
Menuju tempat acara, Theo menggandeng Alya dengan penuh percaya diri. Alya begitu menawan meski berbalut dress ber renda sederhana tanpa lengan berwarna khaki. Rambut pirangnyapun tergerai. Warna merah di bibir dan blush yang Alya aplikasikan sangat cocok dengan warna kulitnya.
"Kau cantik sekali Al." Puji Theo membisikan ke telinga Alya. Senyum Theo tidak pernah luntur saat bersama Alya seperti ini.
"Kau yang memilihnya, seleramu sangat bagus Theo." Balas Alya tertunduk malu.
"Wah selamat datang untuk kalian." Sambut Marvel, salah satu penyelenggara acara yang mulai di padati para pengusaha muda.
Lalu saling berjabat tangan satu sama lain.
"Terima kasih sudah mengundang kami." Jawab Alya ramah. Malvin terkesima, menatap kecantikan Alya. Sayangnya wanita itu sudah memiliki pendamping.
"Kami akan cari minuman." Theo pamit pada Malvin mengajak Alya dengan rangkulan posesif nya.
Ketika Theo dan Alya asik menikmati segelas Champagne, bintang yang selalu di tunggu-tunggu kaum pengusaha wanita datang bersama orang kepercayaan nya. Mengangkat wajahnya angkuh, Christian mengedarkan pandangan mencari sosok yang perlu dia lihat.
"Kita sapa adik ku dan kekasihnya." Gumam Christian setelah menangkap interaksi keduanya di sisi ruangan.
"As you wish,,, " Daniel tidak masalah.
Berhenti tepat di hadapan Alya dan Theo, Christian menatap nyalang meremehkan hubungan mereka.
"Jadi dia kekasihmu Theo? " Sedikit berdecak, Christian mulai memancing kesabaran sang adik. Tapi Theo akan dengan bangga memperkenalkan Alya pada pria itu. Pria yang menoreh banyak luka di hati Alya.
"Ya kak, dia kekasihku. Kami sudah melewati banyak hal untuk akhirnya bisa bersama. Bukan begitu sayang? " Theo melirik memastikan, tangannya bergerak merangkul pinggang Alya.
"Itu benar." Jawab Alya tanpa ragu.
"Selamat Theo, kau menemukannya juga." Ucap Daniel mewakili Christian.
Christian tipikal pemarah belakangan ini, entah hal sepele saja akan menjadi masalah bayinya. Tak ingin merusak suasana, Christian memilih pergi bersama Daniel untuk menghindari kemesraan mereka berdua.
Tepuk tangan meriah menyambut pidato beberapa tokoh penting terkemuka. Malvin sebagai pemandu acara tiba menyampaikan para penerima apresiasi. Alya maju ke atas panggung tepat di hadapan Christian. Ketika melangkah menggunakan high heels Alya malah hampir hilang keseimbangan terjatuh akibat tersandung.
Beruntung Christian menahan lengannya agar tidak tersungkur ke depan. Tentunya akan sangat memalukan bagi Alya.
"Thanks... " Mau tidak mau Alya harus mengucapkan Terima kasih pada Christian. Dia sudah menjaganya, terlepas mereka adalah orang asing sekarang.
"Selamat untuk kalian semua, semoga dengan apresiasi ini kami bisa melihat karya-karya kalian yang luar biasa. " Sambutan singkat Malvin mempersembahkan plakat penghargaan untuk lima pengusaha muda dari berbagai negara maju.
Alya kembali menemui Theo, wajahnya mendadak terlihat sendu. Dan Alya tahu bagaimana perasaan Theo saat ini.
"Kau juga hebat Theo, suatu saat dunia akan mengakuimu." Menepuk pundak Theo, Alya memberinya semangat agar Theo tidak berkecil hati.
"Kau terbaik Al, pengakuanmu lebih dari cukup bagiku." Theo membalasnya dengan kecupan singkat di pipi.
Seketika wajah dan telinga Alya memerah mendapat perlakuan manis dari Theo. Apakah bisa Alya memberi perasaan yang sama untuk Theo? Sementara hatinya masih terpaut pada seseorang.
Dan keromantisan itu tentunya semakin memperbesar kobaran api di hati Christian. Dia terlihat menjauh dari Daniel untuk melakukan panggilan telepon.
"Theo, aku ingin ke toilet sebentar." Sepertinya Alya perlu meredam rasa gugupnya. Ia pamit pada Theo meninggalkan nya untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Ok, jangan lama-lama Al karena setelah ini kita langsung pulang. " Alya mengangguk mengerti perintah Theo.
