My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 34


__ADS_3

Kegiatan sehari hari Grace begitu menyenangkan. Memandikan Dylan, memasak makanan sehat untuknya lalu menemani pergi ke sekolah. Saat ini keluarga mereka memang masih terpecah belah, dirinya dan Dylan tinggal di Le Havre, ibu dan adik sambung masih di Piana bersama Jack. Tuan Rodrigo akhirnya memberi perintah untuk berkumpul saja di rumahnya. Atas beberapa alasan menjadi pertimbangan anggota keluarga pun setuju. Mungkin sudah saatnya mereka bersama sebagai keluarga utuh.


Grace masih sibuk menyiapkan pakaian Dylan juga miliknya. Mereka akan berangkat ke Paris besok pagi. Apartemen ini harus kosong tanpa penghuni, namun Grace sudah menghubungi agen properti untuk mengiklankan penyewaan.


"Mommy, may I ask one question to you?" Dylan keluar dari kamarnya menghampiri Grace di ruang televisi.


"Yes Dy,,, " Jawab Grace tanpa memandang wajah kusut Dylan.


"Kau berjanji akan menghadiri acara kelulusan ku di playgroup. Tapi miss Anna meminta murid-murid tampil bersama para daddy. Lalu siapa yang akan mendampingi ku mom? " Kegiatan Grace terhenti seketika mendengar pertanyaan Dylan. Tak terasa hari ini akan terjadi, dimana Dylan mulai menanyakan keberadaan ayah kandungnya. Grace berbalik menatap Dylan dan betapa terkejutnya ia melihat anaknya menangis tanpa suara. Grace segera memeluk nya berusaha memberi ketenangan.


"Dy, maafkan mommy sayang." Sesakit ini kah melihat buah hatinya merindukan sosok sang ayah? Meski Dylan mendapat kasih sayang berlimpah dari keluarganya jelas ia masih membutuhkan kehadiran seorang ayah.


"No mom, kenapa mommy meminta maaf? Bukankah permintaan maaf di lakukan orang yang salah, memang mommy menyakitiku?" Dylan melepaskan pelukannya kemudian tangan mungilnya mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipi sang ibu.


"Ya, mommy memang jahat sama kamu Dy. Mommy belum bisa mempertemukan mu dengan daddy. Tapi Mommy janji suatu saat kalian pasti akan bertemu, Dy mau kan menunggu sebentar lagi? " Mencoba memberi pengertian pada Dylan, Grace menghujani Dylan ciuman mulai dari kening, kedua matanya, hidung lalu memeluk nya erat.


"Jika daddy memang sudah menyakiti mommy, aku rela tidak bertemu dia. Karena aku hanya ingin mommy, mommy segalanya untuk ku." Dylan mengusap usap punggung Grace, bukankah peran mereka sangat terbalik? Seharusnya Grace yang menenangkan Dylan, ini malah Dylan yang mampu membuat Grace tenang. Anak pintar Liam dan Grace memang ajaib.


Malam itu mereka tidur bersama saling bertatap wajah. Biasanya Dylan akan tidur terpisah dengan ibunya. Khusus malam ini ia memohon untuk mendengar cerita tentang ayahnya.


"Apa yang mommy sukai dari daddy dulu?" Ah Dylan, dia bahkan menyisipkan kata dulu pada pertanyaannya. Dia pasti mengerti sekarang hubungan orang tuanya tidak baik.


"Hem,,, dia sangat tegas, tapi hangat pada mommy. Daddy mu selalu berdiri melindungi mommy dari orang jahat. Kadang mulut daddy bertolak belakang dengan isi hatinya." Dylan menyunggingkan senyum manisnya, dia memiliki pipi chubby dengan mata sipitnya. Mungkin mengikuti gen Liam, warna kulit Dylan juga putih tak seperti Grace terbilang eksotis.


"Apa kalian saling cinta dulu ? " Lagi lagi Grace di buat tercekat oleh pertanyaan menohok Dylan. Semua kisah mereka memang terjadi di masa lalu, sekarang Grace dan Liam memiliki kehidupan masing-masing.


