My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
marahnya Christian


__ADS_3

Penjurian sebuah kompetisi melukis akan di adakan nanti malam. Dua minggu terakhir Alya begitu sibuk menyelesaikan lukisannya. Rencananya hari ini Alya akan mengantarkan ke alamat orang di atas namanya. Terbungkus rapi, Alya meminjam salah satu mobil pribadi Christian.


Mereka berkomunikasi hanya lewat sambungan video maupun pesan singkat. Christian baru akan tiba nanti siang setelah lama mengurus perusahaan di Paris.


Untungnya di kampus Cindy tidak lagi berani mengganggu Alya. Mungkin Luke sudah sangat geram hingga Cindy berhenti.


Hubungannya dengan Theo semakin merenggang, apa lagi jarak mereka terbentang jauh. Itu lebih baik menurut Alya, dari pada dia harus memberi Theo harapan Palsu.


"Masuklah." Perintah Alya pada seorang gadis muda yang usianya hanya terpaut satu tahun. Alya lebih tua.


"Nona, bagaimana jika juri meragukan ku?" Tanyanya penuh rasa cemas.


" Tidak akan Je, kau harus terlihat senatural mungkin. " Namanya Jeni, dia harus putus sekolah karena kekurangan biaya. Dengan imbalan yang Alya berikan tentu Jeni bisa melanjutkan kembali sekolahnya.


"Baiklah nona, ku harap begitu. " Alya mengangguk masih dengan fokus menyetir. Dia tiba di dekat pintu masuk hotel, Alya menurunkan Jeni. Dia membuka bagasi, mengeluarkan lukisannya.


"Hati-hati, ingat kau tidak boleh mencurigakan." Sekali lagi Alya mengingatkan Jeni tentang misi rahasia mereka.


Jeni pun berjalan membawa bungkusan berisi lukisan milik Alya.


Tin,,,


Suara klakson mengagetkan Alya hingga terperanjat.


"Al kau sedang apa? " Kaca mobil terbuka, menampilkan sosok yang sangat Alya rindukan.


"Waiting,,, " Alya tersenyum gembira mengetahui Christian sudah pulang. Ia melambaikan tangan memberi isyarat Christian segera masuk, dan dia akan mengikuti di belakang.


Mobil Crhistian sudah pergi mendahului, ketika Alya ingin masuk ke mobil seseorang mencegahnya di depan. Kerutan di kening Alya menandakan dirinya tidak tahu kali ini siapa lagi.


"Alya,,, " Sapa seorang wanita yang keluar dari mobil.


"Nona Sera... " Balas Alya.


"Kita perlu bicara, kau mau kan ikut denganku? " Sera tiba-tiba sengaja datang menemuinya, pasti ada sesuatu penting sehingga mau tidak mau Alya harus menerima ajakannya.


"Baiklah." Jawab Alya singkat. Lalu ia masuk ke mobil Sera, membiarkan mobilnya terparkir begitu saja di sisi jalan.


"Apa kabar Alya? " Di perjalanan Sera mencoba mengajak Alya mengobrol.


"Baik nona, kau sendiri? " Alya menengok ke sebelah menanti apa yang ingin Sera sampaikan padanya. Tidak mungkin dia hanya berbasa-basi tanpa tujuan tertentu.


"AS you see, aku sedikit kesal karena kesibukan Christian kami jarang bertemu. Kalaupun dia tidak ada perjalanan bisnis, dia selalu bilang sibuk padaku. " Reflek Alya mengangguk kecil membenarkan. Christian sendiri malah sering bersama dirinya, dia juga bercerita terlalu malas menemui Sera.


Alya sudah mencoba memberi pengertian agar Christian setidaknya peduli pada Sera.


Atau dia akan curiga terhadap hubungan rahasia mereka.


Sayangnya Sera sudah mengetahuinya.

__ADS_1


Melihat Alya masih diam, Sera melanjutkan keluhannya.


"Ku dengar sebelum kami bertunangan, kalian dekat karena Christian harus menjagamu. Bisakah kau bilang padanya untuk peduli padaku? " Bertepatan dengan tibanya mobil di depan sebuah kedai kopi, Alya tersenyum tipis menanggapi nya.


"Ayo turun, kita lanjutkan sambil minum kopi. " Keduanya keluar dan berjalan menuju coffee shop.


