
Butuh waktu satu bulan lebih Alya meyakinkan orang tuanya. Bahwa dia bisa hidup mandiri dan menjaga dirinya dengan baik. Alya bahkan harus melewatkan prom night demi membujuk daddy dan mommy. Sebenarnya Tuan Rodrigo dan nyonya Patricia sudah memberi Alya izin. Sayangnya keputusan mereka tidak bisa di ubah, yaitu menitipkan Alya pada kakaknya Theo.
"Dengar, kau harus patuh pada Christian. Atau kami akan malu karena ulahmu Al." Sang ibu mengurai pelukannya, Alya di antar keluarga ke bandara menuju London.
"Promise momm. Thanks for everything mom, I love you. " Alya tersenyum tipis. Ia berusaha keras untuk tidak menangis di hadapan keluarganya.
"Ingat Al, daddy akan selalu ada untuk mu. Meski kita berjauhan, jangan sungkan meminta bantuan ayahmu ini. Ok? " Tuan Rodrigo membelai hangat rambut merah menyala Alya, Alya mengangguk patuh. Bagaimanapun dia tidak tahu seperti apa dunia luar. Selama ini ia di jaga dengan baik oleh orang tuanya.
"Al, kau mengingatkan ku pada diriku. " Kata Grace, mereka berpelukan singkat.
"Kau benar kak. Kita memang perlu mencari jati diri kita dengan cara apapun. " Alya melihat Grace sudah jauh lebih baik sekarang. Dia bahagia, meski menempuh perjalanan panjang dalam meraih mimpi dan pada ujungnya Grace memilih menjadi ibu rumah tangga.
"Jangan mudah percaya pria di luar sana Al. Aku tidak ingin kau terluka. " Peringatan Liam menciptakan rasa kesal di hati Alya, ia mencibir nasehat kakak iparnya.
"Haha kau lupa dulu Gracia juga salah mempercayai mu." Alya tidak peduli suasana menjadi canggung karena ucapannya. Toh dia tidak akan bertemu dengan Liam lagi.
"Alya, jaga sikapmu. " Patricia menegur Alya yang sepertinya sengaja menggoda Liam.
"Sorry." Alya segera meminta maaf dengan wajah datarnya.
"Auntie Al,,, " Dylan yang sejak tadi menunggu dalam gendongan uncle Jack merentangkan tangannya meminta di peluk oleh Alya.
"Don't leave me,,, " Bibir Dylan maju menahan kekecewaan karena harus berpisah dengan tantenya.
"Hey, kau harus jadi anak yang kuat Dy. Jaga mommy mu dan calon adik-adik mu. Auntie akan sedih juga jika kau sedih. " Susah payah Alya menahan diri untuk tidak menangis, sayangnya pertahanan Alya luntur saat berhadapan dengan Dylan.
"Aku janji auntie, jangan lupa kita harus sering melakukan panggilan video. " Tangan mungil Dylan mengusap air mata di pipi Alya. Alya mengangguk menerima perintah Dylan.
"Pergilah Al, raih mimpimu. Buat kami bangga. " Uncle Jack mengusap ujung kepala Alya, Abigail tidak bisa hadir karena harus beristirahat di awal kehamilannya. Mereka berdua sudah menempati apartemen pemberian Grace.
"Terima kasih paman. Salam untuk bibi Aby." Alya pun berjalan meninggalkan keluarganya. Mereka melepaskan salah satu harta berharga di hidup mereka.
"Alya, semoga kau bertemu dengan pria baik. Aku ingin kau bahagia apapun jalan yang kau pilih. " Batin Grace mendoakan sang adik.
"Maafkan daddy Al, kau pasti merasa tersisih karena daddy selalu fokus pada kakakmu. " Tuan Rodrigo menghapus cairan bening yang sudah menumpuk di matanya. Mereka pun beranjak keluar dari bandara untuk kembali melanjutkan aktifitas masing-masing.
,,,,,,,
Keluar dari terminal kedatangan, seorang gadis berambut ikal yang di kuncir kuda dengan kaca mata tebal berbentuk kotak berjalan menarik koper besarnya. Selama perjalanan ia menyempatkan diri mencatok rambut untuk sekedar mengganti ke suasana baru. Jika melihatnya orang akan mengira dia gadis cupu dan culun.
Alya mengedarkan pandangannya mencari sosok yang di jadwalkan akan menjemput dirinya.
"Where he is... " Alya berhenti, dia melihat pria tampan memegang sebuah papan bertuliskan namanya. Senyum Alya tercetak jelas di wajahnya.
