
Musim semi telah menyapa, salju tebal mulai tak terlihat lagi meninggalkan rasa sejuk semilir. Dedaunan akan mulai tumbuh mengisi kekosongan ranting pohon di jalanan. Perubahan musim juga berarti awal baru bagi perancang busana kenamaan. Mereka sibuk mempersiapkan peluncuran sedini mungkin.
Liam terbangun dari tidurnya di kamar hotel, tuan Arthur sudah duduk di sofa menanti untuk bicara dengannya. Liam menangkap kemarahan meliputi wajah sang ayah. Sepagi ini tuan Arthur bahkan sudah memegang gelas wine.
"Aku sudah mendengar dari Ve. Kenapa kau selalu saja bersikap bodoh Liam? " Cemoohan ayahnya tak di gubris, Liam memilih berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Pergilah ke La Collection, posisimu sudah di kembalikan." Perintah tuan Arthur, gerakan tangan Liam yang memegang handle pintu terhenti. Apa maksud dari ucapan ayahnya?
"Itu bukan milikku lagi dadd, lebih baik memiliki usaha kecil hasil keringat sendiri." Ucap Liam dingin.
"Datanglah saja dulu, kau akan tahu saat tiba di sana." Sepertinya percuma bicara dengan anaknya, tuan Arthur menyesal karena Grace selalu di sakiti oleh Liam.
Karena penasaran Liam akhirnya mendatangi kantor lamanya. Perusahaan yang ayahnya dirikan sejak ia kecil. Memang karena kekurangan modal mengharuskan tuan Arthur memecah ke pemegangan saham. Hari ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, keluarganya menguasai saham sebanyak tujuh puluh persen. Bayangkan, dengan itu jelas tidak akan ada yang berani melawan Liam lagi di kursi kepemimpinan.
Para bawahannya menyambut Liam dengan penuh suka cita. Mereka berbisik menyebar rumor kembalinya Liam sebagai CEO. "Selamat tuan, akhirnya anda kembali." Andy yang masih bertahan menyambut hangat kedatangan Liam.
"Aku masih belum mengerti, bisakah kau jelaskan padaku? " Andy malah terkejut bosnya belum mengetahui kabar yang sebenarnya.
"Tuan, anda di angkat menjadi CEO La Collection lagi. Berkat transaksi penjualan saham dari tuan Peter dan ayahnya. " Andy mulai menjelaskan satu per satu. "Entah bagaimana caranya, yang kita ketahui mereka tidak mungkin menjualnya dengan mudah. Seseorang sudah membujuk tuan Peter untuk menjual sahamnya dengan setengah harga." Lanjut Andy.
Bayangan Grace yang mendekati Peter secara mendadak, bahkan dia terlihat sangat ketakutan semalam mungkinkah ini semua perbuatan Grace?
"Tidak mungkin, mana bisa semudah itu?" Belum selesai rasa penasaran Liam , terdengar keributan di luar ruangan. Mereka bergegas melihat apa yang sedang terjadi. Di sana sudah ada Peter dan Marcus di jaga petugas keamanan.
"Sialan kau Liam, kau menjebak ku menggunakan wanita gila itu. " Peter berteriak meluapkan amarahnya, semua karyawan menyaksikan amukan anak dan ayah itu.
__ADS_1
"Jaga mulutmu Peter! Jangan pernah berani menghina Grace atau kau akan mati di tanganku." Liam meringis dalam hati, padahal dia juga selalu menuduh Grace yang bukan bukan.
"Aku tidak Terima Liam, dia memeras ku. Gracia membeli semua saham ku setengah harga, dia bahkan memberiku obat tidur. Aku kira akan berhasil mencicipi tubuhnya, ternyata dia sangat licik telah mempermainkanku."
"Hentikan, kalian berdua yang licik. Rasakan semua akibatnya sekarang. Penjaga bawa mereka keluar! Jangan pernah biarkan mereka masuk ke kantorku lagi." Liam memerintahkan pengusiran Peter dan Marcus. Marcus hanya mendengus kesal mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Liam.
"Dengar, karena semua masih belum normal aku ingin kalian tetap bekerja seperti biasa. Jangan terpancing kabar yang belum tentu benar." Titah Liam, semua staf kembali ke tugas masing-masing. Liam sendiri masih terkejut menghadapi situasi saat ini.
"Tuan, anda di minta mendatangi pengacara untuk pengesahan." Andy menyampaikan jadwal Liam di hari pertamanya kembali menjabat sebagai Ceo. "Untuk? " Tanyanya bingung.
"Seperti yang anda dengar dari tuan Peter. Nona Grace berhasil membeli saham sebanyak lima puluh persen setengah harga dari pasaran. Nona muda akan menyerahkan nya secara percuma atas nama anda tuan." Andy memang mengetahui semuanya karena dia di beri tahu oleh tuan Arthur. Tuan Arthur enggan menjelaskannya langsung pada Liam.
"Oh God,,, " Lirih Liam sangat tidak percaya mendengarnya. Ternyata di belakang Liam tanpa sepengetahuan dirinya Grace berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk mengembalikan milik Liam.
"Aku akan kesana setelah menemui Grace." Liam mengusap wajahnya kasar lalu pergi menuju basement untuk mengambil mobilnya.
Di apartemennya, Hecan dan Sia masih berdiri cemas menunggu Grace di depan kamar mandi. Sejak bangun wanita itu bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Grace biarkan aku masuk, kenapa kau lama sekali? " Sia kembali mencoba mengetuk pintu agar Grace mau membukanya.
