
Seminggu berlalu, Alya sudah terbiasa tinggal sendiri di London. Sesekali dia akan bertukar kabar dengan keluarganya di Paris melalui sambungan video. Alya juga mulai menjalankan aktifitas belajarnya di kampus.
Untungnya ada Hellen teman baru Alya, dia jadi merasa betah meski kadang mendapat sindiran dari rekan seangkatannya.
Keduanya selalu pergi bersama saat tidak ada kelas atau sekedar makan siang di cafetaria. Dan sejak kepergian mendadak Christian malam itu, Alya belum bertemu dengannya lagi.
"Aku bahkan tidak tahu harus menanyakan pada siapa... " Batin Alya. Ia sama sekali belum memiliki nomer telepon Christian atau setidaknya Daniel.
"Al kau melamun,,, " Suara dan tepukan Hellen di tangan Alya menyadarkan gadis itu. Gadis yang masih setia memakai kacamata tebal berbentuk kotak.
"Benarkah? Aku sedang memikirkan pelajaran tadi. Oh ya Hellen, kau tahu Luke yang mana orangnya? " Hellen mengernyitkan dahinya, ia kaget Alya menanyakan seorang laki-laki padanya. Padahal baru satu minggu mereka berada di kampus.
"Kenapa Al kau menanyakan Luke? Dia ketua tim basket kampus kita. " Sedikit datar Hellen menjawab pertanyaan sederhana Alya. Namun Alya menganggapnya biasa.
"Dosen memintaku menjadi asistennya dalam mempersiapkan lomba melukis. Padahal aku sudah berusaha menolak, dia mengancam mengurangi nilai tugas-tugas ku Ell. " Panggilan Alya memang sengaja di buat agar lebih mudah memanggil nama teman nya.
"Oh begitu,,, " Hellen mengangguk mengerti, senyum pun tercipta di wajahnya yang sempat sendu.
"Ayo aku antar kau menemuinya, biasanya dia ada di lapangan basket. " Hellen menarik lengan Alya dengan penuh semangat, membuat gadis itu hanya bisa terkekeh pelan.
Mereka harus menyusuri koridor agar bisa sampai di lapangan basket indoor. Lebih tepatnya berada di samping aula pertemuan. Tim utama dan pelapis nampaknya sedang fokus berlatih. Alya baru melihat keramaian di sana, banyak para mahasiswa menonton mereka. Jawara kebanggan kampus.
"Itu dia! " Hellen menunjuk salah satu laki-laki berpostur tinggi sedikit kurus, kaos seragam basketnya tanpa lengan. Headband di kepalanya menambah kesan tampan dan berkharisma.
"Kau harus berhati-hati padanya Al, Luke seorang pemain. " Bisik Hellen di telinga Alya, memperingatkan temannya agar tidak jatuh cinta pada Luke.
"Aku mengerti Ell. " Langkah kaki Alya menjauhi Hellen, dia berniat mendekati Luke yang sedang melakukan break minum bersama anggota basket lainnya.
Beberapa pasang mata menatap Alya tak suka, kenapa gadis culun sepertinya berani mendekati tim basket.
"Apa kau Luke Adison? " Tanya Alya memastikan, Luke terlihat sedang sibuk mengelap keringatnya di leher maupun wajah.
"Ya, siapa kau? " Bukan Luke yang menjawab melainkan salah satu temannya.
"Luke, Sir Alex meminta ku menjadi asisten mu dalam persiapan lomba melukis. Namaku Alya Shamare, kau bisa mencariku jika membutuhkan bantuan." Mendengar penjelasan Alya Luke menjeda kegiatannya, melirik sekilas pada Alya yang berdiri kaku.
"Baiklah, apa ada lagi? " Tanyanya, Alya merasa diusir secara halus oleh Luke.
"Tidak, permisi. " Alya meninggalkan kerumunan para atlet basket kampus yang selalu di puja.
"Hah, sepertinya Sir Alex sengaja menyiksamu Luke. Dia memilih asisten paling buruk untuk pelukis handal kita." Ucapan penghinaan terhadap Alya begitu terdengar jelas. Luke hanya diam menatap punggung Alya yang seidkitpun tidak terganggu.
"Kapan kita selesai latihan? " Luke mengalihkan topik pembicaraan.
"Setengah jam lagi. " Jawab teman Luke yang sejak tadi aktif bicara.
"Katakan pada pelatih, aku ada tugas mendadak. " Luke menyambar tas dan botol minumnya. Ia berlari kecil untuk mengejar Alya dan juga Hellen tentunya.
