My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
seducing


__ADS_3

Christian menatap lekat wajah lelap Alya. Seluruh tubuhnya tertutup selimut menyisakan bagian kepalanya saja. Terlihat bekas garukan berwarna merah di pipi mulus Alya.


Christian pov


Aku tidak mengerti kenapa saat itu tiba-tiba mencium Alya. Dia berjalan ke arahku seperti bidadari. Meski sempat melupakan wajah cantik nya, tapi takdir seolah berpihak padaku.


Kami bertemu lagi di sini, di kota London. Dia bahkan datang padaku secara sukarela. Menjadikanku tempat perlindungan ketika dirinya jauh dari keluarga.


"Al, mungkin ini begitu cepat bagimu. Aku sudah jatuh hati padamu sejak ciuman pertamamu ku curi. Jangan pernah pergi dariku Alya. " Tanganku bergerak mengelus rambut Alya. Warna merah sangat cocok untuknya yang memiliki wajah putih bersih.


Mata indahnya selalu ia sembunyikan dari orang-orang.


Aku begitu penasaran, apa yang membuat Alya sangat tertutup seolah mengasingkan diri. Apakah Alya memiliki trauma di masa lalu?


Ternyata pergerakanku mengganggu tidurnya. Alya mengerjapkan matanya beberapa kali guna menyesuaikan cahaya kamar.


Belum sempat kami bersuara, pintu di ketuk seseorang. Sepertinya Daniel tiba bersama dokter Aciel. Aciel adalah sepupu sekaligus teman ku juga Daniel.


"Sebentar,,, " Ucapku pada Alya, kemudian berjalan untuk membukakan pintu.


"Kau mengganggu tidurnya Chris? " Tatapan apa yang Daniel berikan padaku? Kenapa dia menjadi posesif untuk Alya. Bukankah seharusnya aku yang bersikap begitu. Jangan-jangan Daniel juga menyukai Alya.


"Kau,,, hanya karena kau membelikan Alya obat bukan berarti kau menjadi pahlawan baginya Niel. " Ku tunjuk wajahnya agar Daniel sadar posisi nya.


"Heh, kalian berdua malah bertengkar. Kapan kalian bersikap dewasa hah? " Aciel melerai kami, ia memilih masuk ke kamarku dan menghiraukan perdebatan kecil diantara Daniel dan aku.


"Nona Shamare, apa yang kau rasakan sekarang? " Aciel memeriksa denyut nadi Alya, sebelum mengecek ruam di tubuhnya Aciel menatap tajam ke arahku juga Daniel mengisyaratkan kami harus memalingkan wajah.


"Ruam nya akan kempes setelah mendapat olesan salep, jangan di garuk ya nona. Aku bawa salep nya karena Niel tadi sudah memberitahu keluhanmu. " Mendengar namanya di sebut Daniel tersenyum simpul. Dia mungkin bangga sudah berjasa untuk Alya.


"Jaga matamu Niel. " Ku peringatkan lagi Daniel yang terang-terangan mengajakku bersaing.


"Mereka kenapa dokter? " Alya terlihat bingung menyaksikan kekonyolan kami.


"Abaikan saja, mereka menjadi pria gila akibat kelamaan single. " Aciel terkekeh geli mengingat statusku dan Daniel masih saja sendiri tanpa pasangan.


"Terima kasih dokter, kau sangat cantik." Wah Aciel pasti merasa melayang ke nirwana mendapat pujian dari Alya.


Aku berdecak mendengarnya, padahal kamu yang paling cantik di dunia ini Al. Kamu saja yang tidak menyadari hal itu. Kemudian Aciel meletakkan sebuah kotak kecil di atas nakas dan mendekat ke arah kami di depan pintu kamar.


"Kali ini ku harap menjadi yang terakhir Chris. Aku sangat kasihan padamu." Sialan Aciel, dia mengejekku di hadapan Alya. Sebelum tangannya bergerak menuju kepalaku untuk mengusapnya, aku tarik saja Daniel menggantikan posisiku.


