
Rekan kerja Grace mengira ia tidak akan masuk kerja, bukankah seharusnya bos Liam menyuruhnya istirahat. Sejak berpisah tadi pagi Grace belum bertemu dengan pria itu lagi. Tanpa sepengetahuan Grace Liam ternyata malah duduk santai di ruang kerja di kasino. Matanya terus mengawasi pergerakan Grace dari layar laptop yang menampilkan tayangan cctv.
"Rupanya kau gadis yang sudah merendahkan harga diriku." Liam bergumam mengingat kembali penolakan seorang Gracia.
"Josh, panggilkan Grace untuk menemui ku." Titahnya lewat sambungan intercom. "Baik tuan. " Josh segera mencari keberadaan Grace yang di duga banyak orang dekat dengan Liam bosnya. Awalnya Grace akan memimpin sebuah permainan kartu namun Josh berbisik untuk menyusul Liam di ruang kerjanya.
"Kau di panggil tuan Liam." Kata Josh. "Apakah dia ada di sini? " Tanya Grace yang hanya di jawab anggukan oleh pemimpin pelayan wanita bayaran di kasino.
Aneh sekali, dia belum muncul sejak tadi padahal dia ada di kasino batin Grace bermonolog. Tak ingin Liam menunggunya Grace meminta Yola menggantikan posisinya.
Meski hubungan mereka cukup terbilang dekat Grace tidak ingin mencampur adukan masalah pribadi di tempat kerja. Ia masuk ke dalam ruangan Liam dengan sopan, kemudian berdiri di depan meja kerjanya. "Aku ingin kau berhenti bekerja di sini. " Perintah Liam terlontar begitu saja tanpa bisa di mengerti oleh Grace.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi? " "Tidak sama sekali. " Potong Liam dengan cepat. "Di sini kau tidak akan aman Grace, aku ingin kau bekerja untuk ku. Menjadi asisten pribadi." Lanjutnya lagi menerangkan rencana Grace ke depannya. "Aku tidak mau, lebih baik kau pecat aku saja." Lagi-lagi Grace menolak dirinya. Kenapa perempuan di hadapannya begitu angkuh, apa karena ia anak konglomerat? Liam mencoba menahan amarahnya, dia harus berhasil membujuk Grace.
"Ku dengar dari tuan Rodrigo kau sekolah bisnis fashion, kau yakin tidak ingin mengembangkan karirmu? Kau bisa mendapat pengalaman di LA collection." Untuk perkataan Liam Grace merasa ada benarnya. Meski ia asal memilih program study bukan berarti dirinya harus membuang ilmunya dengan sia-sia.
"Baiklah aku mau, tapi dengan satu syarat." Liam mempersilakan Grace menyampaikan keinginannya melalui gerakan tangan. "Jangan pernah membawaku ke rumah mu." Liam tampak berpikir keras karena ia salah pertimbangan, harusnya Grace akan tinggal bersama nyanya.
"Bukankah seorang asisten akan menyiapkan semua keperluan atasannya?" Liam masih berusaha bernegosiasi. "Mungkin sesekali aku akan membantumu untuk urusan penting saja." Grace menghela nafas pasrah menuruti keinginan Liam. Bukankah semalam pria itu berjanji akan menjauhinya, sekarang mereka malah terikat status bos dan asisten.
"Kau boleh kembali bekerja, aku akan pulang lebih awal." Liam bangkit dari kursi kebesarannya berjalan ke luar ruangan.
Grace harusnya tidak mempercayai Liam sedikitpun. Pria itu seakan ingin mengikat dirinya dalam jerat tak berujung. Grace tidak ingin terperangkap oleh buaian seorang Liam Arthur Junior. Bisa saja nasibnya berakhir di campakkan olehnya. Tapi Grace juga tergiur dengan iming-iming pekerjaan di LA Collection.
Esok paginya sesuai perintah Liam, Grace mendatangi kantor sekaligus galeri LA collection. Dimana gedung itu terdiri dari empat lantai. Lantai satu dan dua khusus untuk pembeli, ketiga ruang produksi dan yang terakhir merupakan kantor seluruh karyawan.
Grace menatap takjub galeri yang selalu ramai di kunjungi kalangan atas itu. Dirinya sama sekali belum pernah membeli barang mahal. Sejak kecil hidupnya sangat sederhana berkat didikan mommy Alice. Kalaupun ada barang mahal di kamarnya itu sudah pasti pemberian tuan Rodrigo.
"Bonjour,,, " Sapa petugas penjaga pintu menyapa Grace yang berpakaian formal mengenakan sebuah Midi dress klasik berwarna cream.
__ADS_1
"Bonjour, aku Grace dan sudah ada janji dengan Sir Arthur junior." Ucapnya tersenyum ramah pada pria seusia manajer kasino yaitu Adam.
"Sir Arthur Junior belum tiba, munngkin sebentar lagi. nona bisa menunggu di dalam." Yang di bicarakan baru saja turun dari mobil mewahnya. Grace masuk ke dalam memberi ruang untuk Liam berjalan. "Kau terlalu berlebihan Grace,,, " Sapaan Liam terdengar tidak begitu ramah di telinga Grace. Apa lagi yang salah darinya sepagi ini? Grace mengekor di belakang Liam yang berjalan tergesa-gesa.
"Aku tidak mengerti,,, bukankah kau memintaku menjadi seorang asisten? " Liam yang berhenti mendadak di depan lift membuat Grace menabrak punggung tegap bosnya.
"Berpakaian lah seperti biasa kau bekerja dengan tukang foto itu. Lihat bajumu, terlalu mewah untuk seorang asisten pribadi." Grace menatap dirinya di kaca lift yang bening, bukan bermaksud begitu hanya saja Grace tidak ingin membuat Liam malu karena sudah membawanya ke kantor.
