
Menjadi satu kesatuan keluarga utuh merupakan mimpi Grace sejak kecil. Kehilangan ibunya membuat Grace lupa bagaimana di limpahi kasih sayang sosoknya. Saat dirinya menjadi ibu Grace malah mendapatkan ibu baru dan juga seorang adik perempuan manis.
Itulah alasan Grace memakai prinsip pernikahan dalam hidup. Agar anak anaknya kelak mendapat kasih sayang dari ayah maupun ibunya. Namun jika pasangannya tak ada niat menikahinya bukan salah Grace memilih melupakan pria itu. Tapi sudah ada Dylan di tengah mereka, Grace tentu perlu memperjuangkan kebahagiaan anaknya.
"Besok kau sudah bisa ke kantor bukan? " Tuan Rodrigo membahas pekerjaan di tengah berlangsungnya makan siang. "Dadd, apa perlu secepat itu? " Nyonya Pat merasa kasihan melihat Grace, kondisinya mungkin belum fit sepenuhnya.
"Pat, bisnis tidak pernah ingin tahu bagaimana keadaanmu. Apa kau sedang sakit, patah hati atau bersedih." Timpal tuan Rodrigo, tidak ada yang berani membantah satu dirinya mengatakan hal serius. Liam hanya diam dan tampak memikirkan sesuatu. Dia kasihan melihat Grace yang harus mengemban tanggung jawab.
Dia saja laki-laki masih kesusahan menyesuaikan waktu bekerja dan kehidupan pribadi. Belum lagi masalah internal di perusahaan, apa sanggup Grace menjalaninya? Rasanya Liam ingin membantu meringankan beban wanita itu. Lalu sekelebat ide muncul di benaknya.
"Iya dadd, besok aku akan bekerja kembali." Grace tersenyum getir mendapat perintah dari ayahnya. Mereka di tuntut profesional oleh anggota share holder lainnya.
"Mommy, aku ingin jalan jalan, boleh kan?" Dylan. Bersuara di tengah kecanggungan, dia duduk di antara Grace dan Liam. "Tentunya boleh, asal jangan nakal saat bersama daddy." Ucap Grace memberi pesan.
"Loh kan kita akan pergi bersama momm. Aku ingin mommy juga ikut." Grace mengusap tengkuknya mendengar permintaan Dylan. Jadi dia harus pergi bersama Liam?
"Pergilah Grace, Dylan pasti akan senang." Ayahnya malah memberi izin di saat dia sendiri berusaha menghindar.
"Baiklah Dy,,, " Akhirnya Grace terpaksa menerima ajakan Dylan dan Liam.
Mereka menuju tempat rekreasi Disneyland Paris yang terletak di daerah Marne La Valle. Tak ingin kejadian kejahatan terulang lagi Tuan Rodrigo dan Liam mengerahkan pengawal sekitar sembilan orang termasuk Josh. Grace duduk gelisah di samping Dylan yang berada di tengah. Ia belum terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Apa lagi itu akan memancing perhatian orang-orang.
Sekitar tiga puluh menit mereka tiba di tempat tujuan. Tak banyak waktu karena jam buka akan segera berakhir. Dylan hanya memiliki kurang lebih dua jam untuk menikmati permainan khusus anak anak. Keluar dari mobil Dylan berjingkrak gembira melihat pemandangan Disneyland. Biasanya dia hanya bisa melihat di gambar atau tayangan televisi.
"Momm, aku sangat senang bisa ke sini." Ucap Dylan menampilkan gigi rapinya. "Jangan berlarian Dy atau kau akan terjatuh." Untungnya para pengawal berpakaian casual jadi tidak begitu menarik perhatian pengunjung lain.
"Perlu ku sewakan kursi roda? Aku khawatir kau akan kelelahan." Liam buka suara. Sejak tadi ia lebih suka diam atau sekedar mengobrol dengan Dylan.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tidak ingin membuat Dylan khawatir. " Kata Grace menolak perhatian Liam, pastinya pria itu akan mendorong kursi roda untuknya dan mengabaikan Dylan.
"Dadd aku ingin naik itu! " Teriak Dylan yang sudah berada di depan Caraousel cantik berisi kuda kuda kesatria. Liam berlari kecil lalu mulai menaikkan tubuh Dylan, iapun ikut disana karena ingin menjaganya.
"Mommy,,, " Gelak tawa bahagia nyaring di telinga, Dylan terlihat sangat menyukai kebersamaannya dengan Liam.
Setelah puas bermain, Dylan merengek minta jajan karena perutnya terasa lapar. Liam mengajak mereka mengunjungi restoran bernama Menu Palais tak begitu jauh dari tempat mereka. Banyak pasang mata mengarah ke Grace dan Liam. Bisik bisik mulai terdengar,
"Lihat, bukankah itu model yang tiba-tiba menghilang? "
"Iya, dia muncul kembali dengan seorang anak."
"Apa anak itu merupakan hasil dari hubungan gelap dengan pengusaha bernama Liam Arthur? "
"Jangan dengarkan mereka! " Titah Liam menyadari Grace seperti tak nyaman mendapat tatapan dari orang-orang yang mengenalnya.
"Aku bukan ibu yang baik untuknya Liam, aku belum bisa memberikan impian terbesarnya." Dylan nampak tertidur di gendongan Liam, mereka berjalan menuju parkiran.
