My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
Theo menggila


__ADS_3

London,


Christian tampak begitu frustasi menunggu kabar dari Alya. Dia uring-uringan selama beberapa hari. Ia sudah menghubungi orang tuanya namun mereka sama sekali belum bertemu Alya. Daniel begitu pusing melihat bosnya seperti itu.


"Kau, lebih baik ambil cuti saja. Susul dia ke Paris. " Akhirnya ide tercetus di kepala Daniel. Christian yang mendengarnya langsung berbinar.


"Kau sedang tidak bercanda bukan Niel?" Memastikan dirinya tidak salah, Christian berjalan mendekati Daniel. Dia mencengkram kedua pundaknya.


"Ya, pergilah. Biar tugasmu aku yang handle. Kau malah membuatku pusing jika terus begini. " Menepis tangan Christian, Daniel duduk di kursi kebesaran sang sahabat.


"Apa aku sudah cocok menjadi pengganti sementara mu? " Christian tertawa melihat lelucon Daniel. Hubungan keduanya terjalin sejak lama. Daniel bersahabat dengan Christian saat mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Dia bergabung di perusahaan Christian saat sahabatnya menjabat sebagai CEO lima tahun yang lalu.


"Thanks Niel, aku akan bersiap." Christian meraih jasnya di gantungan pojok ruangan. Meninggalkan Daniel yang mulai fokus memeriksa laporan.


"Pergilah Chris. Aku tidak ingin kau kembali terluka seperti dulu. " Menjadi teman baik, artinya Daniel sangat mengetahui kisah hidup sahabatnya. Dan sekarang ia berharap Christian bisa memperjuangkan Alya. Setelah puas menatap pintu ruang kerja Christian, Daniel kembali bergelut dengan pekerjaan nya.


***


Alya dan orang tuanya berada di dalam mobil, mereka akan mengunjungi Theo sebelum pergi ke tempat tujuan mereka. Alya memaksa ingin menjenguk Theo, setidaknya ia harus meminta maaf atas akibat penolakannya.


Rodrigo bisa bernafas lega, karena Coco Cheryl akan menjaga Grace menjelang persalinan nya. Di bantu Samantha dan Zen tentunya. Kini hubungan Liam-Arthur dan Coco Cheryl menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Mereka sama-sama akan menjaga Dylan, cucunya.


Berada di tempat khusus rehabilitasi pinggiran kota Paris, Alya turun dari mobil. Ia mengenakan Midi dress berwarna hitam, lengkap dengan sneaker dan topi putihnya.


"Sebaiknya kita pergi bersama Al. " Perintah Rodrigo, dia khawatir hal buruk terjadi di dalam. Sementara Patricia menunggu di dalam mobil.


Alya berjalan masuk beriringan bersama sang ayah. Menanyakan kamar Theo pada petugas jaga di dekat pintu masuk. Bangunan menyerupai castel megah bergaya abad ke lima belas. Mengalami beberapa kali renovasi.


Di unit milik Theo, sudah ada nyonya Aline dan tuan Oliver menunggu di depan. Sebelumnya Rodrigo memang sudah memberi kabar Alya akan berkunjung. Mereka saling menyapa seperti biasa. Alya lebih banyak diam di banding saat mereka bertemu di acara pertunangan Christian.


"Boleh aku masuk bi? " Sedikit ragu, Alya ingin sekali langsung pergi. Namun mereka berharap Alya mau mengajak Theo mengobrol sebentar.


"Masuklah Al, bibi akan menemanimu. " Aline tahu kondisi mental Theo masih belum pulih sepenuhnya.


Merekapun masuk ke dalam, meninggalkan Oliver dan Rodrigo berdua saja.


"Ini bukan salah Alya, jadi stop merasa khawatir. Theo anak yang kuat, dia hanya sedang hilang arah. " Oliver dan Rodrigo duduk di area lobby.

__ADS_1


"Aku tahu. Tapi Alya dan aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa." Dia berbicara membahas lamaran Theo.


"Keputusan kalian sudah benar, Theo hanya akan semakin terluka jika Alya mengasihaninya." Bukan soal Theo saja, Rodrigo merasa sudah menghancurkan keluarga Oliver. Alya kini tengah mengandung penerus keluarga mereka. Dan dia akan menutupi hal itu sebelum Christian menyusul Alya.


