
Grace berbaring menatap langit langit kamar. Ia menunggu Liam yang sedang menerima panggilan telpon. Apa harus Grace memulai semuanya? Ia malu seakan ini pertama kali untuknya. Di balkon Liam nampak serius mengobrol entah apa dan dengan siapa. Karena perutnya penuh mata Grace sudah tidak bisa ia ganjal, tak lama ia pun terlelap saking bosan menunggu Liam.
"Apa maksudmu? " Tanya Liam mulai emosi, ia melirik ke arah tempat tidur sekilas ternyata istrinya sudah pergi ke alam mimpi. "Dia pergi dalam keadaan marah Liam, dia bahkan mencari informasi pribadi kalian." Terdengar suara cemas wanita di sebrang telpon.
"Terima kasih infonya, maaf aku sedikit emosi. Ini menyangkut keselamatan istriku." Liam memijat tengkuknya, ini benar-benar mengganggu pikiran di saat ia ingin menikmati kebersamaan dengan Grace. "Kau harus hati hati. Aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi padamu. " Ucapnya tulus namun Liam tak menanggapi.
Liam menghampiri Grace, wajah damainya membuat Liam merasa bersalah sudah meninggalkannya tadi. Jika bukan mendesak Liam sungkan menerima panggilan telepon dari ibu kandungnya. Tangan Liam membelai pipi Grace, ia sedikit egois berniat membangunkannya. Belum ada respon, ia pun turun ke bawah menempelkan tangannya di atas gundukan kembar milik istrinya.
"Liam ,,, " Suara serak Grace terdengar menggoda di telinga Liam.
"Aku sedang ingin, apa bisa sekarang? " Tanya Liam hati hati. Grace membuka matanya lalu menatap Liam.
"Tadi siapa? " Grace penasaran, pasti bukan masalah sepele.
" Josh, dia terlalu rendah diri untuk mengatasi masalah perusahaan. " Kilah Liam berbohong. Jelas ia tak ingin Grace ikut khawatir mendengar kabar tentang Ethan. Pria itu nekad mengikuti mereka sejak dari Gereja. Semoga saja dia tidak menemukan keberadaan Liam dan Grace di Piana.
Liam memiringkan badannya mulai menciumi kening, mata, lalu bibir Grace dengan lembut. Ah setelah sekian lama berpuasa mereka bisa menikmatinya malam ini. Pria dan wanita dewasa yang enggan melampiaskan hasrat dengan orang lain, seolah mendamba pasangan pertama mereka. Kemudian perlahan tangannya aktif membuka kancing piyama one set Grace, celana pendeknya juga sudah di turunkan di bantu sang istri. Tidak, ia tak tahan lagi dengan buru buru keduanya menanggalkan pakaian secara mandiri dan bersamaan. Liam menindih tubuh Grace dan menjelajahi titik sensitif yang bisa menciptakan lenguhan dan erangan. "Aku juga ingin menikmati bagaimana rasanya asi yang Dylan konsumsi,,, " Di tengah keseriusan Liam malah sempat bergurau. Grace terkekeh mendengarnya. "Sekarang kekeringan, mungkin jika adiknya lahir kau bisa mencobanya. " Grace mulai pandai membuat candaan bernada mesum.
Mungkin ini bukan yang pertama, tapi mereka satu satunya yang pernah mencicipi nikmatnya menapaki puncak. Liam bahkan sedikit kesulitan menerobos milik Grace. Itu membuktikan gua istrinya belum terjamah oleh siapapun. Tubuh Grace menegang merasakan benda keras memasukinya. "Apakah sakit? " Liam memastikan, Grace menggeleng pelan. "Sedikit perih." Tentu saja karena Liam tidak memberi pemanasan terlebih dulu di bawah sana.
"Kau masih sangat sempit baby,,, " Keluh Liam yang mulai memompa, memaju mundurkan senjatanya.
"Liamh,,, "
"Yes baby, teriakan namaku! " Liam mulai memacu dengan cepat, membuat Grace menracau tak jelas dengan peluh mulai mendominasi keningnya. Punggung kekar Liam bahkan sudah berkeringat sejak percobaan pertama.
