
Pertandingan menyentuh babak final antara Liam dan Peter sesuai perkiraan. Mereka memang jagonya judi. Meminta break untuk sekedar bernafas dan menegak minuman Peter terlihat tenang tanpa ambisi.
"Tuan,,, " Bisik Josh di dekat telinga Liam menyampaikan sesuatu. Salah satu alis Liam terangkat mendengar apa yang dikatakan Josh.
"****,,, " Umpat Liam seraya memejamkan matanya kesal. Dirinya sudah terpancing oleh akal busuk Peter dan ayahnya. "Mengalah maka Grace akan selamat, jika Liam memaksa ingin menang tentu dia akan kehilangan kesempatan memiliki Grace seutuhnya. Tapi di meja pertaruhan Liam sudah menyerahkan aset paling berharganya yaitu saham La Collection. Sial selama setahun seperti dibayar dalam satu malam. Liam tetap menampilkan wajah tenang karena dia tak ingin Peter merasa di atas angin.
"Kita mulai." Dealer senior melanjutkan kembali pertandingan terakhir.
Di rumah megah Liam Grace masih berpikir keras mencerna semua ucapan pria paruh baya di depannya. Entah bagaimana caranya penjagaan rapuh sehingga bisa ditembus oleh kelompok mereka.
"Kau memang luar biasa nona, pantas saja Liam sangat menahan diri." Kata Marcus hendak menyentuh pipi Grace namun dengan cepat Grace memalingkan wajahnya.
"Licik kalian semua, aku tidak akan mengampuni perbuatanmu dan anakmu yang brengsek." Grace tidak tahu apa rencana ayah dan anak itu, Grace hanya mendengar sedikit percakapan lewat telpon. Liam dan Peter bertarung di meja judi, tentu ada kaitannya dengan Grace pasti.
"Kau akan tahu bagaimana sesungguhnya diri seorang Liam Arthur. Sebentar lagi, dia akan hancur." Marcus tertawa puas mengingat kejayaannya akan dimulai. Ucapan Marcus seakan melucuti nyali Grace, dia khawatir Liam akan dalam kesulitan karena dirinya.
Setelah mendapat kabar baik kawanan Marcus melepaskan Grace begitu saja seolah sudah tidak membutuhkannya lagi. Grace mencoba berdiri di saat kakinya masih saja bergetar hebat akibat menahan rasa takut.
"Nona,,, " Bibi Wen dan Bibi Jill segera menopang tubuh Grace yang hampir ambruk. Sejam lebih dirinya di sandera di rumah megah Liam.
Tak lama setelah kepergian Marcus dan beberapa anak buahnya, Liam datang di sambut Grace sejak tadi. Semua kekhawatiran Grace luluh lantah ketika Liam merentangkan tangannya meminta pelukan dari Grace. Dengan senang hati Grace memeluknya penuh rindu, entah mengapa perasaannya.
"I miss you baby,,, " Lirih Liam, tangannya tak henti membelai rambut bergelombang Grace. Lembut, harum, Grace bahkan belum pernah mewarnainya. Di biarkan secara alami baik bentuk maupun warna. "Aku juga." Sahut Grace tersenyum bahagia, meski ia masih ragu bagaimana perasaan Liam sesungguhnya. Kali ini biarkan Grace menikmati kebersamaan mereka. Kedua nanny tersenyum bahagia melihat tuan muda sudah menemukan pilihannya.
__ADS_1
"Maaf, membuatmu dalam bahaya." Liam melepaskan dekapan dengan tangan yang masih setia melingkar di pinggang Grace. "Kau baik baik saja? " Baginya keadaan Liam jauh lebih penting toh mereka tidak memelukai Grace sedikitpun.
"Everything's gonna be ok Grace, kecuali aku yang sangat membutuhkan mu sekarang." Deru nafas Liam menghangati wajah Grace, Grace tahu pria di hadapannya sedang diliputi gairah. Grace terkekeh pelan lalu melirik ke sekeliling dimana masih ada dua nanny dan Josh disana.
Kemudian tangan Grace di tarik menuju tangga lantai dua, memeninggalkan orang-orang disana yang tersenyum simpul melihat kedekatan mereka. Liam menutup pintu dan menguncinya tanpa melepaskan genggamannya. Sebentar menatap manik hitam perempuan di hadapannya lalu menautkan bibirnya dengan rakus dan menuntut. Grace kewalahan di awal sekilas berlanjut membalas setiap pagutan yang dilancarkan Liam. Mereka terlalu lama menahan diri sejak pertemuan pertama. Di ruang pemotretan La collection setengah tahun lalu Liam mendapati sosok Grace tengah sibuk menata perlengkapan kamera, dia bersinar diantara perempuan lainnya. Seakan memiliki magnet tersendiri menarik Liam mendekat kearahnya dan berbisik penuh intimidasi.
Sampai pertemuan pertemuan berikutnya menjadi pengikat, bahkan Liam menemukan fakta jika Grace adalah jodoh masa lalu gagal. Mereka sempat di takdirkan lantas terpisah beberapa tahun.
Tubuh Liam menuntun Grace ke tempat tidur, entah bisikan dari mana Grace merebahkan dirinya memberi tanda dia ingin Liam menjamah menikmati dirinya. Liam masih menahan posisinya diatas Grace tanpa mau melepaskan bibir diatas bibir. Jemarinya mulai bergerilya meng absen telinga, leher dan dua gundukan dibawah dadanya.
