
Sehari berlalu dan berganti minggu entah kemana lagi keluarga dan suaminya harus mencari Grace. Liam bahkan kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Sudah semalam ia di rawat akibat dehidrasi. Tubuhnya semakin kurus tak terurus akibat sibuk mencari keberadaan sang istri. Dylan juga sangat bersedih ketika menganggap mommy tercinta nya harus bekerja keras di luar negeri. Kata Liam mommy juga sangat merindukan nya.
"Daddy, cepat sembuh agar kita bisa menemui mommy sama-sama." Dylan berada di pangkuan tuan Arthur di samping tempat tidur Liam.
Bahkan polisi juga tidak mampu memecahkan kasus hilangnya Grace. Ethan yang pernah di penjara atas tuduhan penculikan di bebaskan tanpa syarat karena tidak ada bukti yang mengarah padanya. Keluarga ikut bersedih atas apa yang menimpa Liam. Bagaimana bisa ketiga pria hebat itu gagal menemukan Grace.
"Liam kau harus kuat, Dylan sangat membutuhkan mu." Kata tuan Arthur menggenggam tangan anaknya. Liam masih memejamkan mata seolah enggan bangun dari mimpi indahnya. Mimpi dimana Liam selalu bersama Grace kemanapun, tak seorangpun bisa memisahkan mereka.
- flashback -
Liam mendatangi kediaman pribadi Ethan di kawasan sungai Seine. Bersama para pengawal ia mengepung kediaman Ethan, menerobos masuk ke dalam secara paksa. "Ethan kembalikan istriku! " Teriakan Liam menggema memanggil sang tuan rumah. "Apa maksudmu Liam? " Ethan mengkerut kan keningnya tampak bingung di serang tiba-tiba oleh saudara tirinya.
"Kau yang sudah menculik Grace. Cepat katakan dimana dia. "
"Kau yakin Grace di culik? Bagaimana kalau dia memang sengaja pergi karena tak tahan dengan sikap suaminya. " Dengan santainya Ethan menuruni anak tangga yang meliuk. "Cepat geledah rumah ini! " Perintah Liam pada sepuluh anak buahnya, Josh juga turun tangan membantu Liam.
Selama mengikuti Ethan kemanapun Liam dan orang tuanya tidak menemukan hal yang mencurigakan. Ethan hanya pergi bekerja di studio fotonya lalu pulang ke rumah. Ini semakin sulit seperti mencari jarum di gundukan jerami. Tapi Liam tetap yakin kalau Ethan lah yang menyembunyikan Grace. Hanya saja Liam tidak bisa mencari celah untuk menelusuri dimana dia sekarang.
Mereka kembali dengan tangan kosong, Josh dan para pengawal heran kenapa semua ruangan di rumah Ethan tak terkunci seakan Ethan sudah memperhitungkan nya.
"Nihil tuan. " Info Josh berbisik pada Liam. "Aku ingin menuntut atas ketidaknyamanan yang kalian perbuat. " Ethan berniat melaporkan Liam ke kantor polisi.
"Silakan, aku juga akan menjebloskan mu atas tuduhan penculikan dan penyekapan." Liam pulang bersama kekecewaan tak berhasil menemukan Grace.
Dua hari kemudian Ethan di giring ke kantor polisi lengkap dengan surat penangkapan. Hanya bukti GPS mobil Ethan yang menuju kota Piana, setelah satu jam sampai Ethan terlacak kembali lagi ke Paris.
"Maaf tuan, tuan Ethan terbukti tidak terlibat pada kejadian di klub. Menurut CCTV sosok pria yang membawa kabur nyonya Grace juga jauh dari ciri ciri tuan Ethan. " Polisi menjelaskan keputusan mereka membebaskan Ethan. Terhitung dua kali dua puluh empat jam Ethan mendekam hanya untuk di interogasi.
"Liam, sebaiknya kita pulang saja. Kau juga harus beristirahat, pikirkan Dylan juga." Ajak tuan Arthur. Liam sudah tidak pernah makan dengan teratur, minum juga ketika ia hanya membutuhkan tenaga saja untuk mencari Grace di seluruh penjuru Prancis. Setiap malam ia akan merenung di balkon menatap malam gelap, berharap esok ia bangun dan Grace ada di sampingnya. Empat minggu sudah Grace tak kembali pulang, Liam yang sudah sekarat pun tumbang. Ia sempat mengalami koma, namun karena kekuatan dan tekad nya ingin bertemu Grace lagi Liam mulai membaik.
