
Restoran di salah satu hotel bintang lima di kota Paris begitu elegan dan mewah menyambut para tamunya.
Dekorasi klasik modern memanjakan mata setiap pengunjung. Malam ini merupakan malam spesial bagi kedua pria beda generasi. Tuan Rodrigo sejak tadi tertawa senang mengobrol dengan Ethan maupun Nyonya Coco.
"Nah Grace, Ethan ini anak tuan Fransisco pemilik perternakan sapi di kampung halaman kita." ayahnya terdengar membanggakan pria di hadapan Grace. Mungkin Grace di minta terkagum-kagum oleh seorang Ethan.
"Aku tahu dadd,,, " Grace menyahut dengan nada lemah.
"Apa kau baik baik saja Grace? Sepertinya kau sedang sakit." Nyonya Coco memajukan tubuhnya mengamati Grace lebih dekat. Tuan Rodrigo dan Ethan otomatis mengikuti arah pandangan wanita paruh baya itu.
"Mungkin aku hanya kelelahan." Jawab Grace sekenanya, ia tak enak di perhatikan seperti ini.
"Biar Ethan mengantarmu ke dokter sweety, aku tidak ingin kau sakit. " Pinta tuan Rodrigo mulai khawatir melihat wajah Grace sedikit pucat.
"Dengan senang hati aku akan menemanimu Grace." Grace segera menggeleng menolak ajakan Ethan ataupun ayahnya.
"Aku baik baik saja, aku permisi ke toilet." Grace bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju toilet. Pandangannya tertuju pada seorang pria yang menggandeng mesra perempuan bertubuh seksi. Mereka berjalan ke arah Grace.
"Tuan Peter? " Sapa Grace memastikan tidak salah orang. Peter mengerutkan dahinya melihat siapa yang ia temui. "Apakah itu kau Grace? " Tak di sangka mimik wajah Peter seolah senang bisa bertemu Grace.
"Aku sedang menanti kabar baik darimu tuan, kau bahkan tidak merekrut ku menjadi model katalog mu." Sedikit gerakan nakal Grace memukul lengan Peter pelan, mata dan bibirnya terpaksa tersenyum ramah. "AS you wish nona, sekretaris ku akan menghubungi mu secepatnya." Sejak dulu Peter memang pria genit menurut Grace. Jadi ia bisa dengan mudah merayunya. "Aku tunggu, sebaiknya lebih cepat." Grace bahkan mengedipkan mata kirinya sebelum pergi meninggalkan Peter. Wanita seksi itu cemberut memukul lengan Peter kesal. Dia berani menggoda wanita lain saat sedang bersamanya.
"Siapa laki-laki itu? " Tatapan mata Tuan Rodrigo tajam mengamati percakapan singkat Grace dan Peter. Ethan menoleh sebentar untuk mengetahuinya.
"Dia Peter, CEO baru La collection. Sepertinya Grace membahas pekerjaan." Sebenarnya Ethan tidak mengerti tujuan Grace mengobrol dengan Peter. Pasti ada sesuatu yang Grace rencanakan.
Di toilet Grace mencuci tangan yang sudah lancang menyentuh bagian tubuh pria brengsek itu. Kali ini langkah awalnya cukup berhasil mendekati Peter.
"Awas saja kau Pete, aku akan membuatmu menangis." Seringai jahat seorang Grace muncul di pantulan cermin, tak banyak yang tahu Grace memiliki sisi lain. Pendendam dan ambisius untuk urusan membalas kejahatan seseorang.
,,,,,,,
Di kantor barunya Liam masih setia berkutat dengan layar komputer. Perusahaan kecil yang ia rintis mulai bersaing dengan merek terkenal dunia. Pakaian olahraga memang tidak akan pernah kalah saing, Liam begitu semangat merintis usahanya dari nol. Ia kembali mengingat laporan dari asistennya. Menurut Josh Tuan Rodrigo selalu mengawasi pergerakan Gracia kemanapun ia pergi. Itulah alasan mengapa Liam tak ada niat mendekati Grace saat mereka bertemu.
