
Alya mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, mengantarkan Dylan lalu kembali ke rumah untuk beristirahat. Di tengah jalan, Alya tiba-tiba merasa mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya. Segera menepikan mobil di tepi, mencari area kosong agar Dylan aman.
Melepas safety belt secara cepat, Alya keluar dari mobil dan langsung berjongkok dengan tangan bertumpu pada pohon. Terdengar suara Alya ter batuk-batuk merasa tenggorokan nya terbakar dan pahit di lidah.
Dylan yang khawatir, dia melihat ke spion terlebih dulu untuk memastikan tidak ada mobil dari arah belakang. Dia turun dan menghampiri sang bibi.
"Auntie, apa baby membuatmu sakit? " Tidak bisa untuk tidak bertanya, Dylan beberapa kali melihat daddy muntah-muntah dan mommy nya bilang bahwa itu bawaan baby.
"No, auntie hanya kurang sehat Dy. Ayo kita ke rumah sakit, kau pasti sudah tidak sabar melihat adikmu bukan? " Dylan mengangguk, namun ia tahu bibinya sakit dan tidak mungkin menyetir hingga tiba di tempat tujuan.
Berinisiatif, Dylan berjalan untuk menyetop taksi. Tapi ia malah menghentikan laju salah satu mobil pribadi.
Dan berhenti, pengemudi berpenampilan layaknya dokter keluar dari mobilnya.
"Hey kids, apa yang kau lakukan di sini?" Dia berjongkok mengajak Dylan bicara. Sepertinya Dylan sedang membutuhkan bantuan.
"Bibiku sakit, dia tidak bisa menyetir. Bisakah kami menumpang untuk pergi ke rumah sakit tak jauh dari sini? " Tanpa rasa canggung dan takut, Dylan meminta bantuannya.
Pria berjas putih tersebut lantas memeriksa kehadiran Alya yang terhalang mobil. Pintu hatinya terketuk untuk menolong, apa lagi Dylan anak kecil begitu perhatian pada bibinya.
"Sure, ayo kita ajak bibimu ke mobilku. " Dylan mengangguk, dia pun menarik tangan Alya yang wajahnya sudah memucat.
"Auntie Al, paman ini akan mengantar kita ke rumah sakit. " Ucap Dylan memberitahu. "Maaf merepotkan mu tuan, sungguh aku tidak berani menyetir. " Rasanya tidak enak hati Alya pada pria asing di hadapannya.
"Nona, kita bertemu di parkiran mall beberapa waktu lalu. Jadi kau tidak perlu sungkan. " Kata pria itu. Alya mengingat sebentar kemudian mengangguk. Ia tersenyum kikuk mendapat pertolongan setelah menabraknya.
"Ayo masuk." Dia membukakan pintu untuk Alya.
"Terima kasih. " Ucap Alya sopan. Dylan juga di bantu duduk di kursi belakang olehnya. Mobil pun kembali berangkat setelah pengemudinya menjalankan mesin. Tak lupa Alya meminta supir pribadi untuk mengambil mobilnya.
"Namaku Adrian, kebetulan aku juga bertugas di rumah sakit tujuanmu nona." Merasa canggung, suasana hening membuatnya tidak nyaman. Akhirnya pria bernama Adrian membuka percakapan.
"Aku Alya, kakak perempuan ku baru saja melahirkan. Dan kami ingin menjenguknya." Ungkap Alya, lalu menengok sebentar ke belakang mengecek keadaan Dylan.
"Dylan anak pertama dari kakak ku." Lanjutnya lagi.
"Apa mungkin kakak nona adalah nyonya Liam? " Rasanya baru tadi pagi Adrian membantu proses persalinan Grace.
"Benar, dia Grace." Alya membenarkan tebakan Adrian.
Keduanya kembali diam, Alya memang tidak banyak bicara ketika berhadapan dengan orang yang baru ia kenal. Selang sepuluh menit, akhirnya mereka tiba di parkiran rumah sakit. Mereka bertiga turun, Dylan meraih tangan Alya untuk ia genggam.
"Sekali lagi Terima kasih dokter Adrian. Semoga harimu menyenangkan." Ucap Alya tulus, ia masih canggung menerima bantuan dari pria asing.
"Tidak masalah nona Alya, kalau begitu saya permisi." Pamit Adrian, Alya mengangguk mempersilahkan dokter tampan itu pergi terlebih dulu.
Lalu Alya berjongkok menatap Dylan masih di tempat parkir mobil. Dylan menunggu, dia tahu bibinya akan mengatakan sesuatu. "Nanti jangan bilang soal baby dulu ya Dy ke mommy dan daddy mu. Biar auntie yang memberi mereka kejutan, ok? " Bagi Alya sangat mudah berbicara atau sekedar mengobrol dengan anak seperti Dylan. Dia merasa jujur, aman dan lega.
__ADS_1
"Ok auntie Al. I promise. " Jawab Dylan penuh semangat. Mereka melangkah memasuki pintu masuk rumah sakit. Mencari ruang rawat inap Grace melalui petugas informasi.