"Biar aku yang memesan, kau duduklah dulu. " Perintah Sera, Alya hanya menurut saja kemudian memilih meja di dekat jendela. Tak lama Sera menyusul membawa dua cup iced Americano.


"Untukmu." Sera menyodorkan minuman ke dekat Alya.


"Thanks." Ucap Alya.


"Untuk itu aku ingin menemuimu Alya. Ku harap kita bisa menjadi teman, karena kau kerabat dekat Christian. Setelah meneguk kopinya Sera langsung melanjutkan pembahasan.


" Kami tidak sedekat yang nona pikirkan. " Damn, Alya bersilat lidah kali ini.


"Tapi aku akan mencoba menasehati Christian agar lebih memperhatikan mu." Alya mengumpat mulut manisnya, padahal dia sendiri tidak rela ketika Christian dekat dengan Sera.


"Oh thank you so much Alya... " Sera berteriak girang hingga ia menggenggam tangan Alya yang berada di atas meja.


"Kau tahu Alya, aku hanya ingin menyembuhkan luka lama Christian. Dia memiliki masa lalu kelam lima tahun yang lalu. " Berhasil, Sera sudah memancing Alya dengan ucapannya.


"Hem,,, maksud nona apa? Maaf bukannya aku lancang, tapi aku tidak tahu tentang hal itu." Sialan, kenapa Sera mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku menyesal menolak tawaran Viona, batin Alya menelan kekecewaan.


"Ah lupakan saja Alya, aku harus menjaga perasaan Christian bukan? Kalau kau ingin tahu, tanyakan langsung padanya. " Senyum Sera menggambarkan kemenangannya atas serangan mental Alya.


"Iya, nona benar. " Alya tersenyum getir menanggapinya.


"Tenanglah Chris. Mungkin nona Alya hanya pergi sebentar. "


"Tapi ini aneh, kenapa mobilnya di biarkan seperti ini. Apa jangan-jangan Alya di culik?" Daniel menggelengkan kepalanya, Christian benar-benar tidak bisa di ajak berpikir jernih.


"Masuklah dulu, setelah rekamannya ku Terima kita akan tahu apa yang terjadi pada nona Alya." Perintah Daniel, Christian hanya bisa menuruti saran sahabatnya.


Ketika mereka berjalan masuk Alya turun dari taksi. Baru saja berbalik setelah membayar, ia merasakan seseorang menarik paksa kemudian mendekap nya erat.


"Kau kemana saja Al? Aku hampir gila memikirkanmu. " Begitu parau suara Christian merasa lega Alya baik-baik saja.


"Christian banyak yang melihat, lepaskan dulu. " Pinta Alya berusaha mengurai pelukan mereka. Christian menurut, dia mengikis jarak agar bisa menatap Alya.


"Kita masuk, aku sangat lelah hari ini." Mengangguk, Alya membiarkan Christian menggenggam tangannya.


Melewati beberapa staf hotel, Alya menunduk berjalan di belakang Christian. Rasanya tidak enak memamerkan kedekatan mereka di saat semua orang tahu Christian sudah bertunangan dengan Sera.


"Lihatlah gadis penggoda itu. Aku kasihan pada tunangan tuan Christian. " Bisik petugas penerima tamu.


"Padahal dia memiliki segalanya, kenapa malah merebut milik orang lain. " Timpal rekannya.


"Padahal tuan Theo sangat peduli padanya. Nona itu memang egois dan serakah."

__ADS_1


Dan Alya mulai tak nyaman mendengar orang menilai dirinya. Padahal biasanya ia akan bersikap acuh. Namun kali ini Alya meradang menanyakan kembali perbuatannya.


Di dalam lift ketiganya hanya diam tanpa bersuara. Christian masih setia menggenggam tangan Alya.


"Jangan pikirkan ucapan mereka Al. Kau segalanya bagiku. " Kata Christian dengan nada suara datar namun terkesan dingin.


"Mereka benar, lalu kenapa aku harus marah? " Sarkas Alya. Christian memejamkan matanya, dia tahu Alya sedang terpengaruh oleh penilaian orang-orang. Bisa jadi Alya goyah dan berpikir untuk meninggalkan nya.


Ting,,,


Pintu lift terbuka, keduanya berjalan menuju kamar pribadi Christian. Daniel tentu kembali turun untuk mengurus mulut yang menggunjing nona Alya nya.


