian berlari keluar rumah sakit.


"Mari tuan, saya antar ke tempat pengambilan darah." Suster membimbing tuan Rodrigo meninggalkan Liam dan Josh di depan ruang operasi.


"Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuknya,,, " Sesal Liam menjambak rambutnya frustasi. Josh mendekat lalu mengusap pundaknya seraya berkata, "berdoa lah tuan, itu obat paling mujarab." Lalu Liam duduk di kursi tunggu, dia menautkan kedua tangannya memejamkan mata dan mulai berdoa sesuai nasehat dari Josh.


"Tuhan, aku tidak meminta apapun lagi selain kesembuhan Grace. Aku berjanji akan menjaga dan melindunginya, tolong beri kami kesempatan kedua untuk bisa bersama membesarkan Dylan. Amen. " Terpanjat untaian doa dalam hati Liam di tengah situasi menegangkan. Josh tahu tuannya sangat mencintai Grace, semoga setelah Grace pulih dia akan menjadi pria yang bertanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2