"Kau ibu terbaik yang pernah ku kenal Grace. Aku bangga Dylan memiliki ibu sepertimu." Liam mengucapkannya tulus. Merekapun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan restoran terkenal dan ramai pengunjung itu.
"Kita mau kemana? " Grace melihat ke sekeliling dimana jalan itu bukan menuju kediaman Tuan Rodrigo.
"Kita menginap di kamarku, Tuan Rodrigo sudah memberi izin tadi." Terang Liam, Grace hanya bisa pasrah padahal ia berusaha menghindari pria itu. Selama di perjalanan keduanya hanya saling diam. Lalu Liam teringat sesuatu,
"Kau tahu Grace, aku pernah melihatmu dulu saat bermain ATV. Kau pulang bersama keluargamu." Mata Grace terbelalak mendengar ingatan Liam begitu kuat padahal sudah beebrapa tahun berlalu. "Kau benar, aku juga melihatmu bertelanjang dada saat itu. " Grace memutar bola matanya jengah, Liam berlagak sok keren menurut Grace padahal hati kecilnya mengakui kalau Liam memang sangat keren.
"Haha kau curang, seharusnya menghentikanku saat itu." Liam tersenyum lucu ketika tahu Grace berusaha bersembunyi.
__ADS_1
"Saat itu Dylan baru berusia satu bulan lebih. Aku sangat takut, kau mungkin tidak mengakui Dylan sebagai darah dagingmu, atau kau berpikir aku memiliki nya bersama pria lain. Kalaupun kau percaya dia anakmu, aku takut kau mengambilnya secara paksa." Liam suka mendengar Grace mengungkapkan semua isi hatinya yang ia tutupi dari orang-orang termasuk Liam. "Apa aku seburuk itu di matamu?" Tanya Liam penasaran, Grace menggeleng lemah. "Aku sendiri jahat karena menutupi semuanya darimu. Kau berhak atas Dylan,
Aku rela jika kau memang ingin dia tinggal bersamamu." Bahu Grace mulai bergetar menahan isak tangisnya. Sial, kenapa Grace malah cengeng di hadapan Liam juga Josh. Tapi air matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi. Grace mencurahkan seluruh perasaannya pada Liam. Liam ingin memeluk menenangkannya, sayang dia masih setia memangku tubuh Dylan yang masih tertidur.
"Aku tidak akan mengambil Dylan darimu Grace, kalaupun iya aku juga ingin kamu ikut bersamaku." Liam hanya bisa mengatakannya di dalam hati. Mobil sudah tiba di carpot dan dengan sigap para pengawal menjaga mereka.
"Bukankah seperti ini malah menarik perhatian orang-orang? Saat aku hidup bebas sendiri tidak ada yang tahu siapa aku." Kata Grace sedikit risih mendapat pengawalan ketat.
"Sekarang kau sudah terkenal sebagai penerus ayahmu. Jelas ini perlu, kita tidak tahu dalamnya hati manusia Grace." Liam mungkin sudah kelelahan menggendong Dylan sejak tadi tapi Grace selalu gagal mengambil alih.
"Istirahat lah, aku ada di kamar sebelah. Jangan buka pintu jika kau tidak mengenal nya. " Dylan sudah di letakkan di tempat tidur, Liam pamit pada Grace.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Grace tulus, senyum simpul ia berikan pada Liam. "Aku masuk." Liam pun berjalan menuju kamarnya.
Grace belum bisa terpejam, ia dengan piyama nya berdiri di balkon menatap taburan bintang di langit. Rasanya menyenangkan kerja sama membahagiakan Dylan. Grace belum berkeinginan mengencani pria lain. Ia harus fokus menjalankan perusahaan sang ayah. Mendadak ia ingat tuan diktator, ia mengetik sebuah pesan untuk di kirim padanya.
"Kapan kita akan bertemu tanpa sengaja?" Seolah dirinya ingin menerobos aturan kesepakatan bersama.
"Malam ini di bar La Chambre, aku akan menunggu. " Jawabnya cepat. Sepertinya mereka memang harus bertemu, siapa tahu kecocokan berlanjut di dunia nyata. Saat menengok ke sebelah kiri ternyata Liam juga asik berdiri memandang langit yang sama. Grace tersenyum singkat lalu kembali ke kamar. Ia memilih dress yang ternyata sudah di sediakan Liam. Bahkan stok pakaiannya cukup untuk satu minggu ke depan.
"Halo pak Josh, bisakah kau menemani Dylan sebentar? Aku ada perlu di luar. " Grace menelpon utusan Liam lewat telpon antar kamar. Pria paruh baya itu diam sejenak lalu menyanggupi nya, padahal ia sudah ingin beristirahat. Tapi yang namanya tugas harus tetap di laksanakan.
"Baik nona, saya akan datang." Jawab Josh.
Grace memasuki bar yang berada di sekitar lobby hotel. Ia begitu cantik kan seksii dengan balutan dress berbahan jersey berwarna hitam tanpa lengan. Tatapan para pengunjung pria sudah mengiringi langkah jenjangnya.
"One glass of Champagne. " Pesan Grace pada bartender perempuan. Ia ingin menutupi rasa gugupnya dengan menikmati minuman. Grace sengaja datang lebih awal dari waktu yang di tentukan. Ia bisa mengamati siapa saja yang baru masuk, untuk memastikan siapa tuan diktator sebenarnya.
__ADS_1