
Grace memandangi sejenak pemandangan di balik jendela besar. Ia menikmati secangkir kopi panas di jam istirahat. Sejak penyambutan berakhir ia memilih mempelajari laporan perusahaan di banding bergabung bersama para pria paruh baya. Ada pria muda terselip satu diantara mereka yaitu Liam.
Semakin hari mereka seperti tertarik oleh sesuatu bernama takdir. Liam adalah ayah kandung Dylan, mau tak mau Grace harus kembali berurusan dengan pria itu. Ketika tengah melamun, ponsel Grace berdering tanda panggilan masuk.
"Halo Dy, ada apa sayang? " Tanya Grace pada penelepon.
"Momm turunlah, aku ada di bawah bersama Grand ma. Kata Grand pa aku akan mendapat hadiah jam tangan limited edition." Suara gembira Dylan begitu nyaring mengisi pendengaran. Grace terkekeh mendengarnya lalu tiba-tiba ingat Liam yang mungkin masih berada di kantor. "Dy, jangan kemana-mana tunggu disitu. Mommy akan menjemputmu." Panggilan terputus sebelum Dylan berucap, ada uncle baik dan tampan di hadapannya.
"Uncle,,, " Sapa Dylan memecah keheningan lobby kantor. Liam yang terkejut bergegas mendekat ke arah Dylan lalu menggendongnya.
"Hai Dylan, kau sedang apa di sini? " Tanya Liam tanpa menurunkan tubuh mungil Dylan.
"Jalan jalan uncle, aku bosan di rumah. Semua orang pergi, untung Grand ma mau menemaniku." Adunya pada Liam, sejak sarapan Dylan memang sempat protes karena tidak di ajak oleh Grace, tuan Rodrigo, uncle Jack, juga auntie Aby. Kalau auntie Alya Dylan mengerti karena tidak mungkin mengikutinya ke sekolah.
"Bagaimana kalau kita beli ice cream di kedai depan? " Ajak Liam, dia ingin berlama-lama dengan Dylan. Tidak biasanya Liam menyukai anak kecil, dia bahkan terbilang susah bersosialisasi dengan orang dewasa lainnya.
"Hem,,, aku harus izin dulu pada mommy. Atau dia akan memarahiku." Liam melihat sekeliling mencari keberadaan neneknya Dylan, ternyata Dylan sejak tadi sendirian. Patricia pamit ke toilet sebentar, dia yakin kalau Dylan akan baik baik saja karena Grace akan segera turun menjemput mereka.
Keluar dari lift Grace terkejut melihat Dylan di gendong Liam. Grace pun memilih bersembunyi di balik pilar di tengah ruangan.
"Dylan, boleh uncle tahu siapa nama ibumu?" Pertanyaan itu membuat Grace harap harap cemas, jangan sampai Dylan menjawabnya. Semoga Patricia cepat mengambil Dylan dari Liam.
"Namanya,,, " Ucapan Dylan menggantung, "Dylan, turun lah. Grand ma sudah selesai." Suara Patricia berhasil membuat Grace bernafas lega. Untung saja, hampir ketahuan.
"Maaf tuan, tadi saya harus ke toilet. Terima kasih sudah menjaga cucu saya." Patricia menggenggam tangan Dylan lalu berjalan ke arah lift, Liam masih berdiri mematung mengamati kepergian Dylan dan neneknya.
Liam harus segera kembali ke kantor, pekerjaannya sudah menanti. Dia biasanya jarang ikut rapat pemegang saham jika tidak terlalu penting, tapi hari ini karena ada Grace Liam sedikit bolos dari tugasnya.
__ADS_1
"Mommy,,, apa yang mommy lakukan di sini?" Dylan berhasil menemukan keberadaan Grace di balik pilar. Sayangnya Liam sudah keluar dari gedung menuju parkiran.
"Hide and seek, " Grace cuma bisa nyengir menjawab pertanyaan Dylan.