"Sudah malam Dy, sebaiknya kita tidur agar tidak terlambat." Grace menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Dylan. Tanpa banyak menuntut Dylan mengerti mungkin ibunya belum siap bercerita banyak. Sebelum memejamkan mata Grace dan Dylan saling mengecup kening sebagai ucapan selamat malam.


Tengah malam Grace merasa tenggorokan nya kering akibat menangis cukup lama. Ia memilih ke dapur untuk mengambil air secara diam-diam agar Dylan tidak terganggu. Saat duduk di meja makan ponsel Grace bergetar tanda pesan masuk.

__ADS_1


"Mrs. Lim aku insomnia." Kata tuan diktator. Grace tersenyum, mereka seperti memiliki kontak batin.


"Aku juga, " Balas Grace singkat.


"Bisakah kita bertemu? " Setelah sekian lama berbalas chat baru kali ini tuan diktator mengajaknya bertemu. Grace takut lawan bicaranya tidak sesuai ekspektasi. Bisa saja dia seorang paruh baya, atau remaja tanggung seusia Alya. Membayangkannya saja membuat Grace bergidik ngeri.


"Next time maybe, sibuk pindahan." Grace membalas tanpa ingin menyinggung perasaannya.


"Really? Let me know Your new adress." Permintaan tuan Diktator sudah melewati batas kesepakatan, mereka berjanji untuk tidak mengetahui keberadaan masing-masing.


"You're too much sir, gonna sleep soon." Grace mengakhiri percakapan mereka.


,,,,,,,


Grace dan Dylan kini sedang dalam perjalanan. Menggunakan mobil mereka di perkirakan akan sampai di Ibukota dalam waktu dua jam setengah lewat jalur A13. Maklum saja dari utara ke jantung kota memang cukup jauh. Untungnya Dylan dan Grace sempat sarapan di kedai dekat apartemen.


"Kenapa pak? " Grace mulai cemas karena mereka berhenti di jalanan sepi pengendara. Menengok ke sana kemari takut ada penjahat mendekati mereka. "Saya akan cek nona, mungkin pecah ban atau air radiator nya habis." Supir segera keluar, Grace tidak boleh panik menghadapi situasi seperti ini. Dylan baru saja tertidur di pangkuannya, kasihan sekali dia jika harus terlantar di jalanan.


"Maaf nona, ini salah saya. Mobil kehabisan bensin." Kalau masalah pecah ban bisa di ganti menggunakan ban cadangan, kekurangan air radiator mereka memiliki stok minuman cukup banyak. Nah ini kehabisan bensin, jelas jelas masalah besar. Di mana mereka bisa membeli bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan?


"Mommy, aku ingin pipis." Dylan jadi ikut bangun karena merasakan kegelisahan ibunya. Grace mengangguk lalu keluar untuk mengambil pispot di bagasi. Dia selalu membiasakan Dylan tidak buang air kecil sembarangan.


"Ayo, mommy akan menemanimu." Grace membuka pintu mobil lalu membiarkan Dylan buang air sedikit lebih jauh dari mobil.


Keberuntungan mungkin sedang berpihak pada Grace dan Dylan. Sebuah mobil dari jauh mulai melambatkan lajunya. Secercah harapan ia dapat, mungkin saja orang itu akan membantu mereka. Pak supir menyetop mobil dari jarak cukup jauh agar mereka mau membantu.


"Dy, ayo kita masuk dulu." Tetap berjaga-jaga, Grace masih khawatir bisa saja orang di dalam mobil penjahat yang ingin merampoknya.


"Maaf tuan mengganggu perjalanan kalian." Supir pribadi Grace membungkuk ketika pengemudi membuka kaca. Sedangkan seorang pria duduk di kursi belakang setia menatap ponsel nya.

__ADS_1


"Ada apa dengan mobil kalian? " Tanya pengemudi berbadan atletis dengan rambut sedikit beruban.


