My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
sebuah kejujuran


__ADS_3

Karena situasi darurat di perusahaannya, Christian terpaksa harus kembali dan meninggalkan Paris. Ia selalu mengumpat pada Daniel yang di rasa tidak becus mengurusnya.


"Christian, mereka menginginkan kehadiranmu sebagai pemimpin perusahaan. Aku lantas bisa apa? " Perkataan Daniel tidak ada salahnya, klien VIP memang selalu menargetkan kepuasan yang bisa di berikan oleh pihak penyedia jasa.


"Baiklah, aku akan mencari penerbangan paling awal. Tahan mereka sampai aku tiba." Perintah Christian, dan Daniel menghela nafas lega dia menurut.


Satu bulan berada di tempat kelahirannya, Christian bahkan gagal meyakinkan Alya. Dia seolah semakin menjauh darinya. Alya lebih sering menghabiskan waktu bersama Theo.


Alya selalu mengenakan kaos longgar atau dress dengan di lapisi jaket bahkan hoodie agar tetap leluasa pergi kemanapun. Sayangnya gerak gerik Alya terbaca oleh Grace.


Mereka memang sedang berkunjung di kediaman Liam. Grace menangkap perubahan mood adiknya, cara dia makan lalu pergi ke kamar mandi setelahnya. Badannya jelas lebih berisi meski di tutupi hoodie berbahan tebal.


"Alya Shamare ! " Teriak Grace membuat keluarganya heran, selain mereka ada juga pasangan Jack Abigail dan Zen Samantha.


"Grace pelan kan suaramu! Kau menakuti anak-anak mu. " Tuan Rodrigo memperingati putri pertamanya.


"Sam, Zen, bawa Dylan dan Yuna ke kamar." Perintah Grace, mereka berdua mengangguk lalu mulai meninggalkan ruang keluarga.


Alya yang tadinya fokus menyantap buah strawberry jadi kaget sendiri. Dia berdiri mendekati Grace.


"Kenapa Gracia? Kau marah padaku tanpa alasan yang jelas." Seperti terpancing, Alya berani menatap kakaknya.


"Sampai kapan kau akan menutupi kebenarannya dariku? Katakan, kau hamil anak siapa? " Suara Grace nyaring menggema mengisi ruangan yang sunyi.


Jelas Alya kecolongan, dia pikir bisa menahannya sebelum kepergiannya besok. Acara ini memang sebagai perpisahan Alya dan keluarga Grace.


"Grace, biar daddy jelaskan. " Mencoba menengahi, Tuan Rodrigo bersuara.


"Biarkan dia yang menjawab dadd. Alya bukan anak kecil lagi. " Tolak Grace.


"Ya, aku memang bukan anak kecil Gracia Rodrigo. " Alya tertawa sinis mengucapkan nama lengkap kakaknya. "Aku bahkan tidak memiliki nama belakang yang sama dengan kakak ku sendiri. Apa aku marah? Selama ini aku diam, aku pikir aku bisa mengabaikannya. Setelah kenyataan tentang keluarga ini, aku kehilangan masa kecilku bersama daddy. Aku masih terjebak di sana Grace! Ya, benar. Kesialan terus berlanjut di saat aku mendapatkan nasib yang sama sepertimu.


Aku masih merasa diriku belum siap menjadi seorang ibu, saat aku sendiri merasa kekurangan kasih sayang daddy atau bahkan mommy. Mereka hanya fokus padamu, memperhatikan mu agar kau tidak terluka. Dan itu membuat luka di hatiku semakin besar Grace.


Kau hebat, menginginkan seorang anak meski tanpa pernikahan aku akui itu. Tapi kau dan aku berbeda Grace.


Aku sendiri tidak tahu apakah aku lahir di dalam sebuah pernikahan atau bukan."


Teriak Alya meluapkan emosinya.


Plak,,,


Sebuah tamparan mendarat di pipi Alya. Bukan Grace, melainkan Patricia ibunya sendiri.


"Berhenti merengek Alya! Aku tidak membesarkan mu untuk menjadi liar seperti ini. " Bahkan Patricia menuding wajah Alya.


Grace terduduk lemas di atas sofa setelah mendengar kejujuran adiknya. Adik yang selama ini ia pikir baik-baik saja. Menangis, Grace merasa gagal menjadi seorang kakak untuk Alya. Dia bahkan bersimpuh di hadapan Alya, menggenggam tangan dinginnya. Entah karena menahan marah dan gugup atau Alya memang sedang tidak baik-baik saja.


"Aku minta maaf Al, please jangan membenciku. " Suara serak Grace membuat posisi Alya semakin terpojok.


"Bahkan kalau bisa dan ingin, aku berharap bisa membenci kalian. Kenyataannya aku tidak bisa Grace, lihatlah! Mommy bahkan sudah seperti ibu kandung mu. Dia membelamu dari pada aku. Jadi ku mohon, anggaplah dia sebagai ibumu, berhenti memanggilnya bibi! Dia bukan pelayan mu Grace."