__ADS_1
Alya dan Hellen yang mulanya ingin ke kelas terhenti oleh panggilan Luke. Luke berhenti dengan nafas terengah-engah. Hellen memicingkan matanya tak suka Luke mengejar mereka.
"Nona Shamare,,, " Sapa Luke, tangannya masih bertumpu di kedua lutut nya.
"Just Alya, panggil saja Alya. " Kata Alya membenarkan nama panggilannya agar Luke tidak perlu formal padanya.
"Ah ya Alya, kapan kau ada waktu? Aku ingin mencari beberapa warna cat yang sudah habis. " Tanya Luke, membuat Alya berpikir mencari waktu luang. Sementara dia sudah mulai aktif sebagai relawan lepas.
"Akan ku kabari kau jika waktunya tiba. Berikan nomer ponselmu. " Alya mengulurkan telapak tangannya meminta Ponsel milik Luke.
Luke mengeluarkan ponsel keluaran paling anyar dari tas jinjingnya. Kemudian dengan cepat Alya mengetik angka, dan dering ponsel miliknya berbunyi nyaring.
"Sudah, kami permisi dulu. " Bukan Alya yang Pamit melainkan Hellen menarik paksa lengan Alya. Luke dengan cepat menerima uluran ponsel dari tangan Alya.
Di meja kerjanya, Christian sedang menyandarkan kepalanya di kursi kebesaran. Sebuah notifikasi masuk lewat surel. Ia membuka isi pesan dari adiknya Theo, tangan Christian mengklik tombol putar pada video tersebut.
"Aku mengirim ini untuk sekedar kenangan, kau datang sangat terlambat Chris. " Ketikan Theo mengundang senyum tipis di bibir Christian.
Sebuah tayangan ulang tahun ke tujuh belas adiknya. Theo terlihat memberi potongan kue pertama pada seorang gadis cantik dengan rambut merah menyala. Seketika Christian membeku, dia melihat jelas wajah cantik dengan pipi merona akibat menahan malu mungkin.
"Alya,,, " Lirih Christian, sekarang dia mengingat kejadian di teras rumah keluarganya. Dimana Christian tanpa sadar mencium bibir manis Alya. Ya, meski dengan keadaan setengah mabuk Christian melihat seorang bidadari berjalan cepat ke arahnya.
Cantik, satu penilaian mutlak untuk Alya. Malam itu Alya tidak menyembunyikan parasnya dari siapapun. Christian beranjak dari kursi nya, ia buru-buru menyambar jas dan kunci mobil. Daniel berpapasan di depan pintu bingung dengan Christian yang pergi di saat jam kerja masih berlangsung.
"Chris kau mau kemana? " Tanya Niel menyusul langkah cepat Christian.
"Siapa? " Keduanya berdiri di depan lift untuk menunggu. Lift naik dari lantai paling bawah yaitu lobby.
"Alya, dia gadis yang sudah ku curi ciumannya. " Bagi Christian tidak ada rahasia yang bisa ia sembunyikan dari Daniel, atau sekalipun bisa Daniel akan langsung mengetahuinya dengan cepat.
"Kau gila Chris? Dia masih belia, dan lagi bukankah Theo menyukainya? " Pertanyaan Daniel berhasil menggetarkan hati Christian. Ia menatap wajah sahabat sekaligus sekretaris nya dalam-dalam.
"Ya, spertinya aku memang sudah gila Niel. Berberapa hari tidak melihatnya membuatku resah dan tersiksa. " Daniel menganga dibuat Christian, sejak kapan sahabatnya jatuh hati pada orang asing, gadis yang baru mereka kenal.
Daniel diam mematung, dia tidak berniat mengejar atau menemani Christian. Padahal dia berharap Christian sendiri dulu tanpa memikirkan perasaan hatinya. Daniel hanya takut Christian menjadikan Alya pelarian semata. Dia sangat mengenal sosok tuan Rodrigo, pria paruh baya yang tegas dan menakutkan ketika menghadapi musuh-musuh nya.
Di dalam perjalanan Christian memikirkan bagaimana caranya mendapatkan Alya. Bukan tanpa alasan Christian selama ini menjauhi Alya, dia takut tidak bisa mengontrol rasa penasarannya terhadap Alya. Dan berakhir menyakiti hati gadis itu.
Setelah mengetahui bahwa Alya yang ia cium di pesta ulang tahun Theo, senyum tak pernah luput di wajah tampannya. Seakan Christian memimpikan sesuatu lebih dari Alya.
Mobil berhenti tepat di parkiran kampus, ia bisa melihat Alya sedang berjalan keluar di ikuti seorang laki-laki muda.
"Siapa dia? " Tangan Christian mencengkram kemudi hingga menonjolkan buku jarinya.
