
Kali ini jadwal Liam mengunjungi perusahaan miliknya yang bergerak di bidang fashion. Sebenarnya Grace hanya menemani Liam kemanapun suaminya pergi menemui client atau sekedar mengecek laporan.
"Selamat pagi tuan, nona. Pagi ini tuan ada pertemuan dengan salah satu pemilik mall untuk kerja sama lanjutan. Sebentar lagi dia akan datang. " Staf ahli yang menjabat sebagai CEO memberitahu Liam selaku pemilik La collection. Client penting itu sengaja ingin bertemu Liam secara langsung.
"Baiklah, siapkan jamuannya. Ayo Grace." Liam menarik tangan Grace menuju ruangannya.
"Kita makan siang bersama Dylan, aku ingin menjemputnya di sekolah. " Ucap Liam sebelum duduk di kursi kebesaran nya. "Yes sir, " Jawab Grace, Liam tak jadi duduk ia malah mendekati Grace yang masih berdiri di depan mejanya. Liam menarik pinggang Grace dengan kasar lalu mengikis jarak wajah keduanya.
"Hubby Grace, aku suamimu. " Cup, satu kecupan bibir mendarat secepat kilat setelah Liam mengomel.
"Kita di kantor Liam. Bagaimana kalau Zen tiba-tiba masuk. " Lirih Grace ketika Liam mulai memainkan lidahnya di ceruk leher Grace. "Ini tidak akan lama. " Bagaimana bisa grace menolak keinginan suaminya, dan pada akhirnya mereka benar-benar melakukan hubungan badan di ruang kerja Liam. Di sofa, di atas meja kerjanya kemudian di kamar mandi. Ketukan pintu bertepatan dengan ******* keduanya, Grace merasa malu dan tak tenang harus melakukan hal itu di tempat kerja.
"Thanks baby,,, " Liam mengecup kening Grace yang duduk di pangkuannya, Liam segera membersihkan diri sebelum keluar. Zen melirik jam tangannya di balik pintu ruangan, tidak biasanya bosnya telat dan entah apa yang terjadi. Mungkinkah mereka tengah bertengkar di dalam? Ah biarkan saja dari pada Zen harus kena imbas. Tak lama Liam keluar dengan wajah lebih segar dan ceria.
"Let's Go. " Ajak Liam memimpin jalan. Zen mengernyit melihat sikap Liam berubah secepat itu.
Grace memilih berdiam diri di sofa karena ia merasa lelah sepagi ini sudah di gempur oleh Liam. "Apa aku pergi menemui Uncle Jack saja? Rasanya semakin tak nyaman." Tangannya mengelus perut bagian bawah di balik blouse berwarna lilac. Sebelum pergi ia akan meminta izin pada Liam, bagaimanapun dia harus tahu kondisi Grace saat ini.
"Senang bisa berjumpa dengan anda tuan Noel. Silakan duduk. " Liam menjabat tangan pria bernama Noel. Zen dan asisten Noel hanya berdiri di sebelah masing masing bosnya.
"Satu kehormatan bisa bekerja sama dengan pengusaha sukses seperti anda tuan Liam. Aku masih kalah jauh dalam hal jam terbang. " Liam hanya tersenyum simpul menanggapi pujian Noel.
"Jangan terlalu menyanjung tuan Noel, di balik pekerjaan ku yang menumpuk aku mengalami banyak hal. Kalau aku ceritakan mungkin pendapatmu akan berubah." Liam mengingat bagaimana hidupnya berjalan seperti rollercoaster semenjak mengenal Grace. Bukan menyesal, ia sadar perjuangannya begitu besar untuk bisa bersama wanita yang di cintainya.
"Anda benar tuan, semua orang punya struggle nya masing-masing. Aku biasanya tidak tertarik pada perusahaan ayahku, tapi aku ada keperluan di sini jadi sekalian saja." Noel tipe pria ramah dan bisa menempatkan diri, Liam menghargai client sepertinya.
"Benarkah? Apa ini urusan di luar pekerjaan? " Keduanya malah asik mengobrol ringan karena kerja sama sudah di pastikan berjalan baik. Pertemuan ini sebagai formalitas mempererat kerja sama. "Ya, ada seseorang yang ingin ku temui. Sudah lama sekali. " Noel menerawang mengingat orang yang sangat ia harapkan kehadirannya.
