
Apakah tindakannya sudah benar? Rasanya linu ketika mengingat hukuman yang sudah ia berikan pada istrinya sendiri. Bagaimana pun Grace sudah berkata jujur karena memang Noel juga pernah memberitahu Liam, dia datang ke Paris untuk mencari seseorang. Berarti itu Grace istrinya. Di tengah rapat berlangsung pikirannya seakan terpecah memikirkan nasib kerja sama yang sudah ia rancang sebaik mungkin.
"Tuan Liam, bagaimana menurut anda? " Zen menyadarkan kakak sepupunya yang masih asik melamun bersama bolpoin di genggamannya.
"Zen kau urus saja semuanya, rapat kita akhiri di sini. " Liam buru buru keluar dari ruang meeting. Dia tak tahan bertengkar lama lama dengan Grace, apapun masalahnya mereka harus diskusi kan sesuai nasehat Grace. .
Saat akan masuk ke dalam lift Noel menghentikan langkah Liam, meminta waktunya sebentar untuk meluruskan kesalah pahaman diantara mereka. Li setuju, dia perlu tahu apa maksud dari hubungan keduanya. Kini mereka duduk di lobby yang masih saja terlihat ramai meski sudah malam.
"Sorry, seharusnya aku tidak lancang menemui bahkan menyentuh istrimu. " Noel membuka percakapan dengan permintaan maafnya. Liam hanya diam, dia masih menunggu ucapan Noel selanjutnya baru ia memutuskan untuk memaafkan atau tidak. "Saat di Le Havre, aku juga bekerja sebagai dosen pembimbing Grace. Selama dia kuliah kami dekat sebagai teman. Awalnya aku menyukai dan mengutarakan perasaanku. Grace menolak, karena alasan yang tidak aku ketahui. Tapi tak apa, selama dia tidak menjauhiku karena aku menyukainya. Grace wanita baik dan ramah pada siapapun di kampus. Tidak ada yang tahu tentang kehidupannya. Dia selalu pulang tepat waktu setelah mata kuliah berakhir. Dan setelah dia kembali ke kota ini, aku berniat ingin menanyakan lagi perasaannya sebelum aku tahu bahwa dia istri rekan bisnis ku. " Noel panjang lebar menceritakan kisah singkat mereka agar Liam tidak marah pada Grace.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi Noel kau berhak bahagia dengan seseorang yang bisa menerimamu. Grace bahkan sudah bersamaku jauh sebelum mengenalmu. Kisah kami memang begitu rumit, tapi tak kan ku biarkan Grace di dekati oleh pria selain aku. " Noel mengangguk menerima ucapan Liam. "Rencana kita tetap berjalan Liam. Jadi jangan berpikir aku tidak profesional, aku malu pada istrimu. " Liam dan Noel sama sama terkekeh pelan menyadari kesalahan keduanya yang sudah terselesaikan. "Terima kasih Noel. Aku berharap kita masih bisa menjadi teman. " Kata Liam tulus. Dia memang tipe pria yang tidak berteman dengan siapapun, membuat Grace sedih karena Liam tidak punya seseorang untuk sekedar berkeluh kesah.
"Sure, aku akan menunggu kedatangan kalian di tempatku. Ajak keponakan kecilku juga. " Noel mengajak Liam berjabat tangan kemudian mereka berpisah dengan urusan masing-masing.
Setibanya di depan kamar Liam melihat Grace sudah berbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala. Hatinya merasa teriris kala mengingat hukuman yang ia berikan tadi padanya. Perlahan Liam mendekati ranjang lalu berjongkok memandangi wajah Grace.
"Maaf,,, " Lirih Liam, ia mengecek kening Grace takut sang istri mengalami demam lagi. "Hangat." Benar saja dugaannya, akibat kekejaman Liam Grace harus merasakan tidak enak badan. Tanpa mau mengganggu tidurnya Liam juga ikut berbaring di sisi lain tempat tidur. Memeluk Grace dari belakang.
,,,,,,,
Di sebuah kamar mewah bernuansa serba putih, terdapat seorang gadis tengah menangis terisak pelan agar tidak ada yang bisa mendengarnya. Kejadian memalukan tadi benar-benar membuatnya kesal dan marah. Bagaimana tidak? Dia di lecehkan oleh seseorang di acara pesta ulang tahun temannya.
"Awas saja kau pria tua! Akan aku balas perbuatanmu padaku. " Ia mengusap air matanya dengan kasar mengingat jelas wajah pria yang usianya mungkin terpaut sepuluh tahun dengannya.