"Baiklah tuan." Grace hanya patuh tanpa banyak protes.
Kehadiran Grace yang mendadak menjadi perhatian semua orang di LA collection. Sejak Liam menjabat sebagai pimpinan dirinya belum pernah menggunakan jasa supir, bodyguard ataupun sekretaris pribadi. Hanya ada satu sekretaris perushaan yang membantu mengatur pekerjaannya. Tanpa bisa di tebak, hari ini Liam membawa seorang perempuan yang katanya bertugas sebagai asisten pribadi bos mereka.
"Grace kau akan bekerja di samping Andy sekretaris perushaan. Andy, dia Grace asisten pribadiku." Liam memperkenalkan kedua perempuan beda generasi. Mungkin Andy seumuran Alice ibunya Grace tebak. "Baik tuan. " Andy tersenyum ramah pada Grace yang masih kaku.
"Kau bisa mempelajari pekerjaanku pada Andy, lalu menyimpan jadwalku yang sudah di dusun olehnya." Perintah Liam untuk Grace.
"Baiklah, aku mengerti. " Liam masuk ke ruang kerjanya sementara Grace duduk di sebelah Andy.
"Mercy Andy, aku butuh bimbingan mu."
Waktu berlalu tanpa terasa, Grace sudah mampu menguasai detail tanggung jawab seorang Liam Arthur. Ia juga mencatat ulang jadwal penting miliknya.
"Gracia,,," Dari arah dalam terdengar teriakan Liam mengejutkan Grace maupun Andy. Seperti sebuah magnet Grace bergegas masuk menghampiri bosnya. "Ada apa, kenapa kau berteriak? " Grace bertanya dengan kepanikan terjadi sesuatu terhadap Liam.
"Lihat lah! " Liam menunjuk layar laptopnya meminta Grace mengamati sesuatu yang tidak ia mengerti sama sekali.
"Aku sudah susah payah mengetik tapi semuanya hilang. Itu harus selesai sebelum jam makan siang atau aku habis Grace." Grace hanya menghela nafas mengetahui sisi lain seorang Liam yang sangat khawatir. "Tunggu sebentar, ini sangat mudah." Grace menggerakan kursor dengan menyentuh badan laptop. "Selesai." Liam berhasil menciptakan huru hara hanya karena sebuah kecelakaan kecil.
"Kau hanya perlu mengklik undo Liam." Liam hanya manggut-manggut mengerti, mungkin karena panik dia tidak bisa berpikir jernih. "Thanks Grace, ternyata kau pintar juga." Liam nyengir menampilkan giginya tanpa rasa malu.
__ADS_1
"Itu bukan masalah besar, kau saja yang tidak pandai."
Tak...
Lagi lagi kening Grace jadi sasaran sentilan jari Liam. Grace meringis mengusapnya berkali-kali.
"Liam sakit. Berhenti melakukannya atau aku,,, " Tangan Grace sudah siap meraih telinga kanan Liam namun dengan sigap Liam menahannya. Ia memutar Grace hingga mendekap nya dari belakang.
"Kau sangat cantik Grace, aku tidak suka orang-orang melihat kecantikanmu. Hanya aku yang boleh." Kata Liam seraya menaruh dagunya diatas kepala Grace.
"Aku bukan milikmu Liam, kau tidak berhak mengaturku." Grace mencibir sifat egois seorang Liam tanpa rasa takuttakut sedikitpun.
"Aku suka saat kau berada di sisiku, aroma tubuhmu, wajahmu saat melamun, dan aku menginginkan rasa manjamu kepadaku." Liam semakin erat mendekap Grace, ia butuh asupan energi untuk bisa fokus bekerja.
"Liam tolong lepaskan, aku harus ke bawah mengambil laporan penjualan minggu ini." Grace menggeliat berusaha keluar dari kungkungan bosnya.
"Katakan Grace, apa kau sudah mulai menyukai ku? " Liam menahan Grace untuk menatap matanya. Dia ingin Grace memiliki perasaan terhadapnya agar Liam bisa dengan mudah mematahkannya. Niatnya sudah pasti, Liam akan membuat Grace merasakan patah hati terhebat.
"tidak, kau bukan pria idaman yang ku ingin kan Liam. berhentilah menggangguku. aku ingin bekerja dengan baik di sini." Grace berjalan begitu saja meninggalkan Liam dengan penolakannya.
setelah pintu tertutup Liam memukul meja kerjanya dengan sebuah kepalan tangan. "sial, dia lebih angkuh dari yang aku kira. awas saja kau Grace, aku akan membuatmu bertekuk lutut memohon padaku untuk mengemis cintaku." gumam Liam penuh amarah.
Sedikit berjalan jalan Grace mengelilingi kantor untuk mencari keberadaan kepala bagian penjualan. ia di beri tugas oleh Andy meminta laporan mingguan untuk di periksa oleh Liam.
"lihatlah perempuan penggoda itu, gayanya selangit padahal hanya seorang asisten." cibir salah satu asisten perancang busana andalan LA collection.
"kau tahu, dia di pungut di klub malam oleh sir Arthur junior. kasihan sekali bos kita di perdaya wanita penghibur." timpal pria kemayu di sebelahnya.
Grace sudah bisa menebak nasibnya akan seperti apa selama ia bekerja di kantor Liam. tidak semua orang menerima kehadirannya, tapi Grace acuh tanpa tersinggung sama sekali. toh dia bekerja bukan untuk menyenangkan hati seseorang, melainkan mencari jati dirinya yang sempat hilang.
__ADS_1
"mercy." ucap Grace ramah setelah mendapat apa yang ia butuhkan.