
Liam yang saat itu datang ke apartemen Grace tidak mendapati keberadaannya. Ia pulang dengan tangan kosong, tadinya Liam hendak meminta maaf dan ingin mengajak Grace memulai dari awal lagi. Pikirannya di selimuti pertanyaan, mungkinkah Grace pergi bersama Ethan untuk berkencan ?
"Kenapa? " Tanya Veronica yang setia menunggu di mobil. Melihat wajah murung Liam pasti dia gagal membujuk Grace. "Mungkin aku sebaiknya berhenti berharap. Grace akan di jodohkan dengan Ethan, dengan pria itu Grace mendapatkan sebuah ikatan suci." Veronica gemas, ingin rasanya dia berkata jujur bahwa Grace tengah mengandung benih cinta mereka.
"Lain kali kau coba lagi. Sekarang aku antar kau ke hotel saja, uncle Arthur sudah menunggu sejak tadi siang." Veronica mengemudikan mobil menuju tempat mereka selanjutnya.
"Ini, lebih baik periksa dulu perjanjiannya." Grace menyerahkan sebuah map berisi surat tanda jual beli saham. Senyum licik terlukis terhalang gelas anggur yang Grace tenggak. Seharusnya ia berhenti minum demi janin di perutnya, namun demi ayah biologis calon anaknya Grace harus bersabar sedikit.
"Menarik, harganya tiga kali lipat dari pasaran. Tapi aku ingin mengajukan syarat sebelum menandatangani nya. " Jantung Grace berpacu dengan sangat cepat tatkala Peter mulai mendekatinya di tepi tempat tidur.
"Puaskan aku malam ini, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Bisik Peter yang mulai diliputi hasrat bercinta. Sejak dulu dia memang sangat penasaran bagaimana permainan Grace di atas ranjang.
"Sure. Tapi aku perlu ke kamar mandi dulu." Peter menggerakkan tangannya mempersilahkan Grace bersiap sebelum melayaninya.
Di dalam Grace berpikir keras cara mengelabui Peter agar segera menandatangani surat itu tanpa harus berlama-lama di goda olehnya. Grace membayangkannya saja merasa jijik. Lalu ia ingat sesuatu yang di berikan Hecan untuk berjaga-jaga.
Grace akhirnya keluar dari kamar mandi, ia melenggang mendekati Liam yang sudah melepaskan kemejanya.
Tok tok tok
Pintu terdengar di ketuk seseorang dari luar. Peter yang kesal acaranya tertunda berjalan untuk membukakan pintu. Ini merupakan kesempatan bagi Grace, ia perlahan tanpa menimbulkan suara menuangkan obat ke dalam gelas wine milik Peter. Percakapan singkat Peter usai dan Grace mengendalikan diri agar tidak terlihat mencurigakan.
"Siapa? " Grace bertanya menutupi kegugupan nya.
"Akh sialan, petugas mengantarkan tasmu yang tertinggal." Grace mengambil alih tas jinjing miliknya dari tangan Peter yang sangat kesal.
"Minumlah dulu Pete, sebelum kita berlanjut ke tahap berikutnya. " Gelas wine sudah berada di genggaman Peter, lalu Grace mengambil surat dari dalam tasnya tanpa membuat Peter curiga.
__ADS_1
"Grace,,, " Peter mengendus aroma tubuh Grace akibat pengaruh obat yang mulai membuatnya pusing.
"Aku akan membuka bajuku setelah kau menandatanganinya." Menyodorkan surat dan pulpen Grace mengambil gelas lalu menaruhnya di nakas.
"Oke baby girl, kau tidak usah khawatir."
Yes,,,
Berteriak kegirangan dalam hati Grace puas usahanya berhasil. Dan sesaat kemudian Grace meraih surat dari tangan Peter yang mulai duduk lemah di atas tempat tidur. "Terima kasih Peter kau sudah bermurah hati." Grace meraih tas dan map di sebelah Peter.
"Tunggu! " Peter segera menahan lengan Grace yang ingin pergi darinya. Grace meringis mulai takut Peter tidak terpengaruh obat racikan nya. Wajah menakutkan Peter membuat Grace bergidik ngeri.
"Kau mau kemana hah? " Syukurlah ternyata Peter mulai tak sadarkan diri dan terbaring terlentang.
"Rasakan itu brengsek." Sebelum pergi Grace mengumpat melampiaskan kekesalannya terhadap Peter.
Melihat pakaian Grace terbilang seksi berhasil memancing amarahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini grace? " Tangan Grace di cengkram kuat oleh pria emosional itu.
"Lepaskan Liam, tanganku sakit." Bisa di lihat kemarahan ada di manik mata Liam, Grace terus memberontak melepaskan diri dari nya.
