My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
kabar bahagia


__ADS_3

Alya selalu menjaga ibunya. Membantu membersihkan badan, menyuapi nya makan dan meminum obat. Tak lupa Alya juga menjenguk daddy di ruang ICU. Pikirannya terfokus pada mereka. Bahkan pekerjaan penting di kantor Alya selesaikan di kamar sang ibu.


Belum ada perubahan signifikan mengenai kondisi tuan Rodrigo. Alya tak pernah berhenti berdo'a semoga tuan Rodrigo cepat pulih seperti sediakala.


"Al, sebaiknya kau pulang dan istirahat. Mommy tidak ingin kau juga ikut sakit karena merawat mommy." Siang itu Patricia terlihat lebih bugar setelah satu minggu berada di rumah sakit.


"No mom, I'm fine. Tapi aku pergi sebentar membeli kopi, tidak masalah kan? " merapikan laptop dan berkasnya, kemudian Alya menghampiri Patricia. Memeluk sebelum meninggalkan kamarnya.


"Take care Al." Ucap Patricia. Alya sempat berbalik melayangkan senyum simpul.


Patricia merenung dalam diam. Pesan suaminya ia ingin keluarga tidak memaksakan kehendak pada Alya. Tidak mengintimidasi setiap keputusan yang Alya ambil. Tapi mengingat kebaikan Theo, rasanya Patricia malu jika Alya mengabaikannya.


"Bangunlah Igo! Aku tidak tahu harus berbuat apa. " Lirih Patricia, ia memanjatkan do'a untuk kesembuhan sang suami.


Kesibukan Alya menjaga mommy maupun memantau perkembangan daddy, membuat Alya melupakan komunikasi nya dengan Christian. Ia merogoh saku celana untuk menghubungi nya.


"Tidak aktif. " Gumam Alya. Ia pun menyebrang menuju kedai kopi. Tempat pertama kali dirinya berjumpa dengan Christian.


"Alya,,, " Sapa seseorang, Alya berbalik kemudian berhamburan memeluknya.


"Christian, aku kira kau belum datang." Pelukan hangat itu memberi kekuatan tersendiri bagi Alya.


"Maafkan aku, seharusnya sejak lama aku menemanimu." Christian mengelus rambut Alya, menyalurkan kerinduan mereka.


"Tidak masalah, aku mengerti." Balas Alya.


Keduanya mengobrol sebentar sambil menikmati secangkir kopi panas. Christian berjanji akan membantu Alya mencari pelakunya. Memberi hukuman setimpal atas perbuatan jahat yang di lakukan terhadap orang tua Alya. Meski bukan kekuasaan Christian, dia masih bisa mencari orang-orang pilihan di bidang keahliannya.


"Terima kasih Christian, aku tidak tahu harus membalas dengan apa. Kau dan Theo sudah sangat berjasa." Menunduk lemas, Alya teringat Theo. Dia semakin tidak tega memutuskan hubungan mereka.


"Hey, keep strong. Everything will be alright, ok? " Menggenggam tangan Alya, Christian memang mengetahui soal bantuan donor darah Theo. Alya hanya mampu tersenyum getir menanggapi nya.


Saat Alya mengajak Christian menemui ibunya, Theo sudah ada di sana dengan bingkisan buah dan buket bunga yang sangat cantik. Mendadak suasana menjadi canggung. Alya berjalan mendekat ke sisi lain brankar.


"Theo, Terima kasih kamu sudah menolong mommy. " Tidak, Alya tidak akan menawarkan imbalan apapun pada Theo. Meski dirinya terkesan tidak tahu Terima kasih Alya mengabaikan hal itu.


"Sudah menjadi tugasku Al, bibi Pat sudah ku anggap seperti mommy ku sendiri." Senyum Theo membuat Christian memalingkan wajahnya. Ternyata bersaing dengan sang adik bukan hal mudah untuknya.


"Christian, kita perlu bicara." Ajak Theo keluar ruangan.


"Bibi Pat semoga lekas sembuh. Aku berdo'a untuk kesembuhan uncle Rodrigo juga." Kata Christian sungguh-sungguh.


"Terima kasih Christian." Balas Patricia.


Selepas kepergian mereka, Patricia memandangi anaknya dengan tatapan tajam.


"What? " Tanya Alya heran.


"Kau masih berhubungan dengannya Al? Mommy sarankan sebaiknya kau tidak mempermainkan kakak beradik Oliver. Pilih salah satu atau tidak keduanya." Saran Patricia menasehati Alya.


"Mom, ini bukan saat yang tepat memikirkan hal itu. Aku memang mencoba menerima Theo, tapi aku tidak pernah menjanjikan apapun padanya." Dan Theo sangat mengerti hal itu.


"Kau tahu, mommy dan daddy mengharapkan kebahagiaan untukmu. Tapi jika kau masih bimbang, selesaikan semuanya secara baik-baik." Sesuai permintaan Rodrigo, Patricia tidak akan memaksa atau melarang Alya lagi.