"No, I can't. Liam it's hurt." Grace mencengkram lengan Liam yang menjadi tumpuan nya. Antara enak dan perih Grace menggigit bibirnya merasakan sesuatu akan meledak, Liam memagut mulut Grace agar ia tak melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku akan keluar,,, " Kata Liam dengan nafas terengah-engah, dan milik Grace berkedut bersamaan dengan tumpahnya cairan calon tim pemain basket impian Liam dan Dylan.
"Thanks baby,,, " Liam memasrahkan tubuhnya di atas Grace, rasanya begitu memabukkan dan melegakan.
Grace merasa tubuhnya remuk akibat beberapa kali pergulatan. Liam seolah aji mumpung melakukannya. Kini mereka sudah terlelap saling memeluk satu sama lain. Hanya berbalut selimut menutupi tubuh polos mereka, bayangan seseorang muncul di dekat jendela kamar. Ia juga mengharapkan hal sama bersama wanita yang kini berada di dekapan saudara tirinya. Tangannya mengepal sebelum berlalu pergi. Mungkin nanti, jika dia memiliki kesempatan akan di gunakan sebaik-baiknya.
"Liam,,, " Grace terperanjat kaget merasa ada seseorang berjalan di luar kamar. Grace menepuk lengan Liam yang melingkar di pinggangnya.
"Grace besok pagi saja ya? " Sahut Liam dengan mata terpejam. Bisa saja itu halusinasi Grace semata, ia memilih menyusul suaminya ke lautan mimpi.
,,,,,,,
Mentari mulai muncul di ujung lautan, menyambut dua insan yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dering ponsel memekik di telinga memaksa keduanya membuka mata. Grace menguap sebelum menerima panggilan itu. Tangannya sibuk meraih benda pipih di nakas sebelah ranjang.
"Good morning mommy, did you have a good sleep? " Suara girang Dylan bagai vitamin penambah energi, Grace duduk dengan menyandarkan kepalanya di bedhead.
"Ya mommy, apa daddy sudah menjalankan rencananya? " Mata Grace membulat sempurna anaknya selalu membahas rencana yang di maksud. Grace menepuk pipi Liam pelan membangunkannya. "Hem,,,,, aku masih ngantuk baby." Gumam Liam yang suaranya terbekap bantal. "Dylan menanyakanmu." Grace menyodorkan ponsel ke dekat wajah suaminya, ia lebih baik mandi membersihkan diri dari pada pusing meladeni permintaan konyol suami dan anaknya.
Keduanya sudah bersih dan rapi mengenakan pakaian santai dan bersiap menuju cafe untuk sarapan. Rasa lelahnya membuat Grace malas masak dan Liam tak masalah.
"Aku duluan ke mobil, " Kata Grace saat Liam mencari dompetnya. Betapa terkejutnya Grace ketika membuka pintu seonggok bangkai burung gagak menghalangi jalannya. Tak kuat melihatnya Grace berlari kembali ke dalam mencari letak wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
"Grace kau baik baik saja ?" Liam yang mendengar istrinya bersuara hoek hoek berlari cepat ke arah dapur. Grace membasuh wajah dan mulutnya.
"Liam,,, di sana ! " Grace menunjuk pintu masuk menggunakan sorot mata ketakutan. Liam keluar dan ingin melihat apa yang terjadi. Liam sama halnya terkejut mendapat pemandangan buruk di pagi yang indah ini, namun dia bisa mengendalikan diri. Ia bergegas kembali masuk lalu menuju kamar. Grace mengikuti di belakang dan ia mulai penasaran kenapa Liam memasukkan kembali pakaian mereka.
"Kenapa di kemas? " Tanya Grace, Liam masih sibuk dengan kegiatannya. Grace mendekat lalu menahan tangannya,
__ADS_1
"Aku sedang bertanya, kenapa kamu memasukkan lagi baju baju kita? " Grace mengulang pertanyaannya. Liam memeluk Grace secara tiba-tiba dan Grace hanya pasrah melingkarkan tangannya.
"Aku ingin menginap di hotel saja, mungkin suasana di sini terlalu sepi. Kita butuh keramaian Grace." Karena dia tidak akan mengganggu saat mereka berada di antara orang-orang lainnya. Liam yakin ini teror dari Ethan, perasaannya begitu kuat.
