My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
penjelasan Christian


__ADS_3

Setibanya Christian di kamar Theo, dia mengunci pintu kamar agar tidak ada yang mengganggu mereka. Terlihat Theo sedang menghisap rokoknya di sofa sudut kamar. Tanpa aba-aba Christian menarik kaos Theo, memukul wajahnya hingga darah segar muncul di sudut bibir adiknya.


"Brengsek kau Theodor. Beraninya kau menyakiti wanitaku! " Teriak Christian memarahi Theo yang malah tersenyum sinis.


"Wanitamu? Kau serakah Christian, wanitamu adalah Sera. Sementara Alya, dia adalah seseorang yang kau rebut dariku." Tak mau kalah, Theo membentak kakaknya.


Sebelum kehadiran Alya di hidup Christian, mereka memiliki hubungan yang baik dan solid. Theo bahkan tidak menyangka Christian kakak yang sangat ia kagum dan hormati malah menusuknya di belakang.


"Theo, perasaan itu tidak bisa di atur dan di paksa. Kami sama-sama nyaman sebagai pria dan wanita. Lepaskan Alya Theo, biarkan dia bebas. Alya bukan barang yang harus menjadi milikmu. " Pinta Christian bersabar menjelaskannya.


"Lalu kau akan bersama dengannya di atas penderitaan ku? " Serang Theo.


"Tidak. Aku bahkan membiarkan Alya sendiri dengan pilihannya. Kami sepakat untuk menghindari sebuah ikatan yang selalu ia takuti. " Christian mengusap wajahnya kasar. Dia sendiri masih berjuang mengubah keputusan Alya.


"Tapi kau mengkhianati Sera Chris. Kau menjadikan Alya buruk dimata kami. "


"Aku tahu. Dan aku selalu menjaga jarak darinya, Theo Alya sangat sulit membuka hati untuk siapapun. Bahkan seorang teman sekalipun. Dia hidup sendiri selama ini, mengertilah perasaannya. Kau masih bisa menyayangi dan menjaganya sebagai seorang teman. " Mendengar penjelasan Christian mengenai Alya, Theo teringat ucapan Alya yang mengatakan dirinya juga mengalami hal sulit.


Theo luluh, dia menghentikan argumennya. Dia salah dan menyesal sudah menyakiti Alya. Seharusnya Theo tidak memperlakukan Alya seperti itu.


"Aku salah kak, aku ingin meminta maaf padanya. Aku berjanji tidak akan mengganggu Alya lagi" Lirih Theo, Christian mengajaknya berpelukan.


"Jangan sekarang, mungkin setelah Alya tenang. Dia pasti masih terkejut. " Saran Christian membuat Theo mengangguk patuh.


"Thanks Christian, kau mau mendengarkan ku. " Theo membalas pelukan sang kakak.


Tanpa mereka tahu, Oliver dan Aline mendengarkan percakapan keduanya sejak tadi. Keduanya terkejut mendengar kedekatan Christian dan Alya selama ini di belakang mereka.


"Jadi Christian menyukai Alya ? Lalu kenapa dia malah bertunangan dengan Sera? " Sungguh Aline tidak mengerti jalan pikiran Christian.


"Selagi hubungan mereka tidak putus, biarkan saja mom. Ingat jangan memaksa Christian atau kita akan mengulangi kesalahan yang dulu. " Oliver menasehati istrinya. Aline mengangguk samar menurutinya.


***


Kediaman Rodrigo begitu ramai, selain keluarga Grace, Zen dan Samantha, pasangan Abigail-Jack juga berkunjung bersama putri kecilnya yang berusia hampir empat bulan. Mereka tengah menyantap makan malam yang hangat. Berbagai jenis hidangan tersaji di atas meja makan.


"Jasmine kau lucu sekali. " Alya mencubit pelan pipi putri pamannya di gendongan Abigail.


"Aku jadi tidak sabar menggendong bayi perempuan ku." Grace mengusap lembut perut besarnya. Diikuti Liam melakukan hal yang sama.


"Kalian ini, jangan membuat Alya iri. Bisa-bisa dia kebelet nikah hanya demi mendapat bayi lucu. " Jack terkekeh, menggelengkan kepalanya melihat tingkah Grace dan Abigail.


Alya tersedak saliva nya sendiri, Jack yang tidak tahu apa-apa malah lanjut menggodanya.


"Kau tidak mau mengenalkan kekasihmu pada kami Al? Siapa tahu kalian akan menikah muda. " Lanjut Jack, membuat Alya sedikit tidak nyaman.

__ADS_1


"Jack, berhenti menggoda Alya. " Perintah Patricia dengan mimik muka datar. Seakan Jack memang sangat salah.


"Sorry, Al. " Ucap Jack menutup rapat bibirnya.


