
Ketika Alya akan ke cafetaria langkahnya terhenti, di sana ada Hellen bersama Cindy dan juga temannya. Mendadak Alya enggan bertemu Hellen setelah apa yang ia lihat beberapa hari yang lalu. Apa lagi sekarang Hellen malah terlihat akrab dengan Cindy yang pernah merundung nya.
Alya berbalik dan malah bertabrakan dengan seseorang. Keningnya membentur dada bidang di hadapannya.
"Are you okay? " Tanya nya mengusap kening Alya.
"Christian? Yah, aku tidak apa-apa." Jawab Alya memalingkan wajahnya, mendadak pipinya terasa panas bertemu Christian lagi.
"We need to talk Al... " Lirih Christian, dia menarik lembut tangan Alya menjauh dari kerumunan.
Keduanya berhenti di halaman depan kampus, sepertinya Christian akan pergi setelah bicara dengan Alya. Daniel juga sudah berdiri di samping mobil.
"Kembalilah ke flat ku, kalau kau tidak nyaman aku tidak akan pulang ke sana." Christian memegang kedua bahu Alya berusaha meyakinkan kembali keputusannya.
"Tidak Chris, aku tetap akan tinggal sendiri. Tapi kau bisa menemui ku kapanpun." Seulas senyum Alya berikan pada Christian. Membuat pria itu menarik Alya masuk ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu Al, jangan pergi seperti dulu lagi. " Ungkapan perasaan Christian membuat Alya merasa nyaman berada di sisinya. Ia pun membalas pelukan Christian.
"Chris, kau harus tahu sesuatu tentangku." Seru Alya melepaskan pelukan keduanya. Christian memandangi wajah teduh Alya, ia menunggu kelanjutan hubungan mereka dari mulutnya.
"Banyak yang tidak kau ketahui Chris, aku memiliki alasan kenapa tidak mengharapkan suatu ikatan pasti." Lanjut Alya. Dia tidak peduli beberapa pasang mata memperhatikan interaksi diantara dirinya dan juga Christian.
"Kita bicarakan ini nanti Al. Pulanglah ke rumahmu setelah kuliah selesai. Aku akan datang, jadi jangan pergi kemana-mana." Perintah Christian pada Alya. Ia mengerti Christian pasti sedang terburu-buru sehingga menyela perkataannya.
"Baiklah, aku juga masih ada kelas terakhir." Alya akhirnya setuju mereka akan bertemu kembali di flat milik Alya. Christian mengecup kening Alya sebelum pergi menuju mobilnya.
Bagi Alya lebih baik melakukan **** dengan seseorang yang ia kenal di banding orang asing. Christian kakak dari temannya Theo, tapi Alya merasa reaksi hatinya berbeda ketika berdekatan dengan mereka. Theo juga laki-laki baik, sayangnya Alya hanya bisa menjadikannya teman. Namun bersama Christian, Alya seolah ingin mendapat pengalaman baru yaitu melakukan first ****. Alya sudah di butakan oleh rasa penasaran nya. Tentu daddy akan menghukumnya jika tahu Alya memiliki kehidupan bebas di sini.
Alya masuk kembali setelah mobil Christian keluar dari gerbang kampus. Sialnya adegan tadi malah di abadikan oleh orang suruhan tuan Rodrigo. Semakin cemas saja tuannya di buat oleh putri bungsunya.
"Datanglah segera tuan, aku takut nona Alya akan semakin terjerat oleh tuan Christian. " Ucap pria yang usianya sebaya dengan Liam menantunya.
"Terus awasi mereka, jangan sampai Christian dan Alya hanya berdua saja." Titah tuan Rodrigo.
Di perjalanan menuju kantor, Christian tak hentinya tersenyum lebar membuat Daniel menggelengkan kepalanya.
"Kau ini Chris, seperti baru pertama kali jatuh cinta saja. Menyebalkan melihatmu." Mendengar Daniel menggerutu Christian malah menepak paha sahabatnya.
"Jelas berbeda Niel, kau kan tahu mantanku hanya Viona. Aku pacaran dengannya karena ingin mencoba mencari pasangan hidup. Kalau Alya, dia berhasil membuatku merasakan apa itu cinta. " Mata Christian terpejam membayangkan wajah cantik Alya di acara pelelangan lukisan. Dan juga ciuman panas mereka.