"Baiklah, aku ikut apa katamu. " Grace juga jadi trauma melihat kengerian itu. Entah sengaja atau tidak yang pasti ia mulai takut. Bertahun-tahun meninggalkan kota kelahiran adiknya membuat tempat ini asing baginya.
Sebuah mobil Suv hitam tiba di pekarangan rumah ketika Liam dan Grace selesai mengemas. "Bersihkan! " Perintah nya pada penerima telpon. Saat sudah yakin Liam mengajak Grace keluar meninggalkan rumah keluarganya.
"Ini untuk berjaga-jaga saja, jangan khawatir." Kata Liam ketika Grace menatap heran melihat ketiga bodyguard berbadan tegap berdiri di samping mobil. Mereka langsung pergi ke tempat tujuan yaitu cafe yang buka di jam sarapan, ke hotel untuk check-in lalu menuju Corsica Quad. Di perjalanan Grace menyandarkan kepalanya di bahu Liam. Pagi hari sudah di awali dengan tragedi bangkai membuatnya lesu. Liam mengecup ujung kepala Grace lalu menggenggam tangannya.
"Tersenyumlah, aku ingin melihatmu bahagia." Saran Liam membangkitkan kembali semangat Grace. Ia mengangguk patuh pada suami.
Liam membuka pesan yang ia Terima setelah memastikan Grace ketiduran. mengabarkan bahwa Ethan memang benar berada di Piana menyusul mereka. Liam menggenggam ponselnya sekuat tenaga melampiaskan amarah. ternyata kisah mereka masih belum berakhir happy ending. saudara tirinya sudah di butakan oleh kasih tak sampai.
"apa terlihat di belakang? " Tanya Liam pada driver berbadan kekar seperti binaragawan. "menurut rekanku ada tapi tak ada signal menyalip. " mereka berkomunikasi lewat earphone sesuai keinginan Liam. ini bukan lagi masalah sepele tapi sangat berbahaya. bisa saja Ethan bertindak nekad pada mereka. Liam harus siap siaga melindungi istrinya. Tuan Rodrigo langsung mengirim anak buahnya ketika Liam memberinya informasi, tentu ayah mertua harus melindungi anak dan menantunya.
"bangun baby, kita sudah sampai." Liam menepuk pipi Grace lembut tak ingin membuatnya kaget dan linglung. mata Grace menyipit menyesuaikan penglihatan. Ia pun menggeliat meregangkan otot-otot nya yang sempat tegang.
"aku lapar... " adu Grace merengek manja. "pesan apapun yang kau mau Grace." grace mengangguk lalu turun dari mobil setelah pengawal membukakan pintu. Liam menggandeng tangan Grace masuk ke dalam cafe yang sering di kunjungi Liam saat berkunjung ke Piana.
"kau tahu, aku melihatmu di sana bersama pria. kau bahkan tersenyum lebar dan menggenggam tangannya." Liam menunjuk meja di sisi jendela mengingat kejadian tempo dulu.
"Haha kau salah, itu paman Jack. aku memintanya berkencan dengan Aby. seharusnya kau mendatangi ku saja, aku sempat berpikir gila karena berhalusinasi melihatmu. " ternyata Grace tidak salah waktu itu memang Liam. Liam jadi menyesal tidak peka terhadap takdir yang selalu mempertemukan mereka tanpa sengaja. "sudah, sekarang kan kita sudah jadi husband and wife. ayo pesan makanan, ajak mereka juga." Grace menunjuk ketiga pengawal yang sibuk dengan urusan masing-masing. satu menelpon, satu meneropong satunya lagi tak luput menatap ke arah mereka.
"mereka sudah di gaji, biarkan saja. " Liam menanggapinya malas.
"justru karena mereka bekerja untuk kita, kita harus berterima kasih dan mengapresiasi itu." ucapan Grace memang selalu menghangatkan hatinya. Liam tersenyum bangga mendapat istri sepertinya. meski Liam lebih tua, Grace mampu menuntunnya ke hal hal baik.
__ADS_1