"Bi, lain kali jangan biarkan Dylan di gendong orang asing ya? " Tanpa berniat menyinggung perasaan ibu sambung nya Grace tersenyum simpul.
"Iya Grace aku mengerti, tadi kebelet." Jawab Patricia tak enak hati. Dia juga tidak mungkin mengajak Dylan ke dalam toilet wanita.
"Ayo, kita makan siang dulu. Grand pa pasti sudah menunggu." Mereka berjalan ke arah cafe. Gedung itu memang memiliki banyak fasilitas, seperti toko perhiasan, jam tangan, cafe, coffee shop dan juga kantor perusahaan.
Saat makan siang, mereka mengobrol ringan sembari menggoda Dylan. Banyak yang memperhatikan mereka, para pengunjung maupun staf perusahaan. Wajah Grace sudah cukup terkenal sebagai model naik daun, namun secara misterius menghilang begitu saja tanpa kabar. Sekarang dia terlihat bersama anak kecil, mungkinkah Grace memang mengandung dan melahirkan anak dari seorang pria?
Desas-desus menyebar dengan sangat cepat. Satu hal yang Grace takutkan yaitu Liam mengetahuinya.
Saat di dalam mobil, Liam baru ingat dompetnya tertinggal di cafe saat makan siang. Karena ia datang sendiri terpaksa Liam harus kembali ke dalam untuk mengambilnya.
"Mommy, kapan aku masuk sekolah lagi? Aku ingin punya banyak teman mom." Dylan menikmati ice cream sebagai pencuci mulut, dia kembali menagih janji sang ibu. "Nanti ya Dy, mommy belum menemukan sekolah yang cocok untukmu. " Jawab Grace sekenanya, ia sibuk mengetik sebuah pesan singkat.
Having a nice lunch, with my lovely son. How about you sir?
Langkah Liam terhenti di ambang pintu masuk Cafe, ia membaca pesan lalu mulai mengetik,
Mengambil dompet yang tertinggal. Have fun for you.
Liam pun kembali berjalan memasuki cafe.
"Dy, mommy mu mungkin akan sibuk, jadi biarkan grand pa dan grand ma yang mencarikan sekolah untukmu. " Tuan Rodrigo ikut memberi pengertian pada Dylan.
__ADS_1
"Baiklah, mommy aku ingin mengundang uncle baik ke rumah tapi aku tidak tahu nama dan nomer telponnya." Lagi-lagi Dylan membahas soal Liam, Grace memutar bola matanya malas.
"Siapa maksudnya Grace? " Tanya grand ma, tuan Rodrigo dan Grace saling bertatap mata tak ingin menjawab di depan Dylan. "Yang tadi menggendong Dylan Bi." Grace masih nyaman memanggil ibu sambungnya dengan sebutan bibi. Rasanya canggung harus menyebut mommy atau semacamnya. "Mommy, gigiku sakit... " Tiba-tiba Dylan meringis mengeluh kesakitan. Akhir akhir ini dia memang sering merasa ngilu pada giginya.
Grace mendekatkan kursinya lalu mengusap usap pipi Dylan lembut.
"Sudah mommy bilang, jangan makan yang manis manis Dy. Sekarang kau tahu kan akibatnya? " Walau menegur namun mereka tahu Grace sangat khawatir pada Dylan.
Sayangnya sejak tadi interaksi ibu dan anak itu disaksikan oleh sepasang mata yang mulai memerah dan mengembun. Kedua tangannya mengepal mengetahui sesuatu mengejutkan. Jadi Dylan adalah anak Grace? Tapi siapa ayahnya, Liam begitu penasaran hingga ingin menghampiri mereka di sudut cafe. Tapi jelas Grace akan tutup mulut tanpa mau bercerita padanya. Lebih baik Liam pergi dan mencari tahu sendiri kebenarannya.
sesampainya di mobil Liam membanting pintu kasar lalu memukuli stir cukup lama. dia bahkan membiarkan dompetnya tertinggal di cafe. Hatinya hancur mengingat Grace sudah memiliki anak dari pria lain, jadi Jack pria itu ayah dari Dylan? bocah yang sangat Liam sukai, wanita yang selama ini masih menguasai hati Liam malah memilih pria lain di banding dirinya.