Sementara di kamar Theo, Alya berjalan ragu mendekati Theo yang sedang berdiri di balkon kamar. Aline hanya akan mengantar, namun dia urung keluar. Biar saja dia menunggu Alya.


"Theo,,, " Panggil Alya, Theo berbalik memandangi Alya dari atas hingga bawah. Seakan tidak terkejut dengan kehadirannya. Alya bisa melihat, Theo tampak kurus dari sebelumnya. Lingkar matanya begitu jelas menandakan kurang tidur.


"Pergilah Al, aku tahu kau hanya akan mengasihani ku. " Tolak Theo, enggan berbicara dengannya.


"Bukankah kita masih menjadi teman? Kau tidak merindukan temanmu ini? " Melangkah kedepan, jantung Alya berdegup kencang semakin dekat dengan Theo.


"Berhenti! " Titah Theo, Alya menurut. Sebegitu dalam kesalahan Alya sehingga membuat Theo berubah membencinya, pikir Alya.


"Untuk apa kau datang kemari? " Tanya Theo, hatinya menghangat bisa melihat Alya lagi. Gadis yang sudah Menoreh luka di hidupnya. Karena Alya Theo berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi petualang cinta, menyentuh obat terlarang bahkan menjadi pria dingin.


"Untuk meminta maaf, maaf telah menyakiti perasaan dan juga harga dirimu. Aku salah Theo. Tapi aku tidak berniat menghiburmu. Aku sudah melalui hal sulit juga. Jadi berhenti berbuat gila, pikirkan orang tua dan kakakmu yang sangat khawatir." Theo malah tertawa sinis mendengar nasehat Alya.


Theo menarik lengan Alya, mencengkeramnya kuat. Membuat Alya meringis namun ia tahan, setidaknya Theo perlu melampiaskan amarah pada dirinya.


"Dengar, kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan kakak ku hah? " Jarak mereka begitu dekat, membuat Alya merasakan nafas hangat dari mulut Theo.


"Kau keliru, kami tidak memiliki hubungan apapun. " Sanggahan Alya semakin menyulut emosi Theo. Dia menarik Alya mendekati tembok pembatas balkon.


"Theo,,, lepaskan Alya. " Bibi Aline berteriak memarahi kegilaan anak bungsunya. Bukannya menurut, Theo malah mendorong tubuh Alya menaruhnya diatas pembatas.


Alya berontak mencoba melepaskan diri. Theo benar-benar dibutakan amarahnya. "Katakan Al, kau akan menerima lamaran ku. Aku tidak ingin mendengar penolakan lagi. " Paksa Theo, Alya semakin tersudut ketika Theo malah mencekik lehernya.


Mendengar keributan dari arah kamar Theo, Oliver dan Rodrigo bergegas masuk kedalam. Betapa terkejutnya mereka menyaksikan pemandangan menegangkan di luar kamar.


"Theodor lepaskan Alya! " Bentak Oliver, dia lelah melihat Theo yang susah di atur dan liar.


"Jangan sakiti Alya Theo, uncle mohon. Dia sedang sakit. " Semoga saja Theo luluh mendengar Alya sedang tidak baik-baik saja.


Alya terbatuk batuk mulai kehabisan nafas, wajahnya memerah. Tangannya bergelut dengan Theo, berusaha melepaskannya. "Just kill me,,, " Pinta Alya, dia pasrah akan nasibnya di tangan Theo. Bila Alya mati di tangannya mungkin bisa menghilangkan kebenciannya terhadap Alya.


Terperangah ketika Alya mengatakan hal itu, Theo mengendurkan tangannya. Dia menghempaskan tubuh Alya begitu saja. Mengacak-acak rambutnya frustasi, Christian terduduk lemas di lantai.


"Alya,,, " Tuan Rodrigo merangkul Alya. Dia begitu khawatir Alya dan kandungannya terganggu.

__ADS_1


"Aku ingin pulang dadd. " Suaranya hampir tak terdengar, leher Alya memerah bekas cengkraman tangan Theo. Mereka berjalan menjauhi Theo.