"Anak baik, jaga teman gilamu satu ini. Jauhkan dia dari minuman. " Daniel hanya mengangguk saja mendapat elusan dari Aciel.

__ADS_1


"Hahahahaha... " Tawa Alya menggelegar, untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum bahkan tertawa lepas. Ya ampun, giginya saja selucu itu seperti kelinci. Ku tutupi mata Daniel menggunakan telapak tanganku. Aku tidak rela dia melihat keindahan di hadapan kami.


Alya masih tertawa terpingkal pingkal bahkan sampai memegangi perutnya mungkin terlalu lucu melihat kelakuan absurd kami.


"Oh perutku,,, " Lirih Alya.


"Niel, cepat antarkan Aciel ke bawah sebelum aku mencongkel matamu. " Perintahku penuh penekanan. Mau tidak mau Daniel pun mengajak Aciel keluar kamar.


Aku menggaruk kepalaku tapi bukan karena gatal. Ternyata Alya memiliki sisi humor yang sangat receh. Ku kira begitu sulit membuatnya bahagia. Apa aku perlu menjadikan Daniel pelawak saja untuk menghibur Alya?


"Chris, dokter Aciel orang yang menyenangkan. Aku menyukainya. " Kini Alya duduk bersandar pada headbed. Aku pun ikut menemaninya dengan duduk di tepi ranjang.


"Hem,,, kau bisa berteman dengannya Al." Kataku pelan. Aku masih penasaran dengan apa yang menimpa Alya di acara tadi.


"I'm fine. Don't worry about this. " Alya tahu arti dari tatapan ku yang tertuju pada ruam di kedua lengan, leher juga wajahnya.


"Istirahat lah Al. Maaf membuatmu bangun."


Aku berdiri untuk membawakan air mineral di dekat Alya agar dia tidak kesulitan saat haus.


Tanpa ku duga, Alya menahan tanganku dengan menggenggamnya. Jantungku seakan berhenti berdetak saking gugupnya.


"Bantu aku mengoleskan salep nya, kau mau kan Chris? " Bagaimana bisa Alya meminta bantuan ku? Apa dia yakin, bukankah artinya aku akan melihat seluruh tubuh Alya?


Pov End


Alya mengambil alih salep dari tangan Christian. Ia bukan tanpa alasan memerlukan andil Christian, sepertinya ruam di bagian punggung Alya paling parah. Tadi ia menggaruk nya dengan penuh semangat dan dedikasi.


"Chris, aku lupa seharusnya meminta bantuan dokter Aciel. " Keduanya saling tatap, jadi Christian harus bagaimana? Tentu dia ingin menolong Alya tapi yang di tolong nya saja masih bimbang.


"Apa aku suruh Aciel kembali? " Christian memberi saran, Alya menggelengkan kepalanya cepat.


"No, aku tidak enak. Berjanjilah kau tidak akan mentertawakan bentuk ruam ku saat melihatnya! " Alya tertunduk malu mengatakan hal itu pada Christian.


"Promise Al. " Jawab Christian yakin. Ia kira Alya malu memamerkan tubuhnya, ternyata alasannya sangat sederhana. Dia malu mendapat efek dari alerginya.


Alya menyibak selimut, kedua tangannya sibuk membuka dress berbahan rajut yang menempel di tubuhnya. Menyisakan bra top dan short berwarna hitam. Alya seakan tidak merasa canggung di hadapan Christian. Sedangkan Christian sendiri susah payah menelan saliva nya, pemandangan menakjubkan itu berhasil membangkitkan tongkat pamungkas nya.


"Chris, punggungku! " Alya menyadarkan fantasi liar di kepala Christian, ia bergeser membelakangi Christian agar pria itu mudah mengoleskan nya.