__ADS_1
"Al, buka pintunya! Kau baik baik saja kan?" Terdengar suara ibunya menggedor pintu berkali-kali karena Alya mengunci diri sendiri di kamarnya. Tak ingin menimbulkan keributan Alya segera membukakan pintu. "Momm, bisakah tidak berteriak? I'm fine." Alya merajuk karena Patricia selalu over protective padanya.
"Kau pulang sendiri dari rumah Theo bagaimana mommy bisa tenang? Apa sebenarnya yang terjadi Al? " Patricia menyelidik tubuh anaknya dari atas hingga bawah.
"Everything's ok momm. Aku sudah bilang sedang datang bulan, perutku sakit dan aku ingin istirahat di rumah. " Alya berusaha meyakinkan ibunya agar percaya kalau dia baik baik saja.
"Baiklah, maafkan mommy karena memaksamu ikut. Istirahat lah, mommy akan bawakan teh hangat agar perutmu lebih baik. " Alya mengangguk kemudian menutup pintu.
"Oh god, aku ingin cepat masuk universitas dan tinggal sendiri. " Alya menggerutu kemudian duduk di kursi belajarnya. Ia menyalakan macbook untuk mencari daftar kampus yang cocok dengan impiannya. Alya merupakan adik beda ibu dengan Grace namun sikapnya jauh berbeda dari sang kakak. Alya bahkan tak ingin ada yang tahu bahwa dia adalah anak kedua dari tuan Rodrigo. Gadis itu lebih menakutkan daripada yang keluarganya lihat. Hanya Dylan teman Alya yang bisa menjaga rahasianya. Theo pun tidak tulus berteman dengannya karena tadi di pesta sweet seventeen th nya dia baru saja menyatakan perasaannya.
"Auntie,,, " Dylan masuk ke kamar tanpa mengetuk namun Alya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia sangat menyayangi keponakan imutnya.
"Yes Dy,,, kenapa kau belum tidur? " Alya menengok ke belakang melihat Dylan sudah naik ke atas tempat tidur queen bed nya. "Biarkan aku tidur di sini Auntie, aku kesepian. " Dylan memeluk boneka bobanya erat dan mencoba memejamkan mata. Alya menghela nafas, kasihan sekali dia. Orang tuanya sibuk dan Dylan seolah merindukan mommy dan daddy nya dalam diam.
"Aku akan mendaftar ke sekolah ini saja." Alya mengisi formulir online di halaman website kampus yang sekiranya sesuai. Gadis itu sangat pintar melukis namun ia sadar itu tidak akan membuatnya sukses. Alya memilih mempelajari ilmu digital marketing, dimana dia selalu menjual lukisan indahnya menggunakan identitas tersembunyi.
Sementara di tengah malam di sebuah hotel sejak tadi seorang perempuan berdebat dengan petugas receptionist. memaksa mereka untuk memberi akses ke kamar pria yang ia cari.
"maaf nona, kami tidak bisa memberitahu Anda nomer kamar tamu kami. apa lagi Tuan Arthur junior merupakan pemilik hotel ini. " sudah ku bilang, Liam adalah rekan kerja ayahku. kami bahkan pernah makan siang bersama." katanya tak bisa mengontrol emosi memarahi kedua petugas wanita di hadapannya.
"sudahlah Bri, besok kita akan bertemu di tempat breakfast. lebih baik jangan membuat keributan. ini sudah tengah malam. " ajak Dominic menyudahi kemarahan putrinya Brigitte.
Brigitte pergi dengan kekecewaannya karena tidak bisa mendatangi kamar Liam.
__ADS_1
pria yang ia sukai, kini malah tengah sibuk mencumbu istrinya di atas sofa. Grace benar-benar membuatnya terus ingin melakukan aktifitas panas di atas ranjang. seperti sekarang, Liam menunggangi Grace dari belakang dengan hentakan hentakan kuatnya. membuat Grace meracau tak menentu .
"Liam,,, Please. " des ah Grace yang hampir meledak, Liam semakin mempercepat irama hingga keduanya menapaki puncak kenikmatan.
"ah semoga saja semakin banyak yang ku tanam kita bisa memberi Dylan adik kembar." Liam menggendong tubuh Grace memindahkannya ke tempat tidur. entah sudah berapa kali mereka melakukannya sejak Grace terbangun dari tidurnya.
"Jangan gila Liam, kita tidak memiliki gen kembar. " Grace sanksi mendengar harapan sang suami.
"kita bisa melakukan program Grace, teknologi sudah sangat canggih. " Liam dan Grace mengobrol ringan untuk melepaskan rasa lelah di sekujur tubuh sebelum kembali terlelap.
visual
Gracia Rodrigo
Liam Arthur Junior
Lim Dylan
__ADS_1