"Aku sangat merindukanmu Grace." Lirih Liam mengelus bingkai foto dirinya dan Grace di sebuah peluncuran busana musim panas. Acara pertama Grace menjadi seorang model.
__ADS_1
Josh yang ingin mengetuk pintu menjadi urung karena melihat wajah sendu bosnya. "Kau seharusnya bersikap dewasa Liam." Gumam Josh merutuki tindakan Liam yang pasrah saja melepas Grace.
Terjadi keributan di depan kantor karena seseorang mencoba masuk ke dalam tanpa melakukan reservasi terlebih dulu. Memaksa Josh pergi untuk memeriksanya.
"Ada apa? " Tanyanya pada seorang penjaga toko.
"Nona ini memaksa masuk, kami masih melayani tamu penting di dalam. " Penjaga perempuan itu menunduk takut menghadapi Josh.
"Nona sebaiknya kau mematuhi peraturan kami."
"Katakan pada Liam, aku Veronica menunggunya di sini. Kami perlu bertemu." Mendengar nama itu Josh sedikit mengingat merasa tak asing.
"Apakah nona,,,? " Pertanyaan Josh menggantung di udara beradu dengan tatapan tajam wanita bernama Veronica. "Ya, aku mantan tunangan Liam bosmu." Sarkas Veronica membanggakan diri di depan penjaga toko yang menghalanginya. Josh menghela nafas kasar terpaksa menuruti keinginannya untuk menemui Liam.
"Tunggu di sini sebentar nona." Pinta Josh menahan Veronica di depan pintu ruang kerja Liam. Sementara dirinya masuk ke dalam memberitahu kedatangan mantan kekasih Liam. Veronica berbinar tak sabar ingin melihat wajah tampan Liam.
"Maaf tuan, di luar ruangan ada nona Veronica mantan kekasih anda. Dia merengek meminta bertemu." Kegiatan mengetik Liam terhenti, ia mendongak menatap tajam Josh yang berdiri di hadapannya.
"Kau bilang di depan ruang kerjaku, Kenapa kau tidak segera membawanya masuk Josh? " Liam menggebrak meja menggunakan satu tangan, jelas Josh bingung kenapa Liam mau menerima kunjungan wanita itu.
"Maaf tuan, saya akan menjemputnya." "Tidak perlu, aku akan kesana sendiri." Liam segera beranjak dari tempatnya, ia berjalan tak sabar membuka pintu mendapati sosok itu masih menunduk menunggu pintu terbuka.
"Masuklah, maaf membuatmu menunggu." Liam segera menuntun Veronica ke dalam ruangan. Mereka mengobrol saling melepas rindu, bertahun-tahun terpisah karena Veronica harus Sekolah di luar negeri demi menggapai cita-citanya sebagai seorang dokter.
"Kenapa tiba-tiba datang? " Tanya Liam penasaran. Mereka memang putus secara baik baik maka dari itu hubungan Liam dan Veronica berakhir menjadi teman.
"Aku akan membuka praktek di sekitar sini, dan aku baru tahu kalau kau sudah tidak di La collection." Tutur Veronica tak pernah menghapus keceriaan di wajahnya. "Selamat atas keberhasilan mu Ve, semoga pasien tidak kabur karena kau yang selalu berisik." Tetap sama, Liam selalu menggoda Veronica yang memang Hyperactive menurutnya.
"Bagaimana kalau makan siang bersama? Di sekitar sini ada tempat yang enak." Ajak Veronica pada Liam karena waktu istirahat memang sebentar lagi.
"Sure." Liam menerimanya dengan senang hati.
Tak menyangka akan bertemu lagi dengan Grace namun partner wanita itu kini bukan lagi Ethan. Grace duduk berdekatan di sofa restoran bersama sosok pria yang sangat Liam benci.
"Ve sebaiknya kita makan di tempat lain." Suasana hati Liam berubah menjadi kacau melihat Grace tersenyum genit pada Peter. Veronica tentu mengikuti arah pandangan Liam, dia melihat interaksi biasa dari pasangan itu.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin makan di sini Liam." Tolak Veronica menarik lengan Liam masuk ke dalam. Ia bahkan sengaja memilih meja bersebelahan dengan Grace.