Kali ini Patricia membeku, dia tak menyangka Alya sangat mengerti perasaan yang selama ini bahkan ia kubur dalam-dalam. Tanpa mengatakan apapun, ternyata Alya mengetahui hal yang selalu mengganjal di hati ibunya.

__ADS_1


"Alya, tenanglah! Pikirkan bayi dalam kandunganmu." Tuan Rodrigo merangkul pundak Alya, dia khawatir mental Alya akan terguncang.


"Maafkan daddy, maafkan kakak mu dan juga mommy. Kami semua menyayangimu Al. Jangan berpikir kau sendirian di dunia ini. Tinggalkan lubang tak berdasar itu, kami semua akan selalu ada di sisi mu." Alya terisak pelan di dalam dekapan Rodrigo. Grace berdiri, menyusul masuk ke dalam dekapan adik dan ayahnya.


"Aku menyayangimu Al, kau bagian dari hidupku. Kau boleh marah pada siapapun sesuka hatimu saat kau perlu melakukannya. Jangan membiarkan itu menjadi penyakit." Mengelus kepala Alya lembut, Grace mencoba membimbingnya.


"Maafkan aku dadd, Grace, aku sudah salah selama ini. Harusnya aku mengeluarkan isi hatiku." Akhrinya Alya menyadari, semua hanya karena ketidak mampuannya mengungkapkan perasaan. Sejak lama mereka sangat peduli pada Alya hanya saja Alya seolah di butakan rasa iri pada kakak nya sendiri.


"Argh,,, " Rintihan terdengar begitu memilukan, Alya merintih merasakan sakit luar biasa. Kali ini ia yakin bukan hanya kram biasa.


"Kau kenapa Al? Patricia menghampirinya. "Mommy, sakit sekali." Alya bahkan mencengkram kuat tangan ayahnya.


"Sebaiknya bawa Alya ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu pada kandungannya." Saran Abigail yang tengah menggendong putrinya.


"Ya, kita pergi sekarang. Tolong beritahu supir untuk menyiapkan mobil." Perintah Rodrigo meminta bantuan Grace. Grace bergegas keluar rumah, namun ternyata suami nya baru pulang kerja bersama seorang pria.


"Ada apa Grace? Kenapa kau panik sekali?" Liam menahan laju Grace.


"Alya hubby, dia harus di bawa ke rumah sakit sekarang." Tergesa-gesa menjelaskan, nafas Grace bahkan terengah-engah.


"Alya,,, " Teriaknya panik ketika melihat Alya di gendong oleh ayahnya.


"Uncle, Al kenapa? " Tanyanya tak sabar melihat Grace berkeringat dingin menahan sakit dengan memegangi perutnya.


"Laters Christian,,, " Tak ingin membuang waktu, Rodrigo terus berjalan menuju mobil yang sudah siap.


Langkah Christian terhenti ketika tangannya di cekal oleh Patricia.


"Dia hanya sakit lambung, Christian aku dengar dari Theo kau harus segera ke London. Kenapa di sini? " Meski Christian sadar bibi Pat sedang mencoba menahannya, Christian tetap bersabar dan menjawabnya.


"Bibi, aku hanya ingin berpamitan. Dan membahas pekerjaan kami di London, tapi sepertinya Alya tidak bisa kembali dalam waktu dekat." Jawab Christian dengan wajah sendunya.


Grace yang tidak ikut mengantar Alya, dia tidak tahu kalau ibunya sedang menyembunyikan kehamilan Alya dari ayah anaknya. Menganggap kedatangan Christian hal wajar.


"Oh ya, Christian bukankah Alya sempat tinggal di tempat mu? Apa kau tahu siapa pria yang dekat dengan Alya selama ini?" Setiap melakukan panggilan dengan Alya Grace sering menanyainya, namun Alya selalu bilang tidak dekat dengan pria manapun.


"Kami sangat dekat Grace, memang ada apa? "


Plak,,,


"Grace... " Patricia terperanjat kaget.


Bukannya menjawab, Grace malah menampar Christian. Sungguh Christian tidak mengerti kenapa Grace melakukan itu padanya.


"Jadi kau yang menghamili adik ku Chris? Mom kenapa kau diam saja, Jangan bilang kalian menyembunyikan nya dari pria ini?" Melihat kebisuan Patricia Grace seakan menyadari kecerobohannya. Mungkin Alya memiliki alasan tersendiri merahasiakannya dari Christian.


Tanpa berkata apa-apa, Christian bergegas meninggalkan kediaman Rodrigo. Dia masuk kembali ke dalam mobil untuk menyusul Alya. Kalimat Alya hamil masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.


Mengemudikan mobil seperti pembalap, Christian berharap Alya dan calon anaknya baik-baik saja. "Kenapa kau tega padaku Al kenapa? " Berulang kali Christian memukul kemudi, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


***Alya's Pov***


"Aku tidak tahu, bahwa kehilangan akan sesakit ini.

__ADS_1


Penyesalan memang selalu datang terakhir. Andai saja aku bisa memutar waktu mungkin aku tidak akan pernah menyebutnya sebuah kesalahan.