"Lalu apa langkahmu selanjutnya Chris?" Pertanyaan Daniel menyadarkan kembali nasib kisah cintanya dengan Alya.
__ADS_1
"Akan ku buat Alya hamil anakku, agar dia mau menjalani pernikahan. Lagi pula meski sudah menikah dan hamil bahkan melahirkan Alya masih bisa menjalani kehidupan pribadinya. " Seolah menggampangkan, Christian bicara begitu tenang tanpa beban. Daniel berdecak kesal mengetahui pemikiran pendek Christian.
"Tidak semudah yang kau bayangkan Chris, coba kau katakan itu pada Alya. Sepertinya Alya memiliki sifat keras kepala." Lagi-lagi Daniel mematahkan semangat Christian.
Rasa takut penolakan itu juga selalu menghantui Christian. Oleh sebab itu dia menahan diri untuk tidak menemui Alya.
"Christian bodoh sekali, aku hanya memanfaatkan dirinya tapi dia tidak sadar akan hal itu." Alya berjalan masuk ke dalam toilet wanita, ia membasuh wajahnya mencari kesegaran.
Kemudian tangan Alya sibuk mencari sesuatu di laman pencarian. Ia harus membeli obat kontrasepsi secepat mungkin. Jika sewaktu-waktu mereka melakukan hubungan ranjang Alya bisa mencegah kehamilan. Setelah mendapatkan resepnya Alya kembali ke kelas untuk mata kuliah terakhir.
***
"Daniel, bilang pada Christian dia akan aku jodohkan dengan Sera. Bulan depan pertunangan mereka akan di laksanakan." Teriak nyonya Aline di depan ruang kerja Christian anaknya. Bahkan dia melarang ibu kandungnya masuk, kejam bukan?
"Baik nyonya, aku akan menyampaikannya." Daniel mengangguk patuh, padahal Christian bisa mendengarnya dengan jelas.
"Niel, maafkan bibi tapi bisakah kau meyakinkan Christian kali ini? Aku sudah lelah membujuknya. Dia sudah kelewat matang untuk menunda pernikahannya." Perkataan Aline memang sangat benar, di usianya Christian masih saja setia melajang. Padahal riwayat keluarganya selalu menikah muda. Seprti nyonya Aline dan Tuan Oliver contohnya, mereka menikah di usia dua puluh karena menjalani perjodohan.
"Saya sudah mengingatkan nyonya, mungkin Christian masih mempertimbangkan beberapa hal mengenai pekerjaan." Kilah Daniel, Christian sudah me wanti-wanti agar tidak menyebutkan soal Alya.
"Baiklah, Terima kasih Niel. Aku kembali ke kamar dulu, mungkin minggu depan suami dan anak keduaku akan berkunjung. Tolong siapkan semaunya. " Wah masalah baru bertambah lagi. Tadi soal pertunangan, sekarang rencana kedatangan Theodor Oliver adiknya Christian. Daniel pasti akan di buat sibuk oleh keluarga bosnya.
Setelah nyonya Aline keluar dari lantai itu, Daniel masuk ke dalam dengan tatapan tajamnya menusuk ke arah Christian. Pria itu terlihat santai di kursi kebesaran nya.
"Apa yang harus aku khawatirkan Niel ? Aku akan meyakinkan Alya ketika berhasil memenuhi keinginannya. Satu bulan cukup bukan untuk mengadu nasib kami? " Membayangkannya saja sudah berhasil membuat sesuatu di balik celananya menegang. Alya meski tubuhnya tergolong mungil di bandingkan dengan dirinya, ia memiliki bentuk tubuh ideal. Rasanya Christian ingin kembali menjelajahi gunung kembarnya.
"Terserah kau saja Chris, aku hanya mengingatkanmu. Jangan bermain api atau kau akan terbakar." Peringatan Daniel tak ia hiraukan. Christian malah berdiri, ia ingin segera pulang kerja demi menemui Alya.
"Selesaikan sisa pekerjaan ku Niel, aku masih harus melanjutkan pembicaraan kami." Christian keluar dari ruang kerjanya.
Di kamarnya Alya baru selesai membersihkan diri setelah lelah menjalani aktifitasnya di kampus. Ia memesan sekotak pizza untuk makan malam bersama Christian. Petugas pengantar makanan terperangah ketika pintu terbuka, menampilkan wajah polos Alya yang begitu segar setelah mandi.