"Aku ke kamar dulu. " Sejak menikmati sesuap dua suap makanannya, Alya menahan gejolak di dalam perutnya. Mereka hanya mengangguk tanpa mengerti apa yang sedang Alya alami.


Setibanya di kamar lantai bawah, Alya memuntahkan isi perutnya kedalam closet. Patricia yang khawatir menyusul Alya. Ia merasa sedih melihat anaknya mengalami hal itu, disaat Alya menolak atas kehadiran malaikat kecil di dalam perutnya.


Naluri seorang ibu, Patricia memijat tengkuk dan mengusap punggung Alya bergantian. Bahkan semua yang Alya makan akan keluar kembali setelah beberapa waktu.


"Al, apa tidak sebaiknya kau pergi ke dokter? Agar mendapat vitamin untukmu dan juga janin mu. " Bila wanita hamil pada umumnya memeriksakan diri di awal kehamilan, Alya menolak keras meskipun sang ibu sudah membujuknya berulang kali.


"No mom, pergi ke sana malah membuatku semakin ingin menghilangkan nya." Sejahat-jahat nya pikiran Alya dia masih memiliki perasaan, tidak tega harus membunuh calon anaknya.


"But you look so awful Al. Mommy dan daddy mengkhawatirkan mu. " Patricia mengajak Alya ke tempat tidur. Berusaha memberinya kenyamanan, menguatkan Alya bahwa dia tidaklah sendiri.


"Mom, bisakah kau mengusap perutku. Aku merasa tidak nyaman di sana." Alya meminta hal yang tidak pernah ia lakukan sejak menginjak usia tujuh tahun.


"Berbaringlah, mommy akan melakukannya." Setelah mencari posisi nyaman, tangan Patricia mulai mengusap perut rata Alya yang tengah memiringkan badannya ke sebelah kiri.


"Ini mungkin sulit Al, tapi mommy yakin kau akan mampu melewati nya. Lihatlah kakakmu, kalian anak-anak Tuan Rodrigo yang hebat." Tersenyum, Alya merasa terhibur mendengar perkataan Patricia.


"Apa kau kecewa mom? Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik. " Mata Alya mulai memanas, pandangannya sedikit kabur akibat air mata yang tertahan.


"Tidak. Mommy hanya takut kau terluka itu saja. " Jawab Patricia dari lubuk hatinya yang terdalam.


Merasa nyaman, Alya tertidur pulas sekitar lima belas menit Patricia menemaninya. Ponsel Alya di atas Nakas bergetar, mendapat panggilan dari kontak bernama Christian.


Tak ingin membangunkan sang putri, Patricia membawa ponsel itu bersamanya keluar kamar.


"Halo,,, " Sapa Christian ketika Patricia malah menerima panggilannya. Dada Patricia bergemuruh mendengar suara pria yang menanam benih di rahim anaknya.


"Ini aku, Alya sedang beristirahat." Balas Patricia.


"Oh bibi Pat. Aku dan Alya berjanji bertemu di suatu tempat, aku pikir dia akan terlambat. Baiklah kalau memang Alya sudah tidur, salam kan padanya aku menelepon. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah bibi dan uncle. " Panjang lebar Christian berbicara, Patricia hanya bergumam lalu berkata,


"Tolong jangan ganggu Alya sementara waktu. Biarkan dia tenang." Pinta Patricia penuh dengan nada memohon.


"Aku minta maaf bibi, seharusnya tidak menyuruh Alya menemui Theo. Ini semua salahku. " Mendengar hal itu semakin membuat Patricia tidak suka pada Christian.


"Jangan menarik putriku kedalam hubungan kalian berdua. Kau dan Theo hanya menghambat kehidupan Alya. " Klik. Patricia memutus sambungan setelah puas memperingati Christian.


"Apa yang kau bicarakan Pat? " Suara Rodrigo mengagetkan Patricia. Samar-samar suaminya mendengar apa yang ia katakan pada seseorang di telepon.


"Semuanya salahku Igo. Seharusnya aku tidak menyarankan Alya di jaga oleh Christian. Aku sendiri yang melemparkan Alya ke jurang." Terisak menangis, Patricia menyesali tindakannya dulu. Rodrigo yang tidak tega hanya bisa merangkul pundaknya, memeluk sang istri.

__ADS_1


"Semua terjadi atas kehendak Tuhan Patricia. Jagalah Alya baik-baik."


"Apa yang terjadi pada Alya dadd? "


Mendengar dengan jelas percakapan orang tuanya, namun Grace masih belum sepenuhnya mengerti.


"Tidak ada Grace, Alya sedang sakit. Daddy berniat memindahkannya ke kampus lain. Agar Patricia bisa mengawasinya." Tak mau Grace terguncang di saat hamil tua, mereka sepakat merahasiakan kehamilan Alya dari siapapun.