"Alya,,, " Luke mengejar Alya yang terpaksa berhenti demi menghargai lawan bicaranya.
"Ada apa Luke? " Wajah Alya jika dari dekat memang sangat cantik meski berbalut kaca mata tebal. Beruntungnya Luke bisa melihat dengan jelas.
__ADS_1
"Kau pulang kemana? Aku bisa mengantarmu Al. " Alya melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Dia hampir terlambat.
"Aku,,, "
"Dia pulang bersamaku. " Suara berat menyela percakapan keduanya. Alya melihat Christian dengan penuh tanda tanya. Sedang apa pria itu di kampus nya?
"Benarkah Al? Sayang sekali, padahal aku ingin membeli catnya sekarang juga. " Luke menggaruk pelipisnya merasa kecewa tidak bisa bersama Alya.
"Besok ya Luke, sekarang aku ada pekerjaan lain. " Alya tersenyum tipis kemudian pamit terlebih dulu.
Alya masuk ke dalam mobil milik Christian tanpa membantah ataupun menolak. Karena Alya pikir Christian bisa mengantarkan dirinya ke tempat tujuannya.
"Kau mau pergi kemana Al ? " Christian membuka suara ketika mobil sudah membelah jalanan.
"Panti jompo, tolong antarkan ke sana. " Pinta Alya berharap Christian bersedia, dia sendiri yang mengatakan akan membawa Alya pulang tadi.
"Untuk apa kau kesana? " Christian bertanya penasaran.
"Menjadi relawan, salah satu kegiatan di luar kampus yang wajib. " Alya menjelaskan tujuannya.
"Oh ya, aku lupa. Kau tidak mungkin menjadi pekerja paruh waktu, keluargamu sudah sangat mapan. " Alya menatap tajam pria di sampingnya, dia tidak suka seseorang menyebut bagaimana latar belakang keluarganya.
"stop! " pinta Alya mendadak, membuat Christian keheranan.
"bukankah masih jauh? " dengan polosnya Christian menanggapi permintaan Alya.
"aku akan naik taksi, aku tidak suka kau menyebut keluargaku. kita tidak seakrab itu tuan Christian. " perkataan Alya berhasil memicu amarah di dada Christian, ia pun berbelok menuju bahu jalan untuk memberhentikan mobilnya.
Tangan Christian mencengkram lengan Alya cukup keras, berhasil membuat Alya meringis merasakan perih.
"Apa ciuman ku tidak berarti apa-apa bagimu Al? " pertanyaan itu, Alya pikir Christian tidak mengingat kejadian dulu. Alya membuang pandangannya ke arah depan. dia menghindari bertatap mata dengan Christian.
"jawab Al ! apa aku harus menjamah tubuhmu agar kita terikat, dan kau terbuka padaku. " Christian gemas sendiri melihat sikap Alya, gadis yang sangat tertutup dan seolah tak ingin di dekati oleh siapapun termasuk Theo adiknya.
Theo sempat bercerita kalau gadis yang ia sukai menolak perasaannya. karena tak ingin Alya menjauh Theo terpaksa mengubur dalam-dalam rasa sukanya. demi bisa berteman lagi dengan Alya.
"Kau menyakiti adik ku Al. pria seperti apa yang kau harapkan? sampai kau mengunci pintu hatimu. " Alya membisu. sampai detik ini ia sendiri tidak tahu alasan sesungguhnya menutup perasaan untuk siapapun bahkan keluarganya sendiri.
pertanyaan Christian menggantung tanpa mendapat jawaban dari Alya. Christian menghentakkan tangan Alya keatas pangkuan gadis itu.
"turunlah! percuma aku bicara denganmu. kau sudah seperti patung. " Alya menuruti keinginan Christian, dia turun dari mobil pria itu. secepat kilat Christian melajukan mobilnya menjauh dari Alya.
"aku tidak tahu, kenapa bisa hatiku mengeras. mungkin aku hanya kecewa akan takdir yang sudah mempermainkan kehidupanku. Apa tiga belas tahun tanpa daddy menorehkan luka begitu dalam di hatiku? lalu aku harus bagaimana agar bisa keluar dari lubang tak berdasar ini? "
Alya melihat lampu tanda pejalan kaki sudah menyala, dia memutuskan untuk pergi ke sebrang jalan. niatnya pergi ke panti jompo harus tertunda, sekarang Alya membutuhkan pelampiasan.
Alya jarang membawa rokoknya, apa lagi jika pergi ke kampus. ia pun terpaksa membeli yang baru di minimarket. dan mulai menghisap sebatang di kursi yang di sediakan perusahaan retail tersebut.
__ADS_1