My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 31


__ADS_3

Kehadiran baby Dylan begitu mewarnai hari dan memberi kebahagiaan melimpah. Jack baru tiba setelah Grace kembali ke rumah. Padahal ia sangat ingin menemani Grace melahirkan. Semangat nya menumpuk sejak jauh hari.


Bibi Pat membantu mengurus Dylan karena aktifitas Grace masih terbatas. Alya juga cekatan menjaga Grace, mulai dari mengantarnya ke kamar mandi, membetulkan posisi bantal hingga menyiapkan makanan untuk Grace. Tuan Rodrigo merasa bahagia melihat kedekatan mereka. Tidak salah dirinya menitipkan Grace, mereka bisa saling mengenal dan menerima sebagai keluarga utuh.


"Kak, berikan Dylan padaku. Aku juga ingin menggendongnya. " Baru kali ini Grace melihat Jack merengek seperti bocah. "Hey, aku kakeknya saja belum sempat menyentuh. Pokoknya kau setelah aku Jack." Tuan Rodrigo segera mendekat kearah Patricia yang berdiri di dekat box bayi. Alya hanya bisa tertawa melihat mereka memperebutkan baby Dylan. "Berisik sekali kalian ini, baby Dy harus banyak istirahat karena belum bisa beradaptasi. " Suara bibi Pat sangat pelan takut membangunkan bayi dengan rambut hitam tebal di tangannya.


Jack memilih duduk di tepi ranjang mengecek keadaan Grace.


"Ini akan menjadi masa rawan, kau harus istirahat dan jangan banyak pikiran. Kasus kematian ibu muda di sebabkan pendarahan pasca postpartum. Jangan malu kalau kau membutuhkan bantuanku." Grace mengangguk patuh menerima nasehat dari dokter Jack. Abigail juga mengatakan hal yang sama sebelum mereka keluar dari klinik.


"Terima kasih Al,,, " Ucap Grace pada adik perempuannya, Alya malah berhamburan memeluk tubuh Grace di tempat tidur. "Maafkan ibuku kak, aku takut kau membenci kami." Sedikit terisak Alya meluapkan perasaannya. Grace mengusap lengan Alya yang membelitnya.


"Kalian keluargaku Al, mana mungkin aku membenci. Aku malah bersyukur memiliki adik sepertimu." Semua tersenyum bahagia menyaksikan kedekatan kakak adik itu. Jack semakin kagum dengan kepribadian Grace ibu muda dengan segala masalah hidupnya masih bisa menerima kenyataan mengejutkan.


"Ayo kita keluar, biarkan Grace beristirahat." Bibi Pat mengajak semua orang meninggalkan kamar Grace. Sebelum pergi Tuan Rodrigo mencium kepala Grace. Tak menyangka kedatangannya malah bertepatan dengan kelahiran sang cucu.


,,,,,,,


Di sebuah kamar, seorang pria terduduk menatap pemandangan dari jendela besar di hadapannya. Entah kenapa sejak pagi ia terus meneteskan air mata. Rasanya sedih, perih, tapi ia tidak tahu apa alasannya. "Liam, sebaiknya kau berkonsultasi. Aku takut kau stres karena pekerjaanmu. " Ve duduk di samping memegang bahu Liam. "Tidak perlu Ve, aku baik baik saja. Mungkin lukaku belum cukup sembuh. Maaf karena harus melibatkan mu. " Liam melirik Veronica sebentar lalu kembali menatap datar pemandangan kota Paris.


"Aku tidak masalah Liam. Apa kau tidak takut tuan Rodrigo akan semakin membenci mu setelah mendengar kabar pertunangan palsu kita? " Hanya itu ketakutan terbesar Veronica saat menerima permintaan Liam. Demi memancing Grace keluar Liam membuat berita palsu tentang hubungan asmaranya.


Bukan tidak mencari, sejak kepergian Grace Liam mengerahkan seluruh kemampuan anak buahnya. Hanya saja tuan Rodrigo lebih berkuasa menutup seluruh akses informasi. Semakin hari ia lalui, Liam malah tambah merindukan Grace. Hanya Veronica yang ada di sampingnya memberi kekuatan. Bahkan wanita itu rela menunda kepergiannya ke London demi membantu Liam.


"Sebaiknya kau kembali Ve, aku tidak enak tunangan mu akan menunggu lama." Ujar Liam membiarkan Veronica pergi kali ini. Sudah cukup ia merepotkan sahabatnya. "Maka jangan membuatku khawatir, aku akan pergi setelah keadaanmu membaik. Pergilah jalan jalan agar kau bisa lebih rileks Liam." Saran Veronica ada benarnya, mungkin Liam butuh waktu luang menghindari pekerjaan yang menumpuk. Sebulan sekali mungkin sudah menjadi rutinitas Liam berlibur.