Sayangnya setiap bangun Liam akan mengamuk histeris mencari sosok sang istri. Sehingga dokter terpaksa selalu menyuntikkan obat tidur dosis rendah.
"Dy, kita pulang dulu ya. Besok kita jenguk daddy lagi. " Grand ma Patricia mengambil alih Dylan dari pangkuan besannya. Sementara tuan Rodrigo harus kembali memimpin perusahaan. Jack menjadi dokter yang memantau perkembangan Liam pun merasa prihatin. Pernikahannya dengan Abigail bahkan berlangsung sederhana mengingat keluarga mereka sedang tidak baik baik saja. Abigail dan Jack sangat mengerti dan tidak mempermasalahkan.
__ADS_1
"Dy pulang dadd. Besok kita bertemu lagi." Dylan melambaikan tangannya berpisah dengan sang ayah.
Di sebuah kamar ruang bawah tanah, terbaring seorang wanita dengan selang infus di tanga kirinya. Tubuhnya semakin kurus mengingat tak sesuap pun makanan masuk ke mulutnya. Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga kayu. Pria dengan tatapan nanar memperhatikan wanita yang masih menatap kosong langit langit kayu.
"Apa kau tidak kasihan pada calon anakmu Grace? Makan lah sedikit." Ethan berdiri di samping tiang penyangga botol infus. Keadaan Grace begitu mengiris hati kecilnya.
"Dia bukan anak ku. Aku tidak menginginkan nya, biarkan dia mati bersamaku." Tetesan bening kembali lolos dari pelupuk matanya. Grace tak menyangka ternyata stok air matanya belum mengering setelah menangis tanpa henti mendengar kabar kehamilannya.
"Terserah kau saja, terpenting aku sudah berbaik hati merawat dan memberimu makanan bergizi." Mendengar hal menggelikan keluar dari mulut Ethan, Grace susah payah mencoba duduk dengan tenaga lemahnya.
"Kalau kau memang baik hati lepaskan aku sialan." Entah ke berapa kalinya Grace mengumpat Ethan.
Grace merasa sudah kotor dan jijik pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia mengandung benih dari pria kejam di hadapannya. Padahal secara agama maupun hukum ia masih sah istri seorang Liam. Ethan licik, dia menganggap janin yang ada di rahim Grace adalah darah dagingnya. Kenyataannya ia sedikitpun tak pernah berani menyentuh Grace. Ethan berbohong dan memanipulasi kehamilan Grace agar ia berpisah dengan Liam setelah Ethan membebaskannya nanti.
"Baiklah, aku akan memikirkan nya kalau kau mau makan dan sehat kembali." Ethan meninggalkan kamar aesthetic milik Grace selama sebulan ini. Lalu pelayan wanita paruh baya datang membawa nampan berisi makanan.
"Nona, makanlah dulu agar bayi mu sehat." Bibi yang di ketahui namanya Aida duduk di samping Grace membelai rambutnya, ia merasa iba.
"Bi, aku takut. Bagaimana keadaan suami dan anak ku sekarang? Apa jadinya jika Liam tahu aku sudah di nodai oleh pria lain." Grace menangis membutuhkan pelukan bibi Aida. Bibi yang hanya akan datang sekali setiap hari yaitu di jam makan siang. Ethan menyerah memaksa Grace makan, namun ia selalu meminta bibi Aida menemaninya di jam makan siang. Meski sedikit setidaknya Grace mau.
_ nona kamar ini di sadap, nona harus tahu aku sempat mencari informasi tentang suami nona. Tuan Liam di rawat di rumah sakit. Nona harus cepat sembuh, sebenarnya tuan Ethan tidak pernah menyentuh anda sedikitpun. Dia sering cerita pada bibi, mungkin saja saat ini hatinya mulai melunak._
Setelah selesai bibi Aida menyerahkan secarik kertas ke tangan Grace, Grace membacanya dan langsung menahan tangisnya.
"Jadi ini memang anak Liam ? Terima kasih Tuhan karena aku juga yakin hal itu, hanya saja aku takut jika kenyataan berkata lain." Grace bermonolog di dalam hatinya, bibi Aida memeluk Grace menenangkannya. "Aku lapar bi." Bibi Aida benar, ia harus sehat agar Ethan mau membebaskannya. Mungkin caranya terlalu ekstrim yaitu mogok makan agar Ethan luluh.
Bibi Aida menemani Grace makan dengan perasaan gembira. Akhirnya ia bisa melihat kebahagiaan di wajah sendu wanita hamil di sampingnya.
"Aku ingin bertemu putri anda tuan. " Kata pria dengan cincin di jari manis sebelah kirinya. Mereka sedang membicarakan bisnis di coffee shop.
