My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 54


__ADS_3

Liam menyelesaikan tugasnya dengan baik agar cepat selesai. Ia ingin segera pulang supaya bisa bertemu anak dan istrinya di rumah. Sayangnya dia harus tertahan karena urusan yang tak penting baginya. Kliennya memaksa Liam untuk makan siang bersama di salah satu restoran terkenal di kota Zurich.


"Terima kasih tuan sudah mau menerima undangan makan siang kami." Tuan Dominic bersama anak perempuannya duduk berhadapan dengan Liam. Liam menghela nafas tak sabar karena sebentar lagi jam penerbangannya.


"Anda yang memaksaku tuan. Maaf aku harus pergi karena pesawat kepulanganku sebentar lagi. " Liam melirik jam tangannya sebelum beranjak dari kursinya.


"Tuan, Brigitte sangat mengagumi anda sehingga dia menyiapkan hadiah untuk tuan Liam. " Dominic dan wanita bernama Brigitte ikut berdiri, Brigitte menyodorkan sebuah paper bag ke hadapan Liam. Liam mengangkat alisnya tak berniat menerima pemberian darinya.


"Liam, aku harap saat aku sudah kembali ke Paris bisa bertemu lagi denganmu. " Brigitte tersenyum semanis mungkin agar Liam terpesona pada nya. Sayangnya Liam malah terlihat kesal mendengar orang asing hanya menyebut nama panggilannya saja.


"Maaf, aku tidak bisa menerima hadiah dalam bentuk apapun. Permisi. " Kalau bukan karena menghargai Dominic sebagai partner bisnis Liam enggan makan siang bersama mereka. Dia juga tidak mungkin menceritakan statusnya yang sudah memiliki anak dan istri. Liam harus menjaga keselamatan keluarga kecilnya dari siapapun yang berniat jahat.


"Aku tidak mau tahu Dadd, Liam harus menjadi milik ku. Dia sangat sempurna dan aku sepertinya menyukai Liam. " Brigitte masih menatap punggung Liam yang mulai hilang dari pandangan. Baginya mengejar Liam yang bersikap cuek dan dingin adalah sebuah tantangan menarik.


"Kau benar Bri, kalau kau jadi istrinya kita bisa menguasai Kerajaan bisnis Liam. Kita harus kembali ke Paris secepatnya. " Dominic setuju dengan rencana sang anak, mereka tidak tahu saja Liam sudah memiliki wanita yang sudah melahirkan anaknya.


,,,,,,,


Liam tiba di kediaman nya saat tengah malam, harusnya besok pagi ia baru pulang tapi rasa rindu pada keluarga kecilnya membuat Liam memilih pulang lebih awal. "Apa mereka sudah tidur? " Tanya Liam pada bibi Wen yang menyambut kedatangannya.


"Sudah tuan, tadi nona sedikit mengeluh tak enak badan jadi saya buatkan ramuan untuk mengembalikan kebugaran tubuh nya. " Terang bibi Wen memberitahu keadaan istrinya Liam.


"Terima kasih bi, bibi selalu menjagaku sejak dulu dan sekarang istri juga anak ku. " Ucap Liam tulus menyampaikan rasa Terima kasihnya pada bibi Wen maupun bibi Jill. Liam menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Sam yang baru selesai membacakan dongeng hingga Dylan tertidur.


"Anda sudah sampai tuan? " Sam berbaik hati menyapa Liam hanya karena dirinya atasan Sam.


"Ya, Terima kasih sudah menjaga anakku." Kali ini Liam sedikit ramah pada Sam, menurutnya tidak ada hal mencurigakan dari pengasuh Dylan itu.


"Sudah tugasku tuan, permisi. " Sam menunduk pamit dari hadapan Liam yang kini berjalan menuju kamarnya. Terlihat Grace sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut tebal sampai batas lehernya. Tak ingin membangunkan sang istri Liam menunda kegiatan mandinya, ia berbaring di samping Grace dan menatap wajah lelapnya.

__ADS_1


"I miss you baby,,, " Bisik Liam pelan kemudian mengelus pipi Grace secara lembut. Grace menggeliat merasakan seseorang menyentuh nya. Ia akhirnya membuka mata mendapati Liam sudah berada di dekatnya.