"Sepuluh dolar nona. " Alya memberi uang dan menerima kotak pizza pesanannya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alya langsung menutup pintu sembarangan. Hingga ia tak sadar pintunya tidak tertutup sempurna.
"Sombong sekali dia. " Umpat kurir kesal melihat sikap Alya. Seringai menakutkan muncul kala ia sadar pintu flat Alya terbuka. Dengan langkah pelan dia masuk ke dalam,
Alya yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya tidak sadar kehadiran seseorang. Cek lek, pintu di kunci olehnya dan berhasil mengagetkan Alya.
"Kau, mau apa kau? Jangan berani macam-macam atau aku akan teriak." Alya mundur beberapa langkah ketika pria bertubuh kering itu mulai mendekat ke arahnya.
"Aku penasaran, sehebat apa kau hingga bersikap angkuh padaku. Jangankan memberi tip, ucapan Terima kasih saja tidak."
__ADS_1
Deg,,,
Perkataannya berhasil menampar Alya. Sebenarnya dia tidak sadar sudah bersikap buruk, mungkin ia terlalu lelah dan memiliki beban pikiran.
"Maaf, aku minta maaf. Tolong jangan berbuat nekad. " Tangan Alya mengulur ke depan menahan laju pria yang sudah di tutupi kabut amarah.
Grab,,,
Alya berhasil di tarik oleh kurir tersebut. Sekuat tenaga Alya meronta melepaskan diri, dengan berani ia menendang pusaka miliknya. Jelas kurir itu meringis merasakan sakit amat dalam.
"Sialan kau jalaang. " Teriaknya kesal. Alya bergegas berlari menuju pintu, sayangnya kunci itu malah berada di tangan pria yang sudah berjalan kembali menghampiri nya.
"Tolong,,, " Alya menggedor pintu dengan sangat keras berharap seseorang mendengar dan mau membantu menyelamatkan nya.
"Argh,, " Terlalu fokus berteriak, Alya tidak sadar kini rambutnya sudah di tarik oleh pria itu.
Sungguh sial nasib Alya, berniat merasakan pengalaman pertama bersama Christian dia malah terjebak oleh pria asing yang sedang menyeret nya ke dalam kamar.
"Christian,,, " Teriak Alya sekencang mungkin, semoga Tuhan masih berpihak padanya. Untuk pertama kalinya Alya menangis karena ketakutan.
"Alya,,, " baru saja tangannya akan mengetuk pintu, Christian mendengar suara Alya seperti menjerit.
"Al buka pintunya! ini aku Christian. " tangannya sibuk memutar handle dan menggedor pintu secara bersamaan.
"Christian help me please,,, " Alya masih berusaha memberontak lari dari jeratan pria yang merengkuh nya dari belakang.
tak mau terjadi sesuatu buruk menimpa Alya, Christian mencoba mendobrak pintu.
satu kali, belum berhasil,
kedua kali, sedikit rusak hingga ketiga kalinya barulah pintu bisa terbuka.
"brengsek, lepaskan kekasihku! " Maki Christian menuding wajah kurir pizza. langkah tegap Christian menuju Alya dan menariknya paksa menempatkannya di belakang.
secara brutal Christian menghajar pria yang memang lemah fisik itu. memukul wajahnya dan juga meninju perutnya . hingga ketika Christian berniat memukul kepalanya menggunakan vas bunga, Alya menarik tangan Christian menjauh darinya.
"enough Chris. aku baik-baik saja, tolong bawa aku pergi dari sini. " Pinta Alya di sela isak tangisnya. sebelum menarik Alya keluar Christian menelepon Daniel untuk mengurus pria pengganggu Alya.
mau tidak mau Alya pun di bawa menuju flat miliknya. karena tidak mungkin Christian mengajaknya ke kamar hotel, masih ada Aline ibunya di sana.
di perjalanan Alya masih sedikit terisak, ia begitu takut mengingat kejadian cepat tadi. Christian berusaha menenangkan Alya dengan menggenggam tangannya yang masih gemetar.
__ADS_1
"tenanglah Al, kau aman sekarang. " lirih Christian. ia juga takut Alya sempat di lecehkan, melihat keadaannya membuat hati Christian meringis.