"Kau memang menarik Grace, aku tidak sabar bekerja sama denganmu." Mendengar kata kerja sama mata Liam memerah menahan amarah. Yang ia tahu projek La Collection selanjutnya adalah koleksi pakaian dalam wanita dan pria. Apakah Grace akan menjadi modelnya? Itu artinya Grace akan memamerkan tubuhnya ke seluruh dunia. Apa lagi bersama model pria, membayangkannya saja Liam tak bisa.
"Aku ingin ke toilet sebentar. " Grace pamit pada Peter, dia sudah tidak tahan menerima perlakuan Peter yang sejak tadi mencoba menyentuhnya. Peter melirik sebentar ke sebelah mendapati Liam menatapnya tajam.
"Haha kau masih mampu datang ke tempat mahal rupanya." Ejek Peter, Veronica hanya menggelengkan kepalanya heran kenapa ada manusia sehina Peter.
"Uangnya masih lebih banyak dari pada kau. Liam hanya kehilangan posisi CEO yang di rebut pencuri. " Serangan Veronica hanya di tanggapi sinis oleh Peter.
"Aku ke toilet dulu, kau pilih saja makanannya. Jangan pedulikan serangga di dekatmu." Titah Liam meninggalkan Veronica dengan kekesalannya terhadap Peter.
Di toilet Grace sedang memuntahkan isi perutnya. Akhir akhir ini Grace selalu mengeluarkan makanan yang ia konsumsi. Pikirannya di liputi rasa khawatir, apa dirinya mengidap anoreksia seperti kasus model model lain yang berakhir sakit parah. Demi menjaga bentuk tubuhnya mereka rela tidak mendapat nutrisi yang baik, bahkan sampai ke kekurangan gizi.
Setelah merapikan kembali penampilannya Grace keluar dari toilet. Di sana sudah ada Liam yang menunggunya sejak tadi.
"Hentikan kegilaan mu Grace ! " Liam mengecam tindakan Grace mendekati Peter padahal ia tahu bagaimana brengseknya pria itu.
"Apa peduli mu Liam? Kau tidak berhak mengatur ku. Oh ya, selamat karena kau sudah mendapat penggantiku." Kesal melihat Liam bersama wanita lain Grace sengaja menyinggung mereka. Liam menahan lengan Grace cukup kencang ketika ia ingin kembali ke mejanya.
"Menjauh dari Peter, dia sangat licik Grace." Kalaupun dirinya tidak bisa bersama Grace dan melindunginya, Liam masih peduli dan ingin Grace menjaga dirinya baik baik.
"Not your business Sir." Liam sedikit terkejut Grace menghentakkan genggaman tangannya. Grace berubah menjadi lebih tegas dan tak mudah di atur.
"Aku pergi, terserah jika kau mau tetap di sini." Grace mengambil tas slempang miliknya di atas sofa. Peter ikut berdiri karena dirinya juga sudah tidak memiliki urusan lain.
"Biar aku antar,,, " Peter menawarkan tumpangan untuk Grace mereka memang datang secara terpisah ke restoran.
"Baiklah." Grace menatap wanita yang bersama Liam sekilas dan berganti pada Liam yang baru saja tiba dari toilet.
"Bagaimana kalau mampir sebentar ke rumahku." Grace dengan berani menggandeng lengan Peter dan mengundangnya bertamu.
"Dengan senang hati nona." Tentu saja itu menjadi kesempatan bagi Peter, siapa tahu disana mereka bisa berlanjut ke langkah berikutnya.
"Sial... " Umpat Liam memukul meja menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Kau kenal wanita yang bersama Peter tadi ? " Veronica heran Liam seperti tidak suka melihat wanita itu dekat dengan Peter. "Dia wanita yang aku ceritakan tempo dulu." Meski belum pernah saling bertemu semenjak putus Liam dan Veronica beberapa kali bertukar kabar lewat email. Liam juga pernah bercerita bahwa dirinya sempat di jodohkan dengan seorang gadis namun batal.
"Dia jelas tertekan Liam, Grace mu menyembunyikan sesuatu." Tebak Veronica bisa membaca gerak gerik Grace.