"Got it mom. Sekarang mommy istirahat ya, aku akan melihat keadaan daddy." Alya menarik selimut setelah membantu Patricia berbaring kembali.


"Rekan bisnis uncle yang melakukan ini semua. Aku sudah mengamankan nya di gudang tempat biasa." Theo ternyata melakukannya dengan cepat dan terperinci. Pengalamannya sebagai seorang anak pimpinan perusahaan membuatnya di tuntut waspada dan cerdik.


"Bagaimana kalau kita bersenang-senang? Aku sudah lama tidak menyiksa seseorang." Seringai menakutkan yang tidak pernah Christian tunjukan pada siapapun akhirnya muncul. Theo dengan senang hati menerima tawaran sang kakak.

__ADS_1


Mereka akhirnya pergi ke tempat eksekusi langganan keluarga Oliver. Menyiksa pelaku hingga berharap mati lebih baik. Diam-diam Alya mengikuti kakak beradik itu. Untung saja Grace sudah tiba di rumah sakit jadi ia meminta izin pergi sebentar.


"Ya Tuhan, apa dunia bisnis segila ini ?" Tak percaya, Alya menutup mulutnya menyaksikan mereka memukuli penjahat yang mencelakai orang tuanya tanpa ampun.


"Alya,,, " Theo menyadari kehadiran Alya di balik pintu gudang, semua penjaga memang tengah berkumpul bekerja sama menyiksanya.


"Hai,, eum,, apa aku mengganggu? " Pertanyaan itu malah membuat Theo maupun Christian tersenyum simpul.


"Not at all, kau ingin mencoba? " Tawar Theo, berniat mengajarkan pengalaman pertama untuk putri kedua Rodrigo.


"No, Thanks. Aku merasa hadiah dari kalian lebih dari cukup." Gugup, Alya mengusap tengkuknya.


"Haha you're so cute Al." Theo memeluknya gemas, tak perduli ada Christian diantara mereka.


"Bereskan." Perintah Christian pada anak buahnya. Dia berlalu pergi begitu saja menuju mobil di parkiran depan. Meninggalkan dua sejoli di mabuk cinta.


"Ayo pergi. " Ajak Theo menarik tangan Alya menyusul kakaknya.


Karena Alya pergi dengan taksi kemari, akhirnya mereka pulang bertiga dalam satu mobil. Theo memilih duduk bersama Alya di bangku belakang.


"Theodor, duduklah di depan. Aku bukan supir kalian." Pinta Christian.


Berdecak kesal namun Theo tetap mematuhi keinginan sang kakak.


Selama perjalanan ketiganya hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ponsel Alya berdering, Grace meneleponnya dan Alya segera menjawab.


"Halo Grace ada apa? " Tanya Alya penasaran.


"Daddy sudah bangun Al, dokter akan memindahkan nya ke ruang rawat biasa." Mendengar kabar baik dari kakaknya membuat Alya bernafas lega. Senyum merekah bisa Christian lihat melalui kaca spion.


"Oh God, syukurlah." Alya bergumam bahagia. "Ok, aku sedang dalam perjalanan kesana." Lanjut Alya kemudian mematikan sambungan.


"Apa uncle sudah sadar Al? " Theo menoleh ke belakang, Alya mengangguk semangat sebagai jawaban.


"Apa maksudmu Theo? " Mendadak Alya merasa terancam.


"Ya tidak ada, aku berencana melamar mu setelah kesembuhan uncle dan bibi." Theo menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sementara Christian menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sang adik.


****


Semua berkumpul di ruangan Rodrigo. Mereka bahagia saat dokter menyatakan kondisi Rodrigo maupun Patricia baik-baik saja. Jika tidak ada kendala, mereka sudah bisa pulang besok siang nya.


"Wah, sepertinya ada yang akan melepas masa lajang." Goda Grace melihat Alya hanya berdiam diri di sofa sudut ruangan.


"Apa apaan kau ini, jangan mengada-ngada." Tak Terima di goda, Alya menatap Grace tajam.


"Kemarilah Al! " Pinta Rodrigo pada Alya. Ia menurut kemudian duduk di tepi brankar, memeluk ayahnya manja.


"Jadi siapa yang kau pilih Hem? Dua laki-laki melamar mu secara bersamaan, daddy semakin pusing memutuskan nya."


"Maksud daddy? " Tanya Alya bingung.


"Alya, Christian juga ikut melamar mu saat adiknya melakukan hal itu. Daddy hampir jantungan mendengar kau di perebutkan oleh mereka." Rodrigo menceritakan kekonyolan Christian dan Theo. Semalam saat Alya pulang ke rumah, keduanya berbicara serius namun penuh canda mengutarakan perasaan masing-masing.


"Apa mereka tidak waras? Kenapa malah seperti ini? " Batin Alya menggelengkan kepala tak percaya.