"Apa kau sedang merayu seseorang Grace menggunakan tubuhmu? Kau selalu mengecewakanku dengan sikap murahanmu." Dan untuk ke sekian kalinya Liam melontarkan hinaan pada Grace. Rasa perih di lengan bahkan bukan apa apa di banding sakit di hatinya.
"Liam hentikan! " Veronica yang tadi kembali ke mobil sebentar karena tasnya teringgal sangat kaget melihat Liam menyakiti Grace. "Kau menyakitinya Liam." Veronica juga membantu melepaskan tangan Liam dari lengan Grace.
Mendengar keributan Hecan dan Sia mempercepat langkah mereka, tadinya ingin menjemput Grace di kamar namun ternyata malah mendapati Grace bersitegang dengan Liam dan Veronica. Liam akhirnya berhenti menghentakkan lengan Grace hingga terhuyung ke belakang, untungnya Hecan segera mendekap tubuh Grace.
__ADS_1
Di alihkan nya Grace pada Sia lalu Hecan tanpa peringatan memukul wajah Liam sekuat tenaga. Darah segar muncul di sudut bibir pria yang selalu menyakiti perasaan Grace. Selanjutnya Hecan meninju perut Liam cukup keras.
"Hanya pecundang yang melukai wanita secara verbal maupun fisik. Sekali lagi kau menyakiti Grace, akan ku pastikan kau tidak akan pernah hidup tenang." Ancam Hecan berapi-api sambil menunjuk wajah Liam yang duduk tersungkur memegangi perutnya.
Veronica berjongkok membantu Liam berdiri. "Ini salah paham, tolong maafkan Liam." Bela Veronica, dia kasihan harus menyaksikan Liam di benci orang-orang di sekeliling Grace. Sayangnya Liam sendiri yang menyebabkan hal itu.
"Dengar tuan, kalau kau memang mencintai Grace seharusnya kau berjuang untuk membahagiakan nya. Tapi jika memang hanya bisa membuatnya menderita lebih baik menjauh darinya." Hecan berbalik kemudian merangkul pundak Grace mengajaknya pulang.
Amarah memang selalu menguasai Liam ketika melihat Grace tampil cantik bukan untuk dirinya. Dia tak Terima pria manapun menikmati keindahan Grace. Cemburu, memang dirinya saat ini sedang terbakar api cemburu. Mengingat Grace akan di jodohkan dengan Ethan Liam berpikir mereka bertemu di hotel tersebut.
"Kau ini bodoh sekali Liam, kenapa malah menyakiti Grace. Sadarlah! Sudah pasti kau mencintainya, hanya saja kau belum berani mengambil keputusan." Veronica mengenal Liam luar dalam, andai saja dia bisa dan memiliki hak mengatakan keadaan Graceu mungkin Liam akan berubah.
"Kita pergi." Tanpa menanggapi perkataan Veronica Liam berlalu menuju lift untuk bisa naik ke kamar ayahnya.
Grace menangis dalam diam, perih terus bersemayam di hati kecilnya. Liam begitu tega mengatakan hal itu padanya. untung saja urusannya dengan Peter sudah selesai, dia akan pergi secepat mungkin menjauh dari kehidupan yang berkaitan dengan Liam.
Liam menuntun Grace meraih mimpi dan menemukan jati dirinya. ia sangat berterima kasih akan hal itu. dia juga yang menghadiahi Grace malaikat kecil di dalam rahimnya. Ya, Liam merupakan bagian penting dalam hidup Grace. hanya saja karena pria itu juga Grace merasakan patah hati terhebat.
"kau berhasil kan Grace? " Hecan memecah lamunan Grace, ingin tahu bagaimana kelanjutan rencananya.
"ya, besok semua akan kembali pada tempatnya." jawab Grace menatap kosong kearah jendela. Sia tergerak mengusap lengan Grace memberinya kekuatan meski ia tahu sedikit pun tak akan membantu. Sia hanya ingin Grace tahu kalau mereka ada untuknya.
"bagus, setelah ini kau dan dia selesai. Jangan pernah berpikir untuk menemuinya lagi." Hecan melirik ke kaca spion untuk melihat ekspresi wajah Grace.
Grace bahkan tidak pernah mengira akan bertemu Liam, mereka bertemu tanpa sengaja seolah takdir memang menuntun mereka.
"Aku akan menghubungi pengacara tuan Rodrigo untuk mengurus semuanya." Sia meraih ponsel dari dalam tasnya. semua berkas sudah lengkap tinggal pengesahan di ajukan pada badan pengelola saham Negara. semua saham atas nama Peter dan Marcus menjadi milik Grace mulai sekarang.
__ADS_1