"Aku akan memanggil dokter." Hecan keluar kamar menuju meja makan mengambil ponselnya. Belum sempat melakukan panggilan, bel berbunyi di tekan oleh seseorang. Hecan heran siapa yang bertamu sepagi ini.
"Ada apa? " Tanya Hecan sinis setelah mengetahui siapa tamu tak di undang di hadapannya.
"Aku harus bicara dengan Grace. Jangan halangi aku! " Liam berniat menerobos masuk namun tubuhnya di tahan keras oleh kedua tangan Hecan.
__ADS_1
"Berhenti mengganggunya, dia sedang sakit saat ini." Karena akan Percuma melarang Liam, terpaksa Hecan memberitahu keadaan Grace pada Liam.
"Please, aku ingin minta maaf padanya." Mendengar niat baik Liam akhirnya Hecan luluh, dia membiarkan tamu nya masuk walaupun sedikit khawatir Grace tidak mengizinkannya. Liam berjalan menuju kamar Grace, di lihatnya wanita itu sedang berbaring lemah di tempat tidur di temani Sia yang mengusap punggungnya.
Menyadari kehadiran Liam Sia segera bangkit memberinya kesempatan untuk berbicara
Grace yang mencoba untuk tertidur kembali sama sekali tidak menyadari seseorang di belakangnya sudah berganti. Liam tak tahan melihat Grace sakit seperti ini. Tangannya bergerak melanjutkan aktifitas Sia yang tertunda, mengelus punggung wanita yang sudah berjuang untuknya. Hari ini Liam bertekad untuk menjadi lebih baik bagi Grace. Liam akan mengungkapkan perasaan nya setelah Grace sembuh nanti.
"Sia, sepertinya aku akan berhenti bekerja." Tiba-tiba Grace bersuara lirih masih menganggap Sia berada di kamarnya. Liam tak bereaksi, keterkejutan jelas mendominasi wajahnya yang dipenuhi bulu bulu kasar.
"Aku lelah, rasanya sakit mendapat tuduhan atas apa yang tidak ku lakukan." Suara serak Grace terdengar seperti akan menangis. Ini jelas salah Liam, Grace membicarakan dirinya. Karena selama ini hanya Liam yang selalu mengatakan hal buruk tentang Grace. Grace sadar jika kata-kata Liam tentu di sebabkan karena rasa khawatir berlebih terhadap dirinya.
"Kau tahu Sia, andai aku bisa menerima perjodohan ku dengan Ethan. Tapi mana bisa aku menyakiti pria sebaik dia. Aku bahkan sudah kotor, tidak mungkin lagi bisa berdiri tegak penuh percaya diri untuk sekedar menemuinya. " Grace malu pada dirinya sendiri, selain sudah tidak virgin dirinya bahkan tengah mengandung benih pria lain.
Liam ingin berhambur memeluk Grace dari belakang, tapi itu hanya akan membuat wanita di hadapannya terkejut. Biarkan seperti ini sebentar Liam akan tahu isi hati dan pikiran Grace dengan mudah. Penuh keberanian, Liam berpindah mengusap rambut Grace tanpa menciptakan kecurigaan.
Beberapa saat berlalu, kini tinggal terdengar dengkuran halus karena Grace sudah mulai tertidur pulas. Liam mengecup ujung kepala Grace lalu membetulkan posisi selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
Hecan menahan kepulangan Liam, dia perlu bicara sesuatu hal penting padanya mengenai Grace. Mereka memilih duduk di coffee shop sebrang apartemen. Sementara Sia di minta menjaga Grace bila sewaktu-waktu dia kembali muntah.
"Jujur aku sangat membencimu, aku tidak menyukaimu, sialnya Grace malah terjebak oleh perasaannya terhadapmu." Hecan tanpa rasa sungkan mengutarakan pemikirannya selama mengenal Grace. "Accepted, tapi aku tidak berkeinginan membahas masalah pribadi kami padamu. Cukup kau berikan aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan." Terang Liam mencoba bernegosiasi dengan Hecan, orang kepercayaan tuan Rodrigo dalam menjaga putrinya Grace.
"Dengan cara apa? Tuan Rodrigo sudah menetapkan perjodohan Grace dan Ethan. Mungkin Grace juga akan menerimanya." Liam tersenyum geli mendengar penilaian Hecan tentang kredibilitas seorang Grace. "Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu Liam, lebih baik kau putuskan tindakan yang tepat untuk menyelamatkan kehidupan Grace." Kali ini saran Hecan melucuti keberanian Liam. Sampai detik ini dirinya mendengar isi hati Grace, Liam belum bisa menjanjikan apapun untuk wanita itu.
"Aku tahu, kau tidak perlu mengajariku." Liam bangkit dari duduknya, dia bersiap untuk pergi sebelum mendengar pertanyaan terakhir Hecan.
__ADS_1
"Apa kau sudah meniduri nya? " Hati Liam meringis di serang pertanyaan sensitif dari Hecan. Jelas itu sudah diluar batas posisinya.
"Not your business. " Sahut Liam kemudian pergi menuju mobilnya di pinggir jalan. Hecan hanya bisa menggelengkan kepala heran melihat sikap santai Liam. Padahal dia yakin kalau Grace pasti sedang mengalami morning sickness. Sepertinya Hecan perlu meminta bantuan tuan Rodrigo untuk menyelamatkan Grace.