"halo Josh,,, " Liam menelpon orang kepercayaannya. "kau sudah menemukan sesuatu? " tanya Liam tak sabar. Mendengar jawaban Josh di sebrang sana Liam segera mengendarai mobilnya meninggalkan perusahaan Tuan Rodrigo.
Di ruang kerjanya Liam menunggu kedatangan Josh dengan gelisah. pria paruh baya itu harus menyelesaikan beberapa pekerjaan terlebih dulu sebelum melapor. pintu terdengar di ketuk, Josh muncul dari balik pintu.
"langsung saja Josh." Perintah Liam, Josh memberi Liam sebuah map berisi beberapa informasi mengenai kehidupan Grace. di sana juga terdapat beberapa foto sebagai bukti penyelidikan.
"Saya akan memulai dari awal, seminggu setelah di rawat di rumah sakit nona Grace pindah ke kota Piana. tuan Rodrigo sempat mengecoh kita dengan memberi laporan palsu penerbangan ke Istanbul. tiga puluh minggu kemudian nona Grace tercatat melahirkan di klinik pusat kota milik tuan Jack. tidak ada data pribadi tercantum siapa ayah dari putranya. Jack dan Abigail akan menikah di hotel milik anda tuan. Jack merupakan adik dari nyonya Patricia istri tersembunyi tuan Rodrigo. " penjelasan Josh berhenti sesaat, dia membiarkan tuannya menyaring semua informasi dengan baik. mata dan tangan Liam fokus mengamati foto Grace yang cantik meski dalam keadaan perut besar. di sana juga ada foto Grace menggendong baby Dylan saat mereka mengunjungi toko pakaian khusus bayi.
"Jadi siapa ayah dari Dylan? Apa Grace sudah bertemu laki-laki lain selain diriku? " Tanyanya pada Josh meminta penjelasan selanjutnya. "Maaf tuan, menurut informan kita di Piana nona Grace tidak pernah dekat dengan pria mana pun kecuali Jack yang tak lain pamannya sendiri. Dan,,, " Josh kembali menjeda penyampaiannya membuat Liam menatap tajam ke arahnya.
"Apa anda yakin kalau nona Grace benar-benar kehilangan janinnya saat itu? Waktu kelahiran putra nona Grace sangat ideal dengan kondisi nona Grace mengalami pendarahan. "
"Maksudmu Dylan anakku? Tapi kenapa, kenapa mereka tega membohongi ku Josh?" Raut kekecewaan begitu jelas di wajah Liam, bahkan tanpa bisa ia tahan air matanya jatuh begitu saja.
"Maaf tuan, anak buahku masih mencari keterangan dari dokter yang menangani nona Grace dulu. coba tuan pikirkan dulu, apa alasan nona Grace melakukan ini semua?"
__ADS_1
mendapat pertanyaan dari asisten pribadinya Liam kembali mengingat hal apa saja yang mereka lalui sejak dulu sampai detik ini. ya, Liam tidak memiliki niat menikahi Grace, Liam juga sering menyakitinya lewat ucapan, parahnya Liam membuat kabar pertunangan palsunya dengan Veronica. Frustasi, satu kata yang sedang Liam rasakan saat ini. tangannya membuang semua benda yang ada di atas meja kerja. mengusap wajahnya kasar dengan dada turun naik menahan emosi.
"aku ingin segera memastikan semuanya. aku tidak Terima Grace menyembunyikan anakku selama ini. siapkan orang orang aku akan mengambil Dylan sekarang juga." teriak Liam membabi buta melampiaskan kemarahannya. Josh hanya bisa menuruti perintah Liam walau hati kecil nya khawatir tuannya akan bertindak gegabah. bisa saja Grace semakin membenci Liam jika dia mengambil Dylan secara paksa.