"Cepat bawa adikku ke rumah sakit kalau memang Alya sedang sakit. Kalian jangan hanya memperhatikan ku, Alya juga anak daddy." Merasa kesal, selama ini Grace sadar. Alya adiknya tersisihkan dari perhatian sang daddy. Mungkin karena Patricia tidak ingin ada konflik, dia hanya bisa diam.


"Kau benar Grace. Selama ini daddy memang kurang memperhatikan nya." Aku Rodrigo, bukan hanya dirinya semua orang pun merasakan hal yang sama. Begitupula Patricia. Terlalu takut menegur Rodrigo, ia memilih sabar dan malah membentuk Alya menjadi pribadi keras kepala.


Masih di coffee shop sebrang rumah sakit, Christian menghela nafas kecewa Alya tidak datang. Dia bahkan mendapat penolakan dari ibunya.


"Kenapa Al, apa kau menyerah denganku? Kau bahkan menceritakan kisah rahasia kita pada ibumu. Argh,,, " Christian menggebrak meja, membuat pengunjung lain kaget menatap ke arahnya.


Pulang ke rumah, dia di sambut tatapan tajam sang ayah juga mommy. Apa lagi sekarang, batin Christian mengumpat.


"Ikut daddy ke ruang kerja. " Perintah Oliver pada anak pertamanya. Christian hanya menuruti menyusul langkah tegap ayahnya.


Tanpa mempersilakan Christian duduk, Oliver berbalik mengintimidasinya.


"Apa benar yang Sera katakan? " Todong Oliver menyerang langsung.


"Yang mana dadd? Jelaskan dulu. " Pinta Christian, belum mengerti arah pembicaraan Oliver.


"Kau bermain di belakang Sera dengan Alya? Kau bahkan tidak memikirkan perasaan adikmu. Dia hampir gila karenanya." Telunjuk Oliver menuding wajah Christian dari jarak lima puluh senti meter.


"Aku memang mencintai Alya, aku rasa begitupun dengan Alya. Benar, kami berhubungan secara diam-diam. Tapi Alya tidak pernah menuntut ku menjadi miliknya. Dia malah memintaku memperlakukan Sera dengan baik. Aku berhenti berjuang untuk nya demi Theo. Dan Alya memiliki prinsip tidak ingin menikah di usia muda. Lalu apa lagi yang kalian khawatirkan? Hubungan kami tidak akan berhasil. " Terlihat jelas gurat kekecewaan di mata Christian.


Oliver tahu betul sifat anak-anaknya. Jika mereka sudah menyayangi seseorang maka sulit untuk melepaskannya begitu saja.


"Daddy tahu ini sulit untukmu Christian. Tapi jangan memaksakan hubungan mu dengan Sera, kau hanya akan menyakiti nya. Lepaskan Chris, jangan memperumit keadaan. " Sebagai ayah yang baik yang pernah melakukan sebuah kesalahan besar, Oliver hanya bisa menasehati Christian agar tidak menyesali langkahnya.


"Aku tahu dadd kapan saatnya berhenti. Aku mempertimbangkan alasanku untuk melanjutkan atau memutuskannya." Christian menanggapi kegelisahan Oliver dengan santai.


"Baiklah, kau sudah dewasa. Aku yakin kau bisa mengatasinya. " Merekapun saling berpelukan, memecahkan masalah secara sabar ternyata lebih menenangkan dari pada tindakan yang merugikan mereka.


"Apa Theo sudah tahu? " Mereka berjalan keluar bersama.


"Sepertinya Theo menempatkan seseorang untuk mengawasi Alya, siapa saja yang dekat dengannya. " Seulas senyum tipis terbit di wajah Christian mengingat tingkah konyol Theo.


"Ajaklah Sera berkeliling, benar apa kata Alya. Kau harus mencoba memberinya kesempatan. Kalau memang sulit di lanjutkan daddy akan bicara baik-baik pada orang tuanya. " Melihat keakraban ayah dan anak membuat Aline tersenyum menyambut mereka di meja makan.


"Baiklah dadd. Oh ya, besok aku ingin berkunjung ke kediaman tuan Rodrigo. Membicarakan beberapa rencana bisnis yang akan terjalin selama aku disini. " Mendudukkan pantatnya di kursi, Christian memberitahu jadwalnya.

__ADS_1


"Ajak Sera Chris, agar dia tidak merasa bosan." Saran nyonya Aline, Sera berbinar ada yang membelanya.


"Ok, asal kau bisa menjaga sikap. " Syarat dari Christian sangat mudah baginya. Mereka pun menikmati makan malam yang sangat terlambat.


__ADS_2