Alya dan Dylan tiba di depan kamar Grace, di sambut semua yang ada di sana. Kamar VIP dengan fasilitas hotel bintang begitu riuh ramai. Ada orang tua Alya dan Grace, Nyonya Coco Cheryl dan juga tuan Arthur Louis. Belum lagi di tambah pasangan kamu Zen dan Samantha.
Bermacam-macam bau parfum mulai membuat Alya tidak nyaman. Tapi ia harus menahannya sedikit lebih lama. Terlalu penasaran ingin menggendong keponakan keduanya.
"Can I? " Tanya Alya meminta persetujuan Grace maupun Liam. Keduanya mengangguk tersenyum. Alya akhirnya mendekati box bayi, dia meraih tubuh mungil yang terbalut kain pernel lembut berwarna pink tua.
"Oh you're so cute,,, who's your Name baby girl? " Alya mengelus lembut pipi bayi perempuan di gendongannya. Interaksi itu menciptakan rasa haru di hati Patricia juga Rodrigo. Rodrigo merangkul Patricia ketika menyadari istrinya menitikan air mata.
"She's Yuna, Lim Yuna. " Jawab Grace dengan senyum bahagia di wajahnya. "Nama yang cantik, seperti parasnya. Kau sangat beruntung memiliki orang tua seperti kakak dan kakak iparku."
"Dan kakak seperti ku auntie, jangan lupakan aku! " Dylan mengerucutkan bibirnya ketika Alya lupa menyebut dirinya.
"Ah benar, Yuna kau memiliki kakak yang siap melindungi dan menyayangi mu. " Mendengarnya Dylan tersenyum puas, lalu ia menghampiri Alya meminta mencium sang adik.
Cup,,,
Semua keluarga merasakan kebahagiaan di tengah kehangatan kebersamaan. Alya kembali menaruh bayi Yuna di box bayi samping ranjang Grace.
"Mom, aku ingin cari udara segar,,, " Pamit Alya pada sang ibu, tidak ada yang mencurigai gelagat Alya di saat mereka asin mengobrol ringan satu sama lain.
"Perlu ku antar? " Tawar Patricia.
"Tidak perlu, hanya sebentar." Karena satu alasan Alya enggan di temani ibunya.
"Sus sebentar, " Alya menghentikan perawat yang baru keluar dari ruang dokter obgyn. Suster berhenti, Alya kembali bersuara "bisakah aku melakukan pemeriksaan sekarang? " Tanyanya dengan ragu.
"Seharusnya ini belum di mulai nona, tapi aku akan mencoba bertanya pada dokter." Suster menjelaskan, jam praktek masih harus menunggu sesuai jadwal. Alya mengangguk mempersilahkan kembali ke dalam. Tak lama ia keluar.
"Silahkan nona, dokter bersedia. " Akhirnya, Alya bisa bernafas lega.
Di tuntun masuk oleh suster yang memang bertugas mendampingi dokter tersebut. Mata Alya dan dokter bertemu, suatu kebetulan lagi terjadi.
"Dokter Adrian, aku ingin mengetahui kondisinya. " Tanpa basa-basi Alya mengatakan tujuannya. Pasti Adrian bisa memahami dengan kondisi Alya saat ini, apa lagi dia tahu Alya sempat muntah-muntah di pinggir jalan.
"Silahkan nona Alya, tolong di bantu Sus." Meski begitu, hati Adrian masih bergejolak merasa kecewa mengetahui keadaan Alya. Awalnya Adrian sempat tertarik padanya.
"Permisi nona, aku akan membuka sedikit kaosmu. " Saat itu Alya mengenakan kaos longgar dan celana bahan sesuai nasehat ibunya. Alya pasrah, hingga suster mengoleskan gel untuk melakukan USG. Setelahnya, tugas di ambil alih oleh Adrian. Dia mulai meraba-raba perut bagian bawah Alya. Ada sensasi berbeda mendapat tekanan dari alat itu.
"Look, it's good. Mungkin usianya sekitar sepuluh minggu, kaki dan tangannya mulai terbentuk. Kau harus banyak mendapatkan gizi yang baik untuk anakmu nona. " Mata Alya mengikuti arah pandang Adrian, ia hanya bisa melihat sebuah gumpalan kecil di dalam sebuah lingkaran yang seperti rahim.
Tak bisa berkata apa-apa, suara Alya tercekat.
"Lakukan pemeriksaan rutin, selain bayinya ibunya juga harus dalam keadaan sehat." Adrian bangkit dari duduknya, dia melepaskan sarung tangan lalu memberikannya pada suster. Ia meraih tisu di atas meja, membantu mengelap membersihkan gel di perut Alya.
"Biar aku saja,,, " Tentu Alya terkejut mendapat perlakuan dari Adrian. Adrian membiarkan Alya mengambil alih.
__ADS_1
"Aku memberi resep vitamin, jangan lupa di konsumsi agar kalian berdua selalu sehat." Terus menerus memperingati Alya, Adrian tak pernah lepas memandangi nya.
"Terima kasih dokter Adrian." Ucap Alya, dia menunduk tak berani menatap lawan bicaranya. Suster keluar ruangan setelah mendapat isyarat dari tatapan mata Adrian.
