
Kampus begitu heboh kedatangan pemilik galeri seni yang tengah naik daun di awal pembukaannya. Jajaran kursi kepemimpinan universitas of the Arts London menyambut pengusaha sukses itu dengan sangat ramah. Memperlakukan layaknya tamu kehormatan.
"Terima kasih tuan Oliver sudah mau berkunjung. Kami sedih karena tidak berhasil menjadi partner galeri seni milik tuan. " Tentu rektor membahas soal kekalahan Luke di ajang kompetisi melukis.
"Benarkah? Tapi bukankah pemenang utama kemarin kuliah di kampus ini? Aku bahkan sengaja datang untuk menemuinya." Ternyata Alya masih merahasiakan jati dirinya di hadapan orang-orang. Membuat Christian tak habis pikir.
"Maksud tuan siapa? " Tanya sir Alex yang memang ikut hadir di ruang pertemuan. Tak mau melangkahi keputusan Alya Christian memilih diam tak menjawab.
"Lupakan, kalian tidak mengenalnya. Oh ya, bisakah Sir Alex menunjukkan kelas Alya Shamare? Aku kerabat yang ingin bertemu dengannya. " Untung saja Christian ada alasan.
"Mari saya antar, kebetulan dia sedang menyelesaikan projek lukisan untuk gedung kampus kami. " Sir Alex bangkit dari duduknya, menuntun Christian keluar.
Kepergian Luke membuat Alya menempati posisi pertama sebagai harapan kampus di bidang seni lukis. Sir Alex maupun rektor sudah mengakui hasil karyanya. Sejak malam itu Alya dan Christian kembali menjaga jarak. Christian tidak akan mendekat ketika Alya belum memberinya kesempatan.
Namun setelah mendengar kabar mengenai kegilaan Theo, dia perlu bicara dengan Alya. Alya masih fokus memberi sentuhan terakhir. Dia di beri tugas melukis potret pendiri kampus seni London.
Saking fokusnya Alya tidak menyadari kedatangan Christian. Sir Alex menunggu di luar atas permintaan Christian.
"Apa aku mengganggu? " Suara Christian tak hanya memecah keseriusan Alya, juga beberapa Seniman amatir di ruangan itu.
"Christian,,, ada urusan apa kau di sini? " Alya meletakan kuasnya, ia juga berhenti dari kegiatan itu.
"Ini soal Theo. Ku mohon Al, temui dia. Setidaknya beri Theo pengertian apapun itu supaya dia bisa berhenti berulah." Sebelum Christian menjelaskan lebih detail, Alya memang sudah mendengar kabar dari Grace kakaknya.
"Aku tidak bisa memberinya harapan palsu Christian. " Alya menunduk, dia paling malas berurusan dengan perasaan.
"Tolong bantu aku, dia akan semakin gila jika tahu hubungan kita. " Tidak ada rasa canggung Christian berbincang dengan Alya di ruangan itu.
"Apa dia sangat buruk? " Tanya Alya sedikit khawatir keadaan Theo. Bagaimanapun dia temannya.
"Hampir overdosis, dia berada di pusat rehabilitasi. " Jelas Christian.
"Itu artinya aku harus pulang bukan? " Alya mendongak berharap Christian menahannya pergi.
"Ya, demi aku. Tolong selamatkan adik ku." Sebenarnya Christian berat menyerahkan Alya pada Theo, tapi orang tuanya selalu memohon agar Christian mau membujuk Alya.
"Baiklah, aku tidak mau menjanjikan apapun. Jangan berharap banyak padaku." Akhirnya Alya setuju untuk menjenguk Theo di Paris.
__ADS_1
"Thanks Al... " Christian mengusap kepala Alya lembut. Membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri.
Alya meminta cuti kuliah sementara waktu, dia harus menyelesaikan sesuatu yang sempat ia abaikan. Yaitu lamaran Theo. Dengan bantuan Christian, Alya mendapatkan izin dari pihak kampus. Untuk urusan tugas masih bisa ia kerjakan secara online.