"Daniel kau mau kemana? " Terlambat, Alya melihat pintu lift sudah tertutup kembali.


"Membereskan masalah. Berhentilah memikirkan hal tidak penting Al. " Christian membuka kamar lalu menarik kasar Alya.


Tanpa aba-aba dia langsung me ***** bibir Alya, menyesap dan bermain di dalam mulutnya. Alya mencengkram bahu Christian ketika tangan pria itu mulai bermain di dalam kemejanya. Alya sendiri tidak sadar Christian sangat cekatan membuka kancingnya.


"Chris,,, " Lirih Alya menghentikan aksi Christian yang ingin menurunkan rok mini bermotif bunga milik nya.


"Why? I want you so badly Al. " Christian menautkan kening mereka, nafasnya berat mengisyaratkan dirinya sudah di kuasai hasrat.


"We Need to talk, sebentar saja. " Alya mendorong Christian dia ingin duduk di sofa.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? " Ikut duduk di samping Alya, Christian melihat raut gusar Alya.


"Christian ini semua salahku. Seharusnya aku berhenti menemuimu secara diam-diam. " Alya menatap lurus ke depan, tangannya saling bertaut mencoba mengumpulkan keberanian.


"Tidak, jangan di teruskan Al. " Karena Christian tahu apa kelanjutan dari ucapan Alya.


"Aku ingin fokus kuliah Christian. Jadi kita akhiri saja permainan ini. " Kali ini Alya memalingkan wajahnya, berharap Christian tidak melihat matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Jadi kau anggap perasaanku permainan semata? Kau sangat munafik Al, membohongi hati dan dirimu sendiri dengan mengatakan kau membenci sebuah hubungan. Padahal aku tahu kau menikmati kebersamaan kita, kau sudah melanggar prinsipmu sendiri Alya. " Semakin geram, Christian bangkit dari duduknya. Dia berlutut di hadapan Alya, mencengkram pundaknya kuat.


"Tatap mataku! Katakan jika memang kau tidak memiliki perasaan untuk ku. " Suara Christian semakin serak, dia sangat kecewa dengan pemikiran Alya.


"Kita akhiri semuanya Christian. Jangan pernah menemuiku lagi. Jika kita bertemu tanpa sengaja anggap saja kita orang asing." Alya melepaskan tangan Christian yang hanya diam terpaku. Berharap dia salah mendengar atau Alya hanya keliru.


"Alya berhenti! " Teriak Christian, Alya menurut ia pikir Christian masih belum mengerti keinginannya.


Menarik paksa lengan Alya sebelum dia benar-benar pergi. Christian memaksakan mencium bibir Alya secara brutal. Menuntunnya menuju tempat tidur, Alya bahkan terhempas begitu saja oleh dorongan Christian.


"Chris, kau menyakiti ku. " Air mata Alya sudah tidak bisa di tahan lagi, ia menangis melihat kemarahan Christian pada manik matanya.


"Kau yang menyakiti hatiku Al. " Bisik Christian yang mulai menciumi ceruk leher Alya. Tangannya sudah berhasil masuk kedalam rok Alya.


Christian melampiaskan amarahnya dengan menyiksa tubuh Alya. Meski sudah beberapa kali mendapat puncaknya, Christian seakan tidak pernah puas. Dia berharap benihnya bisa tumbuh dan berkembang di rahim Alya. Agar dia bisa menjeratnya.


Mungkin sudah enam kali terhitung, akhirnya Christian ambruk di sebelah Alya. Rasa lelah bekerja, perjalanan panjang di hari kepulangannya dan juga aktifitas panas baru saja membuat Christian tertidur dengan mudah.

__ADS_1


Alya berbalik membelakangi Christian. Ia menarik selimut, menutupi tubuh polosnya yang di penuhi lebam biru. Berulang-ulang Christian menggigit Alya sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Bagaimana caranya aku lepas dari Christian? Kau bodoh Alya, seharusnya kau berpikir jernih dulu. " Alya memejamkan mata, merasa sekujur tubuhnya remuk. ini kesempatan baginya di saat Christian terlelap. Alya memilih membersihkan tubuhnya sebelum pergi. setidaknya dia harus berusaha menghindar darinya. meski lelah Alya memaksakan diri.


__ADS_2