Sayangnya Alya tidak bisa mengantri di toilet ballroom di akibatkan terjadinya antrian cukup banyak. Alya terpaksa keluar mencari toilet umum di sekitar Lobby. Hanya cuci muka, Alya sudah selesai dengan kegiatannya di dalam.
Saat dirinya baru keluar seseorang membekap mulut Alya menggunakan sapu tangan. Alya sudah mencoba berteriak namun suaranya jelas tertahan. Yang lebih anehnya lagi petugas hotel seakan membiarkan Alya di bawa paksa oleh dua orang berbadan tinggi dan besar menuju mobil di area parkir VIP.
"Tuan, nona sudah masuk ke mobil." Bahkan receptionist memberi laporan pada bos mereka tentang keberhasilan anak buahnya menculik Alya.
Di perjalanan Alya hanya bisa pasrah, percuma melawan dan memberontak jika harus berhadapan dengan mereka. Sebaiknya Alya menyimpan energinya untuk mencoba kabur di lain kesempatan.
"Tell me ! who is your boss?" Sedikitpun Alya tidak menaruh curiga pada Christian, mengingat hotel tempat acara penghargaan bukanlah milik pria itu. Padahal kenyataannya Christian memang merupakan salah satu pemegang saham di sana.
"Lebih baik nona menurut, kami tidak ingin nona terluka atau bos akan membunuh kami." Ancam salah satu penculik yang duduk di sebelah Alya.
Mobil terus melaju menyusuri jalanan yang begitu sepi. Alya benar-benar lelah duduk melakukan perjalanan panjang. Ingin tidur rasanya tidak mungkin, dia pasti akan mempermalukan diri sendiri jika mengalami mimpi buruk.
"Bisakah berhenti di mini market yang kita lewati? Aku sangat butuh kopi." Belum lagi Alya mulai merasa kedinginan, dia hanya mengenakan dress berbahan tipis tanpa penghangat lainnya.
Kedua penculik itu saling bertatap mata melalui kaca spion. Alya merasa ada pergerakan di sampingnya. Pria botak itu terlihat sibuk mengetik sebuah pesan pada seseorang.
To ; mr. Christian
Tuan, nona butuh kopi. Dia juga kedinginan.
Alya hanya mendelik memperhatikan, mobil mereka semakin mendekati sebuah warung kecil yang ada di pom mini. Meski terdengar sulit dalam kasus penculikan, tapi Alya berharap mereka mau menuruti keinginannya.
Ting,
Tidak butuh waktu lama, Alya hanya membeli barang seperlunya. Setelah itu ia membayar ke kasir. Nampak ragu dan bingung, penjaga toko melihat kegelisahan Alya.
"Nona, apa terjadi sesuatu? Katakan saja, ku harap bisa membantumu." Penjaga toko juga melihat sekilas dua pria yang berdiri menunggu Alya di luar. Dia yakin, Alya pasti sedang mengalami masalah.
"Maaf tuan, apakah aku boleh membeli selimut pribadimu? Aku benar-benar kedinginan." Mendengar suara Alya, istri dari penjaga toko keluar dari ruangan pribadi mereka.
"Oh God, lihat tubuhmu menggigil nona." Alya merasa beruntung bisa bertemu Pasangan paruh baya seperti mereka. Dia tersenyum dengan bibir yang mulai membiru.
"Cepat ambilkan selimut yang baru kering tadi. Kasihan dia sangat menggigil." Perintah sang suami pada istrinya.
Sebelum kembali melanjutkan perjalanan Alya tak hentinya mengucapkan terimakasih pada mereka. Merea sudah berbaik hati mau memberinya selimut. Sekitar lima jam mereka berkendara, akhirnya tiba di sebuah desa bernama Betws-y-coed yang terletak di lembah Cowny Wales.
Mobil mulai memasuki area rumah yang sangat luas, jarak dari gerbang utama menuju rumah sekitar lima ratus meter. Kedua penculik meminta Alya turun dari mobil saat mereka sudah berada di depan pintu rumah bergaya castle.
Kedua pelayan wanita menyambut kedatangan Alya, melepas selimut yang sejak lama membalut tubuh Alya.
"Nona, kami akan mengantar anda ke kamar utama, mari. " Pelayan senior meminta Alya mengikuti langkahnya.
"Sial, dimana ini? Aku seperti tersesat di negeri dongeng." Batin Alya mengedarkan pandangannya. Jam raksasa menunjukkan pukul dua dini hari. Dan Alya merasa sangat mengantuk dan ingin segera tidur.