"Christian Oliver ? " Sapa Alya sekaligus memastikan.
"Nona Shamare ? Aku Daniel sekretaris tuan Christian, mari kita ke mobil." Sedikit kecewa, Alya pikir kakaknya Theo yang menjemput langsung. Mengingat kepribadian Theo Alya pikir kakaknya juga sebaik Theo.
__ADS_1
"Baiklah." Daniel mengambil alih koper besar milik Alya, gadis yang jauh dari kata menarik menurut pandangannya.
Alya duduk canggung di samping Daniel yang fokus menyetir. Ia ingin bertanya tujuan mereka namun enggan karena Daniel terlihat dingin. Dalam perjalanan ponsel Daniel berdering, dia mengangkat lewat tombol kemudi yang sudah terkoneksi.
"Yes boss,,, " Daniel menyahuti panggilan dari Christian.
"I'm on the way, aku harus membawanya kemana? " Daniel yang bingung memang belum mendengar keputusan bosnya. Ia hanya di beri tugas untuk menjemput tamu di bandara.
"Ok, we'll be there soon. " Alya tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan keduanya, Daniel melirik sebentar ke arah samping dan sedikit berpikir.
"Nona maaf, apa kau sudah memiliki tempat tujuan sebelum nya? " Daniel memicing memperhatikan wajah Alya.
"Tidak, karena ku pikir bosmu sudah menyiapkannya untuk ku. " Alya menjawab sekenanya saja, dia mengedikkan bahunya.
"Kalau begitu nona harus mengikuti ku dulu, bosku akan mengantar nona ke tempat tinggal nona." Daniel menyampaikan pesan sesuai perkataan Christian.
"Terserah." Alya sangat lelah berada di dalam pesawat berjam-jam, ia memandangi jalanan melalui kaca jendela mobil. Pikirannya sudah tertuju ingin merebahkan diri di atas tempat tidur.
Setelah beberapa saat membelah jalanan, mobil memasuki area hotel mewah yang memiliki bangunan mirip kastil. Alya yang tertidur segera membenarkan posisinya ketika mesin mobil berhenti. Matanya membulat sempurna, ia menatap Daniel tajam meski rasa takut mulai menyeruak.
"Turunlah nona, kami sedang ada rapat penting di dalam. Nona bisa menunggu di lobby atau di kamar tuan Oliver. " Daniel membuka seatbelt, tanpa menunggu jawaban Alya dia sudah turun dan memberikan kunci pada petugas valley.
"Eh tunggu,,, " Alya pun buru-buru melepaskan sabuk pengaman, dia berjalan cepat menyusul Daniel.
Alya di buat ngos-ngosan oleh langkah lebar Daniel. Ia terus saja mengekori pria tampan bermata sipit dengan bahu lebarnya.
Buk,,,
Alya meringis memegangi keningnya saat bertabrakan dengan punggung Daniel. Daniel menghela nafasnya kesal, kenapa dia harus di repotkan dengan kehadiran gadis culun di hadapannya.
"Ini, masuklah ke kamar di lantai sebelas nomer dua belas. Tunggu sampai rapat selesai dan nona akan di antar langsung oleh tuan Christian. " Alya menerima sebuah kunci master dari tangan Daniel. Meski ragu ia harus pergi karena ia tengah mengalami jetlag saat ini.
"Baiklah, thanks. " Jawab Alya acuh, ia bergegas menuju lift tanpa memikirkan reaksi Daniel.
"Kau berhutang banyak padaku Chris." Gumam Daniel kemudian berlalu melangkah. Ia harus melanjutkan kembali pertemuan perusahaan mereka.
Alya memandang takjub kamar milik Christian. Mewah, megah, seperti kamar di sebuah istana kerajaan. Blink, bernuansa gold. Satu kamar yang bertipe kondominium, dimana ada ruang tamu, mini kitchen set, dan dua kamar sepertinya.
"This is crazy,,, " Matanya berbinar ketika membuka tirai ruang televisi yang menyuguhkan pemandangan kota London. Hari mulai menggelap menampilkan langit berwarna jingga.
Terdapat beberapa barang pribadi milik pria yang ternyata kakaknya Theo. Alya menduga kamar ini memang cukup lama di sewa.
Alya yang sudah lelah memilih membaringkan tubuhnya di sofa. Ia masih memiliki etika untuk tidak masuk ke kamar orang sembarangan.
Meski di sofa, Alya sudah merasa nyaman karena memang benar-benar empuk . Tak butuh waktu lama, ia mulai menjelajahi alam mimpi.