"Maaf tuan Sozonov, sejujurnya putri ku sedang dalam masalah. " Ternyata tuan Rodrigo dan Ibra bertemu untuk membahas projek selanjutnya. Berkat kiriman sample yang selamat sampai tujuan Ibra resmi menjadikan perusahaan Grace sebagai produsen perhiasan berlian.
"Maksud anda tuan? " Ibra menegakkan posisi duduknya penasaran mendengar kabar Grace.
__ADS_1
"Sudah sebulan ini Grace hilang tanpa bisa di temukan. Liam percaya kalau Grace di sekap dan di sembunyikan seseorang." Penuturan tuan Rodrigo membuat Ibra terperangah tak percaya. Mana mungkin bisa sekelas putri dan istri seorang pengusaha bisa di culik.
"Bisa aku lihat potret Grace terakhir kalinya sebelum di culik? " Setelah terkejut dan berpikir sejenak Ibra kemudian mengingat sesuatu.
"Maksud tuan? " Tanya Tuan Rodrigo belum paham.
"Begini, aku sempat menghadiahi putri anda sepasang giwang batu ruby. Aku memintanya secara pribadi agar Grace mengenakannya di hari pernikahan nya. Siapa tahu dia belum melepas giwang itu sampai kejadian naas menimpanya." Terang Ibra mencoba mengajak Tuan Rodrigo mengerti pra duga nya.
"Saya rasa ada." Lalu ayah Grace membuka galeri di fotonya, ia memilah foto dimana Grace pernah mengirimnya. Ia tunjukan pada tuan Ibra dengan sopan.
"Persis, ini hadiah pemberianku." Terlihat Grace dan Liam berpose di cermin kamar mandi sebelum pergi ke klub malam.
"Jika masih di pakai aku bisa melacak keberadaan nya. Setiap koleksi ku selalu di tanam chip agar ketika hilang pembeli bisa dengan mudah menemukannya. " Beban di dada tuan Rodrigo seolah runtuh begitu saja mendengar penjelasan Ibra.
"Semoga Tuhan memberkati tuan Ibra. Terima kasih anda sudah bermurah hati memberi Grace koleksi indahmu." Tuan Rodrigo menggenggam tangan Ibra merasa bersyukur.
"Kita mencoba dulu, siapa tahu ini memang jalan kalian menemukannya." Tuan Rodrigo mengajak Ibra naik ke atas ke ruang kerjanya. Ibra membutuhkan sebuah laptop di bantu juga asisten pribadinya.
Setelah memasukkan beberapa kode sesuai nomer seri giwang itu sistem mulai memindai lokasi keberadaan pemiliknya. Lima menit mencari titik merah muncul di layar komputer.
"Apa anda tahu tempat ini di mana? " Ibra menatap tuan Rodrigo yang nampak berpikir.
"Tempat terakhir Grace menghilang itu di kota Piana. Tapi titik letak giwang miliknya ada di Paris, dan sepertinya itu kediaman Ethan." Karena Tuan Rodrigo juga sempat berkunjung mencoba mengobrol dari hati ke hati supaya Ethan mau mengaku. Nyatanya pria itu tegas tak merasa terlibat atas hilangnya Grace.
"We'll see, aku akan mengirim anak buahku ke sana. Aku juga ikut sedih mendengar Grace menghilang selama itu." Ucap Ibra, rasanya ia ingin mencabik cabik wajah penjahat keji penyekap Grace.
"Mengapa Anda baik sekali tuan Ibra? " Kebaikan Ibra menggelitik rasa penasaran di benak tuan Rodrigo.
"Berkat nasehat Grace sekarang aku yakin pada pilihanku. " Jawab Ibra lalu menunjukkan cincin perak di jarinya. Berkat Grace Ibra yang sempat ragu meneruskan pernikahannya dengan mantan kekasih akhirnya memutuskan menikahi wanita yang sudah ia renggut keperawanannya.
"Saya akan pergi ke rumah Ethan sekarang."
"Periksalah sesuatu di bawah karpet, biasanya psikopat seperti dia memiliki tempat persembunyian." Saran Ibra, dia tidak bisa turun tangan langsung menyangkut kredibilitasnya sebagai orang berpengaruh di negaranya.
__ADS_1
"Ya, Terima kasih sarannya tuan Ibra." Meski usia Ibra jauh lebih muda darinya namun tuan Rodrigo sangat menghargai koleganya. Lagi pula Ibra memiliki sifat ramah dan hangat padanya juga Grace.