"You're home,,, " Grace tersenyum lega ketika Liam kembali dari perjalanan bisnisnya. Kedua mata mereka terus bertatap menyiratkan kerinduan begitu besar. Andai saja Liam tak ingat apa yang di katakan bibi Wen di pastikan mereka akan melalui malam panas yang panjang.


"Are you okay? " Tanya Liam memastikan keadaan sang istri, tangannya bergerak menyentuh kening Grace ketika mereka saling berhadapan. Benar saja Grace sedang demam sejak sore tadi, Liam merengkuh tubuh Grace untuk masuk kedalam pelukannya.


"I was fine, mungkin aku hanya terlalu lelah." Grace menyembunyikan sesuatu dari Liam agar tidak terjadi keributan. Pasalnya sejak kemarin Grace mengeluh merasa nyeri pada bagian bekas jahitan lukanya. Liam pasti sedang sangat lelah mungkin besok baru ia akan mengatakannya.


"Maaf membuat mu bangun, tidurlah Grace. Aku sudah di sini kau tidak perlu khawatir." Liam menepuk-nepuk lengan Grace menina bobo kan istrinya.


Keesokan paginya mereka bersiap untuk beraktifitas seperti biasanya. Grace menata makanan di meja dengan setelan kerjanya. Dylan di bantu Sam mengenakan seragam sekolah. Selain itu Grace juga selalu menyiapkan pakaian kerja Liam sebelum turun ke dapur. Sebuah keluarga harmonis seperti impian Grace sebelumnya.


"Seharusnya kau istirahat saja Grace, aku sudah memutuskan untuk menggaji Zen menjadi sekretaris ku. Kau tidak akan selamanya bekerja untukku. " Liam duduk di kursi tunggal bertepatan dengan tibanya Zen di rumah mereka.


"Apa aku di pecat lagi? " Nada bicara Grace terdengar bercanda meskipun ia serius bertanya.


"Good morning daddy and mommy,,, " Belum sempat Grace memberitahu Liam suara Dylan menggema mengejutkan semuanya.


"Morning Dy, kau tambah tampan seperti daddy. " Liam meraih Dylan untuk di pangku olehnya. Dylan tersenyum tanpa ingin membalas pujian sang ayah. Dia malah fokus menatap kegiatan ibunya.


"Dadd, aku ingin kita berlibur bertiga. Boleh kah? " Tanya Dylan, bila di ingat mereka bertiga memang belum pernah melakukan liburan sejak berkumpul menjadi satu keluarga.


"Baiklah Dy, akhir pekan kita pergi berlibur." Liam setuju atas usul anaknya, tak peduli berapa banyak pekerjaan di kantor harus ia tinggalkan demi kebahagiaan keluarganya. "Hore,,, Terima kasih dadd. Mom kau dengar kan? Daddy mampu memberi waktunya untuk kita. " Liam terkejut mendengar ucapan Dylan ia pun menatap sang istri dengan wajah datar nya. Jadi Grace mendoktrin Dylan bahwa Liam tidak memiliki waktu senggang untuk keluarga kecilnya?


"Ayo duduk yang benar Dy, cepat sarapan lalu berangkat sekolah. " Perintah Grace pada Dylan, ia tak ingin beradu argumen di hadapan sang anak dan orang-orang di rumah.


"Ok mom. " Dylan turun dari pangkuan Liam kemudian duduk di kursi khusus untuk nya.


Saat ketiga nya akan masuk mobil Liam berhenti lalu menatap Grace, yang di tatap hanya bisa tertunduk takut Liam akan memarahinya. "Sam, kau antarkan Dylan ke sekolahnya bersama Zen. Aku dan istriku akan langsung ke kantor. " Perintah Liam, ia lalu berjalan ke garasi untuk mengambil mobilnya yang lain. Grace menghela nafas bersiap menerima kemarahan suaminya. "Turuti saja apa kata dia Sam. Aku titip Dylan. " Grace pun menyusul Liam karena mobil yang mengantar Dylan akan segera berangkat. Sam mengangguk lalu menyusul Dylan di kursi samping kemudi.

__ADS_1


"Tuan maaf, aku harus memangkumu. " Dylan sudah duduk dan tak melihat kedua orang tuanya. "Mommy and daddy dimana auntie? " Sam bingung harus menjelaskan apa karena sejak tadi Zen terus memperhatikan nya.