"Niel, apa kau sudah mendapatkan informasi tentang pelukis anonim itu? " Christian dan Daniel berjalan keluar ruangan di jam makan malam.
__ADS_1
"Dia sangat licin seperti belut, menggunakan orang-orang yang bermasalah ekonomi untuk menjual lukisannya. " Niel juga heran kenapa sulit mendapatkan informasi pelukis amatir itu.
"Dimana temannya Theo? Kau sudah mengantar ke tempat tinggalnya ?" Christian dan Daniel memasuki lift untuk naik ke kamar mereka.
"Kau gila Chris, dia saja tidak tahu harus tinggal dimana. Katanya kau yang akan memberinya rumah. " Daniel menggeurutu meluapkan kekesalannya.
Christian tidak menyahut, ia memikirkan bagaimana caranya menjaga anak dari sahabat ayahnya. Hingga satu ide muncul di benaknya.
"Kau tahu kan aku sangat membenci mantan kekasihku? Biarkan dia tinggal di kamarku, agar saat Viona berkunjung dia akan merasa kesal." Mendengar penuturan bos sekaligus sahabatnya Daniel malah terkekeh geli.
Christian menatapnya tajam tak mengerti. Daniel menepuk pundak Christian, ia berhenti Mengggodanya.
"Taktik mu salah bos. Lihat dulu siapa yang ada di dalam kamarmu. " Kerutan di kening Christian muncul menandakan empunya tak mengerti.
Lift terbuka, mereka berjalan menuju ujung koridor. Hanya dengan kode akses Christian bisa langsung masuk di susul Daniel. Lampu sudah menyala sejak kehadiran Alya di dalam.
Mata Christian menyipit melihat seonggok manusia meringkuk di sofa depan televisi. Meski pakaian nya terlihat bermerek, tak bisa menunjang wajahnya yang culun.
"Dia siapa? " Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Christian.
"Bukannya kau mengenal gadis yang bernama Alya Shamare, kenapa masih bertanya? " Niel tak kalah bingung dengan keterkejutan Christian.
"Hah, dia anaknya tuan Rodrigo? Pengusaha berlian itu, kenapa penampilannya jelek seperti ini? " Chris menunjuk Alya yang tetap pada posisinya, Niel malah menggelengkan kepalanya heran.
"Memang bagaimana seharusnya Chris? Ku pikir kau mengenalnya. " Daniel dan Christian malah berdebat, membuat Alya terganggu tidurnya.
"Aku lapar,,, " Kata Alya menatap kedua pria yang berdiri kaku menatapnya.
"Merepotkan sekali. " Sahut Chris.
Alya menajamkan penglihatannya. Bukan karena ucapan protes Chris, melainkan wajah tak asing yang sedang di tatap nya
"Bukankah dia,,, sial. Ternyata pria menyebalkan itu kakaknya Theodor. Awas saja kau, aku akan membuat hidupmu berantakan. " Alya sibuk dengan pikirannya, matanya melotot namun mulutnya terkunci.
Chris menerima panggilan telepon dan meninggalkan Alya bersama Daniel. Ia memilih berdiri di balkon ruang televisi.
"Yes dad,,, " Jawab Christian.
"Apa kau sudah bertemu dengan Alya? Ingat jaga dia dengan baik Chris, anggap saja dia adik perempuan mu. " Tuan Oliver me wanti-wanti anak pertamanya agar tidak membuat ulah pada gadis nya tuan Rodrigo.
"Iya dad, aku mengerti. Kalau perlu aku jaga dia dua puluh empat jam agar daddy puas." Setelah mengungkapkan kekesalannya Christian mematikan sambungan seenak jidatnya. Padahal tuan Oliver masih ingin mendengar suara anaknya.
"Kita makan di bawah saja. " Ajak Christian dengan tatapan fokus pada layar ponsel. Ia merasa tidak perlu memperhatikan lawan bicaranya yang kurang menarik.
"Lihatlah, dia pria sombong dan arogan. Memandang orang melalui fisik. " Batin Alya memaki kepribadian Christian.
"Kau duluan saja Chris, aku akan menyusul setelah membersihkan badan. " Daniel sebenarnya sudah sangat lelah, ia merasa pusing melihat penampilan Alya. Mengganggu pandangan saja menurutnya.
__ADS_1
"Cepatlah, kau bilang lapar tadi. " Christian mengomel pada Alya, Alya mengerucutkan bibirnya tak kalah kesal.