__ADS_1


"Terima kasih Ve, kau selalu ada untukku." Ucap Liam tulus, dirinya sudah banyak menyusahkan Veronica. Mereka dekat layaknya saudara, tuan Arthur merasa tenang ada seseorang yang menemani Liam. Tapi selamanya Veronica tidak akan terus berada di samping Liam. Dia juga memiliki kehidupan sendiri, dan Liam sadar betul akan hal itu. Mungkin berita palsu pertunangan mereka akan menjadi yang terakhir Liam membutuhkan sosok Veronica.


Dari sekian banyak kota indah di Prancis, Liam memilih berkunjung ke kota terpencil namun indah yaitu Piana. Dia ingin merasakan sensasi mengendarai ATV di perbukitan terkenal jalur menantangnya. Belum merasa lelah karena perjalanan panjang, selepas memesan hotel di sekitar pusat kota Liam pergi makan siang di restoran yang ramai pengunjung. Berpikir makanannya pasti enak.


Dari arah luar pemandangan restoran bisa terlihat, dimana ia menangkap sosok tak asing sedang asik bercengkrama dengan pria di hadapan nya. Matanya mulai memerah, tangan Liam mengepal dengan sendirinya. Berdiri cukup lama di trotoar tanpa ingin masuk ke dalam.


"Ayolah paman, kau harus mencoba menghabiskan waktu bersama Abigail. Aku sudah janji akan membujukmu." Grace menggenggam tangan Jack memohon agar mau menerima ajakannya.


"Kau yang berjanji Grace bukan aku. Dan stop memanggilku paman, aku geli mendengarnya." Grace malah tertawa lepas melihat ekspresi kesal Jack setiap Grace memanggilnya dengan sebutan paman. "Kenapa merajuk Jack, kau kan memang pamanku. Pokoknya nanti malam di teater Abigail akan menunggumu. Aku bahkan membelikan dua tiket untuk kalian." Belum berhenti usaha Grace menjodohkan pamannya dengan Abigail. Mereka sama sama dokter, spertinya akan serasi bila bisa bersama sebagai sepasang kekasih. Jack hanya bisa menggelengkan kepalanya, menuruti keinginan Grace adalah moto hidupnya sekarang.


Jack sangat takut Grace mengalami baby blues seperti awal awal dirinya menjadi seorang ibu muda. Terus menangis setiap malam saat menatap bayi mungil nya. Bahkan terparah Grace menolak menyusui langsung baby Dylan. Ia hanya fokus memompa Asi tanpa mau menggendong Dylan. Jadi mau tak mau, suka atau tidak suka Jack akan menerima ajakan Grace menonton film bersama Abigail.


Makanan mereka tiba di meja, Grace berbinar tak sabar ingin mencicipi chicken cream soup dengan potongan baguette. Matanya tak sengaja melihat punggung seseorang yang sangat ia kenali. Perlahan mulai menjauh dari tempatnya duduk. Grace berdiri tiba-tiba membuat Jack kaget melihatnya.


"Ada apa Grace? " Tanya Jack mengikuti arah tatapan Grace.


Waktu healing sudah usai, kini Grace duduk di dekat jendela kamar menyusui Dylan yang usianya menginjak satu bulan. Senyum tak pernah hilang di wajah Grace, jemari Dylan sangat imut sehingga ia selalu ingin menggigitnya.


"Dylan, maafkan mommy ya, bukan maksud mommy dan Grand Pa menjauhkanmu dari daddy. Hanya saja waktu belum memungkinkan." Grace mengelus pipi tembem Dylan, matanya sejak tadi memperhatikan Grace seolah mengerti ucapannya. Dylan malah tersenyum di sela mengenyot Asinya, membuat Grace mencium gemas bayi laki-laki nya.


"Terima kasih sudah bertahan untuk mommy, kau memang malaikat kecil ku Dy." Mengingat perjuangan Grace mengandung Dylan membuat Grace sangat bersyukur. Janin yang kini ia gendong sempat melemah dan terancam, untungnya tuan Rodrigo mengambil keputusan tepat untuk memberi obat penguat kandungan.


"Besok kita akan pergi piknik dengan auntie Al, jadi sekarang kau harus banyak mengisi tenaga Dy." Obrolan menggemaskan terus terjalin antara ibu dan anak. Bagi Grace pertumbuhan Dylan lebih penting di banding kesedihannya menjalani peran ibu tunggal.


Di salah satu bar terkenal di kota, Liam memilih menikmati kesendirian ditemani segelas anggur merah. Pikirannya kacau mengingat Grace bersama pria lain, mereka tampak begitu dekat. Grace bahkan tidak sungkan memegang tangan pria di hadapannya. Sayang Liam belum sempat mengenali wajah itu, wajah yang berhasil menciptakan kebahagiaan Grace.