"Mereka ada pekerjaan yang mendesak tuan. Aku akan mengantar tuan ke sekolah." Sam pun menaruh Dylan di pangkuannya. Zen menatap Sam meminta penjelasan namun Sam hanya bisa mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Mereka tidak bisa membahas masalah orang dewasa di hadapan anak kecil, itu akan mengganggu mentalnya.


Di perjalanan Liam dan Grace masih saling terdiam. Liam sama sekali tidak berpikir Grace akan mempengaruhi pandangan Dylan tentang kesibukan mereka. Anak menggemaskan itu memang kurang perhatian orang tuanya yang sibuk bekerja. "Maaf, aku hanya memberi pengertian agar Dylan tidak menambah bebanmu. " Grace akhirnya buka suara, ia harus meluruskan ke salahpahaman diantara mereka.


"Bukankah kita sudah sepakat untuk menghabiskan akhir pekan. Hanya saja kemarin aku ada pekerjaan mendadak. " Liam mengerti situasi keluarganya yang harus di tuntut profesional, kalau pun bisa Liam ingin selalu ada untuk anak dan istrinya.


"Ya kau benar, aku mungkin akan berhenti bekerja dalam waktu dekat. Lagi pula sudah ada Zen bukan? " Grace sudah memikirkannya dan ia akan mengalah menurunkan egonya demi Dylan.


"Thanks baby, kau selalu mengerti keadaanku. " Liam meraih tangan Grace lalu mengecup punggung tangannya. Grace bisa tersenyum kembali setelah mereka menyelesaikan semuanya.


"Kita harus bekerja sama Liam, apa pun masalahnya kau dan aku harus berdiskusi." Liam mengangguk setuju dengan pemikiran Grace.


Sementara di mobil yang lain Sam terlihat menatap lurus ke depan, ia merasa mobil berjalan begitu lambat. Seharusnya dengan jarak yang dekat mereka sudah sampai di sekolah sejak tadi.


"Apa mobil ini dalam masalah? Aku takut tuan Dylan akan terlambat. " Samantha tak berani menatap Zen meski ia jengkel akan sikap dinginnya.


"Aku tahu siapa dirimu,,, " Kata Zen membuat Sam meringis dalam hatinya. Jadi Zen sudah memeriksa jati diri Sam, bagaimana kalau dia mengadu pada Liam? Apakah nasib Sam akan sama seperti saudara angkat nya?


"Kau hebat bisa hidup tanpa kehadiran orang tuamu, aku salut. " Sam bernafas lega karena Zen tidak sepenuhnya mengetahui sosok keluarga yang sudah mau mengadopsinya.


"Itu bukan hal yang membanggakan. Terima kasih sudah menghargai kondisi ku. " Sam tersenyum tipis namun Zen tidak bisa melihat itu karena ia fokus membelokkan kemudi, mobil sudah tiba di depan gerbang sekolah. Ketiga nya keluar dan Dylan sudah di tunggu miss.


"Ok jagoan, belajar yang rajin ya. " Zen berjongkok mengajak Dylan melakukan fist bump.


"Siap uncle, bye uncle, bye auntie. " Dylan melambaikan tangannya pada mereka kemudian masuk ke dalam bersama miss. "Aku akan berjalan kaki, tuan bisa langsung ke kantor. " Sam akan meninggalkan Zen namun pria itu menahan tangannya. "Jadilah pengasuh yang baik, aku meminta bantuan mu. Dylan memiliki orang tua yang sibuk, aku kasihan padanya. " Zen memohon dengan tulus agar Sam bisa menjadi teman untuk Dylan dikala ia merasa kesepian. "Tentu tuan, Dylan anak yang baik. Aku sangat menyukai nya. " Zen kali ini bisa melihat langsung senyuman manis seorang Samantha. Tiba-tiba saja jantung Zen berdetak sangat cepat. Ada apa gerangan, Zen buru buru melepaskan genggamannya lalu pamit tanpa kata meninggalkan Sam.


Saat mobil Zen sudah berlalu Sam melihat seorang pria mencurigakan di sebrang jalan seperti memperhatikan nya. Tak mau di ganggu preman Sam pun memilih pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2