"Semoga saja kalian bisa bertemu kembali." Noel tersenyum mendapat dukungan dari Liam. Ternyata benar, rumor mengatakan Liam begitu profesional sebagai pengusaha. Ia dingin pada wanita namun terbuka pada pria apa lagi sebaya dengannya.
Tok tok,,,
__ADS_1
Pintu di ketuk ketika mereka mulai membahas bisnis. Zen berjalan mendekat ke arah pintu untuk membukanya. "Nona..." Zen terkejut karena Grace baru menunjukkan batang hidungnya. "Apa rapat masih lama? Aku harus pergi ke rumah sakit. " Grace tak berani mengintip karena Liam pasti bertemu dengan pria, ia akan marah jika saja client nya terpesona oleh sang istri.
"Masih berlangsung, saya akan sampaikan pada kakak ipar. Apa nona sakit? " Zen menyelidik wajah Grace yang sedikit pucat. "Tidak, aku hanya ingin mengunjungi uncle Jack dan Abigail. " Jawab Grace.
"Kalau begitu biar saya antar. " Zen menawarkan diri, Grace melambaikan tangannya Melarang.
"Aku naik taksi saja, jangan khawatir aku bisa jaga diri. " Grace pun pamit dari hadapan Zen.
"Kenapa? " Liam sejak tadi memperhatikan Zen mengobrol bisik bisik dengan seseorang di luar ruangan.
"Nona tuan, dia akan bertemu paman dan bibinya di rumah sakit. " Liam mengangguk tak masalah lagi pula Jack pasti akan mengantarkan Grace kembali ke kantor. "Siapa tuan? " Noel jadi penasaran di buatnya.
"Istriku, dia ada di kantor. "
"Anda sudah menikah? " Noel tampak kaget karena tidak ada berita tentang pernikahan Liam di media sosial maupun majalah bisnis. "Sudah, pernikahan kami berlangsung sederhana. Aku masih belum bisa mengumumkan kabar bahagia kami, keadaan perusahaan belum cukup stabil." Noel mengangguk mengerti. Di kalangan pebisnis mereka memang lebih memilih merahasiakan identitas keluarga maupun pasangan demi keselamatan mereka. Pembahasan bisnis pun kembali di lanjutkan.
Di koridor rumah sakit Abigail sudah menunggu kedatangan Grace. Ketika tatapan mereka saling bertemu keduanya berlari kecil lalu berpelukan melepas rindu. "Pasien VIP ku,,, I miss you so much. " Abigail mengusap punggung Grace berkali-kali. Lama tak berjumpa keduanya seakan seperti saudari.
"Kau ini, oh ya apa kabar Dylan? Aku rindu Dylan. " Abigail menggandeng tangan Grace menuju ruangannya.
"He's good, makin pintar di sekolahnya. Semoga Sam tidak repot di buatnya. " "Who's Sam? " Abigail baru mendengar nama itu, ia tahu Zen saat di pernikahan mereka, selain itu di rumah megah Liam ada bibi Wen dan Bibi Jill.
"Dia Samantha, nanny nya Dylan. Karena aku masih harus membantu Liam di perusahaan. " Mereka duduk berhadapan melanjutkan obrolan.
"Apa kau masih harus bekerja? Aku sarankan sebaiknya berhenti, bukankah kalian ingin kembali menambah anak. Lagian Dylan masih butuh perhatian ibunya." Grace menyandarkan kepalanya di kursi goyang milik Abigail. Ia tahu itu tapi Grace tak tega melihat Liam mengurus semua bisnisnya.
"Aku hanya menemani Liam sambil membantu sedikit. Buktinya aku bisa menemui mu di sini. " Abigail percaya Liam tidak akan membiarkan istrinya bekerja keras.
"Bukankah kau datang untuk konsultasi?" Grace baru ingat tujuannya, saat bersama Abigail mereka memang terlalu asik bercengkrama. Tak lama pintu terbuka dimana Jack muncul dari arah luar.
"Hai Grace, apa kabar? " Jack memeluk Grace sebentar kemudian duduk di kursi sebelah Abigail istrinya.