"Kami kehabisan bensin, mungkin anda berbaik hati mau menjual stok bahan bakar pada kami. Kasihan tuan muda dan nona kami harus menunggu lama." Supir Grace memohon supaya mereka mau membantu. "Berikan saja punya kita Josh, aku lihat sekilas ada anak kecil. Entah sampai kapan mereka harus menunggu di sini. " Karena bosnya sudah memberi izin Josh akhirnya keluar dari mobil, ia berjalan menuju bagasi untuk mengambil dirigen berisi stok bahan bakar mobil.


"Terima kasih tuan, berapa saya harus membayarnya? " Supir Grace mencoba bersikap sopan santun.


"Tidak usah repot, tuan kami sedang berbaik hati." Ucap Josh singkat padat dan jelas, dia tidak ingin menerima imbalan atau bayaran apapun.


Merasa urusan mereka selesai, Josh kembali menjalankan mesin. Mobil perlahan melewati Grace, Liam sangat terkejut melihat bocah kemarin yang ia temui sedang tertawa bersama seorang wanita. Sayangnya dia tidak bisa melihat wajah ibunya, Grace kebetulan duduk membelakangi jalanan.


"Dylan,,, " Lirih Liam menengok ke belakang. "Tuan mengenal mereka? " Tanya Josh mendengar tuan nya menyebut satu nama. "Hentikan mobilnya Josh." Karena belum jauh Josh hanya bisa mengerem pelan. Liam keluar dari mobil dan mendekat ke arah Grace. Grace menengok ke depan dan mendapati Liam mulai menghampiri nya. Tepat setelah supir membuka bak mobil Grace mencari cara untuk menghindari Liam.


"Mommy ada apa? " Dylan melihat ibunya kebingungan mencari sesuatu di dalam tas. "Dy, dengarkan mommy baik baik. Mommy mulai flu dan harus mengenakan masker, mata mommy juga perih terkena sinar matahari jadi mommy memakai kacamata. Jadi tolong jangan bertanya apapun ok?" Grace terlalu sigap menghadapi situasi darurat, Dylan mengangguk patuh hanya karena khawatir dengan kondisi sang ibu. Tepat setelah Grace selesai memakai masker duckbill dan kacamata berwarna hitam Liam mengetuk kaca jendela.


"Look, dia uncle baik dan tampan." Dylan memiliki daya ingat bagus, ia masih mengenali wajah Liam. Terpaksa Grace membuka jendela mobil.


"Terima kasih tuan, sudah mau membantu kami. Semoga harimu menyenangkan." Ucap Grace dengan suara sedikit teredam oleh masker.


"Ya, hariku memang sangat menyenangkan. Aku bisa bertemu anak sepintar Dylan." Liam melambaikan tangan menyapa Dylan yang tersenyum sumringah.


"Uncle Terima kasih banyak, saat aku sudah tinggal di Paris nanti uncle akan aku undang ke rumah kami." Kata Dylan penuh semangat, Liam tersenyum simpul melihat tingkah Dylan yang menggemaskan. "Sampai berjumpa lagi Dylan." Supir sudah selesai mengisi bensin, Liam pun kembali ke mobilnya. Ia harus segera pergi sebelum terlambat menghadiri rapat.


Grace menghela nafas kasar usai memastikan Liam sudah pergi dari hadapannya. AC mobil sempat mati membuat Grace kepanasan selama memakai masker.


"Mommy cepat sekali sembuhnya? " Celetuk Dylan, Grace memang sudah melepaskan masker dan kaca matanya. "Ac nya sudah menyala Dy, mommy jadi sehat lagi." Dylan menggelengkan kepalanya tak mengerti, sedikit aneh tingkah sang ibu namun ia kembali fokus pada tablet nya.


"Kita berangkat nona." Pak supir mulai menyalakan mesin lalu tancap gas membelah jalanan.


Mungkin takdir menuntun Liam bertemu dengan Dylan hari ini. Grace semakin takut mereka akan selalu bertemu apa lagi kota Paris cukup sempit. Dia tidak bisa selamanya bersembunyi dari Liam. Lambat laun Liam akan mengetahui kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2