"Daddy, menurutmu siapa yang pantas?" Grace belum puas menggoda sang adik.


"Siapapun yang mampu membuat Alya bahagia." Jawab Rodrigo tegas.

__ADS_1


"Lihatlah dadd, Gracia selalu menggangguku." Mengerucutkan bibirnya, Alya merajuk mengadu pada Rodrigo. Semua keluarga tertawa bahagia melihat kehangatan itu.


"Sudah-sudah, sebaiknya kalian pulang saja. Di sini ada perawat yang menjaga kami, lagi pula besok kami keluar dari rumah sakit. " Patricia menyudahi perdebatan kecil kakak beradik. Karena sudah malam ia meminta anak-anaknya kembali ke rumah masing-masing.


"Baiklah, baiklah." Alya, Grace dan Liam, juga Jack Abigail berpamitan. Sementara cucu mereka di jaga oleh Samantha dan Zen.


"See you tomorrow mom, dad." Pamit Alya, mereka melambaikan tangan melepas kepergian Alya dan yang lain.


Di depan rumah sakit Christian sudah menunggu Alya. Mereka memiliki janji temu malam itu. Christian mengecup kening Alya lalu membukakan pintu untuknya. Sebenarnya Theo sudah mengetahui kebersamaan mereka sejak Alya menghilang di acara penghargaan. Theo bukan pria bodoh dan tidak peka. Mungkin Alya memang tidak bisa membalas perasaannya. Maka dari itu dia tidak bisa membenci Christian.


"Kau tahu Al, Theo mengalah. Dia merelakanmu untuk ku. Setelah uncle dan bibi kembali ke rumah, aku akan melamar mu. " Berita bahagia akhirnya Christian sampaikan pada Alya.


"Wah, Theo baik sekali. Andai saja aku bisa membalas perasaannya." Christian berubah dingin mendengar ucapan Alya. Alya sadar suasana mobil tiba-tiba memanas.


"Hehe, aku berharap Theo mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus." Lanjut Alya membela diri.


"Christian, apa kau marah padaku? " Alya berusaha merayu Christian dengan bersender di bahunya.


"Sepertinya Theo sudah mampu menggoyahkan perasaan mu Al. Buktinya kau selalu memuji Theo." Christian ingin menguji Alya, dia pura-pura merajuk.


"Bukan begitu, Christian kenapa kau jadi bertingkah seperti anak kecil? " Alya malah tersulut emosinya.


"Hey, kau bilang aku anak kecil? Kau yang masih kecil Al, usia kita bahkan terpaut satu dekade." Balas Christian tidak Terima.


"Ya, kau sudah cukup tua untuk merajuk Christian. Kau bagaikan sugar daddy bagiku." Alya merapatkan bibirnya setelah meluncurkan kata-kata itu.


"Haha jadi kau mengakuinya Al? " Christian meraih tangan Alya, menggenggam lalu mengecup punggungnya.


"Iove you Al." Ucap Christian melirik sebentar ke sebelahnya.


"I love you more,,, " Jawab Alya tersenyum bahagia.


mereka pergi ke sebuah villa milik keluarga Oliver. Christian sudah menyiapkan makan malam spesial di tepi kolam.


"oho,,, ternyata tuan Christian bisa romantis juga. " puji Alya melihat meja makan di dekor begitu cantik. Christian menarik kursi lalu mempersilahkan Alya duduk.


"just for you Al... "


bila di ingat mereka memang tidak pernah memiliki kenangan indah seperti malam ini. Setiap masalah menjadikan mereka menjadi pribadi lebih kuat maupun ganas. Christian sadar kesalahan nya begitu besar, begitupun Alya. mereka hanya ingin memulai lembaran baru. menata masa depan bersama-sama. meski harus mengorbankan perasaan seseorang.


Alya dan Christian memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat. tidak ada penundaan lagi sebelum takdir kembali mempermainkan mereka.


"wanna dance with me? " sebelum makanan datang, Christian mengajak Alya berdansa terlebih dulu. iringan musik instrumental menemani malam indah keduanya.


"Alya shamare, maukah kau menajdi nyonya Christian? " menghentikan acara dansa, Christian berjongkok menyodorkan kotak berisi cincin berlian sederhana.


"yes, I will Christian. " Alya mengangguk antusias, kemudian Christian memakaikan cincin itu di jari manis Alya. terdengar letusan kembang api menggema di atas mereka. malam ini Alya merasa menjadi seseorang istimewa.


"Semoga semua sesuai harapan kita Al, aku tidak sabar menjadi suamimu." bisik Christian, keduanya mendongak ke atas menyaksikan pesta kembang api yang sudah ia siapkan.


"Christian, perjalanan kita baru saja di mulai. kau harus bersiap menjalani tugas barumu. begitu pula aku." Alya semakin mengeratkan pelukannya.


"kau benar Al." jawab Christian.


Alya Shamare



__ADS_1


Christian Oliver



__ADS_2