"Aku mulai Al. " Senada dengan Christian, Alya merasa berdesir ketika tangan kekar Christian meraba punggungnya. Tunggu, bukankah seharusnya Christian mengoleskan salep?


"Chris, apa kau pernah melakukan nya? " Pertanyaan Alya membuat tenggorokan Christian tercekat. Kenapa gadis pendiam ini begitu berani membahas masalah ranjang di saat suasana semakin genting.

__ADS_1


"Tidak, aku dan mantanku hanya saling memuaskan tanpa penyatuan. " Jawab Christian sejujurnya. Dia tidak bisa berbohong pada Alya.


Kegiatan Christian terhenti, dia malah sibuk memandangi punggung Alya. Membuat Alya juga berbalik menatap Christian.


"I want you so badly! " Lirih AlyaAlya tanpa berani menatap mata Christian.


"Fuckk...! " Christian meraih tengkuk Alya dengan cepat melumatt bibir mungilnya.


Berlangsung sekitar dua menit mereka saling memagut, menyessp, bahkan bertukar saliva. Tangan Christian juga tak tinggal diam, dia meraba dua gundukan milik Alya. Alya melenguh merasa darahnya memanas, gelenyar aneh tengah ia rasakan.


Christian mendorong tubuh Alya untuk berbarinh tanpa melepaskan ciuman keduanya.


"Please,,, " Pinta Alya di sela kenikmatan yang Christian ciptakan.


"I can't Al... "


Sebuah penolakan dari Christian membuat hati Alya meringis. Ia mendorong bahu Christian menyingkir dari atas tubuhnya. Alya bergegas mencari pakaian lalu mengenakannya.


Tas di atas nakas Alya raih membuat Christian bingung tentunya.


"Al kau mau kemana? " Christian mencegat lengannya yang hampir keluar kamar.


"Lepas Chris! Aku ingin pulang. " Alya menghindari kontak mata dengan Christian. Ia menghentakkan genggaman pria yang pastinya sedang tidak mengerti keadaan mereka.


"Alya, kau masih sakit. Biar aku antar oke?" Christian menghadang Alya yang akan keluar dari unit kondominium miliknya.


"Christian please! "


Alya berteriak meminta Christian mengerti dirinya. Christian menjambak rambutnya frustasi, tangannya mengepal memukul dinding kokoh.


Christian kembali ke dalam untuk mengambil kunci mobil juga jaketnya. Ia harus mengikuti Alya yang tampak sangat marah setelah dirinya menolak menjamah tubuh Alya. setidaknya Christian harus memastikan Alya baik-baik saja. dia di liputi rasa bersalah, menyesal juga khawatir.


"apa maumu Alya? " Christian memukul stir meluapkan emosinya. dia bukan tidak ingin, Christian hanya menjaga kehormatan gadis yang ia cintai. Christian takut jika dia sudah mencicipi Alya kemudian sesuatu terjadi diantara mereka. Christian berusaha untuk tidak merusak Alya.


Alya memejamkan matanya di dalam taksi. waktu menunjukkan pukul tengah malam di monitor argo. malu, hal yang sedang Alya rasakan. dia dengan berani dan tanpa sadar menyerahkan dirinya pada Christian namun Alya malah mendapatkan penolakan.


"I hate you Christian! " gumam Alya dengan kepala bersandar ke kursi.


"nona, sepertinya mobil di belakang mengikuti kita. " supir memberitahu Alya bahwa ada mobil yang sejak tadi mengikuti mereka.


"biarkan saja pak. dia,,, " ucapan Alya menggantung, dia sendiri tidak mengerti bagaimana sebutan untuk hubungan mereka.


Alya sudah terjebak oleh permainannya sendiri. seharusnya sejak awal Alya menolak perintah daddy-nya untuk tinggal bersama Christian. tapi semua masih bisa di perbaiki, Alya memantapkan hati mencari tempat tinggal baru. baru genap sebulan Alya tinggal nyaman di flat milik Christian dan harus meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2