__ADS_1


Sepulangnya menonton film, Jack mengajak Abigail mampir sebentar untuk sekedar menghangatkan badan. Mereka duduk di kursi berhadapan dengan bartender. "Buatkan kami dua gelas cocktail." Ucap Jack memesan minuman. Mendengar pesanan pria di sampingnya Liam malah tertawa sinis. Meremehkan karena mereka tidak berani memesan minuman kadar tinggi alkohol.


"Ada masalah apa bung, kenapa kau menertawakan kami? " Jack jelas tersinggung akan sikap Liam, pria yang masih tertunduk setengah mabuk.


"Kalian mengingatkanku pada seseorang." Liam mendongak untuk menatap wajah Jack. Jack terkejut melihat siapa yang berurusan dengannya.


"Dia suka minum, tapi tidak mau clubbing. Dia takut aku tidak bertanggung jawab, tapi menyerahkan tubuhnya. " Mungkin akibat melihat Grace Liam jadi teringat kembali kenangan mereka. Bahkan kini ia meracau pada orang asing. Tapi Liam bukan orang asing bagi Jack karena dia mengenal Liam dengan baik. Tak tahan mendengar keluhan Liam tentang Grace Jack mencengkram kerah kemeja Liam.


"Berarti kau yang bodoh, aku sangat sedih untuk wanita itu." Mendorong sekuat tenaga tubuh Liam hingga nyaris terjerembab ke lantai.


"Jack hentikan, lebih baik kita pulang sekarang." Sebelum menarik lengan Jack, Abigail tidak lupa membayar minuman mereka Tanpa mencicipi nya terlebih dulu.


Dalam keadaan emosi Jack menyetir dengan kecepatan cukup tinggi, Abigail was was menatap kemarahan seorang Jack. Baru kali ini ia melihat Jack bersikap kasar apa lagi pada orang yang tidak mereka kenal.


"Ada apa Jack? Aku takut kau lepas kendali." Mendengar nada tegang Abigail Jack mulai mengurangi kecepatan mobilnya.


"Pria sialan itu, dia ayah biologis Dylan." Jack mengusap wajahnya kasar sementara Abigail sangat terkejut mendengarnya. "Berarti kita harus memberitahu Grace, pria itu bukankah ingin mencari keberadaan Grace? " Tanya Abigail memastikan langkah yang akan Jack ambil.


"Tidak, Grace jangan sampai tahu soal ini. Liam memilih bertunangan dengan wanita lain dari pada mencari Grace dan anaknya." Abigail menjadi kasihan pada Grace, ternyata hidupnya cukup berat. Penolakan Jack akan cintanya bukan apa apa bila di bandingkan dengan kisah cinta Grace. Jack sepertinya memang menganggap Grace sebagai wanita, bukan keponakan. Abigail jadi enggan memaksakan keinginannya mendapat cinta seorang dokter tampan di sampingnya.


"Tapi Jack, kalau memang mereka di takdirkan bersama bagaimanapun dan entah kapan keduanya pasti akan kembali bertemu. " Tak terasa cairan bening jatuh setelah Abigail susah payah menahannya. "Aku tahu, aku akan membatasi kegiatan Grace selama pria itu masih di sini." Kepedulian Jack memang terdengar berlebihan untuk ukuran anggota keluarga. Abigail semakin yakin kalau Jack memang menyukai Grace.


"Bolehkah aku menginap di rumahmu Jack? Aku sangat merindukan Dylan juga Grace." Jack hanya mengangguk pelan mengizinkan Abigail tidur, karena sudah cukup larut untuk Abigail pulang ke rumah sewanya. Abigail bukan asli dari kota Piana. Wanita bertubuh semampai dengan rambut putih itu memang berasal dari New York. Ia memutuskan tinggal di kota Paris untuk sekolah kedokteran bersama Jack. Ia bahkan mengikuti Jack ke tempat asalnya agar bisa selalu dekat dengannya. Sebuah pengorbanan besar di lakukan Abigail.


Ke esokan paginya Grace di kejutkan dengan sosok wanita yang menjadikannya bantal guling. Grace tersnyum mendapati Abigail tidur di kamarnya.

__ADS_1


"Wanita ini selalu menyusahkan ku... " Gerutu Grace dengan nada bergurau. Berkat Abigail Grace mampu melewati masa baby blues nya, menjadikan mereka menjadi semakin akrab tentunya.


"Good morning Dy,,, " Grace menyapa baby Dylan yang sudah bangun sejak tadi. Bayi menggemaskan itu bahkan tidak menangis saat terbangun. Anak pintar dan pengertian.


__ADS_2