"Pak Ben, aku hanya pergi sebentar. Kenapa mengemas semua keperluan ku? "Tanya Alya ketika dia duduk menikmati makan siang sebelum ke bandara. Membiarkan pak Ben mengambil alih pekerjaan nya.
" Agar nona tidak perlu membelinya lagi ketika di rumah. " Jawab pak Ben sekenanya.
"Benar, aku tidak suka membuang uang pak Ben. " Alya tersenyum tipis mengingat kebiasaannya berhemat. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Oh ya nona, setelah kita tiba di Paris. Aku tidak akan menjaga nona lagi, jadi aku mohon jaga diri nona baik-baik." Lanjut pak Ben memberitahu Alya tentang pengunduran dirinya menjadi penjaga Alya.
"Tidak masalah pak Ben, kau sudah terlalu lama meninggalkan keluargamu. Terima kasih sudah menjagaku selama hampir setahun ini. " Ucap Alya, pak Ben melihat ketulusan di manik mata Alya. Bukannya menolak tapi Alya malah membiarkan Ben berhenti bekerja.
"Ayo nona, kita harus ke bandara sekarang untuk check-in. " Ajak pak Ben setelah selesai menutup koper milik Alya. Alya sendiri salut karena pak Ben berhasil mendapatkan tiket penerbangan dengan sangat mudah dan cepat. Tidak tahu saja, pak Ben sudah membelinya jauh-jauh hari sesuai perintah tuan Rodrigo.
"Baiklah pak. " Alya bergegas membuang sampah sisa makanannya. Ia dan pak Ben turun ke bawah beriringan.
Ketika mereka hendak menyetop taksi, mobil SUV hitam berhenti tepat di hadapan mereka. Kaca mobil terbuka memperlihatkan Daniel sebagai pengemudi. Di belakang Christian turun dari mobil membantu pak Ben memasukkan koper ke bagasi.
"Maaf Pak Ben, aku sama sekali tidak memanggilnya. " Bisik Alya terkekeh melihat keterkejutan pak Ben ketika Christian menjemput mereka. Ada rasa bersalah di hati pak Ben melihat Alya tersenyum mencari pembelaan. Jelas Alya takut pak Ben melaporkan kedekatan mereka pada Tuan Rodrigo.
Di perjalanan Christian merogoh saku jasnya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat infinity bracelet berwarna perak.
"Untukmu Al,,, " Alya sedang melamun menatap ke luar jendela kaget ketika Christian meraih tangan kirinya. Christian memasangkan gelang yang memiliki simbol hubungan berlanjut tanpa terputus itu.
"Christian that' so cute... " Alya mengusapnya beberapa kali. Ia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah dari seseorang.
"Aku tahu kau tidak membutuhkan apa-apa, kau sudah sangat berkecukupan Al. Tapi biarkan gelang ini menjadi penuntun untukmu mengingat ku. " Ungkap Christian, terulas sneyum bahagia bisa memberinya kejutan.
"Jangan lupa kembali... " Bisik Christian tak ingin pria di depan mereka mendengarnya. Alya mengangguk samar, dirinya terlalu bahagia saat ini.
Pak Ben masih diam seribu bahasa ketika menyaksikan perpisahan keduanya di bandara. Dia juga kesal mengingat Christian adalah tunangan seseorang. Alya seperti sedang menjadi perusak diantara mereka.
"Kabari aku saat tiba di sana. Jangan terlalu keras pada Theo. " Perintah Christian, dia memeluk Alya sebentar sebelum melepasnya pergi.
Pak Ben mengajak Alya segera menuju pintu keberangkatan. Setelah cukup jauh, Alya berbalik lalu melambaikan tangannya pada Christian.
__ADS_1
"See you soon Christian, Niel... " Teriak Alya di tengah suara panggilan pada seluruh penumpang tujuan kota Paris.
"Bye Alya... " Balas Christian, ia tersenyum tanpa ingin menggerakkan tangannya.