__ADS_1
"Kabarku buruk, semalam aku demam dan merasakan nyeri pada bekas jahitan lukaku." Terang Grace menjelaskan kondisi tubuhnya.
"Berbaringlah, aku akan memeriksa mu. " Perintah Abigail, Grace menurut berbaring di ranjang tempat pasien. Abigail membuka blouse milik Grace untuk mengecek jahitan di perutnya.
"See, lukanya seperti mengeluarkan cairan kuning, Grace kau mengalami infeksi. " Jack mendekat untuk memastikan dan benar apa yang di katakan Abigail.
"Kau habis saat Liam tahu Grace. Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu baik baik? " Jack terdengar marah mengetahui keadaan keponakannya. Abigail menyorot mata suaminya agar tidak membentak Grace. "Jangan sampai dia tahu tentang ini, aku tidak akan mengalaminya jika Ethan tidak mengurung ku. Aku sangat membencinya hingga berharap dia lenyap di muka bumi." Grace kembali menitikan air mata bila mengingat kejadian mengerikan itu.
"Sudah Grace, jangan bersedih. Aku akan memberimu resep obat yang bisa membantu luka nya cepat kering. " Jack keluar dari ruangan Abigail untuk langsung ke bagian farmasi mengambil obatnya.
"Lihat, Jack saja marah apa lagi suamimu Grace. Sebaiknya kau bicara baik baik padanya. " Sekarang Abigail tidak akan mempermasalahkan ketika Jack perhatian dan peduli pada Grace. Lagi pula mereka hanya seorang paman dan keponakan. "Thanks Abi, jangan beritahu daddy dan bibi Pat. Aku tidak ingin mereka khawatir. " Grace memohon pada Abigail agar merahasiakan ini dari mereka.
"Aku antar kau ke depan, aku masih ada pasien lain. " Abigail membantu Grace berdiri untuk menyusul Jack di bagian penebusan obat.
Grace langsung meminum obat di dalam taksi, ia kembali ke kantor karena Liam sudah mulai mencarinya. Sejenak Grace menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang. Rasanya begitu lelah memikirkan semua masalah hidupnya. Grace harus segera berhenti bekerja karena ia ingin mengurus Dylan di rumah.
Mobil berhenti di depan lobby kantor Liam, Grace turun dan masuk ke dalam dengan mata fokus ke dalam tasnya. Ia harus menyembunyikan obat itu agar Liam tidak bisa melihatnya.
Tanpa sengaja Grace menabrak seseorang. "Maaf, ini salahku. " Grace mengambil tas nya yang terjatuh, ia memasukkan kembali barang barang yang tercecer.
"Aku juga bersalah, maaf. " Katanya membantu memungut alat tulis milik Grace. "Terima kasih,,, " Ucap Grace, keduanya kembali berdiri.
"Grace ? " Sapa pria itu tak menyangka bisa melihat wanita yang ingin ia temui.
"Noel,,, " Grace reflek memeluk Noel singkat, ia senang bisa berjumpa dengan pria itu lagi.
"Maaf, tidak seharusnya aku berlebihan. Kau tahu aku pikir kita tidak akan bertemu lagi Noel. "
Noel Javier usianya terpaut lima tahun dari Grace dan mereka mengenal satu sama lain saat Grace tinggal di Le Havre. Noel merupakan dosen di kampusnya dan Grace mendapat banyak ilmu serta bimbingan darinya. Grace Sudah menganggap Noel seperti saudara laki lakinya. Ia nyaman karena Noel begitu sopan memperlakukan nya.
"Bagaimana kalau makan siang bersama? " Ajak Noel berharap Grace mau menerima ajakannya.
__ADS_1
"Apa kau lama di Paris? Aku masih ada urusan lain Noel. " Grace melirik jam tangan lalu pintu lift, Liam akan salah paham jika dia melihat Grace mengobrol dengan pria lain. "Oke, ini kartu namaku. Hubungi aku saat kau ada waktu senggang. " Noel menyerahkan secarik kertas ke hadapan Grace, Grace menerimanya lalu pamit pada Noel. Noel tersenyum melihat Grace yang terburu-buru. Sejak dulu dia selalu sibuk tapi Noel sama sekali tidak tahu kehidupan wanita yang sudah mencuri hatinya.