Alya di apit kedua pelayan menaiki anak tangga. Dalam benaknya Alya sangsi apakah dia memang di culik atau lebih tepatnya di paksa oleh seseorang.
"Ini kamarnya nona, di dalam anda bisa mengganti pakaian yang sudah tuan siapkan. Jika nona lapar atau butuh bantuan bisa menelepon kami di saluran satu." Kali ini pelayan junior menjelaskan aturan main yang berlaku untuk Alya.
__ADS_1
"Tunggu, siapa tuan kalian? " Pertanyaan Alya menghentikan langkah mereka, namun hanya seulas senyum sebagai jawaban yang Alya dapatkan.
"Selamat beristirahat nona." Ucap pelayan senior, mereka akhirnya meninggalkan Alya di depan kamar yang terletak di ujung koridor.
Memasuki kamar, Alya di buat kagum dengan desain interior nya. Di sebelah kiri Alya bisa berjalan sambil mengaca pada walk in closet.
Lampu crystal menggantung di tengah-tengah ruangan. Hanya ada tempat tidur berukuran king size yang menghadap langsung ke jendela besar. Sementara di sudut ruangan ada meja makan dengan dua kursi, lalu sofa tak jauh di dekat tempat tidur.
"Menyebalkan sekali, dia seperti mempermainkan ku di sini." Berdecak kesal, Alya merebahkan diri di atas tempat tidur menatap langit-langit.
"Ponselku bahkan di rampas oleh mereka." Saat ini Alya memikirkan Theo, pria itu pasti sedang khawatir mencari keberadaannya.
Lambat laun Alya mulai memejamkan matanya, terbuai oleh rasa kantuknya. Ia tertidur tanpa membersihkan diri. Kakinya bahkan menggantung ke bawah dengan high heels yang masih ia pakai.
"Maafkan aku, jangan tinggalkan aku! " Di tengah tidurnya, Alya kembali bermimpi buruk. Mimpi yang sama selama bertahun-tahun.
"Hey,,, kau mengigau. " Seseorang membelai lembut rambut Alya. Dia baru saja membetulkan posisi tidur Alya setelah kedatangannya.
Sepertinya Alya kembali melanjutkan tidur nyenyak nya. Entahlah, kenapa malam ini Alya merasa nyaman dan bisa tertidur pulas sekali hingga matahari menyapanya di balik jendela. Sinarnya begitu menyilaukan.
"Eungh,,, " Menggeliat sepuasnya, Alya duduk terbangun menatap jendela yang sudah terbuka tirainya.
"Ya Tuhan, apa itu... " Terperangah melihat pemandangan di luar kamar. Alya bergegas turun dari tempat tidur. Berlari kecil menuju balkon.
Tepat di hadapannya Alya bisa melihat aliran sungai Cowny yang begitu jernih dan menenangkan. Alya menyukai suara air yang mengalir.
"Good morning,,, " Sapa seseorang di belakang Alya. Kerutan di dahi Alya menunjukkan rasa terkejutnya. Alya hafal suara itu.
"Christian... " Gumam Alya pelan tanpa membalikkan badannya.
terdengar langkah kaki Christian semakin mendekat, Alya tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi nya.
"Alya,,, " Christian menarik pundak Alya untuk berbalik menatapnya. masih menghindari bertatap mata, Alya menunduk memaksa Christian mengangkat dagunya.
"kau harus bertanggungjawab atas diriku Al." bisik Christian, jarak mereka dekat hingga kedua ujung hidung Alya dan Christian bersentuhan.
"Christian, aku harus pergi. Theo menungguku. " jawab Alya Tanpa berpikir reaksi yang akan Christian tunjukkan.
dia mencengkram kuat lengan Alya, menarik lalu menempelkan ke tubuh Christian.
"jangan pernah menyebut nama pria lain saat bersama ku Al. atau aku akan membuatmu meneriakkan namaku di atas tempat tidur." ancam Christian berhasil membuat nyali Alya menciut.
"apa maumu Christian? " kali ini Alya membalas menatapnya tajam.
"Kau bertanya apa mauku? " seringai mengerikan terbit di wajah Christian yang tidak pernah berubah meski bertahun lamanya. hanya saja rambut Christian sedikit memanjang.
"Kembalikan apa yang telah kau hilangkan Al."
deg,,,
Christian masih belum bisa merelakan kepergiannya. Alya pikir ketika mereka sama-sama menutup diri Christian berhasil bangkit dan memulai hidupnya yang baru. pria di hadapannya juga mengalami luka mendalam yang belum bisa di sembuhkan waktu.
__ADS_1