Tidak, dia adalah hal terindah yang pernah ku miliki. Secara cepat aku bisa menerima dan menyayanginya.


Kini aku telah di tinggalkan olehnya, dan hatiku sangat hancur.


Maafkan mommy, semoga kau menjadi bunga surga di sana. Mommy love you so much, baby. "


Mendengar penjelasan dokter Adrian seakan duniaku hancur. Karena tekanan darahku yang tinggi aku mengalami pendarahan. Kehilangan calon anak ku, ternyata lebih berat di banding melepaskan Christian bersama wanita lain.


"Alya, kau harus kuat sayang. " Sayup-sayup terdengar suara daddy membisikan kalimat penyemangat. Mataku terlalu susah untuk terjaga, mungkin efek anestesi selama mendapat penanganan berbama kuret tadi.


Sebelum kehilangan kesadaran aku melihat dengan jelas dokter Adrian memegangi makhluk kecil itu dengan sangat hati-hati. Ya, selama perjalanan menuju rumah sakit aku mengalami pendarahan hebat.


"Daddy,,, " Bisikku pelan sekali, padahal aku merasa sekuat tenaga memanggilnya. Pria tua itu semakin mendekat ke arah wajahku. "Yes sayang, kau membutuhkan sesuatu?" Ia bertanya penuh perhatian. Hal yang jarang aku lihat sebelum hamil calon cucunya.


"Aku ingin minum,,, " Sial, tenggorokan ku sangat kering. Dan aku perlu meneguk air meski hanya sedikit saja. Kemana mommy di saat seperti ini? Aku jadi malu meminta perhatian daddy.


"Minumlah pelan-pelan Al." Daddy dan kakak ipar membantuku untuk bisa menyedot air di dalam gelas menggunakan pipet.


"Istirahat Al, kami akan menjagamu." Tanpa menghakimi, kakak ipar melayangkan ucapan yang begitu hangat. Mungkin selama ini aku terlalu mengabaikan kehadirannya. Padahal Liam adalah kakak laki-laki yang penuh perhatian. Dia selalu mengirimi ku uang saku berapa ribu dolar selama tinggal di London.


Brak,,,


Belum sempat aku menutup mata untuk kembali tidur, seseorang membuka pintu ruangan dengan sangat kasar.


"Alya! Jelaskan padaku semua ini! Beraninya kau membohongi ku, dan kau bahkan membiarkan anakku pergi! " Teriaknya tanpa memikirkan perasaan ku yang juga hancur saat ini. Akan ku biarkan dia melampiaskan amarahnya.


"Christian tenanglah! Alya belum pulih sepenuhnya." Terlihat kakak ipar mendorong dada Christian untuk keluar. Dia tidak ingin Christian menggila di hadapanku.


"Liam, adik mu sungguh keterlaluan. Dia bahkan berniat memisahkan kami hanya karena keegoisannya. Apa kau puas sekarang Al? Kau adalah yang terburuk yang pernah ku temui." Makian Christian ku Terima, perkataannya tidak sepenuhnya salah. Tapi satu hal yang aku tidak Terima, dia mengira aku sengaja membiarkannya pergi.


"Christian,,, " Akhirnya aku tidak tahan, ku paksakan duduk meski bagian intiku masih terasa ngilu dan perih.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Sekuat tenaga ku tahan air mata ini, sayangnya mereka lolos begitu saja. Setelah mengucapkan kalimat itu tenggorokan ku seakan tercekat.


"Maafmu tidak akan mengembalikannya Al. I give up on you. " Sama sekali Christian tidak memperdulikan bagaimana sakitnya tubuh dan hatiku, dia pergi begitu saja setelah puas menyalahkan ku.


"Christian,,, " Daddy berusaha menjelaskan semuanya, ku tahan segera lengan cinta pertamaku itu.


"Biarkan dia dadd, Christian berhak marah dan membenciku." Namun berbeda dengan daddy, kakak ipar benar-benar mengejarnya.


Pov end...


Liam menarik paksa pundak Christian, setelah dia berbalik Liam langsung menghajar wajahnya. Belum puas, sekali lagi Liam meninju perut Christian.


"Jangan hanya mementingkan perasaanmu saja Chris. Alya sama terpukul nya denganmu. Dia berulang kali meminta bayinya bertahan selama perjalanan. Pikirkan juga kondisi mentalnya! Kau hanya menambah beban Alya." Puas memarahi Christian, Liam kembali menuju kamar Alya.


Menyeka darah di sudut bibirnya, Christian pergi dari rumah sakit untuk mengejar penerbangannya. Baginya semua sudah berakhir. Christian akan berhenti mengharapkan Alya lagi. Perasaannya menguap bersama perginya calon anak mereka.


Di kamarnya, Alya menangis dalam diam. Dia meminta waktu untuk sendiri, Rodrigo dan Liam menunggu di luar sambil menunggu kedatangan Patricia.


"Kau pergi saat aku membutuhkan mu. Mungkin ini karma ku Christian. Maafkan aku." Batin Alya berkecamuk merasa kehilangan sosok Christian.

__ADS_1


__ADS_2