"Maafkan Theo Al, ini salah uncle tidak becus mengurusnya. " Sebelum keluar Oliver menyampaikan permohonan maafnya pada Alya.


"Bukan salah kalian, semoga Theo cepat pulih. " Tuan Rodrigo menepuk pundak Oliver menguatkan sahabat nya.


Mobil membawa mereka kembali ke Paris. Alya memutuskan untuk membantu Theo sembuh lebih dulu. Alya merasa bertanggung jawab atas terguncangnya jiwa Theo. Awalnya Patricia dan Rodrigo menolak keras, namun mengingat bagaimana Theo tadi akhirnya Rodrigo setuju. Dengan syarat Alya selalu di dampingi dirinya.


di bandara, Christian merasa kesal karena Sera memaksa ikut. berulang kali dia melarang, Sera beralasan ingin menjenguk calon adik iparnya Theo. mobil jemputan Christian dan Sera sudah menunggu di depan.


"antarkan Sera ke hotel La Chambre." perintah Christian pada supir.


"loh Chris, kenapa ke hotel. bukankah aku bisa tinggal di apartemen mu? " Sera enggan tidur di hotel, dia ingin bersama Christian selalu.


"Jangan berharap Se, aku masih tinggal bersama orang tuaku di rumah mereka. apalagi sekarang mereka sedang menjaga adik ku. aku tidak ingin kita hanya berduaan di rumah tanpa orang tuaku. " Sera tidak habis pikir, Christian sangat teguh pendirian. padahal dia tahu bagaimana kedekatan Christian dan Alya di belakangnya.


"tapi aku janji tidak akan mengganggumu Chris. please, ajak aku ke rumahmu. aku akan bosan selama di hotel sendirian. " Rengek Sera. Christian menghela nafas pasrah, mau tidak mau mengabulkan keinginan Sera.


sesampainya mereka di kediaman Oliver. Christian membersihkan diri terlebih dulu. dia berencana pergi ke rumah Alya sebelum mengunjungi Theo. namun dia mendapat pesan dari nyonya Aline kalau Theo sempat menyakiti Alya tadi siang. membuat darah Christian mendidih. ponselnya bahkan ia banting begitu saja.


menyambar kaos polo hitam, lalu Christian mengenakan jogger berwarna khaki. ia bergegas keluar menuju tempat rehabilitasi meski tubuhnya sangat lelah. Teriakan Sera Christian abaikan demi cepat sampai di sana. karena mengantuk Sera tidak berminat menyusul tunangannya. ia memilih menikmati hidangan yang sudah di siapkan asisten rumah tangga.


Mengendarai mobilnya dalam kecepatan tinggi, Christian juga berusaha menghubungi Alya. tersambung, Christian berharap Alya mau mengangkatnya.


"halo, Christian. " suara serak Alya menandakan dirinya baru bangun tidur.


"hey, are you okay? " tanya Christian penuh kekhawatiran. setelah beberapa hari Alya baru bisa di hubungi.


"I'm fine. kau sedang berkendara? " Alya mendengar deru mesin mobil begitu kencang.


"ya, aku akan melihat keadaan Theo. " begitu terkejut Alya mengetahui Christian ada di Paris.


"kau pulang? " nada bicara Alya terdengar kecewa di telinga Christian.


"bagaimana tidak, kau tidak pernah memberiku kabar membuatku takut. Di tambah Theo yang hilang kewarasan nya." Alya menebak Christian sudah tahu tentang kejadian yang di alaminya saat mengunjungi Theo.


"jangan keras padanya. Theo hanya mencari perhatian orang-orang. " saran Alya. Christian setuju akan hal itu.


"baiklah. aku akan menemui mu setelah ini." lanjut Christian.

__ADS_1


"jangan datang ke rumah ku. mari bertemu di suatu tempat, kau ingat kedai kopi di sebrang rumah sakit? itu tempat kita pertama kali bertemu. aku ingin menikmati kopi bersamamu. " Alya tidak ingin Christian bertemu dengan orang tuanya. meski mereka tidak bertanya siapa ayah dari calon anaknya, Alya sadar Rodrigo maupun Patricia sudah mengetahuinya.


"ok, see you soon baby. " ucap Christian lalu memutus sambungan. ia kembali fokus menyetir.


__ADS_2