"Christian, apa kau tidak khawatir mengirim Alya menemui adikmu? " Daniel dan Christian berjalan keluar menuju mobil mereka.
"Alya tidak selemah yang kau pikirkan Niel, dia begitu keras kepala. Mana mungkin Alya luluh hanya karena kegilaan Theodor. " Mungkin benar ucapan Christian mengenai Alya, Daniel hanya takut Theo malah akan memanfaatkan kondisinya untuk menjerat Alya.
Namun Daniel tidak berani menyampaikan hal itu pada Christian, dia sangat peduli pada adiknya.
Yang Daniel tahu, alasan terbesar Christian tidak memperjuangkan Alya adalah Theo. Dia tidak ingin menyakiti perasaan sang adik. Bagaimanapun Christian hadir di tengah-tengah Alya dan Theo. Rasanya Christian menjadi seorang pengkhianat.
Tanpa mereka sadari, Sera mengikuti mobil Christian sejak pergi dari kantornya untuk mengantar Alya ke bandara. Sera lalu menghubungi seseorang sebelum melajukan mobilnya.
"halo, kau masih menginginkannya bukan? lalu turuti semua rencanaku, maka kau akan mendapatkan nya. " katanya pada penerima telepon di sebrang sana.
"ya, kau tidak perlu khawatir. aku sangat peduli padamu calon adik ipar ku. " seringai di wajah Sera begitu menakutkan. dia sudah merencanakan semuanya dengan matang dan bertahap. tinggal menuntaskan langkah akhir.
orang yang di hubungi Sera merupakan Theo. selama ini dia memberi masukan agar Theo bisa mendapat perhatian Alya. agar Alya berhenti berhubungan dengan Christian tunangannya.
"kau tunggu saja Alya, hidupmu berada di bawah kendaliku. " setelah menutup panggilan, Sera menggenggam erat ponsel miliknya. jika rencananya dan Theo berhasil makan Sera tidak perlu bergerak untuk merusak hubungan Christian dan Alya. ibarat kata, diam seperti cupu, bergerak layaknya suhu. selama ini Sera berlagak acuh mengenai kedekatan Christian dan Alya. tak ada yang menyangka bahwa Sera sudah merencanakan semuanya sendirian. tentu menggunakan Theo sebagai alatnya.
*** Paris ***
Setelah mengudara sekitar satu jam lebih, Alya dan pak Ben tiba di bandara. Sudah ada supir pribadi menunggu mereka. Lagi-lagi Alya kecewa keluarganya tidak menjemput langsung.
"Maaf nona, tuan dan nyonya sedang menghadiri acara baby Shower nona Gracia. Anda ingin di antar kemana? " Tanya supir setelah mobil melaju meninggalkan area bandara.
"Aku lelah, antarkan ke rumah saja. " Jawab Alya di kursi belakang. Sementara pak Ben sudah pergi menggunakan taksi menuju kediaman keluarganya.
Alya memejamkan matanya, mencoba meredam jetlag yang ia rasakan. Padahal tidak panjang penerbangan pesawat. Ia merasa mual dan pusing secara bersamaan. Memijat pelipisnya, Alya melihat kembali bracelet pemberian Christian.
"Ternyata dia masih memiliki sisi romantis." Gumam Alya pelan sekali, agar supir tidak menyadarinya.
Mengingat Theo, Alya merasa gugup dan cemas harus menghadapinya seperti apa. Kalau bukan permintaan Christian, Alya tidak akan pulang ke Paris.
"Maaf nona, kita sudah sampai." Satu jam berkendara mobil tiba di halaman rumah tuan Rodrigo. Supir terpaksa membangunkan Alya yang ketiduran selama perjalanan.
__ADS_1
"Terima kasih. " Ucap Alya setelah supir membukakan pintu. Membiarkan pria muda seusia Grace mendorong koper miliknya. Alya sangat lelah dan ingin segera merebahkan diri.