"Aku akan berbicara sebagai dokter, sebaiknya kau memberitahu keluargamu atau ayah dari anakmu. Kehamilan pertama di usia muda bukan hal mudah nona Alya. Wajahmu pucat, ku tebak sering mengalami mual dan muntah. Perlu mendapat perhatian khusus agar kau bisa mendapatkan selera makanmu." Adrian sendiri bingung kenapa dirinya begitu peduli pada pasien ini.
"Dokter Adrian, aku,,, aku tidak siap. " Pernyataan Alya meluncur begitu saja, membuat Adrian menganga tak percaya.
"Lalu aku ingin menasehati mu sebagai teman. " Adrian menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Banyak orang yang menanti kehadiran seorang anak di kehidupan pernikahan mereka. Kau adalah wanita beruntung karena memiliki nya. Jadi buang jauh-jauh pikiran burukmu." Panjang lebar Adrian menjelaskan pada Alya, dia bisa melihat keraguan di matanya.
"Maaf, aku terlalu emosional. Terima kasih dokter Adrian, kalau begitu saya permisi." Mengambil kertas berisi resep vitamin, Alyaa langsung pergi dari ruang kerja Adrian. Dia seharusnya tidak berbicara seperti itu pada orang asing.
"Al,,, " Terperanjat kaget, Alya benar-benar takut seseorang mengetahui dirinya keluar dari ruang dokter obgyn. Suara itu jelas tidak asing di telinganya.
"Christian,,, kau sedang apa di sini? " Posisinya masih berada di sebelah pintu, di atas ada tanda yang menerangkan nama dokter dan jabatannya. Christian pun mengernyitkan dahinya penasaran.
"Aku bersama tuan dan nyonya Oliver ingin menjenguk kakakmu. Kau sendiri mengapa ada di sini? " Benar saja, mata Christian tertuju pada papan petunjuk itu.
"Aku menemui teman, ternyata dia dokter yang menangani kelahiran baby Yuna." Menunduk, Alya juga terlihat meremas ujung kaos yang ia kenakan. Dan Christian menangkap itu, ada sesuatu yang Alya sembunyikan darinya.
"Aku tahu Alya, ketiga temanmu hanya Theo adik ku, Luke dan juga Hellen. Lalu kau bilang dokter pria itu adalah temanmu? " Mulai merasakan Alya salah tingkah atas serangan yang ia lakukan, Christian semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Dia, menolongku saat di jalan. Kami baru saling mengenal. " Terpaksa Alya mengakuinya, atau Christian akan terus mendesak. Dan Christian tidak menemukan kebohongan di sorot mata Alya, namun tindakannya di luar dugaan.
Christian memeluk Alya, menciumi puncak kepalanya. Sudah lama Christian tidak sedekat ini dengannya. Jelas rindu itu selalu ada. Dari London ke Paris Christian pergi hanya untuk bisa melihat wajah Alya.
"Christian, Orang-orang melihat kita." Padahal, Alya sangat nyaman menghirup aroma tubuh ayah dari anak yang ia kandung. Mungkin hanya wangi ini yang bisa Alya Terima.
"I don't care, cuase I miss you so much Al." Bisiknya tepat di telinga Alya.
Saat kenyamanan mereka nikmati, seseorang menarik tangan Alya dengan paksa. Sehingga rangkulan di pinggang Christian pun terlepas.
"Don't you dare to approach her ! " Tegasnya penuh nada peringatan. Alya terkejut dan nyaris kehilangan kata-kata.
"Bibi Pat, aku bisa menjelaskan semua,,, " Pembelaan Christian terhenti seketika, Bibi Pat memberi isyarat untuknya diam.
"Pull yourself together Christian, jika kau memang serius pada Alya batalkan pertunangan mu dengan pasanganmu. "
"Mom, stop it! I need a space, jangan paksa kami. " Setelah mengatakannya Alya pergi dari sana, meninggalkan sang ibu dan Christian.
"Bibi, aku sudah berulang kali meyakinkan Alya. Dia selalu menolak ku, aku pikir dengan pertunangan bisa membuatnya sadar itu salah. Bibi, aku membutuhkan sebuah hubungan yang jelas. Sayangnya Alya sendiri tidak menginginkan nya. " Sebelum kehilangan kesempatan, Christian menjelaskan keadaan mereka pada ibu Alya.
"Christian, Alya masih sangat muda. Dia belum siap untuk memikul tanggung jawab sebagai seorang istri. Untuk kebaikan kalian, lebih baik kau fokus saja menjalani kehidupan mu. Jangan temui Alya lagi." Bahkan Patricia menaruh tangannya di dada, menandakan memohon dengan sangat.
"Bibi, aku sangat mencintai Alya. Mana mungkin bisa aku melakukannya. Kami sepakat menerima prinsip masing-masing." Bela Christian tak ingin menerima permintaan Patricia mentah-mentah.
Tanpa menanggapinya lagi Patricia pergi dari hadapan Christian. Tak sedikitpun dia menyinggung soal kehamilan Alya. Jika Christian sampai tahu semakin runyam situasi mereka.
__ADS_1