"Liam,,, " Lenguhan mulai tercipta dari mulut Grace ketika ia diberi jeda menghirup udara. Apapun resikonya Grace akan Terima asal satu, Liam selalu ada di sisinya.
Grace bukan tidak paham maksud daddy mengekang kehidupannya, dia tidak ingin Grace terjebak dalam suatu hubungan tak pasti bersama pria manapun apa lagi Liam. Liam pria yang sudah mempermainkan perjodohan mereka. Ah mengingat itu Grace sedikit menyunggingkan senyum karena tahu bahwa Liam pria itu.
"Tidak ada, aku hanya senang kau mau menyentuhku. Semua orang bilang kalau Liam Arthur anti dan enggan memiliki hubungan dengan wanita diluar pekerjaan." Kilah Grace menutupi kebenaran hatinya.
"Kau tidak akan menyesal menyerahkan tubuhmu padaku? " Liam mengabaikan pandangan tentang dirinya, ia lebih tertarik akan perasaan Grace.
"I'm yours... " Lirih Grace dengan suara seraknya, Liam melihat keseriusan di bola mata hitam Grace.
Seumur hidup Grace dia belum pernah merasakan jatuh hati pada seorang pria, hanya ayahnya cinta pertama Grace. Setelah bertemu Liam dirinya seakan ingin memiliki pria itu seutuhnya. Dia mendamba, mengharap Liam juga menyimpan perasaan sama walau sedikit dan mustahil.
"Hang in there,,, " Perintah Liam pada Grace, ia mulai membuka setiap helaian penghalang tubuh keduanya.
__ADS_1
Sebelum melakukan penetrasi Liam memberi pelajaran tambahan seperti, menyentuh titik sensitif di tubuh Grace, memainkan bagian yang bisa mendatangkan sensasi nikmat memaksa Grace mengerang dengan merdu. Liam juga berani memainkan jarinya di bawah sana, Grace tidak tahu kenapa dia sangat suka Liam memperlakukannya.
"Oh no, Liam,,, I can't." Desah Grace merasa ada sesuatu yang akan meledak dari tubuhnya.
"Inhale Grace,,, " Suara Liam bahkan sudah berbeda, nada menahan gejolak terkumpul sejak dulu kini akan tersalurkan.
"Liamh,,, " Grace memejamkan mata saat benda keras menghujam pertahanannya. Ini pertama kali baginya jelas terasa sakit, perih dan menyiksa karena Liam terus saja memaksa masuk. Mencoba menenangkan Grace Liam mengelus rambut Grace beberapa kali, mengecup bibirnya agar tetap bersuara. Sudah menyatu, dan Liam kini memainkan tempo sehingga Grace mulai nyaman.
"Grace open your eyes, ingatlah ini dan kau tidak akan boleh melakukannya dengan orang lain. Hanya aku Grace." Meski mendesah Liam bisa dengan lancar memberi ancaman sementara Grace menggeliat tak tahan lagi dengan apa yang ia rasakan. Sadar Grace menuju puncak Liam pun mempercepat tempo, dan pada akhirnya mereka bersama sama sampai di ujung kenikmatan.
Peluh membasahi kening keduanya, Liam perkasa di pertempuran pertama mereka. Tubuh atletisnya dihiasi keringat hasil kerja kerasnya memporak porandakan keperawanan seorang Gracia Rodrigo. Mengecup kening Grace, Liam menutupi tubuh polos mereka dengan selimut hingga sebatas dada. Grace tertidur pulas tanpa membersihkan dulu badannya.
"Bahkan saat terlelap pun kau tetap cantik Grace." Sebelum ke kamar mandi Liam memandangi wajah Damai perempuan di sampingnya.
Di bawah guyuran air Liam mendinginkan pikiran, mencoba mengingat kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu. Dia harus mengalah demi keselamatan Grace itu artinya Liam kehilangan saham atas nama dirinya di La Collection begitu saja. Jika judi bisa membuatmu kaya tentu salah besar, kenyataannya kau akan kehilangan semua milikmu di meja pertaruhan.
Bukan masalah besar baginya merelakan saham untuk menukar seorang wanita. Tapi ia masih harus memikirkan perasaan tuan Arthur Louis, susah payah sang daddy merintis dari nol untuk di persembahkan pada turunannya. Bagaimana reaksinya ketika tahu Liam kehilangan kebanggaan keluarga mereka?
"Mereka memang brengsek." Kepalan tangan Liam menghantam dinding keras sekali hingga buku jarinya merah mulai berdarah. Bisnis yang di kerjakan Liam dikategorikan sehat dan bersih, hanya saja cara cara kotor selalu menjadi bumbu untuk mendapatkan tujuan para pesaing. Hal biasa bagi Liam, ini lain masalah karena Liam merasa sudah terpancing oleh kedua musuhnya. Liam tentu saja bisa memenangkan pertandingan kalau tidak mengingat keselamatan Grace.
Selesai membersihkan tubuh Liam mengambil pakaian santai di walk in closet di sebelah kamar mandi. matanya tertuju ke arah tempat tidur dimana Grace masih nyaman memeluk bantal guling. Tatapan Liam menyiratkan banyak arti yang tak bisa terucap.
"Apa yang harus aku lakukan padamu selanjutnya Grace? " Gumam Liam pelan tak ingin membangunkan nya sama sekali.
__ADS_1